SMA Nusantara bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Ia adalah mesin raksasa yang memangsa jiwa. Di balik kemegahan arsitekturnya, tersimpan eksperimen gelap "Proyek Nusantara" yang telah mengorbankan ribuan siswa sejak tahun 1985. Setiap detak lonceng adalah tanda maut dan setiap koridor adalah penjara bagi mereka yang tak pernah kembali ke rumah.
Arga, seorang remaja dengan kemampuan Indigo yang ekstrem, terpaksa memasuki neraka ini demi mencari kakaknya yang hilang. Berbekal tangan perak yang menjadi kunci sekaligus kutukannya, Arga bersama Lintang dan Rian harus mengungkap konspirasi berdarah Sang Kepala Sekolah, Bramantyo.
Di dunia di mana batas antara realitas dan alam Barzakh kian menipis, mampukah Arga mematahkan sumpah hitam pendiri sekolah sebelum fajar terakhir ditelan kegelapan abadi?
Since: 10-04-2026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Unit Isolasi
Langkah kaki mereka bergema di lantai marmer yang dingin saat memasuki Sektor 6. Namun, alih-alih langsung menuju Ruang Musik yang berpintu perak itu, Arga mendadak berhenti.
Antena saraf di punggungnya berkedut hebat, bukan karena ancaman dari depan, melainkan karena sebuah tarikan gravitasi gaib dari sebuah lorong sempit yang tersembunyi di balik tirai beledu merah yang sudah robek.
Di atas lorong itu, terdapat sebuah plat kuningan berkarat yang nyaris tak terbaca.
SUB-LEVEL 6-B: UNIT ISOLASI PSIKOLOGIS.
"Arga, Ruang Musik ada di depan kita. Kenapa kau berhenti?" Lintang bertanya dengan nada cemas, tangannya masih memapah Raka yang tampak setengah sadar.
"Ada sesuatu di bawah sini," suara Arga terdengar berat, gema metaliknya kini bercampur dengan getaran emosional yang aneh. "Bukan mesin, bukan zat kimia. Sesuatu yang... terasa seperti kita."
Raka mendongak, matanya yang mulai jernih menatap ke arah lorong gelap itu. "Aku... aku ingat tempat ini. Saat mereka membawaku dari Menara Jam, mereka tidak langsung membawaku ke Lab Kimia. Mereka menaruhku di sana... di tempat di mana suara tidak bisa keluar."
Tanpa menunggu persetujuan, Arga melangkah masuk. Lorong itu sangat sempit, dindingnya dilapisi oleh bantalan empuk yang sudah berjamur, dirancang untuk meredam teriakan sekeras apa pun.
Di sini, tidak ada lampu neon atau kabel saraf yang berdenyut. Hanya ada keheningan yang menekan gendang telinga hingga terasa nyeri.
Mereka sampai di sebuah pintu besi tanpa gagang, hanya ada celah kecil setinggi mata untuk melihat ke dalam. Di atas pintu itu tertulis sebuah nomor yang membuat jantung Arga berdegup kencang.
SUBJEK 00.
"Subjek nol-nol?" Lintang berbisik. "Jika Raka adalah Subjek 01 dan kau adalah Subjek 02... maka siapa yang ada di dalam sini?"
Arga menggunakan cakar peraknya untuk mengoyak pintu besi itu seolah-olah itu hanya kertas tipis. Pintu itu terbuka dengan suara derit yang memilukan.
Di dalam ruangan yang hanya seluas dua kali dua meter itu, tidak ada peralatan medis atau teknologi canggih. Hanya ada sebuah kursi kayu tua dan ribuan lembar kertas yang memenuhi lantai hingga setinggi mata kaki.
Di tengah tumpukan kertas itu, duduk sesosok wanita. Rambutnya putih panjang hingga menyentuh lantai, seragamnya adalah seragam SMA Nusantara model lama, model yang digunakan tiga puluh tahun yang lalu.
Wanita itu tidak menoleh. Ia terus menulis di atas selembar kertas menggunakan kuku jarinya yang berdarah.
"Ibu?" Suara Raka pecah, sebuah bisikan yang penuh dengan keraguan dan harapan yang menyakitkan.
Wanita itu berhenti menulis. Ia perlahan menoleh. Wajahnya cantik, namun transparan, seolah-olah ia terbuat dari kabut melati. Matanya berwarna indigo murni, jauh lebih terang daripada milik Arga.
"Kalian kembali..." suara wanita itu bukan berasal dari mulutnya, melainkan bergema langsung di dalam pikiran mereka. "Anak-anakku... kalian seharusnya tidak pernah kembali ke tempat yang melupakan kalian."
"Ibu benar-benar di sini?" Arga jatuh berlutut. Sisik obsidian di wajahnya perlahan rontok, menyingkap wajah remajanya yang penuh air mata. "Ayah bilang Ibu meninggal saat melahirkan aku."
