NovelToon NovelToon
Lepaskan Aku Mas, Aku Menyerah

Lepaskan Aku Mas, Aku Menyerah

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / CEO / Penyesalan Suami / Romantis / Romansa / Cintapertama
Popularitas:18.6k
Nilai: 5
Nama Author: Itz_zara

Lima tahun menikah, Samira tak pernah dicintai.

Pernikahannya lahir dari kesalahan satu malam bukan dari cinta, melainkan kehamilan yang memaksa Samudra menikahinya.
Ia mencintai sendirian. Bertahan sendirian.

Hingga suatu hari, lelah itu tak bisa lagi ditahan.

“Lepaskan aku, Mas… aku menyerah.”

Karena pernikahan tanpa cinta hanya akan mengajarkan satu hal: kapan seseorang harus berhenti bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itz_zara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Isi Hati

Pertemuan itu berlangsung di sebuah restoran mewah yang berada di lantai atas gedung perkantoran. Pemandangan kota terlihat jelas dari balik dinding kaca besar, lampu-lampu mulai menyala seiring langit yang semakin gelap.

Suasana tenang, elegan sangat cocok untuk pembicaraan bisnis.

Samudra duduk tegak di kursinya, berhadapan dengan dua orang klien yang sejak tadi memperhatikan penjelasannya dengan serius. Di sampingnya, Sania sesekali membuka laptop dan menunjukkan beberapa data pendukung.

“Jadi seperti yang tadi saya jelaskan, strategi ini akan lebih efektif untuk jangka panjang,” ujar Samudra dengan tenang, suaranya stabil dan penuh keyakinan.

Salah satu klien mengangguk pelan.

“Presentasinya cukup jelas, Pak Samudra.”

Sania menambahkan dengan profesional, “Kami juga sudah menyiapkan simulasi proyeksi jika rencana ini dijalankan dalam tiga bulan ke depan.”

Ia memutar layar laptop sedikit agar lebih terlihat oleh klien. Samudra melirik sekilas ke arah Sania. Seperti biasa rapi, cepat, dan tanpa celah.

Semua berjalan sesuai rencana.

Pembicaraan berlanjut sekitar satu jam. Tidak ada ketegangan berarti, bahkan suasana sempat mencair dengan beberapa candaan ringan dari pihak klien.

Hingga akhirnya…

“Baik, Pak Samudra,” ujar klien itu sambil tersenyum.

“Kami setuju untuk bekerja sama.”

Kalimat itu langsung membuat suasana terasa lebih ringan.

Sania tersenyum puas, sementara Samudra hanya mengangguk tipis, tetap tenang seperti biasa.

“Terima kasih atas kepercayaannya,” jawab Samudra.

Mereka pun berjabat tangan sebagai tanda kesepakatan.

Pertemuan selesai.

@@@

Beberapa menit kemudian, Samudra dan Sania berjalan keluar dari restoran.

Langit sudah benar-benar gelap. Angin malam berhembus pelan, membawa udara yang lebih dingin dibanding sore tadi.

“Selamat, Pak. Meeting-nya lancar,” ujar Sania sambil berjalan di sampingnya.

Samudra mengangguk.

“Kerja bagus.”

Sania tersenyum tipis.

“Semua sudah sesuai rencana.”

Langkah mereka terhenti di dekat mobil. Sania menatap Samudra sebentar, lalu bertanya,

“Bapak langsung kembali ke hotel?”

“Iya.”

“Besok pagi kalau ada jadwal lanjutan. Saya kirim detailnya nanti malam.”

Samudra mengangguk singkat.

“Oke.”

Beberapa detik hening. Sania seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi urung.

“Kalau begitu, saya duluan ya, Pak.”

“Iya.”

Sania masuk ke mobilnya sendiri dan pergi lebih dulu. Sementara Samudra berdiri sejenak di tempatnya.

Angin malam menyapu wajahnya.

Namun pikirannya kembali melayang. Bukan ke klien. Bukan pula ke pekerjaan. Melainkan ke kamar hotel. Ke seseorang yang sejak tadi tidak lepas dari bayangannya.

Samira.

Tanpa sadar, ia mengeluarkan ponselnya. Menatap layar beberapa detik. Seolah ragu.

Lalu akhirnya…

Ia membuka pesan.

Samudra:

Sudah makan?

