Arunika Gantari, seorang perempuan ceria yang tiba-tiba saja menghilang selama 4 tahun.
Asoka Danubrata, putra bungsu pemilik perusahaan yang menyembunyikan identitasnya sebagai putra pemilik perusahaan dan bekerja sebagai karyawan biasa di perusahaan miliknya sendiri.
4 tahun Asoka menunggu kepulangan Arunika, menepati janjinya untuk memantaskan diri. Namun ketika gadis itu kembali, sosoknya berubah. Tak ada lagi Arunika yang ceria, yang ada hanya Arunika yang tertutup.
Apa yang menjadi rahasia kepergian Arunika 4 tahun lalu? Akan kah Asoka berhasil mengembalikan kecerian perempuan yang dia cintai? Atau kan posisi Arunika sudah digantikan oleh perempuan lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alana Kanaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Like Water
“Apa kedua kakakku mengatakan hal aneh kepadamu?” tanya Oka setelah mereka duduk di coffee shop yang berada di daerah Mega Mendung, Puncak.
Ya, untuk pertama kalinya si ganteng ke luar kandang dengan penumpang seorang perempuan. Akan tetapi gadis yang mendapat kehormatan itu lebih banyak diam dengan mata menerawang menatap pemandangan di luar daripada menganggumi pemandangan di sampingnya dimana Oka semakin terlihat lebih keren di balik kemudi si ganteng.
“Tidak, yang dikatakan teteh dan kakak benar.”
“Memangnya mereka mengatakan apa?”
“Mereka memintaku untuk jujur kepada tante Mega tentang alasan kepergianku.”
“Jangan terlalu dipikirkan,” ujar Oka membuat Arunika menatapnya. “Kalau kamu belum siap untuk memberitahu kami, jangan dipaksa. Aku sudah bilang, kalau aku akan menunggu kamu benar-benar siap untuk menceritakan alasan kepergianmu, kan?” Oka tersenyum sebelum kembali berkata, “Jadi, jangan dipikirkan, oke?”
Arunika bukan merasa tenang setelah mendengarkan Oka yang berusaha menenangkannya, tapi malah merasa semakin bersalah karena belum siap berkata jujur kepada Oka disaat pria itu begitu percaya padanya hingga menunggunya selama 4 tahun, tanpa meminta penjelasan sedikit. Sedangkan dirinya? Apa yang sudah dia lakukan untuk Oka? Menginggalkannya tanpa penjelasan, bahkan ayahnya membuat masalah bagi keluarga Oka.
“Apa Abang tidak penasaran dengan alasan kepergianku.”
“Penasaran,” jawab Oka sambil menuang espresso ke dalam gelas berisi ice cream vanilla, kemudian mengaduk affogato nya. “Kalau aku bertanya sekarang, apa kamu akan memberitahuku?”
Arunika terdiam menatap Oka yang tengah menyeruput kopi khas Italia dengan bola mata tetap menatap Arunika yang terlihat bimbang.
“Aku tidak akan memaksa, Ra, tidak perlu dipikirkan, oke!” Tangan Oka terulur untuk mengelus rambut Arunika yang masih terdiam. “Kamu mau pesan apa lagi? Mau makan tidak?” Oka mencoba mengalihkan pembicaraan sambil membuka kembali buku menu.
“Bang.”
“Hmmm.” Oka masih melihat-lihat menu yang terlihat sangat menggiurkan. “Mau masakan sunda atau … western juga ada nih. Steak? Pasta?”
“Abang.”
“Ya, Sayang … sop buntut sepertinya enak nih. Mau tidak?”
“Abang!”
“Iya, Neng, kenapa? Enang mau juga sop buntut?”
“Iiih, Abang!”
“Hahaha, kenapa sih?” Oka menutup buku menu lalu memfokuskan pandangannya kepada Arunika yang kembali terlihat ragu. “Aku sudah bilang kan, tidak perlu dipikirkan kalau memang belum siap untuk bercerita. Tidak apa-apa, Yang.”
Arunika semakin terlihat bimbang membuat Oka kembali berkata,
“Sejujurnya aku bisa menebak alasan kepergianmu.”
Mata Arunika membulat menatap Oka yang hanya tersenyum.
“Boleh aku memberitahu tebakanku? Kalau aku salah beritahu aku jawabannya yang benar, oke?”
Arunika langsung mengangguk, tanpa menyadari ada kalimat jebakan di sana yang membuat Oka mengulum senyum.
“Apa kepergianmu ada hubungannya dengan … status kelahiranmu?” tanya Oka sedikit ragu, takut ucapannya menyinggung perasaan Arunika.
