"Kamu harus tahu diri. Kamu wanita yang tidak pernah di inginkan oleh mas Yusuf. Jangan sesekali meminta perhatian darinya. ingatlah, mas yusuf menikahimu hanya ingin bertanggung jawab pada bayi itu!" tekan Nora.
"Aku tahu, Mbak. Maaf jika sikapku sudah membuat mbak nora tidak nyaman," jawab Siti hajar dengan wajah menunduk.
Kejadian yang tak terduga membuat Siti harus mengandung anak dari majikannya. Menjadi orang ketiga, dan di nikahi secara siri tidaklah membuat gadis malang itu bahagia. ia harus menerima segala hujatan dari nora istri sah Yusuf.
Bagaimana kisah selanjutnya? yuk ikuti ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siti membawa Daffa pergi
Hari demi hari berlalu, namun bagi Siti, tinggal di rumah yang indah dan lengkap itu terasa seperti hidup di dalam penjara kenangan. Setiap sudut ruangan, setiap barang yang ada, bahkan udara yang ia hirup pun selalu mengingatkannya pada Yusuf—pada suara, tatapan, kebaikan, dan rasa cinta yang pernah ia rasakan namun kini telah musnah sepenuhnya. Di sana, setiap langkah kaki seolah dibayangi oleh bayang-bayang masa lalu yang tak pernah mau pergi, membuat hatinya terus terluka dan rindu yang tak kunjung padam. Dan yang paling menyakitkan, ia sadar sepenuhnya bahwa dirinya kini bukan lagi siapa-siapa. Bukan lagi istri, bukan lagi bagian dari hidup lelaki yang dicintainya. Ia hanyalah orang asing yang terpisah oleh jarak, aturan, dan ikatan yang sudah putus.
Rasa sakit itu semakin lama semakin tak tertahankan. Siti menyadari, selama ia masih tinggal di tempat ini, selama ia masih berada di kota yang sama, ia tak akan pernah benar-benar bisa melangkah maju atau menenangkan hatinya. Ia akan terus hidup dalam bayang-bayang, terus berharap pada hal yang mustahil, dan terus merasakan perihnya menjadi orang yang sudah tidak memiliki tempat. Ia harus pergi. Ia harus menjauh sejauh mungkin, bukan karena membenci atau ingin melupakan, tapi demi kewarasannya sendiri, dan juga agar ia tidak lagi menjadi beban atau sumber ketidaktenangan bagi siapa pun.
Keputusan itu akhirnya bulat. Siti berkemas hanya dengan barang-barang yang benar-benar ia butuhkan dan pakaian miliknya serta Daffa. Ia memandang buku tabungan yang berisi uang nafkah dan bekal hidup yang selama ini diberikan Yusuf—uang yang cukup untuk hidup berpuluh tahun lamanya, uang yang diberikan sebagai bentuk tanggung jawab. Dengan hati yang berat namun tegas, ia meletakkan kembali benda itu di atas meja, tepat di tengah ruang tamu yang bersih. Ia tidak mengambil sepeser pun dari sana. Siti juga menulis sepucuk surat untuk Yusuf.
“Uang ini milik Daffa, dan ini pemberian Ayahnya. Aku tidak berhak menggunakannya. Aku pergi bukan karena butuh harta atau bantuan, tapi karena aku ingin benar-benar lepas dan pergi dari segala keterikatan yang menyakitkan ini. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa hidup dan membesarkan anakku dengan usahaku sendiri, tanpa menjadi beban atau kewajiban bagi siapa pun lagi,” batinnya tegas.
Yang ia bawa hanyalah tabungan yang ia kumpulkan sendiri selama bertahun-tahun bekerja keras sebagai pembantu di rumah Yusuf dan Nora—uang yang diperoleh dari keringat dan tenaganya sendiri, yang halal dan murni miliknya. Ditambah sedikit uang tunai yang pernah diberikan Yusuf saat ia sedang mengandung Daffa dulu, yang juga sudah ia simpan rapat dan jarang ia gunakan. Itulah segalanya yang ia bawa. Ia tidak ingin meninggalkan jejak apa pun yang bisa membuat Yusuf atau Nora merasa berhutang atau merasa perlu mencarinya. Ia ingin pergi begitu saja, menghilang seperti kabut, hingga tidak ada yang tahu ke mana ia pergi.
