NovelToon NovelToon
BUKAN CINTA SESAAT

BUKAN CINTA SESAAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Konflik etika / Romansa
Popularitas:801
Nilai: 5
Nama Author: Anyue

Butuh waktu mengenal dan butuh perjuangan untuk mempertahankan sebuah perasaan . Jika sudah ada kesepakatan maka ikatan akan membuat sebuah hubungan menjadi sakral .

"Cintaku bukan cinta sesaat dan bukan sekedar kata kiasan ," bisik hati yang memendam perasaan .

Apakah cinta itu akan berlanjut atau hanya sementara waktu ?

ikuti kisahnya hanya di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 26. BCS

Deg

Jantung Albi berdegup sangat cepat, pikirannya teringat sebelum istrinya berangkat meminta ijin ikut festival. Dari situ ia merasa tidak setuju istrinya ikut tapi, Prasasti kekeh karena ini kesempatan emasnya mendapatkan penghargaan festival dunia peselancar.

"Albi, kamu masih disana kan!" panggil Bisma dengan suara kencang.

"Iya, rumah sakit mana? Aku akan kesana sekarang juga beritahu tempatnya," desak Albi.

"Aku akan kirim lokasinya lewat chat," jawab Bisma memutuskan panggilan telepon dan mengirim lokasi rumah sakit kepada Albi.

"Ma, mama," Albi memanggil Khasanah dengan suara kencang menggema diseluruh isi rumah.

Khasanah keluar dari arah belakang setengah berlari menghampiri Albi. "Ada apa teriak?"

"Prasasti di rumah sakit, kita segera ke sana sekarang. Ayo, Ma," ajaknya sambil menahan tangis dalam dadanya.

"Sebentar Mama ambil tas dulu," Khasanah berlari ke kamarnya mengambil keperluan saat mendadak kemudian kembali pad Albi.

Ibu dan anak dalam perjalanan menuju rumah sakit. Khasanah menelpon suaminya."Pa, Mama sama Albi ke rumah sakit melihat kondisi Prasasti,"

Abdi terkejut mendengar perkataan istrinya. "Rumah sakit mana?"

Khasanah mengirim lokasi rumah sakit kepada suaminya dan memutuskan panggilan teleponnya. "Semoga kamu baik-baik saja, Prasasti,"

Sesampai di rumah sakit Khasanah dan Albi turun dari mobil berjalan masuk. Albi tidak sabar ingin bertemu dengan istrinya bertanya kepada resepsionis tempat istrinya dirawat.

"Atas nama Prasasti sedang dalam penanganan Dokter Dio di ruang IGD," jelas Suster.

"Terimakasih, Suster," sahut Albi berlalu mencari ruang IGD bersama Khasanah mamanya.

Albi dan Khasanah melihat Dasa dan teman-temannya duduk didepan ruang IGD menghampiri mereka. Dasa melihat Albi mendekat merasa senang.

"Albi," panggil Dasa. Yang lain menoleh ke arah jalan dimana Albi mendekati mereka.

Albi dan teman-temanya saling berpelukan dan saling menguatkan. Wajah Albi tidak bisa disembunyikan dari rasa kekhawatiran terhadap istrinya.

"Bagaiamana kejadian sebenarnya?" tanya Albi menatap satu per satu teman-temannya.

"Kami semua dan juga panitia terkejut saat Prasasti tidak menampakkan diri ketika ombak bergulung ke arah pantai, soalnya ombaknya terlalu tinggi dan sepertinya Prasasti terbawa arus ke tengah," jelas Abas mengingat kejadian dipantai.

"Apakah kondisinya baik-baik saja?" tanya Albi lagi dengan airmata yang sudah keluar tak tertahan.

“Sabar ya, Bi. Dokter sudah menangani istrimu, semoga istrimu selamat, waktu kami menemukannya masih ada denyut nadi," jelas Bisma.

Albi mengusap wajah dengan kasar, Khasanah melihat anaknya ikut sedih. Ia juga tidak bisa menyalahkan siapapun karena semua sudah kehendak yang maha kuasa, Khasanah berdoa untuk Prasasti.

Setelah hampir dua jam pintu dibuka seorang Dokter dengan wajah tersenyum ramah keluar lalu berkata. "Apakah ada anggota keluarga pasien disini?"

"Saya suaminya, Dok. Bagaimana kondisi istri saya?" jawab Albi lalu bertanya balik.

"Pasien baik-baik saja tidak ada luka yang serius, hanya saja masih lemas, kalau begitu saya permisi," jawab Dokter bernama Dio meninggalkan mereka.

Beberapa suster membawa pasien keluar untuk dipindahkan di ruang rawat. Albi dan lainnya mengikuti dari belakang. Sampai di ruangan Prasasti dipindahkan ditempat tidur pasien kemudikan keluar setelah berpamitan kepada semua orang.

