sepasang sahabat yang telah berbagi segalanya selama belasan tahun harus menghadapi ujian terberat dalam hubungan mereka, kehadiran orang baru dan ketakuran akan kehilangan satu sama lain jika mereka melangkah lebih jauh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayemon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAHASIA WARNA DAN BAYANG BAYANG DARI LONDON
Memasuki bulan keempat, badai mual yang menyiksa Kira perlahan mereda, digantikan oleh nafsu makan yang meledak-ledak dan perut yang mulai menonjol cantik di balik gaun longgarnya. Rumah di Jakarta Selatan itu kini dipenuhi dengan katalog perlengkapan bayi dan sampel kain flanel.
Pagi itu, Arlan sedang sibuk di halaman belakang, memasang sebuah papan kayu besar yang akan digunakan untuk acara gender reveal kecil-kecilan sore nanti. Hanya keluarga inti dan sahabat dekat seperti Maya yang diundang.
"Lan, jangan miring pasangnya! Struktur visualnya jadi berantakan kalau nggak presisi," teriak Kira dari balkon lantai dua, tangannya memegang sepotong semangka dingin.
Arlan mendongak, menyeka keringat di dahinya dengan lengan kaosnya. "Ra, ini cuma papan buat diledakkan balonnya, bukan maket gedung kementerian! Sudutnya sudah 90 derajat ini!"
"90 derajat menurut mata kamu, tapi menurut insting desainerku itu miring dua derajat ke kiri!" balas Kira sambil tertawa, lalu turun menghampiri suaminya.
Arlan meletakkan palunya dan menyambut Kira dengan pelukan satu lengan. "Kamu ini, makin hamil makin perfeksionis. Kasihan nanti si Kecil, kalau naruh mainan nggak simetris pasti langsung kena omel Bundanya."
"Biarin. Biar dia punya disiplin estetika sejak dini," Kira menyuapkan potongan semangka ke mulut Arlan. "Gimana? Balonnya sudah diisi sama dokter kandungan kemarin, kan? Kamu beneran nggak intip amplopnya?"
"Sumpah, Ra. Amplop dari dokter itu aku segel pakai lakban di laci kantor. Aku pun penasaran setengah mati. Menurut insting arsitekku... ini laki-laki. Soalnya tendangannya kuat banget kayak mau ngerubuhin dinding rahim," gurau Arlan sambil mengusap perut Kira.
"Kalau menurut aku perempuan. Soalnya dia pilih-pilih makanan banget, persis kayak aku," sahut Kira lembut.
Siang harinya, saat persiapan hampir selesai, ponsel Arlan yang tergeletak di meja taman bergetar hebat. Sebuah panggilan internasional. Arlan mengernyit, perasaannya mendadak tidak enak.
"Siapa, Lan?" tanya Kira yang sedang menata kue-kue kecil.
Arlan ragu sejenak, lalu mengangkatnya. "Halo?"
Suara di seberang sana terdengar parau, jauh dari kesan angkuh yang biasanya melekat. "Arlan... ini Maura."
Arlan membeku. Ia melirik Kira yang sedang sibuk, lalu berjalan menjauh ke arah pojok taman. "Maura? Ada apa lagi? Bukannya kamu di London?"
"Aku... aku akan kembali ke Jakarta besok. Ayah jatuh sakit, Lan. Serangan jantung koroner. Kondisi perusahaan sedang kacau, dan Ayah terus memanggil namamu. Dia ingin kamu yang memegang kendali sementara untuk proyek-proyek besar Anastasia Group agar tidak jatuh ke tangan kurator."
Arlan memijat pelipisnya. "Mau, aku punya hidupku sendiri sekarang. Aku punya proyek pemerintah, aku punya istri yang sedang hamil. Aku nggak bisa—"
"Aku nggak minta kamu kembali padaku, Lan," potong Maura, suaranya terdengar pecah oleh tangis. "Aku minta tolong sebagai rekan kerja Ayahmu. Ayah sangat mempercayaimu. Dia bilang hanya kamu yang punya integritas untuk menjaga warisannya sementara aku belajar mengelola manajemen. Tolong, Lan... sekali ini saja. Bukan buat aku, tapi buat Pak Gunawan yang sudah jadi mentormu."
Arlan terdiam. Pak Gunawan memang berjasa besar di awal kariernya. Namun, membawa kembali nama Maura ke dalam hidupnya sekarang adalah risiko besar.
"Aku akan bicarakan dengan Kira. Jangan berharap banyak," ucap Arlan pendek, lalu mematikan sambungan.
Sore harinya, acara gender reveal berlangsung meriah. Maya datang dengan heboh membawa kado berbungkus kertas kado netral. Bu Rahmi dan Ibu Lastri sudah tidak sabar menunggu momen puncak.
