"Jika tolak ukurmu mengenai cinta adalah pengorbanan seorang yang rela mati demi cinta. Maka itu bukan cinta, tapi obsesi, nafsu."
Prince mengucapkan kata itu dengan tegas. Dia ingin Isma membuka pikirannya. Dia ingin Isma lebih rasional dalam mengartikan cinta.
"Kamu sendiri yang bilang, kamu sangat mencintaiku. Kamu bahkan mengatakan akan menikahiku." Ucap Isma terisak. Tangisnya masih belum usai.
"Aku belum siap pindah keyakinan, Isma. Aku masih sangat percaya pada Tuhanku, sama halnya dengan kamu yang sangat yakin akan Allah Tuhan-mu."
"Kalau begitu, aku saja yang..." Ucapan Isma terhenti. Prince menghempaskan HP-nya tepat di hadapan Isma, bahkan hampir mengenai Isma.
"Pergilah, menikahlah dengan pria sholeh pilihan Orangtua mu. Aku tidak mau menikahi perempuan yang mudah goyah dengan keyakinannya." Bentak Prince dengan amarah yang menggebu namun masih ditahannya. Dan tanpa memperdulikan Tangis Isma, Prince pun pergi meninggalkan Isma yang masih menangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ajarkan Aku Islam
Pagi sekali Prince sudah terbangun. Dia sudah bersiap untuk berangkat ke kantor. Sementara Keyra baru saja terbangun.
"Prince, kamu mau kemana?" Tanya Keyra sambil mengucek matanya yang masih terasa berat untuk di buka.
"Bogor."
Prince menjawab singkat sambil memasang dasi di depan cermin.
"Aku ikut…"
"Nggak usah. Kamu langsung pulang ke rumah. Aku sudah memesan pembantu untuk membantu kamu di rumah."
"Kenapa aku tidak boleh ikut. Bukankah kita bisa sekalian. . . "
"Aku ke Bogor untuk kerja, Key. Dan aku akan di sana selama empat hari."
Prince memasang jas dan siap untuk berangkat. Tapi, sebelum Prince melangkah, Keyra memeluknya dari belakang. Dan Prince dapat merasakan perut Keyra menyentuh pinggannya. Entah mengapa hati Prince mendadak luluh, perlahan dia membalikkan tubuhnya.
"Key, maafkan aku." Prince langsung memeluk erat tubuh Keyra.
"Aku tahu kamu belum bisa menerimaku seutuhnya. Tapi, setidaknya berikan aku kesempatan untuk menjadi istrimu." Ucapnya dalam pelukan Prince.
Prince hanya diam. 'Ya Allah, katanya engkau pemilik hati. Lalu mengapa kau biarkan hatiku mencintai Isma. Bukankah engkau melarang kaum ku menikah dengan kaummu.' Batinnya.
Tanpa disadarinya, Prince meneteskan air mata. Detak jantungnya bergetar lebih cepat dari biasanya, dan Keyra merasakan itu.
"Prince, kamu kenapa?" Melepas pelukan untuk memeriksa keadaan Prince.
"Kamu menangis?" Sambungnya, sambil menghapus air mata di pipi Prince.
Sebentar Prince tersenyum. Lalu dia mengecup lembut kening Keyra.
"Datanglah ke rumah kita. Istirahatlah disana. Tunggu aku kembali." Sambung Prince.
Keyra hanya terdiam. Dia tidak mengerti dengan perlakuan Prince yang sangat lembut penuh kasih, tapi terasa hambar. Sementara Prince langsung melangkah meninggalkan Keyra.
Di Bandung, Isma sedang menyapu halaman rumahnya. Umi di dapur menyiapkan sarapan. Sedangkan Abi tengah bersiap untuk berangkat ke Kantor.
"Assalamu'alaikum, Isma." Sapa tetangganya yang kebetulan lewat.
"Wa'alaikum salam, Teh. Mau kemana sepagi ini?" Tanya Isma, dia pun menghentikan sejenak pekerjaannya.
"Biasa, mau belanja ke pasar. Stok sayuran suda habis."
"Silahkan, Teh. Hati-hati di jalan."
"Iya Is. Saya permisi."
Isma menatap kepergian tetangganya itu. Sebentar Isma tersenyum. Lalu kembali melanjutkan pekerjaanya.
"Dek. . . Dek. . ." Teriak umi dari dalam rumah.
"Iya, Umi." Sahut Isma.
Dia langsung berlari menghampiri Umi.
"Telepon adek bunyi terus dari tadi. Sepertinya ada yang menelpon." Ujar Umi.
Isma pun langsung menuju kamarnya. Rupanya benar, HP nya bergetar. Ada notif panggilan tak terjawab dari Bimo sebanyak 12 kali. Dan satu pesan WA dari Bos.
Isma segera membuka pesan tersebut.
***Boss:
Isma. Maafkan aku.
sepertinya dalam dua minggu kedepan,
aku akan memberikan kamu cuti.
Istirahatlah di Bandung untuk dua minggu ini.
Aku tidak ingin melihatmu***.
Entah mengapa tulisan terakhir dalam pesan itu membuat hati Isma terasa sakit. Matanya mulai berair.
"Astaghfirullah ya Allah. . ."
Isma terduduk lemas di lantai. Tubuhnya bersandar pada tempat tidurnya. Isma terus beristighfar berusaha menenagkan hati dan pikirannya.
