Dimas Saputra seorang pemuda tampan yang sholeh, mendapatkan hati seorang wanita cantik yang kaya raya.
Seorang pemuda yang bekerja di sebuah perusahaan besar milik keluarga Haristian, kini telah memikat hati seorang putri cantik dari pemilik perusahaan tersebut.
Berawal dari kehidupan yang sederhana, membuat dirinya merasa tak pantas untuk mendampingi wanita yang begitu terlihat sempurna. Namun kenyataannya jika yang kuasa sudah berkehendak, semua yang tidak mungkin akan menjadi mungkin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enchya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
"Iya mah, tadi papa juga kaget melihat Faris yang datang saat di cafe itu. Papa sama sekali ga menyangka Faris dalang dari kejadian ini."
"Ya sudah pah, sekarang kita jadi lega karena pelakunya sudah tertangkap, dan sudah di penjarakan." Ujar mama Ita.
"Iya mah."
"Tapi Lisa ga habis pikir dengan tindakan Faris. Apa dia ga mikir gimana selanjutnya."
"Dia sudah dibutakan oleh cinta sayang, dan dia mengambil jalan yang salah. Biarlah, sekarang dia akan mempertanggung jawabkan perbuatannya." Ujar papa Adit.
"Oh iya jam berapa kamu akan berangkat sayang?" lanjut papa Adit.
"Bentar lagi pah, mereka kesini dulu kog." Jawab Lisa.
"Kalian hati-hati di sana ya sayang.." Ujar mama Ita.
"Iya mah."
Bel rumah Lisa berbunyi, bi Inah membukakan pintu dan ternyata Vika, Sela, Aulia, dan Rere yang datang.
"Silahkan masuk non."
"Makasih bi," Jawab mereka bersamaan.
Mereka masuk dan bergabung di ruang tamu dimana Lisa dan kedua orang tuanya masih duduk di sana. Mereka berempat mencium tangan papa dan mamanya Lisa bergantian.
"Kalian sudah mau berangkat?" tanya mama Ita.
"Iya tante."
"Kalian hati-hati ya di sana, kalau ada apa-apa langsung telepon rumah." Ujar papa Adit.
"Iya om."
Papa Adit dan mama Ita beranjak dari tempat duduknya dan mereka berdua naik ke lantai dua meninggalkan Lisa dan keempat sahabatnya. Mereka sudah mempersiapkan semuanya dan tinggal berangkat.
"Aku ambil tas dulu bentar ya guys."
"Iya Lis." Jawab Vika.
Lisa naik ke lantai dua dan menuju kamarnya. Lisa mengambil tas dan barang bawaannya, lalu turun lagi menemui sahabat-sahabatnya. Bi Inah datang dari arah dapur dan memberikan bingkisan Tupperware.
"Apa ini bi?" tanya Vika.
"Makanan buat nanti malam di sana non. Bibi sengaja membuatkannya buat kalian semua."
"Makasih bi."
"Sama-sama non."
Lisa sampai di bawah dan mengajak semuanya berangkat. Mereka berlima berjalan keluar rumah dan memasuki mobil Vika. Sedangkan mobil yang di kendarai pak Mamat membawa semua keperluan mereka.
Di sepanjang perjalanan mereka bernyanyi-nyanyi dan tertawa senang, seakan-akan mereka tidak mempunyai beban apapun.
"Guys, aku punya kabar baru nih." Ujar Lisa.
"Kabar apaan?" Tanya Rere.
"Ternyata yang merencanakan kecelakaan Risky itu adalah Faris."
"Faris? siapa Faris?" tanya Vika.
"Faris itu rekan kerja papaku yang dulu jemput aku di kampus." Jawab Lisa.
"Cowok yang ganteng itu Lis?" tanya Aulia.
Lisa menganggukkan kepalanya. Dan mereka semua kaget mendengar berita itu.
"Gimana ceritanya Lis? apa dia punya dendam dengan Risky?" tanya Vika.
"Dulu waktu aku ketemuan sama Risky di cafe itu, ternyata Faris melihatnya. Dia pikir Risky itu kekasihku. Dan dia berencana untuk menyingkirkan Risky." Jawab Lisa dengan muka sedihnya.
"Ya ampun, kasihan banget si Risky, dia kena imbasnya dari kecemburuan seseorang yang ga jelas itu." Ujar Sela.
"Iya, aku juga kasian banget sama Risky, dia ga tahu apa-apa tapi dia jadi korban."
"Gimana kamu bisa tau Lis?" tanya Rere.
