NovelToon NovelToon
Terikat Luka, Terlahir Cinta

Terikat Luka, Terlahir Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: M. ZENFOX

Erlangga Mahardika Pratama—seorang CEO muda yang dikenal dingin dan tak tersentuh—terbiasa mengendalikan segalanya dalam hidupnya. Hingga satu hari, sebuah kegagalan cinta menghancurkan pertahanannya, dan mempertemukannya dengan Zea Anindhita Kirana, gadis sederhana yang datang tanpa rencana… namun perlahan mengisi ruang kosong di hatinya.

Hubungan mereka tumbuh dalam diam—penuh tarik ulur, perbedaan dunia, dan luka yang belum sembuh. Di tengah kehangatan yang mulai tercipta, kebahagiaan itu justru direnggut oleh sebuah kebohongan kejam.

"Kadang, cinta datang bukan untuk dimulai... tapii untuk di perbaiki"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. ZENFOX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejadian di Supermarket

Supermarket yang terletak di lantai dasar apartemen mewah itu adalah definisi dari efisiensi modern. Ruangannya luas, bermandikan cahaya lampu LED putih yang terang benderang. Meski jarum jam sudah merambat jauh melewati angka sepuluh malam, tempat ini tetap buka 24 jam.

Begitu pintu otomatis terbuka, Erlangga langsung melangkah masuk dengan gaya santai yang sangat menyebalkan. Ia berjalan seolah sedang melakukan inspeksi mendadak ke salah satu anak perusahaannya, dengan kedua tangan terselip di saku celana santainya. Sementara itu, Zea masih berdiri terpaku di depan pintu masuk, memandang deretan rak yang tertata sangat rapi.

“Ngapain diam di situ?” tanya Langga tanpa menoleh. “Ayo cepat.”

“Mau beli apa dulu?” tanya Zea bingung.

Langga berhenti, lalu menunjuk ke arah barisan kereta belanja besi yang mengkilap di sudut. “Ambil troli.”

Zea mengerjapkan mata, menatap troli itu lalu menatap Langga bergantian. “Kenapa saya yang ambil?”

Langga memutar tubuhnya, menatap Zea dengan tatapan datar yang seolah mengatakan bahwa pertanyaan itu adalah hal paling bodoh yang pernah ia dengar. “Karena tangan saya akan dipakai untuk mengeluarkan kartu saat membayar. Dan tangan kamu, yang sudah saya bayar jasanya, dipakai untuk bekerja. Sekalian olahraga malam supaya kamu tidak kaku dan sehat.”

Zea mendelik tajam. Ia menggerutu pelan dalam bahasa daerah yang tidak dimengerti Langga, namun tangannya tetap meraih satu troli. “Dasar bos menyebalkan. Memangnya kalau dorong troli sendiri tangannya bisa patah?” gumamnya ketus.

Langga hanya menyeringai tipis, sebuah ekspresi kemenangan kecil yang ia simpan sendiri, lalu mulai berjalan di depan sebagai direktur inspeksi lapangan.

Area Daging

Mereka berhenti di rak pendingin besar yang memajang berbagai jenis potongan daging. Suhu di area ini terasa lebih menusuk, membuat Zea sedikit merapatkan jaket tipisnya.

“Ambil daging sapi dan ayam,” instruksi Langga sambil menunjuk rak dengan dagunya. “Pastikan stoknya cukup untuk kebutuhan satu minggu.”

Zea menoleh, menatap Langga dengan alis bertaut. “Kenapa saya yang harus pilih?”

“Karena yang akan masak adalah kamu. Jadi kamu yang harus menentukan bahan bakunya,” jawab Langga logis. Ia terdiam sejenak lalu menambahkan, “Lagipula, saya tidak tahu daging mana yang bagus. Semua terlihat seperti bongkahan merah di mata saya.”

Zea menghela napas. Masuk akal. Sial, batinnya. Akhirnya, dengan sangat teliti, Zea mulai memilah. Ia mengambil satu bungkus daging sirloin, mengangkatnya ke arah lampu untuk memeriksa warnanya, membalik kemasannya, mengamati tekstur seratnya, lalu menaruhnya kembali.

Ia pindah ke bagian ayam, melakukan hal yang sama. Ambil satu, periksa dengan jeli, taruh lagi. Ambil lagi, amati, taruh lagi.

Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Saat memasuki menit kelima belas, Langga yang awalnya berdiri tenang sambil memainkan ponsel mulai kehilangan kesabaran. Ia melirik jam tangannya yang mahal berkali-kali.

