bagi orang lain, cinta pertama seorang anak perempuan adalah seorang ayah tapi tidak Resty, karena baginya ayah adalah neraka baginya
inilah kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26
Awi diam lama. Tangan tuanya yang kapalan itu ragu-ragu, akhirnya naik juga buat ngusap rambut Resty. "Maafin Bapak...Nak," suaranya parau. Bukan suara Bapak pemabuk yang dulu Resty takuti. Ini suara Awi...! bapaknya. "Bapak bebal...!. Ibu sudah ngingetin seribu kali. 'Mas, besok jangan lagi ya'. Tapi Bapak tetap pulang bawa mabuk sama amarah."
Resty makin erat pelukan ke dada bapaknya. Dada yang dulu sering dia hindari, sekarang jadi satu-satunya tempat yang hangat dan nyaman. "Ibu sudah tak ada...Pak," bisik Resty. "Tapi masih ada Resty yang akan selalu jagain bapak."
Awi ketawa kecil, tapi matanya basah. "kamu sama seperti ibumu. Baik dan lembut, bapak nyesal pernah perlakukan kalian dengan buruk."
Hening sebentar. Kali ini heningnya tidak canggung. Heningnya dua orang yang sama-sama kangen sama orang yang sama.
"Buburnya sudah dingin...Pak," kata Resty akhirnya, colek mangkok di meja.
"Biar Bapak yang panaskan," jawab Awi. "Mulai sekarang, giliran Bapak yang jagain kamu. Biar kamu tidak perlu gemetar lagi kalau dengar suara mangkok jatuh."
Resty mengangguk. Untuk pertama kali setelah sekian tahun, kata "Bapak" yang keluar dari mulutnya tidak ada getar takutnya.
Malamnya hujan rintik-rintik, diluar tidak ada lagi suara orang. Resty duduk di beranda, nyelimutin kaki pakai sarung bekas Aminah. Sarungnya sudah luntur, tapi masih wangi. Wangi kayu manis sama sabun colek yang dulu Aminah pakai. Awi keluar bawa dua gelas teh panas. Dia duduk di sebelah Resty, jaga jarak. Dulu dia selalu pulang sambil bawa amarah. Sekarang dia duduk mepet sambil bawa teh.
"Dulu tiap hujan gini, Ibu pasti nyuruh Bapak tutupin jendela," kata Awi, nyodorin gelas ke Resty. "Katanya takut kamu masuk angin. Padahal yang masuk angin Bapak, pulang kehujanan abis mabuk."
Resty nerima gelasnya. Uap teh panas kena mukanya. "Ibu pinter ya...Pak! Selalu tau Bapak butuh hangat-hangat."
Awi ketawa kecil, tapi suaranya serak. "Ibu kamu tuh malaikat. Bapak yang setan dulu. Disayangi terus padahal nyakitin."
Hening. Cuma ada suara hujan sama cicak di dinding dan suara rintik hujan yang membasahi bumi.
"Pak," Resty buka suara pelan. "Boleh Bapak cerita lagi gak? Tentang Ibu pas pertama kali Bapak kenalin ke keluarga."
Awi kaget. Gelas teh di tangannya hampir tumpah.
Ini pertama kalinya Resty mau menanyakan tentang ibunya. Selama bertahun-tahun, nama "Aminah" cuma jadi bisik-bisik di kepalanya sendiri. Dia pikir Resty benci denger nama itu. Takut kalau nanya, yang dia dapat cuma amarah dan bentakan kayak dulu.
Awi narik napas panjang. Matanya yang udah keriput itu langsung berkaca. "Boleh, Nak... Boleh banget," jawabnya pelan, suaranya getar.
Dia ngusap jempolnya ke tutup gelas, ngumpulin keberanian. Hujan di luar makin deres, nutupin suara Awi yang mulai serak.
"Waktu itu Bapak masih kerja kuli panggul di pasar. Bajunya bau ikan asin terus. Keluarga Bapak... ya gitu!, Keras-keras. gak gampang nerima orang baru."Awi senyum, tapi senyumnya nyesek."Terus Bapak bawa Ibu ke rumah. Ibu pakai kebaya pinjaman, rambutnya disanggul asal. Tangannya gemetar megang rantang berisi kue lapis. Buatan dia sendiri."
Resty nyender makin deket. Dengerin cerita bapaknya.
"Bapak bilang ke Nenekmu.'Ini Aminah...Mak!. Calon istri Awi'. Nenekmu ngelirik dari atas ke bawah. Terus colek kue lapisnya pakai jari, icip. tidak ngomong apa-apa."
Awi ketawa kecil, tapi ada air mata yang jatuh.
Awi nunjuk keningnya sendiri. "Ibumu nunduk, terus bisik ke Bapak pelan banget. 'Mas, kalau Emak tak suka kuenya, bilang aja!. Biar besok Aminah buatin yang baru. Yang lebih manis, Biar Emak mau terima Aminah'."
Awi berhenti. Suaranya hilang ditelan hujan. "Sejak detik itu, Bapak tau...Nak!. Perempuan gak bakal ngelawan dunia pakai bentakan. Dia melawan pakai sabar. Pakai kue lapis, pakai kata 'Mas' yang lembut banget."
Awi ngelap matanya paki punggung tangan. Dia ingat setiap pulang kerumah, di selalu memarahi Aminah."Sayangnya Bapak malah pakai 'Mas' buat bentak emak mu setiap mabuk. Padahal dulu...? kata itu awalnya dari cinta."
Resty genggam tangan Awi. Tangan bapaknya yang kapalan, dingin kena angin malam."Besok kita buatin kue lapis ya..Pak? Buat dibawa ke makam emak. Biar Emak di sana tau...!bapak sudah berubah. Pulang tidak pernah lagi mabukan.
Awi mengangguk. tak bisa ngomong lagi. Dia cuma menarik Resty ke pelukannya, erat. seperti mau mengembalikan semua tahun sudah hilang.
Di langit, hujan reda dikit. Bintang satu dua mulai nongol di balik awan. Malam itu cahaya bulan menyinari kehidupan ayah dan anak untuk memulai kehidupan yang lebih baik.