NovelToon NovelToon
Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Status: tamat
Genre:Konflik etika / Cinta Murni / Menikah dengan Kerabat Mantan / Tamat
Popularitas:142k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.

Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.

Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.

Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.

Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.

Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Satu-satunya yang Tidak Tahu

Fahri menyipitkan mata. “Berjaga?”

Kaisyaf mengangkat wajahnya perlahan, menatap Fahri lekat.

“Tidak ada yang benar-benar tahu masa depan,” ucapnya pelan, namun tegas.

Ia berhenti sejenak.

“Dan… aku ingin Alvian bangga padamu.”

Fahri terkekeh pelan.

“Al sudah bangga, Kak. Waktu tahu aku juara dua pertama kali… lalu juara satu… bahkan waktu aku hanya masuk lima besar di Asia, dia tetap cerita ke semua orang.”

Kaisyaf mengangguk pelan. Tatapannya tidak berubah.

“Piala kamu…” ucapnya pelan, “tidak bisa dipakai untuk menghidupi anak dan istri kamu nanti.”

Fahri terdiam. Nada itu… berubah. Tidak lagi sepenuhnya bercanda.

“Belajar bisnis lebih serius,” lanjut Kaisyaf. “Jangan setengah-setengah.”

Fahri menatapnya. Ada sesuatu di balik kalimat itu. Sesuatu yang terasa… lebih dari sekadar nasihat biasa.

“Kak…” panggilnya pelan.

Namun Kaisyaf sudah kembali menunduk pada berkasnya.

“Kerjakan dulu yang kuberikan kemarin.”

Nadanya datar. Seolah percakapan barusan tidak pernah terjadi.

Fahri tidak langsung menjawab.

Entah mengapa… ia merasa, ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh pria itu.

***

Setelah keluar dari ruangan Kaisyaf, langkah Fahri tidak langsung berhenti.

Pikirannya masih dipenuhi pertanyaan. Tanpa banyak pikir, ia berbalik arah. Matanya mencari satu orang.

Ridho.

Tak butuh waktu lama hingga ia menemukan pria itu di lorong.

“Ridho.”

Nada suara Fahri cukup untuk membuat pria itu berhenti.

“Ke ruangan,” lanjutnya singkat.

Ridho tidak bertanya. Ia hanya mengangguk dan mengikuti.

Begitu pintu tertutup, Fahri langsung berbalik.

“Katakan padaku,” ucapnya tanpa basa-basi. “Apa yang disembunyikan Kak Kaisyaf?”

Ridho terdiam sejenak. Sorot matanya tetap tenang. “Pak Kaisyaf tidak menyembunyikan apa pun, Pak.”

Fahri menyipitkan mata. “Jangan bohong.” Langkahnya mendekat satu langkah. “Kau menutupi sesuatu.”

Ridho menarik napas pendek.

“Pak,” ucapnya tenang, “kalau masalah pekerjaan, Anda bisa bertanya pada saya. Tapi kalau masalah pribadi… sebaiknya Anda bertanya langsung pada orangnya.”

Ia menatap Fahri lurus.

“Saya profesional. Saya bekerja untuk mengurus bisnis. Bukan… hati.”

Fahri mendengus pelan. “Kalau begitu,” katanya tajam, “kenapa akhir-akhir ini dia sering melimpahkan pekerjaannya padaku?”

Ridho tidak menghindar.

“Karena selama ini Pak Kaisyaf terlalu sibuk… dan Anda terlalu santai.”

“What?!” Fahri langsung melotot. “Aku juga sibuk—”

“Dan saat beliau sibuk,” potong Ridho tenang, “sebagai adik, bukankah seharusnya Anda membantu?”

Fahri berdecak. “Itu bukan jawaban.”

Ridho tersenyum tipis. “Pak Kaisyaf tidak pernah salah menilai orang.”

Ia melanjutkan dengan suara datar, tapi penuh makna.

“Dulu beliau mempertaruhkan namanya untuk Anda. Saat semua orang sudah memberi tanda… beliau tetap percaya.”

Fahri terdiam. Itu benar.

“Dan hasilnya?” lanjut Ridho. “Anda bisa masuk lima besar di balap Asia. Itu bukan prestasi kecil.”

Ridho mengangkat bahu sedikit.

“Sekarang… beliau hanya melakukan hal yang sama. Melihat potensi Anda. Di bidang yang berbeda.”

Fahri akhirnya menghembuskan napas kasar.

“Sudahlah,” katanya sambil mengibaskan tangan. “Percuma bicara sama kamu.”

Ia berbalik.

“Kau selalu pakai fakta. Dan aku tidak bisa membantahnya.”

Ridho tersenyum tipis.

“Memang tidak seharusnya Anda membantah saya, Pak.”

Fahri mendengus, lalu keluar dari ruangan.

Pintu tertutup.

Ridho menatap ke arah itu beberapa detik. Lalu pelan ia bergumam,

“Fahri…”

Nada suaranya berubah. Lebih rendah. Lebih berat.

“Pria tiga puluh tahun…” gumam Ridho pelan. “Tidak pernah dekat dengan wanita mana pun.”

