Ren cuma pegawai kantoran biasa.
Setiap hari, ia mengurus dokumen para Awakened sambil berharap bisa pulang tepat waktu. Tapi setelah sebuah insiden, hidupnya berubah total.
Ia mengalami Awakening … dan mendapatkan kemampuan paling aneh yang pernah ada:
"Tidak Melakukan Apapun."
Kekuatan yang terdengar payah. Tidak berguna. Bahkan memalukan.
Masalahnya, kemampuan itu mungkin jauh lebih berbahaya daripada yang dibayangkan siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Sepatu bot berujung baja itu menghantam genangan aspal. Air bercampur lumpur hitam muncrat, menodai ujung celana kargonya.
Chen menutup pintu sedan dengan bahu. Tangannya secara refleks meraba sarung pistol di pinggang, sebuah kebiasaan taktis untuk menghibur diri dari rasa letih. Tepat pada detik itu, gerakannya membeku.
Tengkuknya terasa ringan. Jantungnya memompa darah dalam ritme stabil, bukan pacuan kafein yang biasa menyiksanya. Tadi di dalam mobil, ia nyaris mati kelelahan. Sekarang? Paru-parunya menghirup bau ozon dan karat tanpa sedikit pun rasa sesak. Ototnya segar bugar.
Ini sangat tidak wajar.
Pintu di sisi seberang dibanting tertutup. Ren ikut keluar. Sepatunya menginjak tepian trotoar yang hancur.
"Jadi, apa yang harus kulakukan sekarang?" celetuk Ren santai. Matanya menyapu deretan gedung beton yang separuh rubuh.
Chen menghentikan usapan di pinggangnya. Tatapannya menajam, menelusuri wajah datar partner barunya itu. Otaknya berusaha mencari korelasi antara hilangnya rasa lelah dengan keberadaan pemuda ini.
Nihil. Tak ada petunjuk.
"Ikuti aku," potong Chen tajam. Ia menepis keraguan irasional yang baru saja merayap di tengkuknya.
Mereka melangkah berdampingan mendekati kerumunan berseragam. Garis polisi holografik berpendar biru menyilaukan, membatasi lorong gang sempit itu. Rinai gerimis buatan menetes dari pipa pendingin kota yang bocor di atas kepala mereka.
Tiba-tiba terdengar dengung statis pelan.
Chen melirik dari sudut mata. Ren tengah menatap tablet di tangan kirinya, sementara sebuah drone portabel seukuran telapak tangan melayang naik dari bahu pemuda itu. Baling-baling kecilnya mendesing, memotong udara lembap dengan presisi mekanis.
Chen memutar tubuhnya seketika. Matanya menyorot tajam benda terbang tersebut.
Ren sedikit mengangkat alisnya. Sebuah gerakan mikro yang memecah wajah apatisnya. "Ada apa? Kau mau pakai drone juga?"
Kapten itu menggelengkan kepalanya sedikit. Rahangnya mengeras. "Tidak. Kenapa kau butuh mainan itu di sini?"
"Laporan." Ren mengetuk layar tabletnya dua kali. "Untuk arsip data AFC."
Sangat singkat. Terlalu prosedural. Tidak ada nada intimidasi atau gugup dalam suara Ren.
Chen membuang napas kasar lewat hidung. "Asal kau tak menghalangi jalanku."
Mereka menembus barikade cahaya biru. Seorang penyidik garis depan dengan armor taktis dan lambang AFC di peralatannya. Helm taktisnya basah oleh gerimis.
"Bagaimana kondisi ruang isolasi?" tanya Chen tanpa basa-basi.
"Sesuai instruksi Anda, Kapten Chen. Sampel bukti primer sudah kami kumpulkan," lapor petugas itu cepat. Tangannya menunjuk ke arah gundukan di ujung gang.
"Oke. Pimpin jalannya. Ikuti aku," instruksi Chen. Ia memberi isyarat tangan bergelombang kecil.
