Menceritakan seorang gadis bernama Zura. Dan Kebingungan Zura kenapa dirinya bisa nyasar ke raga Ziva sang Antagonis di dalam buku novel yang pernah dia baca sebelum nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wilaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 026
Jam pelajaran Sejarah terasa seperti dongeng pengantar tidur yang gagal bagi Ziva. Alih-alih mengingat tahun revolusi, kepalanya justru sibuk merevolusi ulang kejadian di perpustakaan. Setiap kali ia tanpa sengaja menyentuh sudut bibirnya, sensasi hangat dari ibu jari Aksa seolah kembali menyetrum sarafnya.
"Ziva, kamu sakit?" Bu Lastri, guru Sejarah yang terkenal teliti, menghentikan penjelasannya tentang Perang Dunia II. "Wajah kamu merah sekali."
Seluruh kelas menoleh. Liana menutup mulut menahan tawa, sementara Manda dan Tika sudah sibuk saling sikut di kursi belakang.
"Eh, enggak, Bu. Ini... tadi saya habis makan pedas di kantin," dalih Ziva asal, sambil mengipasi wajahnya dengan buku tulis.
"Oh, yasudah. Fokus lagi ya," sahut Bu Lastri.
Ziva menghela napas panjang. Sialan lo, Aksa Erlangga. Lo bikin fokus gue berantakan, sementara lo pasti sekarang lagi anteng duduk di kelas lo kayak nggak ada apa-apa, batinnya kesal.
Di kelas XII-IPA 1, Aksa memang tampak "anteng" secara fisik, namun buku sketsanya menceritakan hal lain. Alih-alih menggambar perspektif gedung arsitektur, ia justru menggambar pola abstrak yang berantakan—representasi dari isi kepalanya yang sedang kalut.
"Bos." Kenan menyenggol lengan Aksa. "Guru lagi jelasin soal integral, lo malah gambar benang kusut."
Aksa menutup bukunya dengan bunyi plak yang cukup keras. "Gue butuh udara," gumamnya pelan.
"Lo butuh Ziva, itu maksud lo?" Kenan menyeringai.
Aksa tidak menyahut. Ia menatap ke luar jendela, ke arah parkiran motor tempat sport hitam miliknya terparkir gagah. Pikirannya kembali ke tawaran Vino soal balapan malam ini. Biasanya, adrenalin adalah obat paling mujarab untuk kebosanannya. Tapi sekarang, ia ragu.
Aksa mengalihkan pandangannya dari jendela kembali ke permukaan meja kayu yang penuh coretan angkatan sebelumnya. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun di SMA Pelita Bangsa, suara derit kapur di papan tulis terdengar seperti gangguan statis yang tidak bermakna.
Setiap kali ia mencoba memejamkan mata untuk fokus pada angka-angka kalkulus, yang muncul justru bayangan wajah sayu Ziva saat terbangun di perpustakaan tadi. Wajah yang polos, mata yang mengerjap lambat seperti bayi kucing yang bingung, dan rona merah yang menjalar di pipinya saat Aksa menyentuh sudut bibirnya.
Shitt, Aksa merutuk dalam hati. Ia meremas pensilnya hingga buku-bukunya memutih.
Kenan yang duduk di sebelah Aksa memperhatikan perubahan rahang temannya yang mengeras. "Aks, lo kalau mau cabut, cabut aja. Muka lo udah kayak orang mau meledak. Gagal fokus gara-gara elusan tadi pagi, ya?"
"Diem, Nan," sahut Aksa tajam, namun nada suaranya tidak memiliki daya hancur seperti biasanya. Ada semacam keraguan yang terselip di sana.
Aksa kembali membuka buku sketsanya, namun kali ini ia tidak menggambar abstrak. Jemarinya secara tidak sadar menarik garis melengkung yang lembut—membentuk siluet helai rambut yang terselip di belakang telinga. Ia tertegun melihat hasil goresannya sendiri. Ia baru saja menggambar memori sentuhannya pada Ziva.
...KRINNG! ...
Bel pergantian jam berbunyi. Di selasar, anggota Black Eagle kembali berkumpul. Vino masih bersikeras membahas balapan di bandara lama.
"Gue udah taruhan sama anak-anak Garuda, nih. Mereka bilang Aksa nggak berani turun karena sekarang udah punya 'peliharaan' baru," kompor Vino sambil memanaskan suasana.
"Peliharaan?" Suara Aksa terdengar dari arah pintu kelas, dingin dan menusuk.