Ia terdiam sejenak.

Tatapannya kembali mengarah ke pintu yang baru saja tertutup.

“Bukan karena tidak bisa…” lanjut Ridho lirih. “Tapi karena memilih untuk menutup diri.”

Ia terdiam sejenak.

“Dan itu… bukan tanpa alasan.”

Tatapannya masih tertuju ke pintu. Seolah berbicara pada seseorang yang sudah pergi… tapi juga pada dirinya sendiri.

“Alasannya? Saya tahu. Pak Kaisyaf juga tahu.”

Ridho menghela napas pelan.

“Anda memang tidak sedarah dengan Pak Kaisyaf…”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih dalam.

“Tapi beliau mempercayai Anda… lebih dari saudara.”

Tatapannya sedikit meredup.

“Mungkin karena… beliau tahu, ada hal yang tidak akan pernah Anda khianati.”

Ia menggeser pandangannya.

“Perasaan yang Anda pilih untuk dipendam… demi tetap berada di tempat Anda sekarang.”

Ridho menunduk sedikit.

“Tidak semua orang mampu melakukan itu.”

Suaranya merendah.

“Memilih mundur… bukan karena kalah. Tapi karena tidak ingin kehilangan.”

Ia menghela napas panjang.

“Dan justru karena itu…”

Ada jeda kecil.

“Beliau mempercayakan banyak hal pada Anda.”

Hening mengisi ruangan.

“Tapi kepercayaan itu…” lanjutnya pelan, “bukan untuk membuat Anda masuk ke dalam urusan yang ingin beliau jaga sendiri.”

Ridho akhirnya menutup kalimatnya dengan tenang.

“Dan kali ini… saya tidak bisa membantu Anda.”

***

Malam itu, Ayza menyiapkan makan malam seperti biasa.

Dua piring.

Bukan tiga.

Tangannya sempat terhenti sesaat saat meletakkan sendok di sisi piring. Namun ia kembali bergerak, seolah tak terjadi apa-apa.

“Umi…”

Suara kecil itu membuatnya menoleh.

Alvian sudah duduk di kursinya. Tatapannya tidak langsung ke makanan… tapi ke kursi di seberangnya.

Kursi yang biasanya ditempati Kaisyaf.

Dada Ayza terasa sesak.

“Ya?” jawabnya lembut.

Alvian akhirnya mengalihkan pandangannya.

“Abi… gak pulang lagi?”

Pertanyaan itu keluar pelan. Hati-hati. Seolah takut jawabannya akan menyakitkan.

Ayza berjalan mendekat. Ia mengusap rambut tebal putranya dengan lembut.

“Abi lagi sibuk,” ucapnya pelan. “Al maklumi Abi, ya?”

Alvian terdiam sejenak. Lalu ia tersenyum. Tipis..Mengangguk kecil.

“Iya. Abi kerja buat kita.”

Kalimat itu sederhana. Tapi cukup untuk membuat hati Ayza terasa tergores.

Ia tersenyum. Namun terasa berat. “Pintarnya anak Umi…”

Namun belum sempat suasana kembali tenang—

“Tapi, Umi…”

Ayza menoleh lagi.

Alvian tampak ragu sejenak. “Lusa ada acara di sekolah,” lanjutnya pelan. “Kegiatannya… harus sama ayah masing-masing. Hari ayah.”

Jantung Ayza seperti berhenti sesaat.

“Boleh Al telepon Abi?”

Ayza menatap wajah kecil itu. Harapan di matanya terlalu jelas untuk diabaikan.

Ia tersenyum. Masih.

“Iya,” jawabnya lembut. “Nanti setelah makan, kita telepon Abi.”

Wajah Alvian langsung berubah cerah.

“Iya, Umi!”

Ia tersenyum lebar.

Dan entah kenapa, malam itu, di mata Ayza, senyum Alvian terasa lebih menyakitkan daripada tangisnya.

 

Usai makan malam, Ayza menggenggam ponselnya lebih erat.

Ada rasa ragu… lebih tepatnya, takut. Takut kalau panggilan itu tidak diangkat. Namun perlahan, ia tetap menekan tombol panggil.

Satu kali.

Nada sambung terdengar. Tidak diangkat.

Ayza menatap layar. Jemarinya sedikit mengencang. Ia mencoba lagi.

Dua kali.

Masih sama. Hening. Hanya suara nada sambung yang terasa semakin menekan.

Di depannya, Alvian menatap.

“Gak diangkat…?” tanyanya pelan. Sorot matanya perlahan meredup.

Ayza tersenyum. Dipaksakan. “Kita coba lagi, ya…”

Alvian mengangguk kecil.

Ayza menarik napas, lalu menekan panggilan sekali lagi. Nada sambung kembali terdengar.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu—

“Assalamualaikum.”

Suara itu akhirnya terdengar.

Tapi bukan itu yang membuat Ayza terdiam. Ada suara lain… di belakangnya.

 

...🔸🔸🔸...

...“Kadang yang paling menyakitkan bukan kebohongan, tapi tidak dilibatkan dalam kebenaran.”...

