Menjadi seorang model terkenal di segala penjuru dunia ternyata tidak membuat seorang Jennifer Priscilla Livingston bahagia.
Nyata nya dalam kehidupan rumah tangga nya bersama seorang Garrick Filbert Livingston sang penguasa bisnis, tidak semanis yang media beritakan.
Sikap acuh Garrick membuat pernikahan yang sudah berjalan hampir satu tahun ini terasa hambar. Garrick hanya terlihat peduli dan romantis kepada Jennifer pada saat media merekam saja, sisa nya? Pria itu seolah tidak mengenal diri nya!
-Judul dan sinopsis bertentangan? Penasaran? Ayo ikuti kisah mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri_923, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26.
Dua mobil mewah itu berjalan beriringan, dimana di mobil depan ada Jennifer yang mengemudikan dan di mobil belakang ada Garrick.
Mobil kedua nya berhenti tepat di depan teras rumah besar nya, Jennifer keluar dari mobil nya tanpa menunggu Garrick dan langsung berjalan masuk.
"Jennifer!" Panggil Garrick sedikit tinggi.
Namun panggilan itu tak membuat langkah Jennifer terhenti. Wanita itu terus berjalan hingga akhirnya Garrick lah yang berjalan cepat dan mengejar nya.
"Jen--"
Panggilan Garrick terhenti bersamaan dengan langkah nya yang memelan saat melihat seorang pria berdiri menatap Jennifer dan diri nya secara bergantian.
"Ricard?" Ucap Jennifer dengan raut kaget nya.
"Halo kakak ipar.." Sapa Ricard yang baru saja berdiri dari duduk nya.
Benar pria itu adalah Ricard, adik dari Garrick sekaligus saingan terbesar Garrick.
"Halo juga kakak ku" Lanjut Ricard yang beralih menatap kakak nya.
"Kok kamu bisa di sini?" Tanya Jennifer seraya mendekat dengan ekspresi kaget nya.
"Memang nya tidak boleh?" Tanya balik Ricard.
Jennifer menggeleng cepat. "Tidak, bukan seperti itu. Maksud ku--"
"Bagaimana kamu bisa berada di sini?" Tanya Garrick yang memotong ucapan Jennifer dengan ekspresi datar nya.
"Oh ayolah kak, adik mu baru saja kembali seharusnya berikan pelukan hangat mu" Jawab Ricard merentangkan kedua tangan nya.
Jennifer menatap kakak-beradik itu secara bergantian, kemudian mengode Garrick untuk mendekat yang sayang nya tidak di turuti oleh pria itu.
"Sudah lah, kakak ku tidak merindukan ku. Bagaimana dengan kakak ipar ku?"
Jennifer tersenyum dan menaruh tas nya di sofa. "Tentu aku merindukan mu"
"Kalau begitu, ayo peluk aku" Pinta Ricard.
Jennifer terkekeh geli dan mendekat hendak memeluk Ricard yang sudah seperti saudara nya sendiri, tetapi belum sempat menyentuh tubuh pria itu tiba-tiba tubuh nya di tarik ke dalam pelukan Garrick.
"Istri ku" Tekan Garrick menatap tajam Ricard.
"Aku tau, apa salah nya kakak ipar memeluk adik ipar nya. Apalagi kakak ku sendiri tidak mau memeluk ku" Celoteh kesal Ricard.
Tanpa di suruh pria itu kembali duduk dengan tangan yang bersedekap dada.
"Apaan sih kamu, lepas" Kesal Jennifer.
"Tidak"
"Dia adik kamu lho, Garrick" Peringat Jennifer pelan.
Sesaat tatapan kedua nya saling terkunci, dimana pada akhirnya Garrick melepaskan pelukan nya saat melihat tatapan marah dari Jennifer.
"Huh!" Dengus Jennifer yang langsung duduk di sebelah Ricard.
