NovelToon NovelToon
PEMBALASAN ISTRI Yang DITINGGALKAN

PEMBALASAN ISTRI Yang DITINGGALKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Penyesalan Suami
Popularitas:24.6k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Elena bukan perempuan biasa meskipun hidupnya tampak biasa. Lahir dari keluarga berada, ia rela meninggalkan segalanya demi menikahi Adrian, lelaki sederhana yang ia cintai sepenuh hati.

Mereka hidup miskin tapi bahagia. Hingga suatu hari Adrian merantau ke kota mencari kerja dan perlahan menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada lagi kiriman uang. Tapi Elena tetap setia menunggu, banting tulang sendirian, membesarkan kedua buah hatinya dengan keyakinan bahwa suaminya pasti punya alasan dan suatu saat pasti kembali.

Hingga pada akhirnya kabar itu datang padanya. Bahwa Adrian ternyata hidup mewah di kota bersama wanita lain.

Elena memutuskan datang ke kota menyusul suaminya dan ia mendapati pengkhianatan yang telah dirancang sejak lama. Elena diam-diam mulai menyusun rencana untuk membalaskan rasa sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Dua hari kemudian, berita tentang Elena muncul lagi. Kali ini bukan di portal bisnis biasa, melainkan di salah satu media ekonomi paling berpengaruh di negara itu. Media yang dibaca oleh investor, analis, bankir, dan orang-orang yang keputusannya bisa memengaruhi pergerakan pasar.

Judulnya tajam.

Elena Wirawan Ibu Rumah Tangga yang Tiba-tiba Jadi Eksekutif. Nepotisme Berkedok Regenerasi?

Artikel itu ditulis dengan sangat rapi. Terlalu rapi. Data disusun seolah-olah hasil riset mendalam, lengkap dengan kutipan dari sumber anonim yang mengaku mengenal kondisi internal perusahaan. Bagi orang yang tidak tahu cerita sebenarnya, semuanya terdengar meyakinkan.

Artikel itu menyebut Elena tidak memiliki pengalaman bisnis yang relevan. Disebutkan pula bahwa ia menghabiskan delapan tahun sebagai ibu rumah tangga biasa di kampung. Penunjukannya di Wirawan Group, menurut artikel itu, bukan karena kemampuan.

Tapi karena ia putri tunggal Hendra Wirawan. Tiga kata di judul itu saja sudah cukup untuk memicu reaksi.

Elena membaca artikel itu di meja kerjanya. Laptop terbuka di depannya, sementara secangkir kopi di sampingnya masih utuh dan belum disentuh. Ia membaca artikel itu dari awal sampai akhir tanpa melewatkan satu baris pun.

Setelah selesai, ia tidak langsung bereaksi. Ia hanya menatap layar beberapa detik, lalu menutup artikel itu dengan tenang.

Sebuah email masuk.

Pengirimnya Pak Wahyu Hartono, investor terbesar kedua di Wirawan Group. Isi emailnya singkat.

Saya perlu klarifikasi segera tentang kebenaran artikel yang beredar.

Elena menutup laptopnya perlahan. Ia berdiri dari kursinya tanpa tergesa-gesa, lalu mengambil ponselnya sebelum berjalan keluar dari ruangan. Tujuannya jelas yaitu ruangan ayahnya.

Saat Elena masuk, Hendra Wirawan sedang berbicara di telepon. Dari ekspresi wajahnya, ini jelas bukan panggilan pertama pagi itu. Rahangnya terlihat tegang, dan nada suaranya terdengar jauh lebih terkontrol dari biasanya.

Ia hanya menoleh sekilas ke arah Elena, lalu menunjuk kursi di depannya. Elena merasakan seperti de javu, saat pertama berita tentangnya muncul. Ia merasa bersalah pada ayahnya sejak ia masuk ke perusahaan sudah menimbulkan ke kacauan.

Elena tidak duduk kali ini. Ia tetap berdiri di depan meja ayahnya sambil menunggu percakapan itu selesai.

