Rachel hanya ingin menyelamatkan nyawa adiknya.
Namun bantuan dari ayah tirinya itu justru berubah menjadi mimpi buruk ketika ia dijual pada Tom—seorang pria kaya, kejam, dan terobsesi memilikinya. Terperangkap dalam sangkar emas yang menyesakkan, Rachel akhirnya memilih kabur dan mempertaruhkan segalanya demi kebebasan.
Di saat itulah ia bertemu Liam Smith. Pria misterius yang tampak dingin dan tak tersentuh. Bagi Rachel, Liam hanyalah seorang penyelamat. Tapi ia tidak tahu satu hal, bahwa Liam adalah bos mafia dan dirinya adalah seseorang yang pernah menyelamatkan hidupnya yang tak pernah bisa Liam lupakan.
Namun, ketika Rachel akhirnya mengetahui siapa Liam sebenarnya, ia dihadapkan pada dua pilihan. Akankah ia mampu bertahan dengan pria yang bisa melindunginya dari seluruh dunia? Atau akankah ia justru memilih meninggalkannya sebelum dunia Liam menghancurkan hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehangatan yang Tak Direncanakan
Suatu siang hari di rumah Liam berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Tidak ada perubahan mencolok, juga tidak ada kegaduhan yang terjadi. Rumah itu berfungsi sebagaimana mestinya—tenang, tertib, dan hampir steril dari emosi apapun. Para staf pun bekerja dalam ritme yang sudah dihafal, berpindah dari satu tugas ke tugas lain tanpa banyak bicara.
Rachel berada di dapur samping, membantu menyiapkan bahan-bahan makanan untuk makan siang. Gerakannya tampak rapi dan efisien. Ia tidak mencoba mencari perhatian, tidak pula menghindari siapa pun. Sejak beberapa hari terakhir, ia sudah terbiasa dengan jarak yang tak terucap itu. Liam datang dan pergi dengan jadwal kesibukannya yang padat, juga berbicara dan memberi instruksi seperlunya.
Segalanya tampak stabil. Namun stabilitas itu tidak benar-benar terasa netral. Ada ketegangan halus yang menggantung di sana, seperti sesuatu yang sengaja dibiarkan tak disentuh.
Ponsel Rachel tiba-tiba bergetar di saku apron-nya, ketika ia membantu Mrs. Cassel memotong sayuran. Ia melirik layar sekilas, lalu meminta ijin Mrs. Cassel untuk menerima panggilan telepon sebentar dan menepi ke sudut dapur yang lebih sepi. Nomor apartemen Mrs. Portman muncul di layar ponselnya. Rachel pun mengangkat panggilan itu dengan refleks yang terlalu cepat.
“Rachel,” suara Anna terdengar cerah dan berantusias. “Hari ini ulang tahunku. Kau tidak lupa, kan?”
Rachel pun tersenyum tanpa sadar—senyuman kecil yang bahkan tak sempat ia kendalikan. Nada suaranya sontak berubah dan melunak. “Benarkah? Selamat ulang tahun, Anna Sayang. Maaf aku terlalu sibuk hingga tidak menyadarinya.”
Anna tertawa pelan, lalu dengan suara yang sedikit ragu bertanya apakah Rachel bisa datang mengunjunginya sekarang. Rachel menoleh ke sekeliling, melihat jam di dinding, dan melihat pekerjaannya yang belum selesai. Dadanya mengencang oleh rasa bersalah yang datang terlalu cepat.
“Aku masih bekerja, Anna ” katanya pelan. “Tapi nanti malam aku akan usahakan datang, ya.”
Ada jeda singkat di balik panggilan telepon itu. Anna terdengar sedikit kecewa, meski berusaha menyembunyikannya. Ia bilang tidak apa-apa dan akan menunggu kedatangan Rachel nanti malam. Dan, Rachel pun akhirnya menutup panggilan itu dengan perasaan yang tidak sepenuhnya ringan. Ia ingin hadir saat itu juga, tapi hidupnya kini penuh batas yang tak bisa ia geser sesuka hati.
Saat Rachel sedang berbicara dengan Anna beberapa saat tadi, Liam sedang melewati koridor yang sama. Ia berhenti sebentar untuk berbicara dengan salah satu orang suruhannya. Ia tidak mendekat, juga tidak memperhatikan Rachel secara langsung. Namun potongan percakapan itu tetap sampai ke telinganya—nama Anna, kata ulang tahun, dan janji untuk bertemu malam nanti.
