NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Berondong Tampan

Terjebak Cinta Berondong Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:22.1k
Nilai: 5
Nama Author: teteh lia

Naraya Pramaswari Dhanubrata, seorang CEO muda yang dikenal dingin dan perfeksionis, terbiasa hidup dalam kemewahan. Di usianya yang terbilang matang, ia tidak lagi benar-benar percaya pada cinta, apalagi hubungan rumit.

Segalanya berubah ketika ia bertemu Sagara, pemuda tampan berusia 24 tahun yang sederhana. Namun, penuh semangat hidup. Berbeda jauh dari dunia Naraya, Sagara menjalani berbagai pekerjaan demi bertahan hidup. Mulai dari montir, ojek online, hingga pekerja paruh waktu. Meski hidupnya keras, Sagara tetap hangat, tulus, dan pantang menyerah.

Pertemuan tak terduga mereka perlahan menyeret Naraya ke dalam dunia yang tak pernah ia bayangkan. Sagara yang gigih, tanpa sadar meruntuhkan dinding hati Naraya yang selama ini terkunci rapat.

Namun, perbedaan status, usia, dan prinsip hidup menjadi tantangan besar bagi keduanya. Belum lagi seseorang dari masa lalu Naraya yang kembali hadir.
Akankah cinta mereka mampu bertahan, atau justru menjadi luka yang tak terhindarkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Setelah pembicaraan itu, suasana di antara mereka berubah menjadi canggung.

Sagara memang belum memberikan jawaban pasti atas permintaan Nara. Dan hal itu justru membuat wanita itu semakin frustasi sendiri. Padahal, jika Sagara mau menuruti permintaannya, semuanya akan menjadi jauh lebih mudah.

Ia tidak perlu lagi menghadiri makan malam membosankan bersama putra-putra konglomerat pilihan Kakek Dhanubrata. Tidak perlu lagi berpura-pura tertarik pada pria yang bahkan namanya saja sulit ia ingat. Dan yang paling penting ... Kakeknya pasti akan berhenti memaksanya melakukan kencan buta.

Motor hitam milik Sagara kembali melaju membelah jalanan kota malam itu. Tidak banyak percakapan di antara mereka. Nara hanya diam sambil memperhatikan lampu-lampu kota yang berlalu cepat di sisi jalan, sementara Sagara fokus menyetir di depan.

Sesekali suara kendaraan terdengar memecah keheningan. Namun anehnya, suasana diam di antara mereka justru terasa semakin jelas. Hingga akhirnya motor memasuki kawasan apartemen mewah tempat Nara tinggal.

Sagara menghentikan motornya tepat di depan lobby. "Nona sudah sampai."

Nara turun perlahan lalu melepas helm yang sejak tadi dipakainya. Tatapannya sempat terangkat melihat gedung apartemen di depannya sebelum kembali menoleh ke arah Sagara.

Pria itu tampak biasa saja. Seolah pembicaraan mereka di angkringan tadi tidak mempengaruhi pikirannya sedikit pun. Dan itu membuat Nara semakin tidak tenang.

"Kau benar-benar tidak akan memberiku jawaban?" tanyanya tiba-tiba.

Sagara yang hendak mengenakan helmnya kembali berhenti sesaat. Tatapannya beralih pada Nara. "Saya tidak ingin terlibat lagi dalam urusan Anda," jawabnya lugas.

Nara langsung menghembuskan napas panjang. "Kau yakin?" tanyanya memastikan. "Aku bisa memberikan apa pun yang kau ingin kan."

Sagara tidak menjawab.

"Tabungan, motor, rumah besar, bahkan bengkel lengkap atas namamu," lanjut Nara lagi. Ia masih mencoba menggoyahkan keputusan pria itu dengan berbagai iming-iming. Namun, Sagara hanya menggeleng pelan tanpa keraguan.

"Saya yakin Anda juga tahu," ucapnya tenang, "saya tidak silau dengan semua penawaran Anda."

Kalimat itu langsung membuat Nara terdiam beberapa detik. Entah kenapa, setiap kali berbicara dengan pria itu, ia selalu merasa seperti sedang menghadapi tembok yang sulit ditembus. Padahal selama ini hampir semua orang akan langsung berubah sikap saat mengetahui siapa dirinya.

Namun, Sagara berbeda. Pria itu bahkan berkali-kali menolak sesuatu yang jelas diinginkan banyak orang. Dan justru karena itulah ... Nara semakin penasaran padanya.

"Kau benar-benar pria aneh," gumamnya pelan.

Sagara hanya menaikkan sebelah alis. "Kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan saya pulang dulu," ucapnya kemudian kembali mengenakan helmnya.