“Iya, Pak. Saya mengerti kekhawatirannya,” kata Hendra di telepon dengan nada tenang yang dipaksakan. Ia berhenti sebentar, mendengarkan lawan bicaranya. “Saya minta waktu sampai siang ini.”

Beberapa detik berlalu. Rahangnya mengeras.

“Baik. Saya pastikan.”

Telepon itu akhirnya ditutup.

Hendra meletakkan ponselnya di meja, lalu menatap Elena yang masih berdiri di depannya.

“Pak Wahyu meminta pertemuan hari ini,” katanya. “Dengan semua investor.”

Elena tidak terlihat terkejut.

“Berapa yang sudah menghubungi Ayah?” tanyanya.

“Hampir semua,” jawab Hendra singkat.

Elena mengangguk pelan, seolah jawaban itu memang sudah ia perkirakan sejak awal.

“Kalau begitu kumpulkan saja mereka,” katanya tenang. “Siang ini aku akan memberikan klarifikasi.”

Hendra menatapnya dengan sedikit keraguan.

“Elena… kamu yakin?”

Elena langsung memotong dengan nada yang tetap lembut.

“Ayah tidak perlu bicara apa pun di pertemuan nanti.” Ia berhenti sebentar sebelum menambahkan, “Biarkan aku yang menjawab.”

Hendra tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap anaknya beberapa detik dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ada sesuatu di matanya yang jarang Elena lihat sebelumnya, campuran antara kekhawatiran dan kepercayaan.

“Kalau kamu butuh sesuatu…” katanya akhirnya.

Elena menggeleng.

“Untuk saat ini aku tidak butuh apa-apa.” Ia mengambil napas pelan sebelum menambahkan, “Terima kasih, Yah.”

Setelah itu Elena keluar dari ruangan tersebut.

***

Ruang rapat utama lantai delapan penuh siang itu. Dua belas investor duduk di sekeliling meja panjang dengan wajah serius. Mereka adalah orang-orang yang sudah bertahun-tahun menaruh uang mereka di Wirawan Group.

Hari ini mereka datang dengan satu pertanyaan yang sama.

Pak Wahyu Hartono duduk di sisi kanan meja. Usianya sekitar enam puluh tahun, rambutnya sudah sepenuhnya putih. Cara bicaranya terkenal singkat, langsung ke inti, dan tidak pernah membuang kata-kata. Hari ini ekspresinya jelas tidak ramah.

Leon juga hadir di ruangan itu. Ia duduk dua kursi dari Pak Wahyu, bersandar santai di kursinya. Dibandingkan dengan yang lain, ia terlihat jauh lebih tenang.

Hendra Wirawan sudah duduk di ujung kiri meja.

Kursi utama di tengah meja masih kosong. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka.

Elena masuk. Ia mengenakan blazer hitam yang pas di tubuhnya. Rambutnya tersusun rapi, langkahnya stabil dan tidak tergesa-gesa. Di tangannya ada sebuah map tebal berisi dokumen.

Ia berjalan menuju kursi utama, tetapi tidak langsung duduk. Elena berdiri di belakang kursi itu dan menatap semua orang di ruangan tersebut.

“Selamat siang,” katanya.

Ia tidak berusaha berbasa-basi.

“Saya tahu semua orang di ruangan ini sudah membaca artikel yang terbit pagi ini. Jadi kita tidak perlu membuang waktu.”

Pak Wahyu langsung membuka percakapan.

“Elena,” katanya dengan suara berat. “Saya akan bicara langsung saja.”

Matanya tertuju pada Elena dengan tajam.

“Saya tidak datang ke sini untuk menyerang kamu secara personal.” Ia membuka map di depannya dan mengeluarkan salinan artikel tersebut. “Tapi saya punya tanggung jawab terhadap uang yang saya investasikan di perusahaan ini.”

Ia mengangkat artikel itu sedikit.

“Beberapa hal di sini perlu saya dengar jawabannya langsung dari kamu. Bukan dari timmu. Dan bukan dari ayahmu.”