"Aku menyuruh papaku untuk melakukan penyelidikan. Karena saat tahu Risky kecelakaan yang katanya ada unsur kesengajaan itu, aku merasa tidak tenang, jadi aku meminta papaku untuk usut semuanya. Dan baru tadi siang ketemu pelakunya."
"Terus?" tanya Vika.
"Dia sudah di tangkap polisi dan di masukkan ke penjara."
"Aduh, ganteng-ganteng kog jahat ya." Ujar Aulia.
"Makanya jangan melihat orang dari tampangnya saja." Ujar Sela.
"Udah-udah ga usah bahas itu lagi. Kita kan kesini niatnya buat happy-happy." Ujar Rere.
"Iya bener, kalau bahas ini terus ntar Lisa jadi sedih." Sambung Vika.
Tak lama di perjalanan, mereka berlima sampai di tempat yang di tuju. Mereka mengambil barang bawaannya yang ada di mobil pak Mamat. Dan pak Mamat mengeluarkan barang-barang yang berat termasuk tenda dan perlengkapannya.
Pak Mamat membantu memasangkan tenda untuk mereka menginap. Setelah selesai, Lisa menyuruh pak Mamat untuk pulang sebelum petang. Dan menyuruhnya kembali besuk sore untuk menjemput lagi.
Pak Mamat berjalan menuju mobil dan melajukan mobilnya ke arah rumah Lisa. Mereka berlima merasa capek setelah di perjalanan tadi. Kemudian mereka beristirahat sebentar di dalam tenda tersebut.
Ternyata tak jauh dari tempat itu juga ada geng lain yang juga sedang berlibur. Jadi mereka tidak hanya berlima di situ.
Saat malam hari tiba, mereka membuat api unggun di dekat tenda. Tak lupa mereka membuka bekal yang sudah di siapkan oleh bi Inah, dan memakannya sambil bercerita dan bersenda gurau.
Mereka berlima asyik bercerita hingga tak sadar waktu sudah larut malam pukul 11.30.
Mereka kemudian masuk tenda dan berbaring bersebelahan. Satu persatu dari mereka terlelap dan masuk ke dunia mimpi masing-masing.
.
.
.
Dimas...
Di hari minggu Dimas berangkat kuliah. Sekarang Dimas mengambil kuliah seminggu dua kali, yaitu di hari Sabtu dan Minggu. Karena Senin-Jumat dia bekerja dan malam hari kadang dia mencari kerja sampingan.
Seperti biasa Dimas kemana-mana dengan mengendarai motor maticnya. Di perjalanan dia melihat dari spion motornya ada seseorang yang mengikutinya. Dimas berjalan pelan, dan mobil itu juga melaju dengan pelan.
Dimas tidak menghiraukannya, dia tetap mengendarai motornya dengan tenang. Sampai di kampus, Dimas memarkirkan motornya dan turun. Baru mobil yang mengikutinya tadi pergi meninggalkan Dimas.
"Siapa ya." Ujar Dimas dalam hati.
Dimas tidak terlalu memikirkan semua itu, dan Dimas langsung masuk ke kampusnya.
Selesai mengikuti pembelajaran, Dimas mengendarai motornya menuju cafe SS. Di sana cafe terlihat ramai pengunjung. Dimas masuk untuk menemui seseorang yang bekerja di cafe itu.
"Hay bro, akhirnya kamu datang juga." Ujar Viki teman Dimas.
"Iyalah bro, kan aku memang butuh pekerjaan ini." Ujar Dimas.
"Kata si bos, hari ini juga kamu bisa langsung kerja bro."
"Makasih bro, berkat kamu aku bisa manggung disini." Ujar Dimas sambil menepuk pundak Viki.
"Iya sama-sama bro."
"Oh iya, ayo aku antar ketempat itu." Lanjut Viki.
Dimas mengangguk dan mereka berdua berjalan menuju panggung yang di sediakan cafe itu untuk menghibur para pengunjung di sana. Sekarang Dimas mempunyai pekerjaan sampingan sebagai penyanyi cafe di hari minggu.
Di saat Dimas mulai menyanyi semua pengunjung tersenyum senang, terutama para pengunjung wanita yang langsung bersorak melihat ketampanan Dimas dan suara Dimas yang merdu.
Semua orang yang berada di cafe itu merasa terhibur dengan penampilan Dimas sore itu. Mereka semua memberi tepuk tangan dan wanita-wanita yang ada di sana meminta foto bersama Dimas.
Dimas tersenyum senang bisa menghibur orang-orang tersebut. Setelah Dimas selesai berfoto dengan para pengunjung di situ, pemilik cafe dan juga Viki menghampiri Dimas.