"Di kantor kita adalah rekan kerja, di rumah kita adalah orang asing, dan di ranjang... kita hanyalah dua raga yang tak punya jiwa."
Alsava Emily Claretta punya segalanya: jabatan tinggi sebagai COO Skyline Group, kecantikan yang memabukkan, dan status sebagai istri dari Garvi Darwin—sang "Dewa Yunani" sekaligus CEO perusahaan tempat ia bekerja. Namun, di balik kemewahan mansion Darwin, Sava hanyalah seorang wanita yang terkurung dalam kesepian.
Saat Garvi sibuk menjelajahi dunianya, Sava melarikan penatnya ke lantai dansa nightclub. Ia mengira hubungan mereka akan selamanya seperti itu—dingin, berjarak, dan penuh rahasia. Hingga suatu saat, rasa jenuh itu memuncak.
"Aku butuh hiburan, Win. Butuh kebebasan," ucap Sava.
Sava tidak tahu bahwa setiap langkahnya selalu dipantau oleh mata tajam Garvi dari kejauhan. Garvi tak ingin melepaskannya, namun ia juga tak berhenti menyakitinya. Saat satu kata perceraian terucap—permainan kekuasaan pun dimulai. Siapa yang akan lebih dulu berlutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Dari lantai teratas gedung Skyline Group, pemandangan kota terlihat seperti miniatur yang sibuk. Alsava Emily Claretta, berdiri mematung di balik jendela kaca setinggi langit-langit ruang kerjanya.
"Va, ini jadwal pertemuanmu hari ini. Jam sepuluh ada meeting dengan vendor dari Jakarta, lalu jam satu siang—"
Winata menghentikan kalimatnya saat melihat bos sekaligus sahabatnya itu tidak fokus. Winata menghela napas, meletakkan tablet digitalnya di atas meja marmer yang dingin.
"Dimana Roy? Kenapa dia belum kemari?" tanya Sava tiba-tiba. Suaranya tegas, namun ada nada kecemasan yang terselip di sana.
"Roy sedang mengurus beberapa berkas di bagian legal, sebentar lagi dia akan ke sini," jawab Winata menenangkan.
Sava mengangguk pelan, jemarinya mengetuk-ngetuk meja kerja dengan gelisah. Pikirannya masih tertuju pada pria di ruangan sebelah. Pria yang baru saja kembali dari ambang maut namun membawa 'identitas' baru yang membingungkan.
Tiba-tiba, suara kunci yang berputar terdengar nyaring.
Cklek.
Pintu penghubung yang selama empat tahun ini selalu terkunci rapat—sebuah pembatas suci antara ruang kerja CEO dan COO agar rahasia pernikahan mereka tidak bocor—mendadak terbuka lebar.
Sosok tinggi tegap dengan paras rupawan bak dewa Yunani melangkah masuk tanpa dosa. Garvi Darwin, dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, berdiri di ambang pintu. Tatapannya tajam, karismatik, namun penuh selidik.
"Kenapa pintu ini selalu dikunci?" tanya Garvi dengan suara berat yang mendominasi ruangan.
Winata terbelalak. Ia menatap Garvi seolah pria itu baru saja menumbuhkan kepala kedua.
"Kenapa Mr. Garvi bertanya? Bukankah itu ide Anda sendiri sejak awal? Anda yang membuat aturan kalau pintu ini tidak boleh dibuka kecuali dalam keadaan darurat!"
Garvi mengerutkan keningnya, tampak berusaha menggali ingatan yang terkunci di balik benturan hebat kecelakaan itu. Namun, ia kemudian mendengus pelan, mengabaikan fakta sejarah yang ia buat sendiri.
"Mulai sekarang, pintu ini tidak boleh dikunci. Aku benci pembatas," ujar Garvi mutlak.
Ia melangkah mendekati meja Sava, aura posesifnya menguar memenuhi ruangan. "Lalu, apa yang sedang kalian bahas? Serius sekali sampai aku bisa mencium aroma ketegangan dari ruanganku."
Belum sempat Sava membuka mulut untuk memprotes keberadaan Garvi, pintu utama ruangan Sava terbuka dengan bantingan keras.
Roy muncul di sana. Wajahnya yang biasanya tenang kini pucat pasi. Napasnya memburu, dan ada keringat dingin di pelipisnya.
"Mr. Garvi, Miss Sava! Gawat!" seru Roy.
Jantung Sava mencelos. Ia langsung berdiri. "Ada apa, Roy?"