“Kamu itu sebenarnya sedang memilih pasangan hidup atau memilih daging?” sindir Langga tajam.

Zea, tanpa menoleh sedikit pun dari sepotong daging ayam di tangannya, menjawab dengan nada santai namun menohok, “Kalau pasangan hidup salah pilih, paling pahitnya cuma cerai. Tapi kalau daging salah pilih, bapak bisa diare atau keracunan. Dua-duanya bahaya, tapi daging ini dampaknya lebih instan.”

Langga memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. “Kenapa harus selama itu? Ambil saja yang paling mahal, biasanya itu yang terbaik.”

Zea menoleh dengan tatapan meremehkan yang sangat kentara. “Itu pemikiran khas orang kaya yang malas tahu. Daging di supermarket besar seperti ini tidak menjamin semuanya fresh. Banyak yang sudah lewat hari tapi hanya diganti label harganya saja.”

Langga menatap deretan rak yang tampak sempurna itu. “Menurut saya semuanya sama saja. Semuanya merah dan dingin.”

“Itu karena Bapak tidak mengerti seni dapur,” Zea mengambil dua bungkus daging sapi dan menunjukkannya tepat di depan wajah Langga. “Lihat warna ini. Yang kanan lebih merah cerah, hampir pink. Seratnya lebih rapat dan lemaknya terdistribusi bagus. Ini tandanya baru dipotong semalam atau tadi pagi. Sedangkan yang kiri, warnanya sudah agak gelap dan ada sedikit cairan di bawah plastik. Itu tandanya sudah kelamaan di kulkas.”

Langga menatap dua daging itu bergantian. Ia memicingkan mata, lalu melihat ke arah Zea, lalu kembali ke daging lagi. “Masih kelihatan sama saja di mata saya.”

Zea mendesah panjang, seolah sedang menghadapi anak kecil yang tidak bisa membedakan warna primer. “Sudah, diam saja. Bapak cukup ikut saya biar tidak tersesat di antara rak-rak ini.”

Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya, Erlangga Maheswara, CEO yang disegani di dunia bisnis Asia disuruh diam dan "mengikut" oleh seorang gadis yang bahkan belum lulus kuliah. Dan entah sihir apa yang merasukinya, Langga benar-benar menutup mulutnya dan berjalan di belakang Zea, mendorong langkahnya sesuai ke mana troli itu bergerak.

Area Sayuran

Kini giliran rak sayuran hijau yang menjadi sasaran inspeksi Zea. Ia bergerak lincah memilih sawi, wortel, buncis, hingga cabai dan bawang merah. Langga berdiri di belakangnya, memperhatikan bagaimana Zea menekan tekstur wortel atau mencium aroma bawang dengan sangat serius. Rasa penasarannya mulai terusik.

“Biarkan saya bantu. Saya tidak mau terlihat seperti asistenmu di sini,” ujar Langga, mencoba mengambil alih.

Zea menoleh, lalu meledakkan tawa kecil yang terdengar sangat meremehkan. “Bapak? Mau bantu pilih sayur?”

“Iya. Memangnya sesulit apa?” tantang Langga.

“Bapak bisa membedakan mana sayur yang fresh dan mana yang sudah layu tapi disiram air biar kelihatan segar?”

“Tentu saja bisa,” jawab Langga penuh percaya diri, meski sebenarnya ia hanya menebak-nebak.

“Bohong,” celetuk Zea pendek.

Langga mendengus tersinggung. Ia segera melangkah menuju tumpukan sawi hijau. Ia mengambil satu ikat sawi yang menurutnya paling besar dan warnanya paling mencolok, lalu menyerahkannya pada Zea dengan wajah penuh kemenangan. “Nih. Ambil ini.”

Zea melihat sawi itu sekilas, hanya satu detik, lalu menaruhnya kembali ke rak tanpa ekspresi.

Langga membeku di tempat. “Kenapa ditaruh lagi?”

“Tidak segar. Batangnya sudah lembek,” jawab Zea singkat.

“Apa bedanya?! Warnanya hijau sekali!” seru Langga tak terima.

“Hijau tidak menjamin renyah, Pak. Lihat sendiri, ujung daunnya sudah mulai kuning tapi Bapak tidak teliti,” Zea memijat pelipisnya sejenak, merasa lelah secara mental menghadapi ketidaktahuan bosnya. “Ya ampun, kenapa saya merasa seperti sedang membawa anak TK belanja?”

