Disarannkan sebelum baca cerita ini baca dulu karya saya Gadis Miskin Kesayangan CEO ya, agar tidak gagal fokus, disana cerita Tania dan Dokter Anton bermula.....#
Anton adalah seorang Dokter Umum yang melanjutkan studinya untuk meraih gelar sebagai Dokter spesialis kejiwaan, dalam tugasnya Dokter Anton bertemu dengan seorang pasien yang bernama Dinda yang sedang mengalami depresi berat atas meninggalnya kekasih yang ia cintai dalam kecelakaan.
Lambat laut kedekatan mereka membuat Dinda menemukan kekasihnya dalam diri Dokter Anton. Tapi saat ini Anton belum bisa membuka hatinya untuk siapa pun, dihatinya masih ada Tania yang susah sekali ia lupakan.
Berjalannya Waktu Tania tiba-tiba datang setelah Anton sudah sedikit melupakannya dan ingin melanjutkan hidupnya siapakah nanti yang akan mengejar cinta Anton?? Apakah Tania atau Dinda??
Karya ini hanya sekedar hayalan Author ya 🤭 semoga kalian suka ceritanya...!!
Happy reading!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indaria_ria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Merasa Bersalah
"Sial! kenapa malah dia yang marah? Harusnya aku!" Umpat Alex disana.
Sementara itu Tania masih berada di dalam taxi, hatinya benar-benar kesal dengan tingkah Alex. "Apa maksudnya dia seperti itu? Memangnya aku siapanya dia!'' kesal Tania disana.
"Maaf mba, kita mau kemana ya?" Tanya sopir taxi disana.
"Ke Pabrik tekstil dekat Rumah Sakit jiwa Pak!'' ucap Tania pada sopir taxi itu.
Sementara itu Alex yang masih berada di depan restoran benar-benar sangat kesal, kenapa Tania malah pergi begitu saja meninggalkan dirinya, kini dia mulai merasa bersalah dia sudah kehilangan Tania dengan sikapnya yang ga jelas.
"Tania padahal aku ingin kamu tahu kalau aku itu cemburu dengan Anton! Apa kamu tidak menyadari kalau sebenarnya aku sangat mencintaimu, setiap hari kamu selalu mengganggu fikiranku!" Fikiran Alex benar-benar sangat kacau. Akhirnya dia putuskan untuk segera masuk kedalam mobilnya
"Pak apa kita akan kembali ke kantor?'' tanya sopir pribadinya.
"Ya Pak, kita kembali kekantor lagi!" Ucap Alex sambil merapikan jasnya saat sudah memasuki mobilnya.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 20 menit akhirnya Tania sudah sampai di tempat kerjanya diapun segera turun dari taxi itu setelah dia menyelesaikan pembayarannya.
Disana Tania mulai celingukan di dekat parkiran, dia ingin tahu apa Alex sudah sampai apa belum. Ternyata dia tidak menemukan mobil Alex disana, Tania dengan cepat langsung berjalan masuk kedalam gedung pabrik milik Alex.
Tap ..tap...tap....
Bunyi langkah Tania sempat menggema di atas lantai, kali ini dia sangat tergesa-gesa jam makan siang ternyata sudah lewat dia sedikit terlambat kali ini. Tapi tanpa sengaja di ujung sebuah ruangan kini dia berpapasan dengan salah satu pekerja senior disana.
"Wah...Hebat ya! Ternyata asisten Pak Alex sudah seperti bos rupanya!"
"Apa maksud anda!" Disana Tania nampak kesal dengan ucapan Bu Tasya yang merupakan pekerja paling senior di pabrik itu.
"Apa maksud saya! Lihat dirimu dan pekerjaanmu! Kamu tadi pergi begitu saja tanpa mematikan layar kerjamu dasar ceroboh! Di tambah ini sudah jam berapa? Kamu baru datang! Tingkahmu sudah seperti bos disini!" Dengan tatapan sinis Bu Tasya berucap.