Elena mengangguk tenang.

“Silakan.”

Pak Wahyu tidak membuang waktu.

“Kamu menghabiskan delapan tahun terakhir sebagai ibu rumah tangga.” Ia berhenti sebentar sebelum bertanya, “Itu fakta atau bukan?”

“Fakta,” jawab Elena tanpa ragu.

Beberapa investor saling melirik.

Pak Wahyu melanjutkan dengan nada yang sama datarnya.

“Dan sebelum kembali ke Wirawan Group tiga bulan lalu, kamu tidak punya pengalaman kerja formal di bidang bisnis atau properti.”

“Benar,” jawab Elena lagi. “Itu juga fakta.”

Ruangan sedikit bergeser. Beberapa orang bersandar di kursi mereka.

Pak Wahyu menyilangkan tangannya.

“Kalau begitu saya ingin tahu satu hal.” Ia menatap Elena lurus. “Apa yang membuat kamu layak memimpin proyek bernilai sebesar ini?”

Ia menambahkan dengan tegas, “Bukan karena nama keluargamu. Tapi karena kamu sebagai individu.”

Elena membuka mapnya.

Ia mengeluarkan beberapa lembar dokumen lalu meletakkannya di tengah meja agar semua orang bisa melihat.

“Transkrip akademik saya,” katanya.

Ia menunjuk dokumen pertama.

“Universitas Nusantara Prasetya. Fakultas Manajemen Bisnis dan Keuangan. IPK saya 3,97 dan saya lulus sebagai lulusan terbaik angkatan.”

Ia mengeluarkan dokumen berikutnya.

“Selama kuliah saya tiga kali masuk daftar mahasiswa berprestasi nasional.” Ia berhenti sebentar sebelum menambahkan, “Saya juga mewakili universitas dalam kompetisi bisnis internasional di Singapura. Tim kami masuk tiga besar dari dua puluh tujuh negara.”

Ruangan menjadi lebih sunyi.

Elena menatap Pak Wahyu langsung.

“Saya memang menikah muda,” katanya dengan nada yang tetap tenang. “Dan saya memilih keluarga di atas karier.”

Ia tidak menghindari fakta itu.

“Selama delapan tahun saya tidak bekerja di kantor mana pun. Itu benar.”

Ia lalu berkata dengan jelas,

“Tapi otak yang saya gunakan untuk lulus dengan nilai terbaik sepuluh tahun lalu adalah otak yang sama yang saya bawa ke ruangan ini hari ini.”

Elena menggeser berkas tebal berikutnya ke tengah meja.

“Ini analisis pasar properti kelas A yang saya susun sendiri selama dua minggu pertama saya kembali bekerja.”

Beberapa investor mulai membuka berkas itu. Begitupun Leon, ia membuka dengan tenang dan ada senyum kecil mengembang di wajahnya.

“Dan ini proyeksi proyek mixed-use yang sedang berjalan,” lanjut Elena sambil meletakkan berkas lain yang lebih tebal. “Lengkap dengan skenario terbaik, moderat, dan terburuk.”

Ruangan kembali hening.

Namun kali ini bukan hening yang tegang. Ini hening orang-orang yang sedang membaca sesuatu dengan serius.

Pak Wahyu membalik halaman demi halaman dengan teliti.

“Metodologi analisisnya dari mana?” tanyanya tanpa mendongak.

“Data BPS, laporan kuartalan tiga developer terbesar, dan data transaksi dari asosiasi pengembang,” jawab Elena. “Saya juga memasukkan variabel suku bunga KPR karena target pasar proyek ini sangat bergantung pada pembiayaan perbankan.”

Pak Wahyu akhirnya mengangkat kepalanya.

“Kamu yang menyusun ini sendiri?”

“Tentu saja,” jawab Elena.

Beberapa investor bertukar pandang. Leon mengangguk pelan saat membaca kembali berkas.

Pak Wahyu menutup berkas tersebut lalu bersandar di kursinya.