Liam tidak langsung bereaksi, bahkan wajahnya tampak tetap datar. Ia melanjutkan langkahnya seolah tak pernah mendengar apa pun. Informasi itu disimpan begitu saja, tanpa komentar dan tanpa niat untuk ikut campur.
Beberapa waktu kemudian, Liam sendirian di ruang kerjanya. Pikirannya kembali pada satu hal sederhana, yaitu ulang tahun Anna. Ia tidak sedang memikirkan Rachel, dan tentu saja tidak bertanya apa pun padanya. Ia hanya memanggil salah satu anak buahnya dan memberi instruksi singkat—membeli kue dan kado yang pantas untuk anak seusia Anna. Namun satu hal sudah ia putuskan sendiri, bahwa kado itu akan ia antarkan sendiri ke penerimanya. Ini bukan sebuah kewajiban, bukan juga perintah. Melainkan hanya dorongan personal yang tidak ia analisis lebih jauh.
Setibanya Liam di sana, Anna membuka pintu apartemen dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Senyumnya sempat muncul, lalu tertahan. Ia mengamati sosok pria tinggi dengan setelan rapi berdiri di depan pintu, memegang kotak kue dan tas kecil berisi hadiah.
“Ehm…” Anna mengerjap, menatapnya dari ujung kepala sampai kaki. "Anda siapa?"
Liam menurunkan pandangannya sedikit, menyesuaikan diri dengan tinggi anak itu. “Halo? Kau Anna, benar?” katanya, terdengar kaku tapi terkendali. “Aku… teman Rachel.”
Anna menoleh ke dalam, lalu memanggil pelan. “Mrs. Portman?”
Mrs. Portman pun muncul dari dapur dengan celemek yang masih terikat. Ia berhenti mendadak saat melihat tamu itu. Ekspresinya tampak terkejut, tapi cepat dikendalikan.
“Selamat siang,” kata Liam, suaranya tenang. “Aku teman Rachel. Dia masih bekerja. Dia tidak bisa datang sekarang, jadi… dia memintaku mengantarkan ini.”
Ia mengangkat kotak kue berukuran cukup besar itu, seolah memastikan maksud kedatangannya jelas. Mrs. Portman memandangnya beberapa detik, mencoba membaca niat di balik sikap formal itu. Lalu ia tersenyum tipis dan membuka pintu lebih lebar.
“Silakan masuk,” katanya. “Terima kasih sudah datang.”
Anna masih menatap Liam dengan rasa penasaran yang jujur. “Anda benar-benar teman Rachel?”
Liam mengangguk. “Ya.”
"Siapa nama Anda?"
"Panggil saja aku Liam."
“Liam? Tapi Rachel tidak pernah bercerita tentang Anda padaku,” lanjut Anna polos.
Mrs. Portman pun sontak menegurnya pelan, tapi Liam justru terdiam sesaat. Ia tidak tahu bagaimana menanggapi kalimat itu. Akhirnya ia hanya berkata, “Dia anak yang lucu.” , dan kalimat sederhana itu membuat Anna tersenyum lagi.
Mereka duduk di ruang makan yang bersih dan hangat. Mrs. Portman mengambil piring dan pisau, sementara Anna memperhatikan Liam membuka kotak kue dengan mata berbinar. Lilin-lilin kecil dipasangnya— jumlahnya tidak banyak, tapi tampak cantik terpasang di atas kue berbentuk hati berwarna merah muda itu.
“Boleh aku meniupnya sekarang?” tanya Anna tak sabar.
“Tentu saja,” kata Liam. Ia menambahkan, setelah jeda singkat, “Tapi… biasanya orang membuat permohonan dulu.”
Anna pun mengerutkan kening, lalu menutup kedua matanya dengan ekspresi serius. Ia meniup lilin dengan napas kecilnya, lalu tertawa ketika asap tipis mengepul tepat di hadapannya. Mrs. Portman pun yang berada di dekatnya pun langsung bertepuk tangan pelan dan tertawa kecil.
Sementara itu, Liam ikut bertepuk tangan, dengan gerakan yang sedikit ragu-ragu. Suara tepukannya terdengar kaku, seperti ia belum terbiasa melakukannya untuk alasan semacam ini.
“Anda mau kue?” tanya Anna, menyodorkan piring.
“Sedikit saja,” jawab Liam. Ia menerima piring itu, duduk lebih tegak dari yang sebelumnya, seolah ruang sederhana itu menuntut kewaspadaan yang sama seperti dunianya. Namun perlahan, bahunya terlihat turun. Ia mengamati Anna yang bercerita tentang hari-harinya, tentang teman-temannya di sekolah dulu, dan tentang Rachel yang sering membantunya mengerjakan PR.