“Itu salah satunya,” jawab Arunika setelah menghela napas berat. “Aku merasa tidak pantas untuk Abang. Bagaimana mungkin putra satu-satunya Andi Santoso bersanding dengan perempuan hasil dari …”
“Ra.” Oka memotong ucapan Arunika sambil menggenggam tangan Arunika yang terasa dingin. “Bukankah dari dulu aku sudah mengatakan aku tidak peduli dengan itu semua. Aku memilihmu dengan semua kelebihan dan kekuranganmu. Aku bukan laki-laki sempurna yang harus mendapatkan perempuan sempurna juga. Aku hanya mencari perempuan yang mencintaiku dengan tulus, mencintai segala kelemahan dan kekuranganku … dan itu kamu. Hanya kamu yang mencintaiku dengan tulus, tanpa melihat statusku, tanpa melihat siapa keluargaku, hanya aku … Asoka Danubrata, seorang pria biasa.”
Arunika mulai sedikit tersenyum mendengar perkataan Oka.
“Begitu pula aku yang mencitaimu tanpa peduli latar belakang keluargamu, statusmu, atau apapun itu. Aku hanya mencintaimu … Arunika Gantari, perempuan hebat dan kuat, perempuan luar biasa yang bisa bertahan menghadapi kerasnya hidup dengan senyuman.”
Hati Arunika terasa hangat mendengar ungkapan hati Oka, meskipun masih ada ketakutan dalam dirinya.
“Tapi … bagaimana dengan keluarga Abang? Terutama orangtua Abang, apa mereka bisa menerima statusku?”
“Orangtuaku hanya menginginkan anak-anaknya bahagia. Dan kebahagianku adalah kamu … jadi jangan takut, mereka pasti akan menerimamu seutuhnya.”
“Tapi tetap saja, Bang, aku takut. Bagiamana kalau mereka menolakku? Bagaimana kalau mereka tidak merestui kita? Bagaimana kalau …”
“Oke, kita ambil kondisi terburuk. Mereka menentang hubungan kita karena statusmu.” Oka menatap Arunika yang tampak jelas ketakutan di sorot matanya. “Tidak perlu takut, ada aku, Ra. Itu akan menjadi tugas kita berdua untuk meyakinkan mereka, bukan hanya tugas kamu sendiri, Sayang. Ini untuk masa depan kita, bukan hanya masa depanmu, jadi akupun memiliki kewajiban yang sama untuk mendapatkan restu dari kedua orangtua kita.”
Oka kini menggenggam tangan Arunika dengan kedua tangannya.
“Kamu tidak sendiri. Ada aku.” Oka mencium tangan Arunika seolah menyegel ucapannya sebagai janji yang akan dia tepati untuk selalu berada di samping Arunika apapun yang terjadi membuat Arunika yang sempat merasa kecil hati, kini merasa jauh lebih hangat juga tenang hingga terpancar dari senyuman dan matanya.
Oka ikut tersenyum dan melepaskan genggaman tangan mereka setlah melihat Arunika telah kembali tenang. Oka mengambil cangkir kopi yang telah tercampur dengan es krim vanilla lalu meminumnya.
“Jadi … ada dua alasan?”
Arunika mengangguk sambil mengambil cangkir caramel macchiato miliknya.
“Dan alasan kedua adalah … kamu selingkuh pria Belanda.”
“Uhuk-uhuk-uhuk!” Arunika terbatuk emndengar tebakan Oka. “Abang! Abang pikir aku selingkuh?”
“Oh, jadi tebakanku salah?” tanya Oka dengan wajah santai. “Kalau bukan karena kamu selingkuh sama lelaki Belanda, terus apa dong?”
“Itu karena ayah …” Arunika yang seketika berkata dengan menggebu langsung menghentikan ucapannya setelah menyadari dia hampir saja masuk ke dalam perangkap Oka.
“Kenapa Om Sigit?” tanya Oka santai seolah tak terpengaruh dengan Arunika yang kini menatapnya dengan mata dipicingkan. “Om Sigit jodohin kamu sama orang Belanda?”
“Terserah Abang, aku tak akan terjebak!” ujar Arunika sambil menyendok strawberry cheese cake dalam potongan besar kemudian menyuapnya dengan kesal membuat Oka tertawa.
“Kamu sudah setuju untuk mengatakan yang sebenarnya kalau tebakanku salah, dan tebakan keduaku salah jadi …”
“Kapan? Aku lupa tuh.”
Oka berdecak tapi kemudian tersenyum.
“Ah, nggak seru kamu sudah tahu trikku.”
Dengan mulut penuh Arunika menganggukan kepala yang hanya membuat Oka terkekeh.
Jadi om Sigit ada hubungannya dengan kepergian Ara? Baiklah, aku akan mencari tahu sendiri. Ucap Oka dalam hati sambil tersenyum dan kembali menyeruput kopinya.