“Saya punya satu pertanyaan lagi,” katanya.

Nada suaranya kini lebih tenang.

“Kalau proyeksi ini meleset dan kita semua tahu di bisnis properti itu bisa terjadi, apa langkah mitigasinya?”

Elena menjawab tanpa membuka dokumennya.

“Halaman tujuh belas.”

Pak Wahyu membuka berkas itu.

“Skenario terburuk dengan tiga opsi mitigasi,” lanjut Elena. “Pertama, restrukturisasi jadwal konstruksi untuk efisiensi biaya. Kedua, diversifikasi segmen tenant untuk mengurangi ketergantungan pada satu pasar. Ketiga, partial divestasi pada fase dua jika occupancy rate fase satu tidak mencapai target di bulan kedelapan.”

Pak Wahyu membaca halaman tersebut. Lalu ia menutup berkasnya.

Ia melihat ke sekeliling meja, memperhatikan wajah para investor lain.

Akhirnya ia kembali menatap Elena.

“Tiga bulan,” katanya.

Elena menunggu.

“Kami beri kamu tiga bulan untuk membuktikan bahwa semua ini bukan hanya angka di atas kertas.”

Elena mengangguk.

“Tiga bulan,” katanya. “Baik.”

Pertemuan selesai sekitar tiga puluh menit kemudian. Para investor keluar satu per satu dari ruangan itu. Beberapa mengangguk kepada Elena saat melewatinya, sementara yang lain mulai berdiskusi pelan dengan nada yang jauh lebih tenang dibanding saat mereka datang.

1
Lee Mbaa Young
pelakor memang bgitu lbih galak, mau bangkrut masih sombong ngancam. gk pernh tau rasanya hidup miskin dan kehilangan anak sih si Clara.
Lee Mbaa Young
Yup tinggal nunggu karma kalian saja, karma tak Semanis kurma tentunya
Ma Em
Benci banget sama si Adrian , harusnya Alena jgn buka identitas nya dulu bahwa Alena putrinya tuan Wirawan agar Adrian langsung mau tanda tangan untuk perceraian Alena dgn Adrian , sekarang Adrian sdh tau status Alena putri dari tuan Wirawan ya otomatis Adrian tdk akan mau melepaskan Alena karena Alena anak orang kaya .
sunaryati jarum
Adrian hanya ingin dompleng nama besar Hana,di depan Clara katanya hanya ada dia.
arniya
bakal ada persaingan.....,
sunaryati jarum
Belum jadi janda sudah dapat perhatian dari dua pria pebisnis handal
sunaryati jarum
Jangan memanasi hati yang baru mulai hangat
sunaryati jarum
Kehancuran Clara dimulai
sunaryati jarum
Pasti Clara yg bilang
Ovha Selvia
Jgn sampai elena kalah sama clara dan adrian.. Clara padahal org ketiga alias pelakor, tapi seperti istri sah aja yg merasa tersaingi dgn kembalinya elena. Dia yg merebut adrian, tapi knp dia juga yg benci & dendam ke elena. Kemungkinan yg sabotase itu clara deh, tapi lets see 🤔🤔
Lili Inggrid
lanjut
Ovha Selvia
Pasti si clara lah pelakunya, klo si adrian mah ngikut2 aja..
Ovha Selvia
Waaah gak nyangka ternyata clara juga pintar, dia bahkan tau niatnya elena.. Elena, kamu harus selangkah lebih maju daripada pelakor.. Buktikan klo kamu seorang Elena Wirawan 💪
As Tini
yg kyk gini br AQ suka, hrs tegas berwibawa dan TDK menye"😄
As Tini
knp GK minta bantuan ke kluarga sndiri, pdhl kaya raya, demi anak hilangkan ego dan malu. pasti bklan di bantu kok, kasian ara
Sasikarin Sasikarin
lanjuuuuut 💪
Dessy C: siap kak 🫰
total 1 replies
arniya
mampir kak
Dessy C: makasih kak🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!