Aiden "The Ghost" Volkov adalah definisi dari kesempurnaan yang mematikan. Sebagai raja mafia penguasa jalur perdagangan gelap Eropa, ia dikenal dingin, tak tersentuh, dan sangat mencintai keteraturan. Hidupnya adalah tentang strategi, senjata, dan keheningan.
Namun, tatanan hidup Aiden hancur berantakan saat ia bertemu dengan Ziva, seorang gadis Indonesia yang tinggal di luar negeri dan bekerja sebagai kurir makanan paruh waktu. Pertemuan mereka dimulai dengan bencana: Ziva secara tidak sengaja menabrak konvoi mobil baja Aiden dengan skuter bututnya, lalu malah memarahi Aiden karena "merusak spion estetiknya".
Ziva bukan cewek tangguh yang jago bela diri; dia hanyalah gadis dengan tingkat keberuntungan negatif dan mulut yang tidak punya rem. Di saat musuh-musuh Aiden menggunakan peluru, Ziva menggunakan ketidaksengajaan—seperti menjatuhkan vas kuno seharga jutaan dollar tepat di kepala pembunuh bayaran yang sedang mengincar Aiden.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun dalam Wine dan Aksi Heroik Konyol
Malam di Sisilia tidak pernah benar-benar sunyi. Setelah serangan panah di kebun zaitun, suasana di dalam rumah aman keluarga Volkov terasa seperti sebuah penjara berlapis emas. Bau mesiu masih samar-samar tercium dari balik jendela yang sekarang tertutup rapat oleh tirai baja. Aiden Volkov duduk di meja makan, memutar-mutar gelas berisi red wine vintage dari tahun 1985, sementara matanya yang tajam mengamati setiap inci ruangan.
Ziva, yang masih mengenakan kaos kebesaran Aiden dan sandal jepit Swallow hijau-putihnya, duduk di seberang pria itu. Ia mencoba memotong sepotong keju dengan gerakan gelisah.
"Bang, lu jangan bengong gitu kenapa sih? Gue ngeri liatnya. Lu kayak patung di museum tapi versinya bisa nembak orang," celetuk Ziva, mencoba mencairkan suasana.
Aiden menatapnya, wajahnya yang keras sedikit melunak. "Aku sedang berpikir, Ziva. Lorenzo tidak akan mengirim panah hanya sebagai gertakan. Ada sesuatu yang lebih halus yang sedang ia mainkan."
Tiba-tiba, seorang pelayan baru yang direkrut dari penduduk lokal—karena banyak staf asli Volkov yang tewas dalam insiden villa—masuk membawa botol Chateau Margaux yang sudah terbuka. Ia menuangkannya ke gelas Aiden dan Ziva dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Ini kiriman dari koleksi pribadi di gudang bawah, Tuan. Katanya untuk merayakan keberhasilan Anda bertahan malam ini," ucap pelayan itu pelan sebelum segera membungkuk dan keluar.
Aiden mengangkat gelasnya, mencium aromanya. Namun, ada sesuatu yang salah. Sebagai pria yang tumbuh dengan ancaman pembunuhan di setiap sudut, indra penciumannya telah terlatih untuk mendeteksi anomali terkecil. Ada aroma almond pahit yang sangat samar di balik pekatnya aroma buah beri.
"Jangan minum, Ziva," perintah Aiden tegas, tangannya menahan tangan Ziva yang sudah hampir mengangkat gelas.
Ziva membeku. "Kenapa, Bang? Ada kecoanya?"
"Sianida," desis Aiden. "Lorenzo rupanya bosan dengan peluru. Dia kembali ke cara-cara klasik."
Aiden berdiri, meraih botol tersebut dan memeriksanya. Segelnya telah rusak secara profesional. Namun, bukannya langsung memanggil Marco untuk mengeksekusi pelayan tadi, Aiden justru terdiam. Ia melihat sebuah bayangan bergerak di balik jendela lantai dua melalui pantulan di cermin.
"Mereka sedang menonton kita melalui kamera tersembunyi," bisik Aiden. "Mereka ingin melihat kita tumbang secara perlahan."