Ren hanya mengangguk pelan. Langkahnya santai, seolah sedang berjalan-jalan di taman kota, bukan di pusat pembantaian.
Bau amis seketika menyengat rongga hidung. Bukan sekadar darah segar. Ini bau zat besi yang terbakar bercampur lelehan polimer.
Permukaan aspal di ujung gang terkoyak parah. Dinding bata di sisi kanan hangus menjadi arang. Sayatan-sayatan dalam merobek logam penyangga gedung, seolah ada raksasa tak kasatmata yang baru saja mengamuk membawa pedang gergaji.
Darah memercik hingga ke ketinggian tiga meter. Mengental menjadi gel marun pekat di bawah lampu rotator darurat.
"Jadi di sini, ya," komentar Ren lirih. Jemarinya diam. Matanya menatap datar potongan kabel yang berlumuran lendir merah.
Chen mengabaikan gumaman itu. Ia melangkah lebih dekat ke pusat episentrum ledakan.
Otot pelipisnya menonjol. Ia memanggil anomalinya. Trace.
Dunia di mata Chen berkedip statis, lalu berubah. Realitas fisik meredup, digantikan oleh garis-garis vektor neon berkedip. Abu menjadi jejak api. Cipratan darah tertarik mundur, membentuk kalkulasi lintasan senjata. Ia membaca residu mematikan yang tertinggal di udara.
"Ada ledakan terpusat di awal," gumam Chen pelan. Ia menjabarkan visualisasi di kepalanya menjadi kata-kata. "Lalu diikuti sayatan ganda... menyilang dari titik buta."
Tubuh Chen mendadak kaku. Ia berbalik lambat ke arah Ren.
"Anehnya," tekan Chen. Suaranya serak, nyaris menyerupai geraman tertahan. "Pola tebasan ini identik dengan orang yang menyerangmu tempo hari."
Ekspresi Ren sedikit mengerut. Sudut bibirnya turun satu milimeter. Ada kebingungan yang tertakar sempurna di wajahnya. "Iyakah? Itu aneh."
Chen memasang raut skeptis yang mematikan. Matanya yang menyala karena efek Trace menembus pupil Ren. Membongkar setiap inci gestur pemuda itu.
Benarkah bukan dia? Otak logis Chen menjerit. Ekspresi Ren kelewat murni. Tidak ada keringat dingin. Tidak ada pergeseran tumpuan kaki. Semuanya menunjukkan kepolosan seorang saksi biasa.
Namun insting detektifnya menolak percaya.
Chen memaksakan visi Trace-nya untuk meraba tubuh Ren. Ia mencari partikel. Residu pembunuhan. Jejak niat murni. Apa saja.
Nihil.
Bukan sekadar tidak ada. Ini kekosongan mutlak. Persepsi Trace-nya seolah ditelan oleh lubang hitam tiap kali menyentuh kulit Ren. Radarnya kehilangan arah, menghilang perlahan ke dalam ruang hampa tanpa batas.
Kepala Chen berdenyut nyeri. Kepanikan mikroskopis menusuk saraf sadarnya.
Apakah kemampuannya mulai rusak? Ataukah otak tuanya ini sudah membusuk karena paranoia berkepanjangan? Ia mulai mempertanyakan realitas yang diinjaknya. Mempertanyakan apakah sisa kewarasannya sekadar delusi yang dirajut oleh stres kronis.
Tarikan napas Chen sedikit bergetar. Ia memutus paksa koneksi Trace-nya sebelum otaknya terbakar oleh paradoks logika. Realitas gang kumuh itu kembali normal di matanya.
Ia menghela napas panjang. Udara dingin terasa mengiris tenggorokan paronnya.
"Baiklah," putus Chen. Nada suaranya mendadak hampa. "Dengan kemampuanku, aku sudah cukup melihat."
Ia memutar tumitnya. Berjalan melewati puing berdarah itu tanpa menoleh lagi.
"Ikuti aku."