NovelToon NovelToon
Mendapatkan Level 99999 Didunia Lain

Mendapatkan Level 99999 Didunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Reinkarnasi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Wakasa Kasa

Kai di reinkarnasi setelah mengalami kecelakaan mobil akibat menolong anak kecil , setelah di Reinkarnasi , ia kembali menjalani kehidupan keduanya , tetapi suatu hari ini malah masuk kedunia ketiga , apakah ada sesuatu yang direncanakan ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Kai langsung berkeringat dingin. Ia mundur setengah langkah, kedua tangannya terangkat defensif.

‎“Wah wah wah—tunggu dulu!” katanya cepat. “Dia dendam kesumat soal yang tadi!” gumamnya setengah putus asa. “Sudah kubilang kan itu murni kecelakaan!”

‎Namun jelas, penjelasan itu tidak banyak membantu.

‎Beberapa saat kemudian, suasana mulai mereda… setidaknya di permukaan.

‎Kai kini duduk sendirian di atas batang kayu, sedikit menjauh dari yang lain. Di depannya, api unggun mulai menyala, percikan kecilnya menari di udara malam yang perlahan semakin dingin.

‎Ia menusukkan sebatang ranting ke dalam api, mengaduknya pelan.

‎“Cih… nggak usah semarah itu juga kali,” gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

‎Api unggun berderak kecil.

‎Kai menghela napas, lalu menyandarkan siku di lututnya. “Yah… tapi emang sih…” lanjutnya dengan nada lebih jujur. “Aku memang bikin bajunya kebuka sampai level yang nggak masuk akal banget sih…”

‎Ia terdiam sejenak, menatap api yang terus berkedip.

‎Namun perlahan, ekspresinya berubah.

‎Dari sekadar canggung… menjadi lebih dalam. Lebih dingin.

‎‘Tapi kalau begini…’ pikirnya dalam hati.

‎Api unggun memantulkan cahaya ke matanya, membuat sorotannya terlihat berbeda.

‎‘Aku bisa menjauh dari White Snow…’

‎Angin malam berhembus pelan, membuat api sedikit bergoyang.

‎‘…dan bakal lebih gampang bergerak… sebagai seseorang magician misterius.’

‎“...tapi kok rasanya ada yang mengganjal, ya…”

‎Kai bergumam pelan, matanya masih menatap bara api yang mulai mengecil. Perasaannya tidak tenang—seperti ada sesuatu yang tidak beres, sesuatu yang luput dari perhatiannya.

‎Tiba-tiba—

‎“~KYAAA!!”

‎Suara teriakan perempuan memecah keheningan malam. Nyaring, jelas, dan penuh kepanikan.

‎Kai langsung mengangkat wajahnya, refleks berdiri.

‎“Amane-san!” serunya.

‎Tanpa berpikir panjang, ia langsung berlari menerobos semak-semak. Daun-daun dan ranting kecil menyapu tubuhnya saat ia melaju cepat.

‎‘Jangan-jangan bandit… atau monster…!’

‎Pikirannya dipenuhi kemungkinan terburuk. Langkahnya semakin cepat hingga akhirnya ia sampai pada sekumpulan daun besar yang tumbuh rapat, membentuk semacam “pintu” alami.

‎Kai menyibakkan daun itu—

‎“Amane-san, anda baik-ba—”

‎Kalimatnya terhenti di tengah jalan.

‎Pemandangan di depannya… sama sekali tidak seperti yang ia bayangkan.

‎Nia berdiri di sana dengan wajah jahil khasnya… tangannya jelas sedang meremas dada Amane.

‎Dan meskipun kedatangan Kai membuatnya berhenti bergerak, posisi tangannya… sama sekali tidak berubah.

‎“Eh…?”

‎Suasana langsung membeku.

‎Semua mata tertuju pada Kai.

‎Ekspresi mereka berbeda-beda—terkejut, datar, kesal… bahkan ada yang terlihat seperti sedang menilai.

‎Nia perlahan melangkah maju, wajahnya berubah kesal, satu tangannya terangkat seolah siap memukul.

‎Kai langsung panik.

‎“A-Anu… aku pikir kalian semua diserang sesuatu…” ucapnya terbata-bata, tangannya terangkat defensif.

‎Marina menatapnya dengan ekspresi datar seperti biasa. Tidak ada perubahan berarti di wajahnya.

‎“Kai…” katanya tenang. “Kamu datang untuk melihat, ya?”

‎“Bukan gitu maksudnya—”

‎PLAKK!

‎Suara tamparan keras terdengar.

‎Untuk kedua kalinya malam itu, tangan Amane mendarat tepat di pipi Kai.

‎Beberapa detik kemudian—

‎Kai sudah duduk di tanah, sedikit oleng, sementara di depannya para gadis berdiri dengan aura masing-masing.

‎“Yah… maaf deh…” gumam Kai sambil menyeringai kecil, berusaha meredakan suasana. “(hehe…)”

‎Nia menggaruk belakang kepalanya, tertawa ringan tanpa rasa bersalah. “Soalnya tadi pas dada Amane kebuka, dia tiba-tiba teriak kenceng sih.”

‎“Jangan salahkan orang lain!” potong Amane cepat, wajahnya memerah antara marah dan malu. “Padahal aku sudah menolaknya!”

‎Nia menggertakkan giginya. Ia menunduk sebentar, lalu mengangkat kepalanya dengan ekspresi serius—terlalu serius untuk sesuatu yang absurd.

‎“Melihat sesuatu yang indah di depan matamu… dan tidak menyentuhnya…” katanya dramatis. “Itu adalah dosa, kan?!”

‎“Justru menyentuhnya itu dosa besar!” balas Amane tak kalah keras.

‎Perdebatan itu hampir terasa seperti pertarungan kedua malam ini.

‎Di tengah kekacauan itu, Marina berjalan pelan ke samping Kai, lalu sedikit menunduk agar sejajar dengannya.

‎“Hei, Kai.”

‎“Kenapa?” jawab Kai lemas.

‎Dengan nada datar tanpa perubahan ekspresi, Marina berkata, “Kamu mau coba… meremas punyaku?”

‎Kai langsung menatapnya dengan wajah kosong.

‎“Bisa nggak… jangan tanya itu di situasi seperti ini…”

‎Dari belakang, Febriana tiba-tiba melambaikan tangan dengan semangat, wajahnya cerah seperti anak kecil yang menemukan sesuatu menarik.

‎“Iya, iya! Aku juga penasaran banget bagaimana rasanya!”

‎Kai hanya bisa menatap mereka semua dengan ekspresi lelah yang sulit dijelaskan.

‎“...Kalian ini sebenarnya lagi apa, sih…”

‎Namun tiba-tiba, sesuatu terlintas di pikirannya.

‎Ia melihat ke sekeliling.

‎“Loh… ngomong-ngomong, Violet-san tidak ikut bersama kalian?”

‎Dan tepat di saat itu—

‎Sreet!

‎Sebuah anak panah melesat dari samping, menembus udara malam dengan kecepatan tinggi—

‎Duk!

‎Menancap keras di batang pohon tak jauh dari mereka.

‎Kai langsung menoleh tajam ke arah asalnya

‎“Surat panah…?”

‎Di ujung panah itu, terlihat jelas secarik kertas terikat rapi—berkibar pelan tertiup angin malam.

1
Zero_R06
Bukan nya beruang ya ?
Khai
hai semua,
semoga semua sehat selalu ya,
Aamiin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!