Mrs. Portman sesekali menimpali, tersenyum saat melihat Liam benar-benar mendengarkan. Mrs. Portman bisa menilai, bahwa sikap yang Liam tunjukkan bukan hanya sekedar basa-basi. Ia menatap Anna ketika anak itu bicara, mengangguk sesekali sebagai tanggapan cerita Anna, dan bertanya singkat tanpa menyela.
“Anda sering merayakan ulang tahun?” tanya Anna tiba-tiba.
Pertanyaan itu datang begitu saja—sebuah pertanyaan polos yang ditujukan oleh seorang anak kecil. Mrs. Portman sontak menahan napas, khawatir bahw pertanyaan itu terlalu pribadi. Liam pun tampak terdiam. Ia menatap piringnya beberapa detik sebelum akhirnya menjawab.
“Tidak,” katanya jujur. “Aku tidak punya cukup banyak waktu untuk merayakannya.”
“Oh,” kata Anna, sederhana. “Kalau begitu, anggap ini juga ulang tahun Anda...hari ini.”
Kalimat itu membuat Liam mengangkat kepala. Ia tidak tersenyum, tapi ada sesuatu yang bergeser di wajahnya. Mrs. Portman menatap Anna dengan mata berkaca-kaca, lalu menoleh ke Liam, seolah meminta maaf sekaligus berterima kasih.
Suasana itu—kecil, hangat, tanpa tuntutan—terasa asing bagi Liam. Ia menyadari betapa jarangnya ia duduk di meja tanpa agenda seperti ini, tanpa pengamanan berlebihan, juga tanpa rasa curiga. Tidak ada yang mengharapkan apa pun darinya di ruangan ini. Hanya ketulusan, kejujuran dan kehangatan yang semua itu terasa asing baginya.
Ia mengingat panti asuhan dengan dinding kusam dan sedikit retak, tempatnya bertumbuh selama ini. Ulang tahun yang lewat begitu saja, kadang bahkan terlupa, juga hadiah yang tidak pernah datang. Kemudian ketika masa remaja, dunia yang ia kenal hanya soal pertahanan, kekuasaan dan penuh pertumpahan darah. Tidak ada lilin yang dinyalakan dengan penuh suka-cita, tidak ada doa singkat yang dipanjatkan, juga tidak ada yang ikut berbahagia merayakan hari kelahirannya. Bahkan, kini ia sendiri mungkin sudah lupa tentangnya, tentang kapan hari kelahirannya seharusnya dirayakan. Kehangatan ini membuatnya lengah. Dan kelengahan itu berbahaya.
Liam menyadari sesuatu dengan jelas bahwa semua ini berawal dari Rachel. Tanpa percakapan singkat yang ia dengar siang tadi, ia tidak akan berada di sini. Tanpa Rachel, ia tidak akan tahu bahwa tanggal ini penting. Ia tidak akan duduk di ruang makan ini, mendengarkan tawa seorang anak dan percakapan ringan seorang perempuan tua yang tidak tampak menghakiminya.
Ia sudah berusaha menjauh dari Rachel, dan itu memang keputusannya. Namun justru dari jarak itulah, ia melangkah lebih dalam ke dunia yang dibukanya—dunia yang tidak ia rencanakan dan tidak ia kuasai sepenuhnya.
Ketika waktunya pergi, Anna memeluk kado itu erat. “Terima kasih,” katanya tulus.
Liam berdiri, sembari tersenyum kecil. “Selamat ulang tahun, Anna.”
Mrs. Portman mengantar kepergiannya sampai ke pintu. “Terima kasih sudah datang,” ucapnya pelan. “Dan… terima kasih sudah membuat Anna banyak tertawa hari ini.”
Liam hanya mengangguk. Ia tidak menjelaskan apa pun setelahnya. Di luar, malam terasa lebih dingin. Ia masuk ke dalam mobil tanpa menoleh lagi. Rachel belum tahu apa-apa tentang apa yang sudah ia lakukan hari ini, dan ia tidak berniat menceritakannya.
Namun satu hal menjadi jelas baginya saat mobil melaju pergi, bahwa menjaga jarak dari Rachel tidak menghentikan apa pun. Jarak itu hanya membuat segalanya tumbuh dalam diam, menjadi sesuatu yang suatu hari mungkin akan menuntut keputusan yang tidak bisa ia hindari.