Disana Tania baru sadar memang benar adanya dia pergi tadi belum sempat mematikan layar kerjanya, karena tadi Alex sudah memaksanya untuk segera pergi dari meja kerjanya. Kini Tania mulai menggaruk rambut kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
"Maaf Bu, saya tadi benar-benar lupa, dan saya memang ceroboh!'' ucap Tania disana.
Tanpa mereka ketahui di balik dinding persimpangan jalan ruangan disana, sudah berdiri Alex yang sedang mendengarkan percakapan antara dua wanita.
"Maaf katamu! Lalu kenapa kamu juga bisa terlambat? Enak sekali, sepertinya kamu hanya makan gaji buta!"
Mendengar ucapan Bu Tasya disana Tania sudah mulai terpancing emosinya, kalau bukan karena Alex tadi yang mengajaknya mungkin dia tidak akan lupa mematikan layar kerjanya, dan yang pasti juga tidak akan terlambat masuk kerja.
Dibalik tembok Alex benar-benar heran kenapa Tania tidak menyebut namanya untuk membelanya disana, kenyataannya memang Alex yang bersalah.
"Maaf tadi saya naik Taxi dari tempat makan, dan ibu tahu bukan? jalanan sangatlah macet jadi saya terlambat kali ini. Kalau begitu saya permisi!"
Tania tidak mau memperpanjang masalah, toh Bu Tasya juga sama-sama pekerja disini. Menurutnya masalah ini tidak penting untuk di bicarakan.
Setelah tidak mendengar percakapan Antara Tania dan juga Bu Tasya, akhirnya Alex segera melanjutkan langkahnya menuju keruangannya, sampai akhirnya disana dia bertemu dengan Bu Tasya yang masih berdiri dengan wajah sinisnya.
Melihat kedatangan bosnya Bu Tasya disana segera memberi hormat, dengan cepat dia menundukkan kepalanya dia sangat khawatir kalau pembicaraannya tadi terdengar oleh bosnya.
"Sedang apa kamu disini! Bukankah sudah waktunya bekerja!"
"I-iya Pak, saya akan melanjutkan pekerjaan saya!" Dengan cepat Bu Tasya segera pergi dari tempat itu. Disana Alex hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kepergian Bu Tasya.
Sementara itu di meja kerjanya Tania nampak sedang tidak fokus, dia masih memikirkan kejadian di restoran tadi, dia sangat yakin kalau yang dilihatnya tadi adalah Anton. Orang yang pernah ia sia-siakan cintanya, orang yang benar-benar tulus mencintainya tapi dengan mudah Tania melukai perasaannya.
"Ton, apakah kamu masih menyisakan cinta untukku?" Ucap Tania dalam lamunannya.
Disana Tania tak sadar kalau sedari tadi Alex sudah berdiri di meja kerjanya, kini Alex merasa bersalah melihat Tania melamun disana dia menyalahkan dirinya sendiri.
"Apa kamu baik-baik saja?" Disana Tania sangat kaget mendengar pertanyaan Alex, dia tidak tahu sudah dari kapan Alex berada disana.
"Eh...Pak bos! Saya baik-baik saja!" Ucap Tania.
"Kenapa kamu tadi pergi!" Ucap Alex sambil menatap lekat ke arah wajah Tania.
"Bukankah kamu sedang marah padaku? Lalu buat apa aku pulang denganmu!"
"Kamu tidak menghargaiku?"
"Maaf Pak bos, bukan saya tidak menghargai anda tampi saya sadar diri!''
"Dengan kamu pergi begitu saja!"
Disana Tania nampak terdiam, memang seharusnya dia tidak pergi begitu saja tadi. Dia harus profesional membedakan antara teman dan bos.
"Maaf aku salah!"
Mendengar ucapan maaf dari Tania entah mengapa hati Alex mulai luluh, tak seharunya juga dia marah-marah pada Tania gara-gara Anton. Sedang Tania sendiri tak sadar kalau sebenarnya Alex menyukainya.
"Aku juga minta maaf, sudah lanjutkan pekerjaanmu. Jangan melamun!" Dengan cepat Alex segera meninggalkan meja Tania.