Albi duduk disamping tempat tidur sambil menggenggam tangan Prasasti dan menciumnya. Tidak ada pergerakan atau balasan dari Prasasti membuatnya sedih.

“Kamu sabar ya, Bi. Istrimu pasti sembuh," kata Bisma.

Albi mengangguk tanpa membalas perkataan Bisma. Ia merasa terpukul atas kejadian yang menimpa istrinya dan menyesalinya. Andai saja Prasasti tidak ikut lomba pasti tidak akan terjadi kecelakaan padanya.

"Albi, aku minta maaf. Aku sangat bersalah karena mengajak Prasasti ikut lomba festival karena hadiahnya sangat menggiurkan. Kalau kamu mau menghukumku silahkan, karena yang menyebabkan Prasasti kecelakaan karena aku," kata Jesika dengan isak tangisnya.

Albi menoleh menatap Jesika dan berdiri, melihat sorot tajam Albi, Bisma dengan sigap melindungi Jesika, ia tidak akan membiarkan Albi melakukan kekerasan terhadap istrinya.

“Kalau saja kamu bukan teman dekat istriku sudah habis kamu, Jesika. Aku masih menghormatimu sebagai teman dekat istriku karena kamu sudah dianggap sebagai saudara kandung," ucap Albi kemudian duduk kembali menghiraukan orang sekitar.

Bisma menghembuskan napas lega melihat sikap Albi, ia memeluk istrinya dan mencium kepalanya. Sedangkan Jesika semakin menangis mendengar pengakuan Albi tentang dirinya yang dianggap seperti saudara oleh Prasasti.

"Aku salah tapi kenapa kamu memaafkan ku, aku pantas di hukum," seru Jesika.

Albi menoleh dengan senyum sinis mendengar ucapan Jesika. "Kamu pikir memberi hukuman itu mudah, lebih baik kamu introspeksi diri,"

Jesika terdiam mengusap airmata yang jatuh dipipinya. “Terimakasih sudah diingatkan, kalau Prasasti bangun hubungi aku, aku pamit pulang,"

Jesika hendak melangkah pergi terdengar suara lirih dari mulut Prasasti. "Jesika,"

Jesika menoleh melihat Prasasti, langsung melangkah dan mendekatinya sambil memeluk. Tangis Jesika kembali tumpah dalam pelukan. Prasasti merasa senang bisa melihat teman-temannya termasuk Jesika.

“Jangan terlalu menekan tubuh istriku, masih sakit," celetuk Albi mendorong tubuh Jesika agar menjauh.

Semua tertawa melihat sikap Albi yang berlebihan. “Sensi amat jadi orang," sewot Jesika merenggangkan pelukannya.

"Apa kamu tidak melihat, istriku sedang sakit baru juga sadar," sahut Albi kesal.

"Dasar bucin," sewot Bisma ikut kesal.

Ruangan riuh dengan canda Albi dan teman-temannya. Khasanah terharu melihat keakraban mereka, ia teringat teman-temannya dulu waktu sebelum menikah. Masa kebersamaan dengan teman-teman membuatnya tidak merasa kesepian selalu ada canda tawa.

"Maafkan aku ya, Prasasti gara-gara aku, kamu mengalami kecelakaan," ucap Jesika.

"Tidak apa-apa, aku juga baik-baik saja kan," ucap Prasasti dengan suara lirih.

"Tapi kamu seperti ini gara-gara aku," Jesika sesenggukan.

"Sudah, tidak usah menyalahkan diri sendiri. Aku juga tidak tahu akan mengalami kecelakaan, mungkin aku disuruh berhenti dari dunia selancar," kata Prasasti menenangkan Jesika.

"Kamu mau memaafkan ku?" tanya Jesika menatap Prasasti.

Prasasti mengangguk sambil tersenyum tipis. Ia merasa tubuhnya sangat lemah dan lelah.

“Kalau begitu aku pamit, semoga kamu cepat sembuh," Jesika memeluk Prasasti dan melangkah meninggalkan ruangan setelah berpamitan dengan Albi dan Khasanah mama Albi.

Teman-teman Albi juga berpamitan pulang kepada mereka bertiga. Albi menatap Prasasti dengan kesal, sedangkan Prasasti tahu suaminya marah padanya, ia pasrah jika suaminya akan menghukumnya.

Abdi masuk ruangan tanpa mengetuk pintu membuat orang di dalam terkejut dengan suara keras menoleh bersamaan.

“Papa, bikin orang kaget," ucap Khasanah.

Tak berselang lama Fabio masuk juga tanpa mengetuk pintu langsung menghampiri anaknya yang terbaring lemah dan mencium keningnya.

"Sayang, kenapa kejadian ini terulang kembali?" Fabio merasa sedih mendengar kabar anaknya masuk rumah sakit.

1
sakura
.....
Anyue: kenapa titik-titik
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!