Ia menatap pesan itu beberapa saat sebelum mengirimkannya.

Tidak lama…

Balasan masuk.

Samira:

Sudah, Mas. Tadi makan sama Binar di kamar.

Samudra membaca pelan.

Lalu mengetik lagi.

Samudra:

Nggak keluar?

Beberapa detik.

Samira:

Enggak. Nunggu Mas katanya mau jalan bareng…

Jari Samudra berhenti di atas layar.

Ia menghela napas pelan.

Samudra:

Maaf. Tadi meetingnya sampai malam.

Balasan tidak langsung datang.

Beberapa detik terasa lebih lama dari biasanya.

Hingga akhirnya—

Samira:

Iya, nggak apa-apa kok Mas ^-^

@@@

Pintu kamar hotel terbuka.

Klik.

Samira yang sedang duduk di sofa langsung menoleh. Binar sudah tertidur di atas kasur, memeluk boneka kesayangannya.

“Mas…”

Samudra masuk sambil melepas jam tangannya.

“Iya.”

Ia melirik ke arah kasur.

“Bibi sudah tidur?”

Samira mengangguk.

“Iya. Dari tadi nunggu Mas, tapi akhirnya ketiduran.”

Kalimat itu membuat langkah Samudra sedikit melambat.

“Dia sempat tanya Mas?” tanyanya.

“Iya.”

Hening sejenak. Samira berdiri dari sofa.

“Meeting-nya lancar?”

“Lancar.”

Jawaban singkat seperti biasa. Namun kali ini tidak terasa sejauh biasanya. Samira mengangguk kecil.

“Syukurlah.”

Ia ingin mengatakan sesuatu. Tapi ragu. Sementara itu, Samudra justru menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya.

Seolah sedang memikirkan sesuatu.

“Mir.”

“Iya?”

“Besok kita jalan-jalan.”

Samira sedikit terkejut.

“Beneran?”

Samudra mengangguk.

“Iya. Mas udah selesai urusannya.”

Nada suaranya lebih tegas. Seolah kali ini ia benar-benar berniat. Samira tersenyum kecil.

“Iya.”

Namun sebelum ia sempat berbalik— Samudra tiba-tiba berkata lagi,

“Tadi…”

Samira menoleh.

“Tadi kenapa, Mas?”

Samudra terdiam sejenak. Lalu menggeleng pelan.

“Nggak apa-apa.”

Ia berjalan melewati Samira menuju kamar mandi. Sementara Samira tetap berdiri di tempatnya. Hatinya kembali berdebar. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya ingin dikatakan Samudra. Tapi satu hal yang pasti—

Pria itu berubah.

Sedikit demi sedikit.

Dan perubahan kecil itu…

Justru yang paling membuatnya takut berharap terlalu jauh.

@@@

Malam itu akhirnya mereka tidak jadi keluar.

Binar sudah terlelap di atas kasur, napasnya teratur, tangannya masih memeluk boneka kelinci kesayangannya. Lampu kamar dibuat lebih redup, hanya menyisakan cahaya hangat dari lampu tidur di sudut ruangan.

Suasana menjadi jauh lebih tenang.

Samira duduk di sofa, kedua tangannya saling menggenggam di pangkuan. Sesekali ia melirik ke arah Samudra yang baru keluar dari kamar mandi dengan kaos santai.

Pria itu terlihat lebih “santai” sekarang tidak seformal saat bekerja.

Samudra berjalan pelan, lalu duduk di sofa yang sama, menyisakan jarak yang tidak terlalu dekat… tapi juga tidak sejauh biasanya.

Beberapa detik, mereka hanya diam.

Hening.

Bukan canggung… tapi seperti ada banyak hal yang ingin dikatakan, hanya saja belum tahu harus mulai dari mana.

Samudra menyandarkan punggungnya.

“Nggak jadi keluar,” gumamnya pelan.

Samira tersenyum tipis.

“Iya… Bibi sudah tidur.”

Hening lagi.

Samudra melirik sekilas ke arah Samira.

“Kamu capek?”

Samira menggeleng kecil.

“Nggak terlalu.”

Lalu, setelah ragu beberapa detik, ia menambahkan pelan,

“Mas yang capek harusnya.”

Samudra menghembuskan napas pelan.

“Lumayan.”

