NovelToon NovelToon
Tentang Dinginmu Dan Luka Yang Tak Bertepi

Tentang Dinginmu Dan Luka Yang Tak Bertepi

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Romantis / Selingkuh / Tamat
Popularitas:20.4k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

"Kamu adalah luka paling berdarah dalam hidupku."

Satu hari aku tidak ada untukmu, dan kamu menghukumku dengan keheningan selamanya. Aku mencoba lari, aku mencoba mencintai orang lain, bahkan aku menjadi wanita yang buruk dengan mendua demi melupakan bayangmu. Tapi semua sia-sia. Kamu tetap pergi, dan yang paling menyakitkan... kamu memilih sahabatku untuk menggantikan posisiku.

Dapatkan luka ini sembuh saat penyebabnya kini bahagia dengan orang terdekatku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Aku melangkah cepat menyusuri koridor yang masih remang. Jam di pergelangan tanganku baru menunjukkan pukul 06.00. Terlalu pagi untuk ukuran anak SMA, tapi tepat untuk seseorang yang ingin menghindari interogasi mata dari sahabat-sahabatnya—terutama Fita.

Aku sengaja mematikan notifikasi ponsel. Aku tahu Bintang pasti mengirim pesan "Semangat sekolahnya" atau sekadar menanyakan apakah aku sudah sarapan. Kadang aku merasa jahat. Bintang adalah laki-laki paling tulus yang pernah kukenal, tapi status backstreet yang kupaksakan padanya adalah bukti bahwa aku belum sepenuhnya "pulang" dari masa lalu. Aku menyembunyikannya bukan karena malu, tapi karena aku takut jika dunia tahu kami bersama, aku tidak punya alasan lagi untuk merasa hancur karena Guntur.

"Tumben jam segini udah nangkring di depan kelas, Fis?"

Suara itu membuatku menoleh cepat. Radit. Dia berdiri dengan satu tangan di saku celana, tampak santai meski matanya menyiratkan rasa ingin tahu yang besar.

"Lagi pengen tenang aja," jawabku singkat, mencoba masuk ke kelas.

Radit menghalangi jalanku dengan satu tangan bersandar di pintu. "Tenang karena nggak mau ketemu si Bintang? Gue lihat dia sering banget nungguin lo di parkiran. Kasihan tuh anak, usahanya keras banget buat deketin cewek sedingin es kayak lo."

Aku mendengus sinis. Radit, sama seperti orang satu sekolah lainnya, mengira Bintang hanyalah "pemuja rahasia" yang belum mendapatkan jawabanku. Mereka tidak tahu kalau di balik layar, aku sudah menjadi milik Bintang—meski hanya raga, bukan seutuhnya jiwa.

"Bintang bukan urusan lo, Dit. Mending lo urusin motor lo yang berisik itu," ketusku.

Radit terkekeh, tapi matanya mendadak serius. "Gue cuma bilang, Fis. Hati-hati main api. Guntur kayaknya beneran keganggu sama akting kita kemarin. Dan kalau Bintang beneran naksir lo, dia bisa jadi korban salah sasaran dari kecemburuan Guntur yang meledak-ledak itu."

"Guntur nggak punya hak buat cemburu!" desisku tajam.

"dan stop ikut campur urusan gue,soal kemarin gue nggak bilang itu akting,itu Lo sendiri yang mau"

Tepat saat kata-kata itu keluar, sosok yang kami bicarakan muncul dari arah tangga. Guntur. Dia berjalan dengan langkah tegap, jersey bola tersampir di bahunya. Matanya yang sedingin kutub itu langsung terkunci pada posisiku dan Radit yang berdiri sangat dekat di ambang pintu kelas.

Ada kilatan kemarahan yang tertahan di sana—tipis, tapi nyata.

"Minggir," ucap Guntur singkat saat dia sampai di depan kami. Suaranya rendah, bergetar oleh sesuatu yang tidak bisa kujelaskan.

Dia tidak menatap Radit. Matanya menatapku lurus, seolah menuntut penjelasan atas adegan di parkiran kemarin. Namun, di belakangnya, menyusul Fita yang tersenyum kecil sambil membawakan botol minum milik Guntur.

Hatiku mencelos. Dinginnya Guntur kini menjadi milik Fita, sementara aku terjebak dalam sandiwara yang kubangun sendiri bersama Radit, dan pengkhianatan diam-diam yang kulakukan pada Bintang.

Aku baru saja hendak memutar tubuh, berniat meninggalkan kepungan hawa dingin Guntur dan senyum kemenangan Fita yang menyakitkan. Namun, sebuah tarikan di lenganku menghentikan langkahku seketika.

Radit. Tangannya menggenggam lenganku cukup erat untuk menahan, tapi cukup lembut untuk tidak menyakiti.

"Buru-buru banget, Fis? Gue belum selesai ngomong," ucap Radit santai. Ia seolah tidak peduli bahwa tepat di sebelah kami, Guntur masih berdiri mematung dengan rahang yang mengeras.

Aku mencoba melepaskan tangannya. "Radit, lepas. Gue mau masuk kelas."

Bukannya melepas, Radit justru merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan selembar kertas. Ia menyodorkannya tepat di depan wajahku. "Buat lo. Pertandingan semifinal sore ini. Gue tunggu di tribun biasa, tempat yang lo bilang paling enak buat teriak."