Saat duduk di dalam kendaraan yang membawanya menjauh dari kota itu, dari rumah yang pernah menjadi tempat berlindung namun kini menjadi sumber rasa sakit, Siti memeluk Daffa yang sedang tidur nyenyak di dalam gendongannya. Air matanya menetes perlahan, namun kali ini bukan air mata keputusasaan, melainkan air mata perpisahan dan ketetapan hati.
“Maafkan Bunda, Nak,” bisiknya lirih sambil mencium kening putranya. “Bunda tahu, tempat ini aman dan seharusnya nyaman buat kita. Tapi Bunda tidak kuat, Nak. Hati Bunda terlalu sakit jika terus hidup di sini, terus mengingat dan merindukan Ayahmu namun tidak boleh mendekat. Bunda harus pergi jauh, supaya Bunda bisa belajar ikhlas, supaya Bunda bisa belajar hidup tanpa terus memikirkan hal yang sudah tidak mungkin lagi. Tapi percayalah, Nak… keputusan ini bukan berarti Bunda membenci Ayahmu, bukan berarti Bunda ingin menghapus keberadaannya dari hidup kita.”
Ia mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya, membuka galeri foto yang disimpan rapat-rapat. Di sana ada satu foto yang paling ia sayangi—foto Yusuf yang sedang tersenyum lebar, wajahnya tampak begitu tulus dan hangat. Siti mengusap layar ponsel itu dengan jari yang gemetar, menatap wajah yang akan selalu menjadi satu-satunya pria yang ada di dalam hatinya sampai kapan pun.
“Nanti kalau kamu sudah besar dan sudah mengerti segalanya, Bunda akan ceritakan semuanya padamu dengan jujur dan apa adanya,” janji Siti dalam hati dan dengan suara pelan. “Bunda akan ceritakan bahwa Ayahmu adalah lelaki yang baik, lelaki yang bertanggung jawab, lelaki yang memegang janji dan teguh pada pendiriannya. Bunda tidak akan pernah menanamkan rasa benci atau dendam di hatimu, Nak. Meski Bunda sendiri yang merasakan sakit dan kehilangan ini, Bunda tidak ingin kamu memandang Ayahmu dengan pandangan yang buruk. Dia adalah ayahmu, dia yang memberimu nyawa, dan dia adalah orang yang selalu berusaha melakukan yang terbaik menurut cara pandangnya sendiri.”
Siti menyimpan kembali ponsel itu dengan hati-hati, seolah menyimpan harta yang paling berharga dan tak ternilai harganya.
“Suatu hari nanti, saat kamu sudah dewasa dan bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, Bunda akan tunjukkan foto ini padamu. Bunda akan ceritakan betapa ganteng dan baiknya Ayahmu, betapa besar tanggung jawabnya, dan betapa tulus hatinya. Kamu akan tahu bahwa meskipun Ayah dan Bunda tidak hidup bersama, meskipun ikatan pernikahan kami sudah putus, kasih sayang dan rasa hormat Bunda padanya tidak akan pernah hilang, dan kasih sayang Ayah padamu juga tidak akan pernah berkurang sedikit pun. Kamu tidak kurang apa pun, Nak. Kamu anak yang sangat beruntung memiliki Ayah seperti dia.”
Mobil terus melaju menjauh, melintasi perbatasan kota, meninggalkan segala masa lalu, segala kenangan, dan segala rasa sakit yang pernah ada di sana. Siti tidak tahu ke mana ia akan pergi, tidak tahu bagaimana hidupnya nanti, dan tidak tahu seberapa berat perjalanan yang akan ia tempuh ke depan. Namun satu hal yang ia yakini sepenuh hati. Ia pergi demi ketenangan jiwanya, demi kebaikan dirinya dan masa depan Daffa. Ia akan membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang, dengan mengajarkan kebaikan dan kebenaran, dan dengan selalu menceritakan sosok ayahnya sebagai lelaki yang mulia dan terhormat.
Meski harus menanggung rasa rindu yang mendalam dan cinta yang tak akan pernah terbalas, Siti berjanji pada dirinya sendiri dan pada Tuhan, bahwa ia akan tetap setia pada rasa cintanya, namun juga akan tetap teguh menjalani hidupnya dengan cara yang benar dan terhormat. Ia akan hidup tenang di tempat yang jauh, membiarkan nama Yusuf tetap hidup indah dan baik dalam ingatannya serta dalam cerita yang akan selalu ia sampaikan kepada Daffa, buah hati tercinta mereka berdua.
Bersambung....