Ia menatap ke depan, lalu berkata dengan nada lebih rendah,

“Tapi… entah kenapa, Mas malah nggak pengen langsung tidur.”

Samira sedikit menoleh.

“Kenapa?”

Samudra tidak langsung menjawab. Tatapannya beralih ke arah Samira.

Lama.

Membuat jantung Samira kembali berdetak tidak teratur.

“Aku mau ngobrol,” ujarnya akhirnya.

Samira sedikit terdiam, lalu mengangguk pelan.

“Iya.”

Samudra mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, kedua tangannya bertaut.

“Mir…”

“Iya, Mas?”

“Selama ini… kamu bahagia?”

Pertanyaan itu datang begitu saja. Langsung. Dan… menusuk. Samira membeku beberapa detik. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan keluar dari Samudra.

“Mas kok nanya begitu?”

“Jawab saja.”

Nada suaranya tetap tenang, tapi kali ini… lebih dalam. Samira menunduk pelan. Jarinya saling memainkan ujung kain bajunya.

Beberapa detik ia diam… mencoba merangkai jawaban.

“Aku…” suaranya pelan.

“Bahagia, Mas.”

Samudra memperhatikannya.

“Bener?”

Samira mengangkat wajahnya, memaksakan senyum kecil.

“Iya.”

Namun mata tidak pernah bisa benar-benar berbohong. Samudra menarik napas pelan.

“Mir… kita sudah lima tahun nikah.”

Samira terdiam.

“Dan Mas tahu… Mas bukan suami yang baik.”

Kalimat itu membuat Samira langsung menoleh.

“Mas…”

“Mas terlalu sibuk,” lanjutnya.

“Sering nggak ada di rumah. Bahkan waktu Bibi kecil, Mas hampir nggak pernah benar-benar ada.”

Suasana mendadak menjadi lebih berat. Samira menggigit bibirnya pelan.

“Itu karena kerjaan Mas…”

“Bukan itu,” potong Samudra pelan.

Samira terdiam lagi.

Samudra menatapnya, kali ini lebih dalam.

“Mas mau tanya satu hal lagi.”

Samira mengangguk pelan.

“Iya…”

“Kalau… kamu punya kesempatan untuk mengulang dari awal…”

Ia berhenti sejenak.

Seolah ragu.

“…kamu masih mau nikah sama Mas?”

Pertanyaan itu membuat dunia Samira seperti berhenti sesaat. Dadanya terasa sesak. Matanya mulai memanas.

Ia tidak langsung menjawab.

Hanya menunduk… menahan sesuatu yang sejak lama ia simpan.

“Mir…”

Samira mengangkat wajahnya perlahan.

Dan kali ini… tidak ada senyum.

Hanya kejujuran.

“Aku… akan tetap pilih Mas.”

Jawaban itu keluar pelan.

Samudra terlihat sedikit terkejut.

“Kenapa?”

Samira tersenyum kecil.

“Karena dari dulu… aku memang maunya Mas.”

Samudra terdiam.

Untuk pertama kalinya ia benar-benar tidak punya jawaban.

Samira menunduk lagi.

“Aku tahu Mas sibuk. Aku tahu Mas nggak bisa selalu ada.”

Suaranya mulai bergetar sedikit.

“Tapi… aku tetap nunggu.”

Hening.

“Walaupun kadang merasa aku mau menyerah,” lanjutnya pelan.

“Kadang ngerasa sendirian… tapi aku tetap nunggu.”

Samudra menatapnya tanpa berkedip. Ada sesuatu yang terasa menekan dadanya. Perasaan yang jarang ia rasakan.

“Kenapa kamu nggak pernah bilang?” tanyanya pelan.

Samira tersenyum kecil.

“Mas pernah kasih aku waktu buat bilang?”

Samudra langsung terdiam.

Telak.

Samira melanjutkan, lebih pelan,

“Mas selalu sibuk. Pulang malam. Kadang bahkan kita cuma ketemu sebentar.”

Ia mengangkat bahu kecil.

“Aku takut… kalau aku ngomong, malah buat Mas marah."

Kalimat itu membuat Samudra menunduk. Tangannya mengepal pelan. Rasa bersalah itu… nyata.

Beberapa detik mereka kembali diam.

Lalu…

Tanpa banyak kata—

Samudra menggeser posisinya sedikit lebih dekat.

Pelan.

Hati-hati.