Aku terpaku menatap tiket pertandingan sepak bola itu. Sialan. Radit benar-benar tahu cara memainkan peran "partner" ini terlalu jauh. Di sudut mataku, aku bisa melihat Guntur menarik napas panjang, tangannya yang membawa tas olahraga mengepal hingga buku-buku jarinya memutih.

"Fis, lo bukannya ada janji mau ke perpus bareng gue?" Suara Fita memecah ketegangan. Ia melangkah maju, kini berdiri tepat di samping Guntur, seolah menegaskan posisinya. "Atau... lo mau nonton Radit?"

" kayaknya kita udah nggak terlalu akrab ya untuk ke perpus bareng " jawabku pelan

Pertanyaan Fita bukan sekadar tanya. Itu adalah jebakan. Dia tahu persis bahwa dulu, satu-satunya orang yang pertandingannya selalu kutonton adalah laki-laki di sampingnya.

"Dia nonton gue," potong Radit sebelum aku sempat menjawab. Ia menatap Guntur sekilas, lalu beralih padaku dengan senyum miring. "Ya kan, Fis? Lo udah janji semalam."

Aku merasakan tatapan Guntur menghujamku. Dingin, menuntut, dan penuh benci yang terpendam. "Minggir," desis Guntur lagi, kali ini suaranya lebih tajam. Ia menyenggol bahu Radit saat melangkah masuk ke kelas tanpa menoleh lagi, diikuti Fita yang memberikan tatapan kasihan padaku.

Setelah mereka hilang di balik pintu, aku menyentak lenganku dengan kasar. "Lo gila ya, Dit?" bisikku penuh amarah.

"Gue cuma bantu lo menyelesaikan apa yang lo mulai, Afisa," sahut Radit tanpa beban. "Tapi hati-hati, tiket itu bukan cuma kertas. Guntur nggak sesantai yang lo kira."

Aku merampas tiket itu dan berjalan cepat menuju kelasku, X IPS 2. Di dalam saku rokku, ponselku bergetar sekali lagi. Satu pesan singkat dari Bintang.

Bintang: Aku di depan kelas kamu, Fis. Bawa sarapan kesukaan kamu. Kamu di mana?

Langkahku terhenti di depan pintu kelas. Di sana, Bintang berdiri dengan senyum tulusnya yang selalu membuatku merasa seperti monster yang paling jahat di bumi ini. Di tangan kananku ada tiket pertandingan Radit yang digunakan untuk membalas Guntur, dan di depanku ada laki-laki yang benar-benar mencintaiku namun kusembunyikan dalam gelap.

1
Rea
melankolis
byyyycaaaa: lanjut baca di ekuilibrium yuk kisah bintang dan afisa
total 1 replies
Shirin Al Athrus
yaahhh, pdhl gue harap mreka akhirnya balikkan. guntur dan afisa. bnyk kok perjuangan yg harus dilakukan guntur agar dia sukses dan dptkan afisa lagiii huaaa sedihh gue KLO kek gini ceritanya
byyyycaaaa: yaaa gimana sama bintang di cintai bahagianya di usahakan tiap hari di pepet 🤭 gimana nggak luluh si Afisanya
total 1 replies
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
ais kk gtu seru itu liat Afisa sukses mereka pasti nangis pojokan. atau pas bintang nikah aja sama Afisa trus D undang😂😂😂😂😂😂😂
byyyycaaaa: mampir yuk di cerita bintang dan juga afisa ekuilibrium:Antara janji dan jarak🙏
total 1 replies
byyyycaaaa
nanti ada cerita khusus untuk Bintang dan juga afisa ya kak,untuk teman-teman afisa mereka tidak ada yang menyesal ,afisa sudah lama meng cut off teman-temannya,🙏
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
coba lah bikin mereka nyesel dulu tor. mau liat Afisa nikah sama bintang
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
gk lanjut tor
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
Afisa dan bintang bahagia gk ada rintangan
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
buat teman Afisa yang dulu nyesal.
Aidil Kenzie Zie
yah balik lagi kasihan Bintang sama temen kamu Fis
byyyycaaaa
mau balikan sama bintang ,tapi takut kecintaan si Afisa 😭
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
jadian ya bintang smaa disayang jangan ada orang ketiga
Aidil Kenzie Zie
bukannya pas liburan di belakang rumah udah di hapus kik masih ada Fis
byyyycaaaa: fotonya guntur lumayan banyak di ponsel afisa 🌚
total 1 replies
byyyycaaaa
nanti ada PoV nya Guntur kak biar lebih jelas yaaaa
Aidil Kenzie Zie
emangnya nggak ada cewek lain buat pelarian harus Fita lagi.
kalau Guntur jujur sama keadaannya Afis pasti ngerti tapi dia malah jadi pecundang
Aidil Kenzie Zie
apa si Radit ya mata-mata itu
Aidil Kenzie Zie
mungkin karena belum benar benar selesai 🤔
Aidil Kenzie Zie
tor jangan bikin mutar-mutar lagi ceritanya
Aidil Kenzie Zie
mantapkan hatimu Fis
byyyycaaaa
labil banget kan...,dia semuanya di pikiran bukannya nyoba buka hati ,di deketin semua cowok dia welcome banget 😭🙏
Aidil Kenzie Zie
Afisa Afisa🤔🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!