Langga merasa harga dirinya terusik. Ia kembali mengambil satu ikat sawi lain. “Kalau yang ini?”

Zea melirik. “Tidak.”

“Ini?” Langga mengambil brokoli.

“Kelamaan di pendingin.”

“Kalau yang ini?” Ia menunjukkan sekotak buncis.

“Tidak.”

Wajah Langga mulai memerah karena kesal. Ia tidak terbiasa kalah, apalagi dalam hal sesederhana memilih sayur. Saat Zea sedang membalikkan badan untuk memeriksa stok cabai di sisi lain, Langga melakukan sebuah langkah licik. Ia diam-diam mengambil satu ikat sawi yang sebelumnya sudah dipilih Zea dan sudah berada di dalam troli.

Ia mengangkat sawi itu tinggi-tinggi, lalu menyerahkannya lagi pada Zea dengan wajah paling percaya diri yang bisa ia buat. “Kalau yang ini? Ini pasti bagus menurut standar tinggimu.”

Zea melirik sekilas ke arah sawi di tangan Langga. “Bagus.”

Langga langsung menyeringai menang. Ia menatap Zea dengan tatapan merendahkan yang dibuat-buat. “Lihat? Saya bilang juga apa. Saya punya bakat terpendam.”

Zea menatap Langga datar. Sangat datar. Lalu ia mengambil sawi itu dari tangan Langga dan mengembalikannya ke posisi semula di dalam troli. “Tentu saja bagus, karena itu sayur yang tadi sudah saya pilih dan saya masukkan ke troli.”

“...”

“...”

Hening tercipta di antara rak buncis dan wortel. Zea menatap Langga tanpa ekspresi, sementara CEO itu seolah baru saja tertangkap basah sedang menyontek di ujian SD.

“Pak CEO…” Zea bersedekap. “Kalau mau curang, tolong jangan bodoh-bodoh amat. Saya ingat setiap helai daun yang saya masukkan ke sini.”

Langga membeku. Lidahnya terasa kelu. Untuk kedua kalinya malam itu, Erlangga Adhyaksa dibuat speechless oleh seorang Zea.

Area Buah

Selanjutnya mereka menunu rak buah-buahan yang berwarna-warni. Zea kembali ke mode seriusnya, memeriksa apel satu per satu dan memastikan jeruk yang ia beli memiliki kulit yang tipis karena biasanya airnya lebih banyak.

Langga masih belum terima dengan kekalahan telaknya di area sayur. 'Tidak mungkin saya kalah terus', batinnya keras kepala.

Secara diam-diam, Langga mengambil empat buah apel merah yang menurut penglihatannya sangat sempurna. Ia tidak mau mengambil risiko lagi. Ia melihat seorang petugas supermarket yang sedang sibuk mengecek stok di ujung rak. Dengan langkah tegap, ia menghampiri petugas itu.

“Permisi,” suara berat Langga membuat petugas itu menoleh.

“Y-ya, Pak? Ada yang bisa dibantu?” Petugas muda itu langsung tegang melihat penampilan Langga yang meski hanya memakai kaos, tetap memancarkan aura orang sangat kaya.

Langga menyodorkan empat apel itu ke hadapan si petugas. “Dari empat buah apel ini, mana yang secara teknis paling bagus, manis, dan segar?”

Petugas itu berkedip bingung, namun tetap memeriksa apel-apel itu. “Yang ini, Pak. Teksturnya lebih padat dan aromanya lebih kuat.”

Langga tersenyum puas. “Terima kasih.”

Ia kembali ke arah Zea dengan gaya santai, seolah baru saja mendapatkan kontrak bernilai miliaran rupiah. Ia menyerahkan apel pilihan si petugas tadi. “Nih. Pakai yang ini saja.”

Zea menerima apel itu, membaliknya, memeriksa pangkal tangkainya, lalu tanpa banyak bicara memasukkannya ke dalam plastik buah.

Langga tersenyum lebar. 'YES'. Akhirnya berhasil.

Beberapa menit kemudian, ia mengulang taktik yang sama. Ia bertanya pada petugas tentang buah pir dan jeruk. Semua buah yang direkomendasikan petugas, ia serahkan pada Zea, dan Zea memasukkannya ke troli. Senyum Langga semakin lebar setiap kali Zea menyetujui pilihannya.