"Jadi kita gimana? Masa kita diem aja nunggu diciduk?" Ziva mulai panik.
Aiden menatap Ziva, sebuah ide gila melintas di kepalanya—sesuatu yang sangat berisiko namun bisa memancing pemimpin unit pemburu Lorenzo keluar. "Ziva, kita harus berpura-pura terkena racunnya. Saat mereka pikir kita sudah lumpuh, mereka akan masuk untuk mengambil dokumen yang mereka cari."
"Hah?! Gue harus akting mati?! Bang, nilai seni peran gue pas sekolah cuma dapet C!"
"Lakukan saja. Ikuti gerakanku," perintah Aiden.
Aiden tiba-tiba memegang lehernya, terbatuk-batuk dengan dramatis, lalu menjatuhkan gelas kristalnya hingga pecah berkeping-keping. Tubuhnya yang besar meluncur jatuh dari kursi ke lantai marmer dengan suara gedebuk yang meyakinkan.
Ziva melongo melihat akting Aiden yang begitu total. Wah, Bang Don emang bakat jadi aktor sinetron kalau pensiun jadi mafia, pikirnya.
"Ziva! Sekarang!" desis Aiden dari lantai, matanya terpejam sebelah.
Ziva langsung tersadar. Ia berdiri, berteriak sekencang mungkin, "YA AMPUN BANG DON! MATI LU?! JANGAN MATI DULU, GUE BELUM TAU PIN ATM LU!"
Ziva kemudian memegangi perutnya, berputar-putar seperti penari balet yang sedang mabuk, lalu menjatuhkan dirinya di samping Aiden. Masalahnya, Ziva terlalu semangat. Bukannya jatuh dengan anggun, kepalanya justru mendarat tepat di perut Aiden yang sedang menahan napas.
"Ugh..." Aiden tanpa sengaja mengeluarkan suara karena perutnya terhantam kepala Ziva.
"Diem lu, gue lagi akting!" bisik Ziva sambil pura-pura kejang-kejang. Sandal jepit Swallow-nya terlepas satu, terbang menabrak lampu meja.
Dua menit berlalu dalam keheningan yang konyol. Ziva mulai merasa pegal karena harus posisi kayang setengah rebahan, sementara Aiden tetap diam seperti mayat sungguhan. Tiba-tiba, pintu kaca teras terbuka perlahan. Tiga pria berpakaian hitam dengan masker gas masuk, memegang senjata berperedam.
"Target lumpuh. Ambil tas hitamnya dan bawa gadis itu," ucap salah satu dari mereka.
Saat salah satu pria membungkuk untuk menarik lengan Ziva, Aiden bergerak secepat kilat. Ia menyapu kaki pria itu hingga jatuh, lalu memberikan pukulan telak ke rahangnya. Dua pria lainnya langsung mengarahkan senjata, namun Ziva—yang entah mendapat keberanian dari mana—tiba-tiba bangkit.
Bukannya lari, Ziva justru meraih satu sandal jepitnya yang tersisa di kaki kanan.
"BERANI-BERANINYA LU MAU CULIK GUE PAS GUE LAGI CAPEK!" teriak Ziva.
Dengan gerakan seperti pemain lempar cakram, Ziva melemparkan sandal Swallow-nya tepat ke arah wajah pria kedua. Sandal karet itu menghantam masker gas sang pembunuh, membuatnya kaget dan pandangannya terganggu sejenak.
Aiden tidak menyia-nyiakan momen konyol itu. Ia merebut senjata dari pria pertama dan melepaskan tembakan akurat ke arah kaki pria kedua dan ketiga. Dalam hitungan detik, ketiga penyusup itu sudah tidak berdaya di lantai.
Aiden berdiri, menatap Ziva yang masih berdiri dengan satu kaki karena sandalnya habis dilempar. "Ziva... apa yang baru saja kau lakukan?"
"Gue... gue nyelamatin lu, Bang! Sandal Swallow gue punya daya hancur psikologis yang tinggi tau!" jawab Ziva, napasnya memburu tapi wajahnya tampak bangga.
Marco dan tim elit lainnya masuk ke ruangan dengan senjata lengkap, tampak bingung melihat satu pria pingsan dengan bekas jejak sandal di maskernya.