"Ayo, Lan! Ra! Tusuk balonnya!" seru Maya sambil menyiapkan kamera ponselnya.
Arlan dan Kira berdiri di depan papan kayu. Mereka memegang satu jarum besar bersama-sama. Arlan menatap mata Kira, mencoba menyembunyikan kegelisahan soal telepon Maura tadi.
"Satu... dua... tiga!"
DOORRR!
Potongan kertas kecil berwarna biru dan putih berhamburan ke udara, menutupi kepala mereka.
"LAKI-LAKI!" teriak Arlan kegirangan, ia langsung menggendong Kira dan memutarnya pelan. "Prediksi arsitek nggak pernah salah, Ra! Jagoan!"
Kira tertawa bahagia, air mata haru menetes di pipinya. "Iya, Lan. Jagoan kecil kita. Arlan Dirgantara Junior."
Bu Rahmi dan Ibu Lastri langsung menyerbu mereka dengan pelukan. Suasana penuh tawa dan doa. Namun, di tengah keriuhan itu, Maya menyadari wajah Arlan yang sempat termenung saat melihat ponselnya.
"Lan, kamu oke? Kok kayak ada beban gitu?" bisik Maya saat Kira sedang asyik mengobrol dengan para ibu.
Arlan menghela napas, membawa Maya sedikit menjauh. "Maura telepon tadi. Ayahnya sakit parah. Dia minta aku bantu pegang Anastasia Group sementara."
Maya melotot. "Apa?! Gila ya itu perempuan. Nggak ada kapok-kapoknya!"
"Ini soal Pak Gunawan, May. Beliau mentorku. Tapi aku bingung gimana ngomongnya ke Kira. Dia lagi bahagia banget hari ini, aku nggak mau ngerusak suasananya."
"Kamu harus jujur, Lan. Kalau dia tahu dari orang lain atau lihat Maura di kantor kamu, ledakannya bakal lebih parah," saran Maya tegas.
Malam harinya, setelah semua tamu pulang dan rumah kembali sunyi, Arlan menemukan Kira sedang duduk di studio, memandangi foto USG sambil mengelus perutnya.
"Ra," panggil Arlan pelan. Ia duduk di lantai, bersila di samping kursi Kira.
"Iya, Lan? Kenapa? Kok mukanya serius banget?" Kira meletakkan foto itu, instingnya mulai bekerja. "Ada hubungannya sama telepon tadi siang?"
Arlan tertegun. "Kamu tahu?"
"Aku desainer, Lan. Aku ahli membaca gestur dan ruang. Kamu menjauh ke pojok taman, nada bicaramu rendah, dan kamu nggak bahas soal telepon itu sampai sekarang. Siapa? Maura?"
Arlan menunduk, lalu mengangguk. Ia menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi. Tentang sakitnya Pak Gunawan, tentang kekacauan di Anastasia Group, dan tentang permintaan Maura.
"Dia bakal balik ke Jakarta besok," tutup Arlan dengan suara berat.
Kira terdiam lama. Ruangan itu mendadak terasa dingin. Ia menatap dinding yang penuh dengan sketsa masa depan mereka.
"Jadi, kamu mau ambil?" tanya Kira, suaranya sangat tenang—ketenangan yang justru membuat Arlan takut.
"Aku nggak tahu, Ra. Di satu sisi, Pak Gunawan itu orang baik. Beliau yang kasih aku kesempatan pertama saat semua orang meragukan aku. Tapi di sisi lain... aku nggak mau ada urusan lagi sama Maura. Apalagi sekarang kamu lagi hamil."
Kira bangkit dari kursinya, berjalan menuju jendela yang menatap taman belakang yang tadi sore penuh dengan balon biru. "Kalau kamu ambil, itu artinya kamu bakal sering ketemu dia. Kamu bakal rapat sama dia. Kamu bakal terlibat dalam urusan pribadinya lagi karena urusan perusahaan."
"Aku bakal jaga jarak, Ra. Aku janji."
Kira berbalik, matanya berkaca-kaca namun tatapannya tajam. "Lan, sebelas tahun kita sahabatan, aku tahu kamu itu orangnya nggak tegaan kalau soal balas budi. Tapi tolong ingat, sekarang ada aku dan anak kita. Maura itu bukan cuma 'masa lalu', dia itu distraksi yang berbahaya."
"Aku tahu, Ra. Makanya aku tanya kamu. Kalau kamu bilang jangan, aku bakal tolak mentah-mentah. Masa bodoh sama balas budi."
Kira mendekati Arlan, memegang wajah suaminya dengan kedua tangan. "Aku nggak mau jadi istri yang menghalangi suaminya balas budi pada mentornya. Itu bakal bikin kamu merasa bersalah seumur hidup. Tapi aku punya syarat."
"Apa syaratnya?"