Namun, Zea tiba-tiba berhenti. Ia menyipitkan mata, menatap Langga dengan penuh kecurigaan. “Pak Langga.”

“Ya?” jawab Langga cepat.

“Kok buah pilihan Anda mendadak bagus semua? Tidak ada yang meleset satu pun.”

“Karena saya orang yang cepat belajar. Saya berbakat,” jawab Langga tanpa kedip.

“Sejak kapan?”

“Sejak lahir. Mungkin tadi hanya masalah adaptasi mata saja,” kilah Langga.

Zea menyipitkan matanya lebih tajam lagi, mendekatkan wajahnya ke arah Langga. “Bapak nyontek, ya? Bapak nanya ke pegawai sana?”

“Tidak. Ngapain saya nanya mereka?” jawab Langga terlalu cepat.

Zea tidak percaya begitu saja. Ia langsung menoleh ke arah rak buah di belakang mereka dan melihat petugas supermarket tadi yang refleks mengalihkan pandangan dengan wajah panik begitu tertangkap mata oleh Zea.

Zea kembali menatap Langga. “Ketahuan.”

Langga berdeham, berusaha memperbaiki posisi kaosnya demi menjaga wibawa yang sudah berada di ujung tanduk. “Itu namanya delegasi tugas, Zea. Sebagai seorang pemimpin, saya tahu cara memakai sumber daya manusia yang ada di lapangan untuk mencapai hasil maksimal. Itu efisiensi bisnis.”

Zea memandang Langga selama beberapa detik, mencoba mencerna pembelaan konyol pria itu. Lalu, perlahan, sebuah tawa pecah dari bibirnya. Itu bukan tawa meremehkan seperti sebelumnya. Itu adalah tawa yang lepas, natural, dan sangat tulus. Matanya menyipit indah saat ia tertawa, memperlihatkan sisi dirinya yang selama ini selalu terkubur oleh beban hidup.

Langga terdiam. Ia terpaku memandang gadis di depannya. Untuk sesaat, suasana supermarket yang bising dan dingin itu seolah memudar. Baru kali ini ia melihat Zea tertawa selepas itu di hadapannya tanpa rasa takut, tanpa amarah, dan tanpa air mata.

Dada Langga mendadak terasa hangat, sebuah sensasi yang asing baginya.

“Kenapa lihat-lihat?” tanya Zea tiba-tiba setelah tawanya mereda, menyadari tatapan Langga yang tidak berpaling.

Langga langsung memalingkan wajah ke arah tumpukan semangka, berdeham keras. “Tidak lihat apa-apa. Saya cuma sedang berpikir apakah semangka ini juga perlu saya bawa ke petugas tadi.”

“Bohong,” goda Zea sambil mendorong trolinya menuju kasir.

“Diam.”

Zea tersenyum kecil, membiarkan Langga berjalan sedikit di belakangnya untuk menutupi rasa malu.

1
Faiz Utama
gws hp
Fatma
Kasian hp nyaa
Nadia Julia
Enaknya punya temen kyk Rian
M. ZENFOX: Author kak💪
total 1 replies
Nadia Julia
Semangat thorr, aku tunggu updatenya ;)
M. ZENFOX: Siapp
total 1 replies
Nadia Julia
Jail amat
Nadia Julia
Perbedaan kael & Erlangga :)
M. ZENFOX: Apatuh?
total 1 replies
Nadia Julia
Jangan pernah pelit untuk memberi intinya, bolee
Nadia Julia
Semangat Thorrr>
M. ZENFOX: Makasih kakkk💪
total 1 replies
ELVI NI'MAH
Bagus, aku suka happy ending, inginku ibunya langga menyukai zea
M. ZENFOX: Makasihh kakk🤩
total 1 replies
Nessa
lapor donk zea jangan diam aja
M. ZENFOX: Tau ya, ngapain diem 😄
total 1 replies
Nessa
yakin ni g tertarik kita liat aja nanti 🤭
M. ZENFOX: hehe🙄😁
total 1 replies
Nessa
gimna nasib zea
M. ZENFOX: Di tunggu ya kakk
total 1 replies
Nessa
diihh sarah sombong kali
Nessa
erlangga 😤😤😤
Nessa
salut banget padamu zea, intinya bersyukur
Nessa
smngat zea
Nessa
ikut sedih 😢
M. ZENFOX: Sama kak🥲
total 1 replies
Nessa
zea kenapa g minta erlangga menikahimu
M. ZENFOX: Ending tamatnya cepet kak😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!