Seolah memberi ruang… tapi juga mencoba mendekat.

Samira menyadari itu.

Jantungnya kembali berdebar.

“Mir…”

“Iya…”

Suara mereka kini sama-sama lebih pelan.

“Mas nggak janji bisa langsung berubah,” ucap Samudra jujur.

“Tapi… Mas mau coba.”

Samira menatapnya.

“Boleh?”

Pertanyaan itu… sederhana.

Namun penuh arti.

Samira tersenyum.

Kali ini lebih hangat.

“Iya, Mas.”

@@@

Malam semakin larut.

Percakapan mereka perlahan mereda, menyisakan keheningan yang berbeda dari biasanya bukan lagi canggung, melainkan hangat dan menenangkan.

Samira menarik napas pelan.

Hatinya masih dipenuhi banyak hal, tapi untuk pertama kalinya… tidak terasa sesak. Samudra menatapnya beberapa detik lebih lama.

Seolah belum ingin mengakhiri momen itu.

“Sudah malam,” gumamnya pelan.

Samira mengangguk.

“Iya…”

Ia berdiri lebih dulu, berjalan pelan ke arah kasur, memastikan Binar masih tidur nyenyak. Selimut putrinya ia rapikan dengan hati-hati.

Samudra ikut berdiri.

Lampu kamar semakin diredupkan. Hanya tersisa cahaya temaram yang membuat suasana terasa semakin intim.

Samira baru saja berbalik…

Saat tiba-tiba—

“Mir…”

Langkahnya terhenti.

“Iya, Mas?”

Samudra mendekat.

Pelan.

Tidak terburu-buru.

Tatapannya kali ini berbeda lebih lembut… dan lebih jelas.

Tanpa banyak kata—

Tangannya terangkat, menyentuh sisi wajah Samira dengan hati-hati.

Gerakan sederhana itu saja sudah cukup membuat napas Samira tercekat.

Lalu…

Samudra menunduk sedikit.

Sebuah kecupan hangat mendarat di dahi Samira.

Lembut.

Tenang.

Dan… penuh arti.

Samira memejamkan matanya sesaat.

Hatinya bergetar.

Belum sempat ia membuka mata—

Samudra kembali mendekat.

Lebih dekat dari sebelumnya.

Dan kali ini…

Kecupan itu berpindah.

Singkat.

Mendarat pelan di bibir Samira.

Tidak tergesa.

Tidak menuntut.

Hanya… memastikan.

Bahwa jarak di antara mereka… benar-benar mulai hilang.

Samira terdiam.

Namun kali ini…

Ia tidak membeku.

Tangannya perlahan mencengkeram ujung baju Samudra, seolah tanpa sadar.

Dan itu cukup untuk membuat Samudra tersenyum tipis.

Ia tidak melanjutkan.

Hanya menatap Samira sejenak.

“Tidur, ya,” ucapnya pelan.

Samira mengangguk kecil.

“Iya, Mas…”

Mereka pun naik ke atas kasur.

Binar tetap di tengah, tertidur lelap tanpa terusik.

Samira berbaring di sisi lain, membelakangi sedikit karena masih merasa canggung… atau mungkin malu.

Namun beberapa detik kemudian—

Ia merasakan sesuatu.

Hangat.

Pelan.

Lengan Samudra melingkar di pinggangnya.

Tidak memaksa.

Tidak menahan.

Hanya… ada.

Samira sedikit terkejut.

Tubuhnya menegang sejenak.

Namun perlahan…

Ia mulai rileks.

Tangannya tanpa sadar menyentuh tangan Samudra yang ada di pinggangnya.

Tidak menolak.

Justru… menggenggamnya pelan.

Di belakangnya, Samudra menghela napas pelan.

Dekat.

Sangat dekat.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

“Mas…”

“Hmm?”

“Terima kasih…”

Suara Samira hampir seperti bisikan. Samudra tidak langsung menjawab. Ia hanya sedikit mengeratkan pelukannya.

Dan itu… sudah menjadi jawaban.

Malam itu—

Tidak ada kata cinta.

Tidak ada janji berlebihan.

Namun dalam pelukan hangat yang sederhana itu…

Ada sesuatu yang perlahan tumbuh.

Rasa yang dulu sempat hilang.

Kini… mulai kembali.

Dan untuk pertama kalinya…

Samira tertidur dengan perasaan tenang—

Di dalam pelukan suaminya sendiri.