"Victor Lindholm... dia benar-benar gila! Dia baru saja mengunggah video live ke akun media sosialnya. Sekarang dia sedang berada di depan gerbang utama kantor kita!"
Roy menyalakan layar televisi besar di sudut ruangan. Gambar langsung muncul. Di sana, Victor Lindholm—pria yang selama ini menjadi rival dingin mereka—berdiri dengan pengeras suara. Di belakangnya, sekelompok orang membawa spanduk bertuliskan "KEADILAN UNTUK KORBAN".
"Dengarkan saya! Garvi Darwin bukan hanya seorang Cassanova yang tidak bertanggung jawab, tapi dia adalah penipu!" suara Victor menggelegar dari speaker televisi. "Kecelakaan minggu lalu bukan musibah! Itu adalah skenario yang dibuat untuk mencairkan asuransi besar-besaran karena Skyline Group sedang goyah akibat konflik internal antara CEO dan COO-nya!"
Sava menutup mulutnya dengan tangan. Tubuhnya gemetar.
"Bukan hanya itu," lanjut Roy dengan suara bergetar. "Victor mengklaim bahwa pihak internal, yaitu Miss Sava, sengaja menyabotase mobil Mr. Garvi karena ingin segera bercerai dan mengambil alih saham perusahaan sebagai kompensasi. Dia menyebut Miss Sava sebagai tersangka utama di balik rencana pembunuhan berkedok kecelakaan ini!"
"APA?!" Winata berteriak histeris. "Itu fitnah kejam! Bagaimana mungkin Sava—"
Brak!
Garvi memukul meja kerja Sava dengan kepalan tangannya hingga vas bunga di sana bergetar. Matanya yang tadi terlihat lembut kini berubah menjadi sangat gelap, penuh dengan amarah yang membara.
"Pria itu... apa yang dia lakukan?!" desis Garvi. "Berani-beraninya dia menyeret nama istriku, ke dalam kegilaannya!"
Garvi menoleh ke arah Roy. "Siapa Victor ini sebenarnya? Ada masalah apa lagi?"
Winata menatap Garvi dengan bingung. "Mr. Garvi, Anda benar-benar lupa? Victor merilis pernyataan pagi tadi. Dia mengklaim punya bukti kalau kecelakaan itu disengaja. Dia tahu tentang rencana perceraian kalian dan menggunakannya untuk menghancurkan reputasi Miss Sava agar investor menarik saham mereka!"
Garvi terdiam sejenak. Rahangnya mengeras. "Victor Lindholm... bukankah dia teman kuliahku di Swiss? Kenapa dia berada di Medan? Dan kenapa dia mengacaukan perusahaanku?"
Sava mendekati Garvi, matanya menatap lekat suaminya itu. "Kamu ingat Victor, Mas?"
"Tentu saja aku ingat dia! Kami sering berkompetisi saat di universitas. Tapi yang aku tahu, dia mengelola bisnis keluarganya di Swiss. Kenapa tiba-tiba dia muncul di sini dan menjadi musuh?" Garvi tampak frustrasi dengan potongan ingatannya yang tidak lengkap.
Garvi menarik napas dalam, mencoba menekan rasa sakit yang mulai berdenyut di kepalanya. Namun, kemarahannya lebih besar daripada rasa sakitnya.
"Aku tidak memiliki kerjasama apapun dengan dia. Jika dia ingin bermain kotor dengan membawa-bawa nama istriku, maka dia memilih lawan yang salah," ujar Garvi dengan nada yang sangat dingin, tipe suara yang menandakan bahwa ia sedang dalam mode 'pembantai'.
"Mr. Garvi, jangan turun sekarang. Wartawan sudah mengepung lobi. Biar tim legal yang menangani," cegah Roy.
"Tidak!" Garvi menyambar jasnya yang tersampir di kursi. "Jika aku diam saja, publik akan menganggap fitnah itu benar. Dia bilang aku sengaja menabrakkan mobil? Dia bilang Miss Sava ingin membunuhku? Aku akan menunjukkan pada dunia siapa yang sebenarnya sedang menggali lubang kubur di sini."
Garvi menatap Sava. Tatapan yang tadinya penuh amarah berubah menjadi tatapan posesif yang dalam. Ia meraih tangan Sava, menggenggamnya dengan kuat di depan Winata dan Roy yang hanya bisa terpaku.
"Ikut aku, Miss Sava. Kita tunjukkan pada mereka bahwa Skyline Group tidak bisa dihancurkan oleh rumor murahan seorang pecundang seperti Victor."
