Di harap kan bijak saat membaca.
Menceritakan seorang anak yang berbeda dan
mempunyai kelebihan,
Sejak kecil sudah hidup berdampingan dengan makhluk dunia lain.
Bisa melihat dan merasakan makhluk tak kasat mata, sampai harus berjuang dari kerasnya hidup dan takdir yang sangat kejam.
Mempertahan kan sesuatu yang di berikan oleh pencipta,
akan kan selamanya akan seperti ini,
Jika dia bisa memilih dan di beri kesempatan untuk memilih,
Apa yang akan dia pilih, Memilih Hidup dengan kelebihan, atau membuang kelebihan itu,.
Klik hati untuk mengikuti kisah ini,
dan jangan lupa Rate bintang lima, tinggalkan jejak kalian di colom comentar..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RuQi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch26.PERJALANAN 2
...NEXT...
Mobil meninggalkan parkiran restoran,
Ku lihat restoran itu sudah mulai sepi pengunjung,
Aku merebahkan badan ku di kursi belakang,
Ku lihat mbak Dina juga masih kesal
Ingin sekali aku menangis, tapi tangis tak bisa merubah keadaan, walau tangis bisa meluapkan emosi dan kekecewaan tapi aku tak ingin di bilang lemah, aku tak mau di kasihani siapapun..
"Mbak.. maafin ruru ya, udah buang nasi mbak yang udah mbak beli sampai antri segala.." kata ku tulus
"Besok jangan gitu dek, bukan masalah bisa beli atau nggak, tapi sayang kalo makanan di buang,.." marah mbak Dina
"Mbak ga mau karna masalah ini kita berdebat, dan kamu juga harus menghargai mbak yang udah susah susah membelinya.." keluh mbak Dina
Aku hanya diam dan membiarkan mbak Dina marah marah sampai puas, bukan ga mau memberitahu semua, karena ruru takut mbak Dina menjauh karna perbedaan ini dan membenci ku sama seperti mereka yang membenci ku dari aku terlahir.
Entah apa yang mereka tak suka dari ku sampai sampai ingin mengejarku,
Mata ini sayup sayup ingin memejamkan mata, ntah lelah karna paman itu yang terus ada di fikiran ku atau khodam nenek yang membuat ku takut, kucoba untuk tertidur, dan menenangkan fikiran ku, mungkin dengan tertidur aku bisa melupakan semuanya dan beristirahat sejenak..
Pukul 12 siang Mbak Dina membangun kan ku,
"Dek.. bangun dek, kita shalat dulu yuk.." ucap mbak Dina membangunkan ku,
Aku membuka mata dan melihat ponsel ku, ternyata sudah memasuki waktu dhuhur, dan ada banyak sekali pesan juga telfon dari nenek dan bunda
"Apa bunda menelfon tadi mbak.." tanya ku
"Owh.. iya tadi ibu mencari adek, katanya mau ngomong ma adek, tapi adek di bangunin ga bisa, kayaknya capek banget ya.." ucap mbak Dina
"Masa si mbak, aku capek banget kayaknya"
"Maaf ya mbak ga denger tadi.." kata ku
"Ga papa kok, kamu capek gitu makanya mbak ga tega bangunin.."
Aku cuma menjawapi dengan tersenyum tipis,
Mungkin bunda sama nenek sudah tau apa yang terjadi.
"Kita turun yuk mbak." kata ku
"Iya dek," jawab bak Dina
Aku masih merasakan gemetar di kaki, dan sakit kepala.
"Mbak bantu papah dong.." kataku
"Kamu sakit dek" tanya mbak Dina
"Mungkin karna tidur di mobil jadi aku sakit kepala mbak.." jawab ku berbohong..
"Astaga adek.. ayo sini mbak bantu ambil wudhu, nanti habis shalat mbak beliin obat.." khawatir mbak Dina
"Iya mbak.."
Aku pun di bantu mbak Dina mengambil air wudhu dan pergi untuk shalat, Selesai shalat aku mengaji sebentar untuk menenangkan hati dan fikiran.
"Alhamdulillah.. badan ku sudah mulai enakan" kataku saat aku bisa berdiri dan berjalan sendiri
Ku lihat mbak Dina sudah tidak ada, mungkin membeli obat, atau makan lagi..
Aku pun menuju mobil untuk menelfon bunda dan nenek..
Ku ambil handphone ku, ternyata bunda masih menelfon ku, ku telfon balik bunda karna takut kuwatir
Tuttttttt.. Tuuutttttt.. Tuuutttttttt...
"Assalamualaikum ruqi.." suara bunda dari sebrang telefon
"waalaikumsalam Bun.." jawab ku
"Kamu kenapa ga angkat telfon bunda ruqi, bunda kawatir di buat nya.. kamu tak apa apa nak," kawatir bunda
"Bunda tau dari mana Bun..?" tanya ku
"Aku gapapa Bun, bunda tenang ya.." aku pun ingin menangis, tapi aku tahan
"Ga.. bunda ga tenang kalo kamu belom sampai ke Jogja, belom sampai Jogja saja kamu udah begini nak.." keluh bunda.
"Iya Bun, ruqi ga nyangka ajah bakal gini, mungkin ini ga di sengaja Bun.." kata ku
"Kamu ga usah ke Jogja ya nak, bunda malah lebih kawatir kalo kamu di sana.." kata bunda
"Udah nanggung Bun mau pulang, nanti ruqi telfon nenek kok Bun.." jelas ku
"Terserah kamu deh, kamu suka banget bikin bunda kuwatir.." kesal bunda
"Bunda sayang udah dulu ya, mau makan.. bunda makan juga.. jangan Ampe sakit, nanti ga ada yang marahin ruqi kalo bunda sakit.." ledek ku.
"Dasar kamu ya.. ya udah kamu makan yang banyak, bunda lagi nemenin ayah ketemu investor..." jawab bunda
"Alhamdulillah.. semoga ayah sehat Bun.. dan tambah banyak klayennya.. Aminnn " ucap ku
"Aminnn.. ya udah bunda tutup ya telfonnya.." ucap bunda
"Iya Bun.. assalammualaikum.." jawab ku
"Waalaikumsalam.." jawab bunda di sebrang sana dan menutup telfonnya
Mbak Dina sudah sampai dari membeli obat, tapi dia tidak masuk karna aku menelfon bunda,
"Mbak masuk aja.. ayo berangkat lagi biar ga kemalaman.." kata ku
Mbak Dina masuk ke mobil dan memberikan obat yang dia bawa
"Minum dulu ni dek, tapi makan dulu kamu,, kamu belom makan kan.." ucap mbak Dina
"Aku da makan mbak tadi waktu mbak beli obat.." ucap ku bohong
(Jangan kan makan, perut ku ajah masih mual gara gara melihat hantu itu ) ucap ku dalam hati
Aku meminum obat itu, sambil menunggu mbak Dina makan siang baru kita melanjutkan perjalannya..
Sampai sini dulu ya..
Assalamualaikum...
tour, itu