Motor Sagara melaju pelan meninggalkan gedung apartemen beserta Nara yang masih berdiri diam menatap Sagara yang semakin menjauh.

*****

Satu bulan setelah penawaran Nara sekaligus penolakan Sagara, keduanya kembali menjalani aktivitas seperti biasa.

Sagara sibuk dengan rutinitasnya di bengkel dan menarik penumpang setiap hari. Sementara itu, Nara tenggelam dalam pekerjaannya di kantor pusat. Wanita itu bahkan lebih sering keluar masuk perusahaan demi meninjau anak-anak perusahaan milik Grup Dhanubrata.

Namun, dibalik kesibukannya, ada satu hal yang terus menjadi tekanan besar bagi Nara.

Kakek Dhanubrata. Pria tua itu tidak pernah berhenti menagih janji Nara untuk membawa Sagara menemuinya.

"Ah!"

Nara berteriak frustasi sambil melempar dokumen ke atas meja. Kepalanya kembali berdenyut nyeri sejak pagi tadi. Pikirannya benar-benar tidak fokus akibat tekanan dari sang kakek.

Tiwi yang kebetulan baru masuk ke dalam ruangan langsung terkejut mendengar suara itu. Wanita itu buru-buru menghampiri meja kerja Nara.

"Nona ada apa? Anda baik-baik saja?" tanyanya khawatir.

Nara memijat pelipisnya kuat-kuat. "Aku tidak baik-baik saja, Tiwi. Kau juga tahu itu."

Tiwi mengangguk paham. Sudah satu bulan terakhir atasannya itu berada dalam suasana hati buruk. Dan penyebabnya hanya satu. Penolakan Sagara.

"Bukankah Tuan Besar masih menanyakan pria itu lagi?" tebak Tiwi hati-hati.

Nara langsung menyandarkan tubuhnya lemas pada kursi kebesarannya. "Bukan hanya menanyakan," gumamnya frustasi. "Kali ini kakek memberiku ultimatum."

Tiwi langsung menegang. "Ultimatum?"

Nara mengangguk pelan sebelum menirukan ucapan sangat kakek dengan nada kesal. "Kalau dalam waktu satu minggu aku tidak membawa Sagara menemuinya, maka aku harus bersedia bertunangan dengan Samudra."

Mata Tiwi langsung melebar. "T-tunangan?"

Nara tertawa hambar sambil mengusap wajahnya kasar. "Kakek bahkan sudah mulai menghubungi keluarga Samudra," ucapnya lirih. "Beliau bilang aku sudah terlalu lama menolak semua pria pilihan keluarga."

Ruangan itu langsung terasa semakin berat.

Tiwi sendiri tahu siapa Samudra Dirgantara. Pria itu memang berasal dari keluarga terpandang, mapan, dan memiliki hubungan bisnis besar dengan keluarga Dhanubrata. Dari luar Samudra terlihat sempurna. Namun, Tiwi juga tahu satu hal. Nara sama sekali tidak menyukai hubungan yang diatur seperti itu.

"Nona ...." Tiwi memanggil pelan sebelum ragu-ragu melanjutkan ucapannya. "Kalau memang Sagara tetap menolak ... bagaimana kalau Nona mencari pria lain saja?"

Nara mengernyit tipis. "Maksudmu?"

"Pria lain yang mau diajak bekerja sama berpura-pura menjadi kekasih Nona," jelas Tiwi hati-hati. "Yang penting Tuan Besar percaya. Tidak harus Sagara, kan?"

Beberapa detik ruangan itu mendadak hening. Nara tidak langsung menjawab. Wanita itu justru memalingkan wajahnya ke arah jendela kaca besar di samping ruangan. Tatapannya tampak kosong beberapa saat, seolah sedang memikirkan sesuatu.

"Aku tidak mau," jawabnya pelan.

Tiwi tampak bingung. "Kenapa, Nona?"

Nara menghembuskan napas perlahan. "Aku juga tidak tahu," gumamnya jujur. "Tapi entah kenapa ... aku hanya ingin Sagara."

Kalimat itu keluar begitu saja tanpa sempat ia tahan. Dan setelah mengucapkannya, Nara sendiri langsung terdiam.

Tiwi ikut membeku sesaat. Untuk pertama kalinya, ia melihat atasannya mengatakan sesuatu tanpa perhitungan matang. Biasanya Nara selalu logis dan penuh kendali. Namun, kali ini berbeda. Seolah-olah wanita itu sendiri tidak sadar sejak kapan pria bengkel keras kepala itu mulai memenuhi pikirannya.