Tetapi gerakan Garrick tak kalah cepat, dimana pria itu langsung duduk di tengah-tengah antara adik dan istri nya. Ingat Ricard adalah saingan terbesar nya dalam mendapatkan hati Jennifer sewaktu kecil.
Bahkan dengan terang-terangan saat itu Ricard meminta Jennifer menjadi istri nya, menggantikan Garrick untuk menjadi suami Jennifer dalam permintaan orang tua Jennifer.
Melihat itu Ricard memutar malas bola mata nya, kemudian menegakkan posisi nya seraya menatap sang kakak.
"Aku dengar Jenni ingin berpisah dengan mu?"
"Kak Jennie" Tekan Garrick tak ingin mendengar Ricard memanggil istri nya tanpa embel-embel 'kak'
Tatapan Garrick terarah begitu tajam pada Ricard. "Dan kami tidak akan berpisah" Lanjut nya masih dengan nada menekan.
Jennifer dan Ricard memang seumuran, hanya beda beberapa bulan dan hal itu membuat Jennifer atau pun Ricard saling menyebut nama.
"Tergantung bagaimana hasil penyelidikan daddy setelah ini karena kamu tidak mau buka suara sampai sekarang" Sahut Jennifer membalas ucapan Garrick.
"Selidiki saja, karena daddy tidak akan menemukan apapun kecuali bisnis-bisnis ku" Jawan Garrick.
Jennifer membuang pandangan nya, malas berdebat dengan Garrick di depan Ricard.
"Ekhem.." Pria itu berdehem kemudian meminum kopi nya. "Apa kalian tidak haus? Bagaimana kalau aku suruh bibi buatin minuman untuk kalian?" Tanya nya.
"Sebenarnya pemilik rumah ini siapa?" Tanya balik Garrick begitu sinis.
Ricard terdiam sesaat menatap wajah sang kakak. "Sepertinya kamu sangat tidak menyukai kedatangan ku, kak" Ujar kecewa Ricard.
"Memang--"
"Sudah jangan menghiraukan kakak mu" Seru Jennifer memotong perkataan Garrick seraya berdiri. "Lebih baik bantu aku untuk masak, sudah lama kita tidak masak bersama 'bukan?"
Mendengar itu dengan penuh keantusiasan Ricard pun langsung mengangguk setuju dan berdiri. Jennifer yang hendak melangkah tangan nya langsung di tahan oleh Garrick.
"Jangan sampai aku menambah hukuman mu, honey" Peringat Garrick, mengingatkan kejadian di lokasi pemotretan sebelum nya.
"Aku.."
Jennifer tidak melanjutkan perkataan nya saat mendengar dering handphone milik Garrick yang berada di saku jas pria itu.
Dengan tatapan tajam yang mengarahkan pada Jennifer, Garrick pun mengambil handphone nya kemudian menjawab panggilan tersebut tanpa melihat nama.
"...."
Genggaman tangan Garrick pada lengan Jennifer melonggar, tatapan tajam nya langsung teralihkan dan pria itu langsung berdiri lalu meninggalkan Jennifer dan Ricard begitu saja dengan handphone yang menempel di telinga nya.
"Ck, pasti selingkuhan nya" Decak Jennifer dengan kekehan miris nya.
"Sudah lah jangan di pikirkan, sekarang ada aku dan aku siap mengantikan kakak ku" Ricard mengedipkan mata nya genit seraya merangkul bahu Jennifer.
"Dasar pria sama saja!" Kesal Jennifer mencubit pinggang Ricard seraya menginjak kaki pria itu, melampiaskan rasa sedih dan marah nya.
"Ya ya ya, semua pria sama saja jadi ayo kita masak!" Pekik tertahan Ricard menahan sakit.
Pria itu memilih untuk menuntun langkah Jennifer menuju dapur dengan mata yang melirik sang kakak yang terlihat berdiri tegak menatap ke arah luar jendela dengan handphone yang menempel di telinga nya, begitu fokus.
"Aku tidak menyangka kamu seperti itu, kak" Batin Ricard menggeleng samar.
...****************...
Cari perkara aja...