Suami Ishani telah pergi, meninggalkan satu janji yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.
Kini Ishani berada di bawah satu atap dengan Langit, pria yang memiliki wajah yang sama seperti mendiang suaminya, tetapi tidak dengan hatinya.
Tatapan Langit selalu dingin.
Sikapnya penuh jarak.
Seolah kehadiran Ishani dan bayi di rahimnya adalah pengingat akan sesuatu yang ingin ia lupakan.
Ishani hanya ingin melahirkan dengan tenang.
Namun semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin ia menyadari bahwa yang sedang ia hadapi bukan sekadar hubungan ipar.
Ada luka lama.
Ada pengorbanan yang tak pernah benar-benar diterima.
Dan ada kecemburuan yang tumbuh diam-diam sejak mereka masih kecil.
Di antara bayi yang tak bersalah dan masa lalu yang belum selesai…
Ishani terjebak di tengah dua saudara yang dipisahkan oleh takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Datang Tanpa Janji
Malam di rumah kecil itu cukup sunyi. Iyan akhirnya tertidur setelah hampir satu jam rewel.
Ishani duduk di kursi dekat jendela sambil menghela napas panjang. “MasyaAllah… capek juga ya,” gumamnya pelan.
Bu Maura keluar dari dapur sambil membawa segelas air hangat.
“Baru sekarang tidur?”.
“Iya, Bu. Tadi nangis terus.”
Bu Maura tersenyum kecil. “Namanya juga bayi.”
Ishani menerima gelas itu. “Terima kasih, Bu.”
Baru saja ia akan meneguk airnya ketika terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.
Ishani mengerutkan kening. “Malam-malam begini siapa ya?”
Bu Maura ikut menoleh ke arah pintu.
Beberapa detik kemudian terdengar ketukan.
Tok. Tok. Tok.
Ishani berdiri perlahan. “Aku lihat dulu, Bu.”
Ia membuka pintu. Dan langsung membeku. Langit berdiri di depan rumah dengan jaket hitam dan wajah lelah.
“Kak…?”
Langit menatapnya sebentar. “Kamu belum tidur?”
Ishani masih terlihat bingung. “Kak Langit bilang baru bisa datang dua hari lagi.”
Langit menghela napas pendek. “Pekerjaannya selesai lebih cepat.”
Bu Maura muncul di belakang Ishani. “Langit?”
“Iya, Bu.”
“Kamu baru sampai?”
Langit mengangguk. “Masuk dulu,” kata Bu Maura.
Langit melepas sepatu sebelum masuk ke rumah kecil itu.
“Sudah makan?” tanya Bu Maura.
“Sudah, Bu.”
“Bohong,” potong Ishani.
Langit menoleh padanya.
“Kak Langit kalau sudah makan pasti tidak terlihat selelah ini.”
Bu Maura tertawa kecil. “Kamu duduk dulu. Ibu ambilkan makanan.”
“Tidak usah, Bu. Ibu Istirahat saja,”
“Duduk.”
Bu Maura sudah berjalan ke dapur. Langit akhirnya duduk di kursi kayu dekat jendela. Kursi milik Biru.
Ishani menatap Langit dengan diam, dengan postur dan wajah yang sama, rindu Ishani pada Biru mendadak memuncak.
Langit menoleh melihat Ishani berdiri menatapnya dengan mata yang sayu. Ia menyadarinya beberapa detik kemudian. Ia baru akan mengangkat badannya, namun Ishani sudah duduk di kursi seberangnya.
“Kak Langit capek?”
“Lumayan.”
“Kak Langit mau minum?”
“Air saja.”
Ishani mengambil gelas di meja dan menuangkan air.
Langit menerimanya. “Terima kasih.”
Beberapa detik mereka hanya saling diam.
Akhirnya Ishani berkata, “Iyan tadi nangis lama.”
Langit langsung menoleh. “Kenapa?”
“Entahlah.”
“Kamu sudah coba gendong?”
Ishani mengangkat alis. “Tentu saja.”
Langit terlihat sedikit canggung. “Ya… maksudku…”
Ishani tertawa kecil. “Kak Langit kelihatan panik.”
Langit menghela napas. “Bayi memang bikin panik.”
Terdengar suara rengekan dari dalam kamar. Ishani segera bangkit. “Dia bangun lagi,” ujarnya seraya masuk ke dalam kamar.
Rengekan terus terdengar. Langit ingin melihat, namun tidak berani masuk ke dalam kamar. Tidak berapa lama, Ishani keluar. Wajahnya terlihat bingung.
“Masih belum mau berhenti?”
Ishani menggeleng.
“Mungkin lapar.”
Ishani menggeleng lagi. “Tadi aku sudah coba susui, tidak mau.”
Tangisan Iyan semakin keras. Ishani mencoba mengayunkannya sedikit lebih cepat.
“Shh… shh… sudah… sudah…”
Namun bayi itu justru semakin rewel.
Langit terlihat semakin cemas. Ia berdiri. “Dia kenapa?”
“Entahlah.” Ishani mencoba menepuk punggung kecil itu. “Biasanya dia cepat tenang.”
Tangisan Iyan kembali pecah lebih keras.
Langit terlihat gelisah. “Apa kita perlu ke dokter?”
Ishani langsung menoleh. “Kak Langit panik sekali.”
Langit terdiam sebentar sebelum berkata jujur, “Aku tidak tahu harus melakukan apa.”
“Kak Langit… tolong.” Ishani mendekat ke arah Langit.
Langit tersentak. “Apa?”