Nara cepat-cepat berdehem pelan lalu kembali bersandar pada kursinya. "Lagipula," lanjutnya mencoba terdengar biasa, "aku tidak percaya pria lain bisa bersandiwara sebaik Sagara."

Tiwi menatap Nara penuh arti, tetapi memilih tidak membahasnya lebih jauh. Karena jauh di dalam hati, Tiwi mulai merasa ... masalah ini mungkin sudah bukan sekedar soal sandiwara hubungan lagi.

Ketukan pintu mendadak terdengar.

Tok. Tok. Tok.

"Masuk," jawab Nara malas.

Seorang staf wanita masuk sambil membawa tablet di tangannya.

"Nona, jadwal kunjungan ke perusahaan cabang siang ini sudah siap. Mobil juga sudah disiapkan di bawah."

Nara menghembuskan napas panjang sebelum bangkit perlahan dari kursinya. "Baik. Aku turun lima menit lagi."

Staf itu mengangguk lalu keluar kembali.

Tiwi membantu merapihkan beberapa dokumen di atas meja sebelum tiba-tiba berkata pelan, "Nona ... apa Anda berniat untuk menyerah?"

Langkah Nara berhenti. Wanita itu menoleh sekilas ke arah Tiwi. "Menyerah?"

Tiwi mengangguk kecil. "Soal pria montir itu."

Nara terdiam beberapa detik. Lalu perlahan, sudut bibirnya terangkat tipis. "Aku tidak mungkin bertunangan dengan Samudra." Tatapannya perlahan berubah tajam. "Dan aku juga tidak suka kalah dari pria montir keras kepala itu."

Tiwi langsung menelan ludah. Tatapan Nara yang seperti itu selalu berarti satu hal. Atasannya kembali memikirkan sesuatu. Dan biasanya ... itu bukan rencana sederhana.

**** bersambung.

1
SecretivePlotter
mencengkram. ya tinggal serahin aja, banyak babibu, bilang aja ada maunya
SecretivePlotter
ingin dimengerti tapi gak mau mengerti, bangke ah
Teteh Lia: Kebanyakan kan begono. Mau na dimengerti, tapi syulit buat mengerti balik.
total 1 replies
SecretivePlotter
oalah rek, ibunya udah gak tahan ngejanda🥵🥵
SecretivePlotter
taik, ngomong ama silid, lu kira maafin orang macem lu semudah itu
SecretivePlotter: /CoolGuy//Grin//Hammer/
total 2 replies
SecretivePlotter
untuk diperas bijina🤭
Teteh Lia: ikut-ikutan pake na /Smug/
total 1 replies
SecretivePlotter
pasti dikira selingkuh🤭
SecretivePlotter
kek kerang disiram aer garem, ada gosip langsung pada nongol🤭
Teteh Lia: Kerang bambu tah... yang di siram air garem telus pada nelojoll🤭
total 1 replies
SecretivePlotter
udah kuduga, dia ama emaknya emang ngincer buwung sagara🤣
SecretivePlotter
udah telat woi
SecretivePlotter
wkwk ... mana belum pake baju pula🤭
〈⎳ FT. Zira
kondisikan matamu Vio/Facepalm//Facepalm//Facepalm/ gak bisa liat yg seger seger yak🤣
〈⎳ FT. Zira
hanya author yg tahu😭😭
Hajime Nagumo
seru ngeliat ibu2nya, mau boikot sagara kalo dia milih viola, padahal viola itu sumber masalah keluarga sagara.

kira2 surat epa ya yg pengen dikasih ibunya viola? surat tentang kebenaran kekuarga sagara atau apa?
Hajime Nagumo
wah ternyata! bener kan tebakan saya, sagara itu orang berada! nice kak untuk cerita chapter ini. andi sampe bingung sagara ngelamunin apaan.

akhirnya sudah lebih jauh sagara masuk ke konflik para eksekutif, padahal dia cuma ingin menikmati hidupnya yg sederhana
nuraeinieni
ambil saja surat wasiat terakhir dari ayahmu sagara,siapa tau aja penting,tapi kamu tetap harus waspada dgn ibu tirimu.
sitanggang
bertele-tele Kalilaah 🙄
Teteh Lia: 😅😅😅😅😅
total 1 replies
mama Al
oh sudah kacau ya, Gara.
udah nyampe ke relung yang paling dalam dong 😁
mama Al
nih mereka sampai ujung dunia kagak berhenti debat ya
mama Al
amiiin
mama Al
jadi pusat perhatian nara.
apalagi kalau ngaku jadi pacar gara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!