Disana Tania nampak bingung dengan perubahan sikap Alex, sebenarnya masih banyak pertanyaan yang ingin disampaikan Tania pada Alex tentang Anton tapi mungkin waktunya belum tepat.
**
Hari pun sudah mulai sore waktunya bagi Dokter Anton untuk bersiap-siap pulang kerumahnya, dia pun kini sedang merapikan peralatannya yang berserakan di atas meja kerjanya. Bisanya Mei yang melakukan pekerjaan itu, tapi karena Mei hari ini ijin pulang lebih awal jadi dengan terpaksa Anton harus melakukan pekerjaannya sendiri.
"Beres, aku ingin segera pulang hari ini sungguh sangat melelahkan mungkin mandi air hangat akan membuat tubuhku kembali segar" gumamnya.
Akhirnya Anton pun segera meninggalkan ruangannya, kini dia berjalan santai menuju keluar Rumah sakit dan seperti biasa Anton pasti akan melewati ruang perawatan milik Dinda setiap dia akan keluar untuk pulang.
Disana tepat di samping jendela milik Dinda Anton segera menghentikan langkahnya, dia langsung menoleh kearah jendela dimana biasanya Dinda selalu berdiri di balik jendela itu.
Ternyata sosok yang dicari tidak ada, ya Dinda tidak berdiri di jendela disana entah perasaan apa yang sedang Anton rasakan dia seperti kehilangan sesuatu. Dengan terpaksa kini dia kembali melanjutkan langkahnya menuju keparkiran mobil tempat biasanya mobilnya berada.
Sampai akhirnya kini Anton sudah sampai di depan mobilnya kini dia mulai membuka pintu mobil itu, belum sempat ia masuk kedalam mobilnya dari jauh sudah terdengar suara yang tidak asing di telinganya sedang memanggil namanya.
"Dokter Anton! Tunggu!"
Dengan cepat Anton menoleh kearah sumber suara disana dia melihat Dinda sedang berlari kearahnya, dia melihat senyum yang mengembang dari wajah Dinda sambil berlari menuju ketempat dia berdiri.
"Dinda larinya pelan-pelan kamu bisa jatuh!" Teriak Anton dari jauh.
"Ya Dok, tapi tunggu! jangan pergi!"
Dengan nafas yang terengah akhirnya Dinda sudah sampai di depan Dokter Anton, wajahnya kini penuh bercucuran keringat karena mengejar Dokter Anton yang ternyata sudah mau pulang.
"Tarik nafas Dinda, ada apa kamu sampai berlari seperti ini?" Tanya Anton disana.
"Tadi saya keruangan Dokter, tapi ternyata Dokter sudah tidak ada saya langsung menyusul Dokter kemari."
"Baiklah, sekarang katakan kenapa tadi kamu keruangan saya?".
"Sa-saya hanya ingin memberikan ini!" Dengan menunjukan sesuatu di tangannya Dinda berucap.
"Apa ini?" Tanya Anton penasaran.
"Ini terimalah, saya tadi sengaja membuatkan makanan untuk Dokter. Nanti jangan lupa di makan ya!"
Disana nampak hati Anton seperti tersiram air es, baru pertama kali ini ada seorang wanita yang perhatian padanya sampai membuatkannya makanan, bahkan saat bersama Tania malah dia yang sering membuatkan makanan untuk Tania.
"Dok, apa anda tidak suka!" Ucap Dinda kala melihat Dokter Anton yang tidak segera menerima pemberiannya.
"Sa-saya suka!" Dengan cepat Anton segera mengambil makanan itu dari tangan Dinda.
"Di makan ya, ini sebagai ucapan terimakasih karena Dokter sudah memberi saya bunga!''
Deg.....
Mendengar ucapan dari Dinda entah mengapa jantung Anton tiba-tiba berdebar, entah mengapa sikap Dinda di depannya membuat hatinya kini tersentuh.
Bersambung ..
Jangan lupa bantu like nya ya Readers😊 kalau kalian suka dengan cerita ini, dan untuk yang sudah like Author ucapkan terimakasih banyak tanpa kalian siapalah saya....love you se kebon buat kalian semua♥️♥️♥️♥️🙏