"Tuan? Apa yang terjadi?" tanya Marco linglung.
"Nona Ziva baru saja menggunakan teknik tempur rahasia dari Asia Tenggara," ucap Aiden sambil mencoba menahan senyum. "Amankan mereka. Aku ingin tahu siapa yang memberikan botol wine itu."
Aiden menghampiri Ziva, menariknya ke dalam pelukannya. Meskipun situasi tadi sangat berbahaya, Aiden merasa bahwa kepolosan dan aksi heroik konyol Ziva adalah hal yang membuatnya tetap waras di tengah dunia yang penuh racun ini.
"Kau gila, Ziva. Kau hampir tertembak karena melempar sandal," bisik Aiden di telinga Ziva.
"Ya habisnya mereka ganggu momen akting gue. Lagian lu juga sih, aktingnya kelamaan. Gue udah pegel!" Ziva membalas pelukan Aiden, menyembunyikan wajahnya di dada pria itu.
Setelah para penyusup diseret keluar, Aiden menemukan sebuah surat di dalam saku salah satu penyerang. Isinya singkat namun mengerikan: "Sianida untuk Sang Naga, dan mawar untuk si kurir. Sisilia akan segera menjadi taman pemakaman kalian."
Aiden meremas kertas itu. Racun dalam wine hanyalah hidangan pembuka. Lorenzo sedang memainkan perang psikologis yang lebih dalam. Namun, saat melihat Ziva yang sekarang sedang sibuk mencari sandal jepitnya yang hilang di bawah sofa, Aiden menyadari satu hal.
Musuh-musuhnya meremehkan Ziva. Mereka melihatnya sebagai kelemahan, sebuah target empuk. Namun, mereka tidak tahu bahwa Ziva adalah variabel tak terduga yang bisa mengacaukan rencana paling presisi sekalipun dengan aksi konyolnya.
"Bang! Ketemu!" Ziva berteriak kegirangan sambil mengangkat sandalnya yang berdebu. "Masih utuh! Emang Swallow nggak ada lawan!"
Aiden tertawa—tawa yang tulus untuk pertama kalinya sejak mereka mendarat di Sisilia. "Ziva, kurasa aku harus memesankanmu 'sandal tempur' khusus dengan lapisan kevlar."
"Nggak usah mahal-mahal, Bang. Cukup beliin martabak manis kalau kita udah balik ke Milan. Gue laper akting mulu dari tadi," sahut Ziva sambil memasang kembali sandalnya.
Aiden mematikan lampu ruang makan dan membawa Ziva kembali ke kamar yang lebih aman. Ia duduk di tepi tempat tidur, sementara Ziva sudah tertidur lelap hanya dalam hitungan menit—seolah-olah serangan pembunuh bayaran tadi hanyalah gangguan nyamuk biasa.
Aiden menatap tangan Ziva. Gadis ini tidak seharusnya berada di sini, di tengah perang antar kartel. Namun, ia juga tidak bisa membiarkannya pergi. Luka di duniaku terlalu dalam, pikir Aiden, tapi Ziva adalah satu-satunya obat yang tidak beracun.
Ia mengambil gelas wine yang masih tersisa di meja tadi (yang belum tumpah) dan menuangkannya ke tanaman hias di pojok ruangan. Dalam beberapa detik, tanaman itu layu. Aiden mengeraskan rahangnya.
Besok, ia akan mengakhiri permainan ini. Tidak ada lagi akting, tidak ada lagi persembunyian. Jika Lorenzo ingin melihat pemakaman di Sisilia, maka Aiden akan memastikan bahwa pemakaman itu adalah milik keluarga Crimson Fang.
"Tidurlah, Bunga Matahariku," bisik Aiden sambil mencium kening Ziva. "Besok, Naga Hitam tidak akan lagi menahan diri."
Di luar, angin Sisilia berhembus kencang, membawa aroma belerang dari gunung Etna. Perang yang sesungguhnya baru saja akan meledak, dipicu oleh segelas wine beracun dan sepasang sandal jepit yang terbang di tengah kegelapan.