...“Ada hal yang disembunyikan bukan untuk mengkhianati, tapi untuk melindungi, meski akhirnya tetap melukai.”...

...“Tidak semua yang diam itu tenang. Kadang justru paling berisik di dalam.”...

...“Kepercayaan bisa membuat seseorang bertahan… bahkan saat semuanya mulai terasa salah.”...

...“Yang paling dekat… justru yang paling lama tidak menyadari perubahan.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Anonim
Akhirnya tamat sudah cerita yang sangat bagus ini.
Terima kasih Author dengan cerita yang bagus, menghibur, terharu, dan bisa dipetik sebagai pembelajaran dalam kehidupan nyata. Semoga Author selalu sehat, semangat, penuh berkat dan senantiasa dalam perlindunganNya 🙏🙏
Anitha Ramto
yaaaa tidak terasa udah end lagi, padahal masih seneng dengan kisah Ayza dan Fahri..

happy ending
Dew666
💜💜💜💜
Anonim
Ternyata Reza mengikut Fahri dan keluarganya yang sedang berada di pantai. Benar-benar penguntit sejati.

Ayza ke toilet. Reza bergerak mendekati bangunan toilet.

Ayza keluar dari toilet - Reza sudah berdiri di depannya. Bikin Ayza terkejut.

Reza sudah mendengar Ayza berkata yang sebenarnya. Apa masih kurang jelas - masihkah mengharapkan sesuatu yang tak mungkin dia miliki kembali.
Hanima
😍👍🙏
Anonim
Reza sebagai pengamat sejati ketika mereka makan pagi. Dia tahu kenapa Fahri terlihat berwajah cerah.

Melihat interaksi atara Fahri dan Ayza. Mendengar Alvian memanggil Abi untuk Fahri.

Semua itu membuat dada Reza terasa semakin sesak.

Alvian mau mancing di pantai. Mereka bertiga menuju pantai.

Reza mau ngapain keluar rumah juga dengan mobilnya.

Ditanya Bundanya - jawabnya ada urusan sedikit.

Sepertinya Rahman was-was terhadap Reza. Tidak akan tinggal diam kalau Reza sampai mengusik keluarga Fahri.
Rea
iya aku bacanya jg loncat krn nangis terus
🌠Naπa Kiarra🍁: Berarti sedihnya sampai nggak kuat ya, Kak 🥹

Tapi bacanya jangan lompat-lompat, kasihan retensinya 😭 Kita sesama penulis pasti tahu rasanya lihat grafik tiba-tiba jungkir balik.

Ujung-ujungnya reward melambaikan tangan dari kejauhan: waalaikumsalam 😂

Yang tersisa cuma mata panda gara-gara sistem baca model kodok.😭
total 1 replies
ngatun Lestari
masyaalloh.... banyak liku" hidup yg jadi pelajaran
Dek Sri
terima kasih atas karyanya kak, semoga sukses selalu
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
mery harwati
Terimakasih author 🙏
Sehat selalu ya 😍
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
Sugiharti Rusli
kisah yang haru biru sih, semoga kisah baru yang juga sudah dibaca juga seru yah🥰🥰
Sugiharti Rusli
bahkan pada akhirnya Fahri mengakui perasaan yang dia punya ke Ayza setelah dia sah sebagai suaminya,,,
Sugiharti Rusli
karena mau menolak seperti apapun Ayza, kalo takdirnya berjodog dengan Fahri makanya memang ada jalannya melalui Alvian yang sangat menyayanginya,,,
Sugiharti Rusli
dan Fahri juga tidak pernah melampaui batasannya, bahkan setelah Kaisyaf wafat, dan pada akhirnya takdirlah yang meruntuhkan hati Ayza,,,
Sugiharti Rusli
bahkan mungkin dulu saat akhirnya Ayza berjodoh sama mendiang Kaisyaf, dia tetap ada bersama mereka sebagai adik mereka
Sugiharti Rusli
yah memang pada akhirnya memenangkan hati Ayza bukan karena ambisi buta sih,,,
Eliermswati
trma ksh thor untuk semua cerita nya, smngt dan sukses untuk karya mu selanjutnya, 😍😍😍y q msh penasaran pengen d lnjut tentang alvian gede dan ank ayza sm fahri sih
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
Asih Prawawati
Terima Kasih Thour..
Terima Kasih...akhir cerita yang indah .
aku suka .
Bukan sekedar bacaan...yg perlu di baca .
Tapi lebih dari itu ..ada pembelajaran juga .
🙏🙏🙏🙏
🌠Naπa Kiarra🍁: Sama-sama KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
Dek Sri
saya sudah mampir kak
🌠Naπa Kiarra🍁: Iya, Kak. Makasih 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
Juriah Juriah
trimakasih kepada author Nana atas crita bagus nya ga krasa aku mengikuti jln crita kisah kehidupan Ayza hingga season 2 dan sudah tamat ..dan sy akan mencoba mengikuti crita yg baru terbit semangat trus buat crita baru yg lebih bagus dan sukses selalu 🙏
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!