"Apakah aku akan di pecat?" Tanya Isma pada dirinya sendiri.
Drriiittt. . .
Bimo kembali menelpon. Isma pun segera menjawabnya.
"Bim, sepertinya aku di pecat."
"Isma. . . Kamu menangis?"
Bimo mendengar suara Isma seperti sedang menangis. Dia pun heran mengapa tiba-tiba Isma membericarakan tentang pemecatan.
"Siapa yang memecatmu? Apa kamu melakukan kesalahan diam-diam?"
"Tidak Bim. Hanya saja tiba-tiba Bos memintaku untuk tidak masuk kerja selama dua minggu. Bukankah itu sama saja dengan pemecatan?"
"Aku akan menanyakan langsung nanti pada Bos. Dia dalam perjalanan menuju Bogor."
"Tidak usah Bim. Aku rasa akan lebih baik dan aman jika kamu tidak membicarakan aku sedikitpun. Aku mohon jangan bahas apapun yang menyangkut diriku."
Bimo bingung, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Prince menyangkut pautkan masalah kerjaan dan masalah pribadi.
"Pengecut. Awas saja nanti. Aku tidak takut Prince. Kalau Isma di pecat, aku juga mau di pecat." Gertak Bimo kesal penuh amarah dan emosi.
Sementara itu yang tengah dibicarakan masih fokus menyetir mobilnya menyusuri jalan raya menuju Bogor.
Prince menatap foto Isma yang di simpan di HP miliknya. Foto itu dicurinya di hari pertama Isma mulai bekerja sebagai sekretarisnya.
"Maafkan aku Isma. Aku tidak sanggup melihat wajahmu. Aku malu Isma. Aku hanya lelaki penge**t yang bisanya menyakiti hatimu. Tapi percayalah Isma. Aku hanya mencintaimu." Ucapnya sambil menatap jalanan.
"Kenapa aku menjadi bucin seperti ini padamu, Isma. Siapa kamu sebenarnya. Kenapa Tuhan-mu dan Tuhan-ku masih saja menitipkan rasa cinta ini di hatiku." Rutuknya memaki takdir yang dialaminya.
Beberapa. . .
Jam. . .
Kemudian. . .
Hingga akhirnya Prince tiba di Bogor. Prince pun turun dari mobinya, dan di sambut oleh hantaman pukulan.
Bbuuggkhh. . .
Satu pukulan mendarat di wajahnya. Ya, Bimo memukulnya hingga tubuh Prince terjatuh ke tanah. Dia kaget karena tiba-tiba di pukul begitu kakinya menginjak tanah.
Karyawan lain pun ikut terkejut dan heran melihat kejadian itu. Tapi, mereka siaga membantu Bos untuk berdiri. Sementara Bimo hanya menatap tajam mata Prince yang juga menatap tajam penuh tanya padanya.
"Apa yang kamu lakukan, Bimo?" Tanya Prince heran.
"Aku ingin bicara berdua saja." Jawabnya sambil melangkah menuju belakang gedung projek.
Prince tidak bayak protes. Dia hanya mengikuti Prince.
"Saya ikut, Bos." Ujar salah satu karyawannya.
"Tidak usah. Kamu tunggu saja di sini."
Lalu Prince mengikuti Bimo ke arah taman belakang gedung hotel. Begitu tiba di sana, Bimo kembali nengayunkan tinjunya, tapi berhasil di tapis oleh Prince.
"Apa-apa an ini, Bimo?" Bentak Prince.
Bimo tertawa lirih, dia geli mendengar pertanyaan Prince yang berpura-pura tidak tahu.
"Apa kamu mau memecat Isma hanya karena dia mencintaimu?" Teriak Bimo tertahan.
Prince mengerutkan dahinya, dia masih belum mengerti apa yang dimaksud Bimo.
'Isma mencintaiku? Benarkah? Isma aku kira kamu tidak memiliki rasa yang sama.' Batinnya.
"Biarkan Isma tetap bekerja setidaknya sampai peresmian projek ini." Teriaknya lagi.
Prince masih tidak menjawab. Dia hanya tersenyum bahagia mendengar Bimo mengatakan Isma juga mencintainya.
"Bimo. . . Maukah kamu mengajariku Islam?"
Ucapan Prince sontak membuat Bimo terdiam. Dia menatap mata Prince yang mulai berkaca-kaca. Mata itu menyiratkan kebahagiaan bukan kesedihan.
"Maksud Bos?" Tanya Bimo tak mengerti.
"Please ajari aku Islam. Aku akan membayarmu dua kali lipat dari gajimu." Ucap Prince.
Dia menggenggam tangan Bimo dengan ekspresi memohon bantuan dengan tulus pada Bimo yang sudah menampar wajahnya.
"Sa… sa…yaaa. . ."
"Iya. Kamu. Ajarkan aku Islam."
Bimo terdiam. Dia masih tidak mengerti mengapa Bos nya tiba-tiba ingin belajar Islam padanya. Tapi, kemudian Bimo perlahan mulai paham.
'Sedalam itu cinta Prince pada Isma. Sampai-sampai dia ingin belajar Islam? Ah mereka mungkin memang jodoh.' Batinnya.
Bersambung. . .
Alhamdulillah kami skrg sdh menikah dan dikaruniai anak2 yg lucu.