***
Minggu siang semua keluarga BUMI sudah ada di bandara Halim Perdana Kusuma, dengan menggunakan mobil operasional Oka dan Arunika mengantar keluarga inti BUMI ke bandara untuk kembali ke Surabaya.
“Kalau libur, main ke Surabaya,” ucap bu Mega kepada Arunika yang duduk di sampingnya.
Tak jauh dari mereka terlihat Oka yang sedang bermain dengan Zelia, Bentari sedang bicara dengan Birendra di telpon, begitu pula dnegan ayah Andi yang tengah bebicara dengan rekan bisnisnya.
“Apa kemarin Tante terlalu keras kepadamu? Tante minta maaf kalau Tante menyinggung perasaanmu.”
“Tidak, Tante tidak salah apapun, Tante tidak perlu minta maaf.”
Bu Mega tersenyum kemudian menggenggam tangan Arunika.
“Tante tidak membenci kamu, bagaimana mungkin Tente tidak menyukai perempuan yang telah membuat putra Tante kembali tersenyum.”
Hati Arunika berdesir mendengar ungkapan bu Mega yang berkata dengan sorot mata lembut layaknya sorot mata bunda yang sering dia lihat akhir-akhir ini.
“Hanya saja Tante sedikit kecewa ketika kamu pergi tanpa kabar berita.” Arunika tertunduk dengan wajah sendu.
“Maaf,” ucap Arunika lemah.
“Tidak apa-apa, tidak perlu minta maaf. Tante tahu kamu punya alasan yang sangat kuat untuk melakukan itu, dan kamu belum bisa menceritakannya, bukan?’
Arunika mengangguk dengan kepala masih tertunduk.
“Oka pernah menceritaka tentang alasan dulu Tante berpisah dengan om?”
Arunika menatap bu Mega kemudian menggeleng yang dibalas bu Mega dengan senyuman.
“Nanti kamu tanya sama Oka, bilang Tante yang menyuruh.”
Arunika tersenyum mendengar perintah bu Mega.
“Setiap keluarga punya cerita sendiri-sendiri, punya masalah sendiri-sendiri, punya cerita masa lalu sendiri-sendiri. Jadikan kegagalan rumah tangga kami dahulu sebagai pelajaran untuk kalian … komunikasi, tidak adanya keterbukaan di antara kami, dan juga sama-sama memertahankan ego masing-masing menjadi salah satu alasan hancurnya rumah tangga kami dulu.”
Bu Mega menepuk punggung tangan Arunika dengan lembut, matanya menatap Arunika hangat, sehangat senyumannya.
“Dalam sebuah hubungan, komunikasi, saling terbuka, saling memahami dan saling mengerti itu penting. Terkadang kita perlu menurunkan ego kita. Dengan menurunkan ego bukan berarti kita lemah. Tidak, itu bukan sebuah kelemahan hanya sebuah bentuk usaha kita dalam memertahankan hubungan, dan sebagai tanda kalau kita sudah selangkah lebih dewasa.”
Arunika mengangguk mengerti.
“Kita tidak perlu menjadi sempurna untuk pasangan kita. Cukuplah menjadi pasangan yang dibutuhkan oleh pasanganmu.”
Bu Mega terdiam sesaat untuk menatap Arunika yang mendengarkan setiap perkatan bu Mega.
“Tante pernah membaca sebuah ungkapan yang cukup bagus, kurang lebih seperti ini … kamu tidak perlu menjadi kopi yang disukai dan dipuja banyak orang, cukuplah menjadi air mineral yang sederhana namun keberadaannya sangat dibutuhkan.”
Bu Mega menatap tepat manik hitam mata Arunika.
“Jadilah air bagi Oka, yang keberadaanmu bisa membuatnya merasa hidup dan bahagia, begitu pula sebaliknya mudah-mudahan Oka bisa menjadi air bagimu yang akan menenangkan, menjaga, membuatmu merasakan hidup yang bahagia.”
Tenggorokan Arunika memanas mendengar ucapan bu Mega yang kini tersenyum. Dengan suara bergetar bu Mega kembali berkata,
“Tante titip putra satu-satunya Tante kepadamu, cintai, sayangi dia dengan tulus, jaga dia … tante percayakan dia kepadamu.”
Dengan menahan tangisnya Arunika mengangguk yang membuat bu Mega tersenyum lega, meskipun sebagai seorang ibu akan selalu ada kekhawatiran untuk putra-putrinya.
*****
Reread lagi nih mbak Kanaya di bln Juni 2026, sambil berharap Novel br dari Mbak Kanaya🥰🙏
terkadang ego harus d turunkan demi suksesnya sebuah hubungan agar kesalah pahaman yg selama ini terjadi bs terurai sedikit demi sedikit
btw makasih teh Al krna kisah Abang ini anak ke 3 ku kukasih nama Arunika 😍