“Tolong gendong.”
“Serius?”
“Serius.”
Ishani melangkah ingin menyerahkan Iyan pada Langit. Sementara Langit berdiri kaku. Langit menatap bayi kecil itu beberapa detik.
“Shani…”
“Iya?”
“Aku tidak yakin.”
Ishani tersenyum. “Kak Langit juga harus belajar.”
“Sebentar. Aku cuci tangan dan muka dulu.”
Langit berjalan cepat ke kamar mandi kecil di samping dapur. Ia menatap wajahnya sendiri di cermin sambil membuka keran. Air dingin menyentuh wajahnya.
Langit menghela napas pelan. “Aku bisa melakukan ini,” gumamnya.
Namun saat kembali ke ruang tamu, langkahnya masih sedikit ragu.
Ishani memperhatikannya sambil tersenyum tipis. “Kak Langit kelihatan seperti mau menghadapi ujian.”
“Ini lebih sulit dari ujian,” jawab Langit jujur.
Ishani perlahan menyerahkan Iyan. Wajahnya masih terlihat basah, entah karena air atau keringat yang tiba-tiba muncul.
Langit menerima bayi itu dengan gerakan hati-hati. Sangat hati-hati. Seolah ia sedang memegang sesuatu yang sangat rapuh.
Lalu tanpa diduga tangisan Iyan berhenti seketika berada dalam pelukan Langit. Jari kecilnya kembali menggenggam jari Langit.
Langit terlihat terkejut. Ia menatap Ishani. “Dia… berhenti.”
Ishani juga terlihat tidak percaya. “Biasanya dia butuh waktu.”
Langit menunduk melihat wajah kecil itu. Jari Iyan menggenggam jari telunjuknya lebih erat. Sentuhan kecil itu membuat dada Langit terasa hangat. Perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia bahkan tidak menyadari kapan terakhir kali ia tersenyum seperti itu.
“Sepertinya dia kangen sama Ayah Langit,” ujar Ishani dengan suara bergetar. Tersentuh karena Iyan bisa mengenali pelukan Langit.
Hati Langit terasa penuh. Napasnya tercekat. Ia menahan air matanya agar tidak jatuh. “Halo, Iyan. Aku sudah pulang.”
Langit terus bergerak pelan, menggoyangkan tubuh Iyan dengan kaku.
Ishani memperhatikan wajahnya. “Kak Langit kelihatan seperti orang yang sedang pegang bom.”
Langit mendesah pelan. “Ini lebih menakutkan dari bom.”
Ishani tertawa kecil. Beberapa detik mereka hanya memperhatikan Iyan.
Bayi itu kemudian kembali tertidur. Tangannya yang kecil bergerak sedikit.
Langit menatap wajahnya lama. “Dia kecil sekali.”
“Iya.”
“Dulu Biru juga sekecil ini?”
Ishani mengangguk pelan.
“Ibu bilang begitu.”
Langit menatap bayi itu lagi. Lama.
Sampai akhirnya ia berkata pelan, “Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya.”
Ishani menatapnya. “Kak Langit…”
Langit masih menatap bayi itu. “Aku sudah kehilangan Biru.” Suaranya rendah. “Aku tidak akan kehilangan dia juga.”
Ishani tidak tahu harus menjawab apa. Ia menunduk. Nama itu masih terasa berat setiap kali diucapkan. Namun kali ini tidak ada rasa sakit yang tajam seperti dulu. Yang ada hanya rindu.
Bu Maura keluar dari dapur membawa sepiring nasi goreng. Ia berhenti melihat pemandangan di ruang tamu. Langit duduk dengan bayi di tangannya. Ishani berdiri di sampingnya.
Wanita tua itu tersenyum kecil. “Kelihatannya ada yang sudah belajar jadi ayah.”
Langit terdiam.
Ishani juga tidak berkata apa-apa.
Bu Maura hanya tersenyum. “Ayo, makan dulu sebelum dingin.”
Langit menyerahkan Iyan kembali pada Ishani. “Terima kasih.”
Ishani menerima bayi itu. “Kak Langit cepat belajar.”
Langit tersenyum tipis. “Sepertinya aku tidak punya pilihan.”
Langit mulai makan dengan tenang. Ishani duduk di kursi seberangnya sambil menimang Iyan.
“Kak Langit masih harus kembali ke Jakarta malam ini?”
Langit menggeleng. “Tidak.”
“Besok pagi saja.”
Ishani terlihat sedikit lega. “Bagus.”
Langit menatapnya. “Kamu takut sendirian?”
Ishani menggeleng cepat. “Tidak.”
Namun beberapa detik kemudian ia berkata pelan, “Sedikit.”
Langit tidak menanggapi dengan kata-kata. Namun ekspresinya terlihat jauh lebih lembut dari biasanya.
Di luar rumah, malam terasa tenang.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, rumah kecil itu terasa benar-benar hidup lagi.
biar ishani gak ngerasa cuma jadi beban
tapi kalo cuma karena kasihan dan tanggung jawab sama biru, mending gausah dinikahin
kasih nafkah aja tiap bulan
kalo gak nyaman harusnya nolak aja
bukan kewajiban kamu kok
emang dia udah mau jadi suami dan ayah untuk ishani sama anaknya
mereka sama2 masih anak2
kalian yg dewasa yg harusnya jaga mereka
Ini hanya mimpi sih ya...
Sebenarnya, kalau Langit ga jatuh cinta sama Ishani, kayak yang ga adil sih buat dia. kayak yang ga punya kehidupan sendiri. 🥲