Vino tersentak, hampir menjatuhkan ponselnya. "Eh, Bos! Enggak, itu... istilah mereka aja! Maksud gue, mereka ngeremehin lo karena belakangan ini lo lebih sering di perpus daripada di bengkel."
Aksa berjalan mendekat, menyandar pada pilar beton balkon. Matanya menatap lurus ke arah koridor kelas XI di bawah, berharap—secara tidak logis—sosok gadis malas itu lewat di sana.
"Treknya gimana?" tanya Aksa akhirnya.
"Basah dikit gara-gara hujan tadi subuh, tapi grip-nya masih oke," lapor Bram cepat. "Taruhannya gede, Aks. Dan yang lebih penting, ini soal siapa yang megang kendali di jalanan selatan."
Aksa diam. Logika kepalanya berkata ia harus ikut. Ia butuh kecepatan untuk membakar habis bayangan Ziva yang mengganggu kewarasannya. Namun, ada satu bagian dari hatinya yang membayangkan jika ia mengajak Ziva... apa gadis itu akan ketakutan? Atau dia justru akan tidur di atas motor saking magernya?
"Gue ikut," ucap Aksa singkat. "Tapi ada syaratnya."
"Apaan?" tanya Kenan penasaran.
"Jangan ada yang berisik soal ini di depan anak-anak kelas XI. Terutama sirkelnya Ziva," perintah Aksa.
Vino dan Bram saling lirik dengan senyum nakal. "Oalah, takut Bu Bos khawatir ya, Aks?" ledek Vino yang langsung dihadiahi tatapan maut oleh Aksa.
Di kelas bawah, Ziva baru saja menyelesaikan catatan Sejarahnya—yang sebenarnya lebih banyak gambar corat-coret daripada tulisan fakta sejarah.
"Kak Ziva," panggil Liana pelan sambil menoleh ke belakang. "Nanti pulang sekolah, Kakak langsung balik?"
Ziva merapikan bukunya dengan gerakan malas. "Rencananya sih gitu. Mau lanjut tidur yang tertunda gara-gara 'gangguan' tadi. Kenapa?"
"Tadi aku nggak sengaja denger anak-anak kelas sebelah ngomongin soal balapan motor nanti malam di bandara lama," Liana ragu sejenak. "Katanya... Kak Aksa bakal turun."
Ziva yang tadi sedang memasukkan kotak pensilnya mendadak berhenti. Jantungnya memberikan satu sentakan aneh. Balapan motor? Di bandara lama yang terkenal gelap dan bahaya itu?
"Dia... emang biasa balapan?" tanya Ziva, mencoba terdengar tidak peduli.
"Banget, Kak. Kak Aksa itu raja jalanan di sirkel Black Eagle," sahut Tika yang tiba-tiba ikut nimbrung. "Tapi biasanya dia cuma balapan kalau lagi bosen atau... lagi banyak pikiran."
Ziva terdiam. Lagi banyak pikiran? Apa karena kejadian di lapangan tadi pagi? Atau karena skandal Reygan? Atau... karena kejadian di perpustakaan?
Ziva menatap pulpen perak A.E di tangannya. Tiba-tiba saja, keinginan untuk pulang dan tidur hilang seketika. Ada rasa cemas yang menyelusup, sebuah perasaan asing yang selama ini tidak pernah ada di kamus hidupnya sebagai Zura maupun Zivanna.
"Bandara lama ya..." gumam Ziva pelan.
Bel pulang sekolah berbunyi. Murid-murid berhamburan keluar. Dari lantai dua, Aksa melihat Ziva keluar dari kelasnya bersama teman-temannya. Aksa sudah memakai jaket kulit hitamnya, helmnya dijepit di ketiak.
Ia berdiri di balkon, mengawasi setiap langkah Ziva menuju parkiran mobil. Ingin rasanya ia turun dan langsung menarik gadis itu ke boncengannya, membawa lari Ziva dari semua hiruk-pikuk ini. Namun, Aksa menahan diri. Ia harus tetap terlihat sebagai Aksa yang "biasa saja" di depan teman-temannya.
Ziva sempat mendongak. Matanya bertemu dengan mata tajam Aksa dari kejauhan. Hanya satu detik, namun cukup untuk membuat keduanya membuang muka secara serempak.
Aksa menyeringai tipis, lalu berbalik menuju parkiran motor. "Malam ini bakal menarik," bisiknya.
di tunggu selalu update nya👍
lanjut ya thor... 🤧