Sava merasakan tangannya dingin. Ia ingin menolak, ia ingin bersembunyi karena tuduhan Victor tentang 'keinginan bercerai' itu memang benar adanya. Namun, melihat punggung tegap Garvi yang seolah siap menjadi tamengnya, hati Sava bimbang.
Garvi melangkah keluar ruangan menuju lift pribadi dengan langkah lebar. Sava, Winata, dan Roy mengikuti dari belakang.
Begitu pintu lift terbuka di lobi utama, kebisingan langsung menyerbu. Kilatan lampu kamera wartawan dan teriakan massa di luar kaca lobi menciptakan suasana seperti medan perang.
Di luar sana, Victor melihat kedatangan mereka. Ia tersenyum miring, sebuah senyum kemenangan.
Garvi melepaskan kancing jasnya, berdiri di depan pintu kaca yang masih terkunci. Ia berbisik pada Sava tanpa menoleh.
"Ave, tetap di belakangku. Apapun yang dia katakan, jangan lepaskan tanganku. Jika kau melepaskannya, mereka akan mengira kau memang ingin pergi dariku."
Sava menelan ludah. Ia tahu, langkah keluar dari pintu ini akan mengubah segalanya.
Tepat saat petugas keamanan membuka pintu, Victor berteriak melalui pengeras suara.
"Lihat! Sang tersangka dan korbannya keluar bersama! Apakah ini akting untuk menyelamatkan saham, Miss Sava? Ataukah Mr. Garvi terlalu bodoh untuk menyadari bahwa wanita di sampingnya adalah orang yang ingin melihatnya mati?"
Garvi berhenti tepat di depan Victor. Suasana mendadak hening.
"Victor," ucap Garvi tanpa mikrofon, namun suaranya terdengar sangat jelas karena wibawanya yang menekan. "Lama tidak bertemu. Aku tidak menyangka teman lama dari Swiss akan datang ke Medan hanya untuk membawakan dongeng sebelum tidur yang sangat buruk."
Victor tertawa. "Dongeng? Aku punya bukti surat cerai yang sudah ditandatangani istrimu, Garvi! Apakah kau masih mau membela wanita yang ingin meninggalkanmu saat kau sekarat?"
Victor mengangkat sebuah map cokelat tinggi-tinggi.
Jantung Sava seolah berhenti berdetak. Sava menoleh pada Garvi, bersiap melihat kemarahan pria itu. Namun, yang dilakukan Garvi justru di luar dugaan.
Garvi malah menarik pinggang Sava, merangkulnya dengan sangat erat di depan ratusan kamera, lalu mengecup kening Sava dengan lembut dan lama.
"Surat itu?" Garvi menatap Victor dengan pandangan meremehkan. "Itu hanya permainan kecil di dalam kamar kami, Victor. Kami sering melakukannya untuk memacu adrenalin dalam pernikahan kami. Benar kan, Sayang?"
Seluruh wartawan terkesiap. Bisikan-bisikan mulai pecah.
Sava terpaku. Garvi baru saja berbohong di depan publik demi melindunginya, ataukah ini hanya trik manipulatif Garvi untuk menjeratnya agar tidak bisa bercerai selamanya?
Namun, Victor belum selesai. Ia memberikan isyarat pada seseorang di kerumunan. Seorang wanita dengan pakaian lusuh dan wajah sembap maju ke depan.
"Bukan hanya asuransi dan perceraian!" teriak Victor. "Wanita ini adalah istri dari sopir truk yang kau tabrak, Garvi! Dan dia punya bukti bahwa sebelum kecelakaan, kau mengirim pesan padanya untuk tidak menginjak rem!"
Dunia Sava seolah berputar. Ia menatap Garvi, mencari kejujuran di mata pria itu. Namun, di saat yang sama, Garvi kembali mencengkeram kepalanya. Rasa sakit yang hebat itu datang lagi.
"Mas... Mas Garvi?" bisik Sava panik.
Garvi ambruk berlutut di aspal, namun tangannya masih mencengkeram ujung blazer Sava. Di tengah kerumunan yang menggila, Garvi menggumamkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh Sava.
"Jangan... jangan percaya padanya, Ave. Aku... aku ingat sesuatu..."
Dan di saat itulah, sebuah mobil hitam melaju kencang dari arah jalan raya, bukan mengarah ke arah massa, melainkan mengarah tepat ke arah Sava dan Garvi yang sedang tidak berdaya di lantai!
"SAVA! AWAS!" teriak Winata.
***
mereka ini saling cinta mati tp saling menyakiti.... 😁😂🤭
pada gengsian mau bilang ilopeyu