"Itulah yang Sang Arsitek ingin ayahmu percayai," sosok itu ialah Ibu merek, Saraswati. Langkahnya tidak menyentuh lantai.
"Ibu adalah Subjek 00. Peneliti pertama sekaligus korban pertama. Mereka tidak membunuh Ibu; mereka mengisolasi kesadaran Ibu di sini untuk menjadi Baterai Empati bagi sekolah ini. Seluruh sistem keamanan yang menggunakan frekuensi Indigo... semuanya berasal dari sisa-sisa jiwaku."
Lintang terpaku di ambang pintu. "Jadi itu sebabnya sekolah ini selalu tahu perasaan para murid? Karena mereka menggunakan jiwa seorang ibu sebagai sistem operasinya?"
Saraswati mengangguk pelan. Ia mendekati Arga dan menyentuh pipinya. Tangan transparan itu terasa dingin namun menenangkan. "Arga, cairan perak yang kau minum dari Damar... itu bukan penawar. Itu adalah racun yang akan mempercepat penyatuan jiwamu dengan sekolah ini. Damar ingin kau menggantikan posisiku sebagai jantung baru Sektor 6."
Arga tersentak. Pengkhianatan Guru Biologi itu kini terasa nyata. "Lalu apa yang harus kulakukan? Aku tidak bisa membiarkan Raka terjebak lagi."
"Kau harus menghancurkan Ruang Musik," ujar Saraswati. "Tapi kau tidak bisa menghancurkannya dari luar. Kau harus masuk ke dalam frekuensinya. Di dalam Ruang Musik, ada sebuah piano yang terbuat dari tulang-tulang para pendiri. Jika kau memainkan melodi yang benar, melodi yang Ibu ajarkan lewat harmonika itu, kau akan memutus aliran energi dari jiwaku ke mesin sekolah."
"Jika aku melakukan itu... apa yang akan terjadi pada Ibu?" tanya Raka, suaranya gemetar.
Saraswati tersenyum, sebuah senyuman yang paling damai yang pernah Arga lihat. "Ibu akan bebas. Ibu akan menjadi debu, seperti seharusnya manusia mati. Dan kalian... kalian akan memiliki waktu lima menit sebelum dimensi ini runtuh sepenuhnya untuk lari ke gerbang dunia nyata."
Tiba-tiba, dinding Ruang Isolasi itu mulai retak. Suara piano dari Sektor 6 terdengar semakin keras, kini bernada marah dan disonan. Sang Arsitek telah menyadari bahwa Arga menemukan "titik lemah" sistemnya.
"Pergilah!" Saraswati mendorong mereka keluar dari ruangan. "Jangan biarkan pengorbanan ayahmu sia-sia. Dia menyimpan harmonika itu selama tiga puluh tahun karena dia tahu hanya suara dari masa lalu yang bisa menghancurkan masa depan yang terkutuk ini!"
Asap hitam mulai merembes masuk ke lorong isolasi, mencoba menarik kembali sosok Saraswati ke dalam dinding. Arga berdiri, matanya kini memancarkan tekad yang lebih tajam dari cakar peraknya. Ia tidak lagi bertarung untuk bertahan hidup; ia bertarung untuk pembebasan.
"Ayo, Lintang! Raka!" Arga menarik mereka kembali ke koridor utama Sektor 6.
Mereka sampai di depan pintu perak Ruang Musik. Kali ini, pintu itu terbuka sendiri. Di dalamnya, ruangan itu tampak megah namun mengerikan. Ribuan senar piano menjuntai dari langit-langit seperti jaring laba-laba, dan di tengahnya, sebuah piano besar putih berdiri di atas genangan cairan perak.
Di kursi piano itu, duduk sesosok bayangan tanpa wajah yang mengenakan jas konduktor.
"Selamat datang, Subjek 02," suara Sang Arsitek bergema dari seluruh penjuru ruangan. "Ibumu selalu menjadi bagian yang paling sulit dikendalikan. Tapi tenang saja... setelah kau memainkan lagu ini, kalian akan bersatu selamanya dalam harmoni yang sempurna."
Arga melangkah maju, harmonika ayahnya sudah siap di tangan. Ia tidak melihat ke arah Sang Arsitek, melainkan ke arah senar-senar yang menjuntai.
Ia bisa merasakan detak jantung ibunya di sana, terperangkap dalam frekuensi yang menyakitkan.
"Lagu ini bukan untukmu, Arsitek," geram Arga. "Ini untuk mereka yang kau lupakan."
Arga mulai meniup harmonikanya. Di saat yang sama, sang konduktor bayangan mulai menghantam tuts piano dengan keras. Pertempuran frekuensi dimulai.
Suara harmonika Arga yang biru-putih bertabrakan dengan gelombang suara piano yang merah-hitam, menciptakan ledakan sonik yang menghancurkan kaca-kaca spesimen di sekeliling mereka.