@@@

Hai Semuanya!

Selamat Datang Di Cerita Baru Aku!!!

Mohon maaf kalau alurnya terasa lambat. Aku memang sengaja membuatnya bergaya slow burn supaya setiap detail dan emosi dalam cerita nya bisa lebih terasa.

Jangan lupa like, comment, follow, dan share cerita ini ya!!!

Terima Kasih!

1
Uthie
Wahhh.... Samudera telat niii... barang macam itu kenapa gak di hancurkan dulu jika sdh merasa nyaman 😤
Uthie: lanjutttt jangan lama-lama 👍😆
total 3 replies
Yunita Sophi
thor jgn di kasih bom dong... petasan aja bikin kaget dan takut..😂 semoga mereka kuat menghadapi cobaan yg akan merusak hubungan mereka yg mulai manis...
Itz_zara: Hmm gimana yakk🤔
total 1 replies
cinta semu
awal baca biasa aja tapi makin lama ..bikin nagih tuk lanjut baca😂😂titip samudera sm Samira ya Thor ...bikin bahagia sampai tamat
Itz_zara: Aww makaasih🥰
total 1 replies
cinta semu
nah kan meluk istri sambil tidur bikin ketagihan kan ...lama2 u akan kecanduan samudera 😂😂😂😂
Itz_zara: Nagih banget🤭
total 1 replies
Uthie
Masih penasaran soal Judulnya.. apakah jadi terealisasi kan.. atau.. malah sdh berubah gak jadi pisah 😁👍
Uthie: Woooww.... makin penasaran dehhh jadinya 😂
total 2 replies
Ma Em
Akhirnya Samudra sdh baik dan menerima Samira sebagai istrinya bahkan sdh dikenalkan sama teman2 nya , semoga rumah tangga Samira dgn Samudra langgeng , selalu rukun dan bahagia .
Itz_zara: Aminn, doain ya lancar terus rumah tangganya😆
total 1 replies
Fina Silaban Tio II
ceritanya aku suka
Itz_zara: Thank u 🥰
total 1 replies
Si Memeh
bagus banget cerita nya
Yunita Sophi
Samira kok gak jadi cemburu sih... cemburu dong 😄😄😄
Itz_zara: Selalu positif thinking dia🤭 jadi gak gampang cemburu🤭
total 1 replies
Uthie
Sukkkkaaa BANGETTT ceritanya... terdiri dari beberapa part cerita.. jadi berasa banyak dan Puasssss bacanya 👍😘🤗
Itz_zara: Awww makasih ya😆🥰
total 1 replies
Yunita Sophi
thor semangat 💪💪💪 kopi pagi ☕️🍞
Itz_zara: Thank u ya masih nungguin cerita ini🥰
total 1 replies
Yunita Sophi
klo udah ada cemburu berarti udah ada cinta ya Sam 😍😄
Itz_zara: Kayaknya🤭🤫
total 1 replies
Yunita Sophi
aq cubit jantung Samudra klo tergoda sama pelakor... kan dia yg ninggalin kamu Sam masa mau tergoda sih...
Itz_zara: Waduh mau di cubit jantungnya🤭
total 1 replies
Yunita Sophi
ahh makin suka liat yg bahagia...😍
Itz_zara: Awww makasih🥰
total 1 replies
Yunita Sophi
nah gitu dong Sam qta kan jadi ketularan bahagia🤭😄😄😍
Itz_zara: Samudra memang susah ditebak🤫
total 1 replies
Yunita Sophi
semoga kalian bahagia mulai dari saat ini..😍
Itz_zara: Aminnn🥰
total 1 replies
Yunita Sophi
seharusnya kamu bahagia Samudra mendapatkan istri yg sll ada walau kamu tdk mencintai nya...
Itz_zara: Orang yang punya gengsi gedhe kak🤭
total 1 replies
Uthie
Nexxxttt 💞💞
Itz_zara: Siap😆 Maap ya balasnya telat😆
total 1 replies
Yunita Sophi
jangan sampai ulet keket mengganggu kebahagiaan mereka
Itz_zara: hahaha ulet keket gak tuh🤭
total 1 replies
Yunita Sophi
nah gitu dong Sam... so cool bikin gemes aja tau
Itz_zara: Samudra si cowok cool🥶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!