"Semua pertemuan dengan Anastasia Group harus dilakukan di kantor kamu, bukan di kantor mereka. Harus ada asisten yang mendampingi. Dan... aku mau dilibatkan sebagai konsultan interior di proyek-proyek mereka yang kamu pegang."
Arlan tersenyum lebar, ia menarik Kira ke dalam pelukannya. "Itu bukan syarat, Ra. Itu proteksi tingkat tinggi. Dan aku setuju banget. Aku malah lebih tenang kalau kamu ada di sana buat 'ngawasi' suamimu yang ganteng ini."
"Ganteng dan gampang luluh," goda Kira sambil mencubit hidung Arlan. "Aku serius, Lan. Kita hadapi ini sebagai tim. Maura harus tahu kalau sekarang nggak ada lagi celah buat dia main drama."
Keesokan harinya, Arlan resmi menerima permintaan Pak Gunawan melalui pengacara keluarga. Maura sampai di Jakarta sore harinya dan langsung menuju rumah sakit.
Dua hari kemudian, Maura datang ke kantor Arlan. Ia tampak berbeda; matanya sembab, pakaiannya tidak lagi mencolok, dan ia tampak jauh lebih letih. Namun, langkahnya terhenti saat ia melihat Kira duduk di sofa ruang kerja Arlan, sedang memeriksa beberapa sampel material dengan perut yang sudah terlihat jelas.
"Halo, Maura," sapa Kira dengan senyum yang sangat sopan namun berjarak. "Turut berduka atas kondisi Pak Gunawan. Semoga beliau cepat pulih."
Maura menatap Kira, lalu menatap perutnya. Ada kilat kesedihan di matanya yang segera ia hapus. "Terima kasih, Kira. Aku... aku nggak menyangka kamu ada di sini."
"Kira adalah konsultan utama untuk semua proyek yang aku pegang sekarang, Mau," Arlan menyela sambil berdiri dari kursinya. "Jadi, semua laporan manajemen Anastasia Group harus dipresentasikan di depan kami berdua."
Maura mengangguk pelan, ia duduk di kursi di depan meja Arlan. "Aku mengerti. Terima kasih sudah mau membantu, Lan. Tanpa kamu, dewan direksi pasti sudah menyingkirkanku."
"Aku lakukan ini buat Pak Gunawan," tegas Arlan. "Jadi, mari kita bahas soal progres resort di Bali. Ada beberapa audit yang harus kamu jelaskan."
Pertemuan itu berjalan sangat profesional. Maura benar-benar fokus pada pekerjaan, mungkin karena ia terlalu lelah dengan kondisi ayahnya. Namun, Kira tetap waspada. Ia memperhatikan setiap interaksi, setiap tatapan.
Saat pertemuan selesai dan Maura bersiap pergi, ia berhenti di depan Kira.
"Kira," panggil Maura pelan.
"Ya?"
"Selamat ya buat kehamilanmu. Aku... aku sadar sekarang. Kenapa Arlan memilihmu. Kamu punya kekuatan yang nggak aku miliki."
Kira menatap Maura, mencoba mencari kejujuran di mata wanita itu. "Kekuatan apa?"
"Kekuatan untuk tetap tinggal di saat semuanya sulit. Aku dulu lari ke London, sementara kamu tetap di sini sebagai sahabatnya selama sebelas tahun. Sekarang aku tahu, kesetiaan itu memang nggak ada tandingannya."
Setelah Maura pergi, Arlan mendekati Kira dan memeluknya dari belakang. "Kamu dengar itu? Musuhmu baru saja menyerah secara terhormat."
Kira menyandarkan kepalanya di bahu Arlan. "Bagus kalau dia sadar. Tapi tetap saja, Lan, jangan kasih dia kesempatan buat 'curhat' soal kesepiannya di London atau soal beratnya urus perusahaan sendirian."
Arlan tertawa lepas. "Siap, Komandan! Struktur pertahanan kita sudah berlapis baja. Nggak akan ada yang bisa nembus."
Malam itu, mereka pulang ke rumah dengan rasa lega. Bab baru dimulai; Arlan memimpin proyek raksasa, Kira menjaga dari belakang, dan si Jagoan kecil terus tumbuh di dalam sana. Sebelas tahun persahabatan mereka telah mengajarkan bahwa untuk menghadapi badai, mereka tidak butuh dinding yang tinggi, tapi akar yang saling mengunci.
"Lan," panggil Kira saat mereka di mobil.
"Ya?"
"Besok kita beli cat warna biru buat kamar bayi ya?"
"Biru langit atau biru laut?"
"Biru yang paling kuat, sekuat kamu jaga aku hari ini."
Arlan menggenggam tangan Kira erat, menciumnya di bawah lampu jalan Jakarta yang mulai menyala. "Siap, Nyonya Dirgantara. Apapun buat pondasi hidupku."