Saat suamimu merundungmu dan mengataimu hanya karena fisikmu yang berukuran XXL, bagaimanakah perasaanmu?
Kanaya Salsabilla, Penulis Novel Digital yang harus menerima kenyataan bahwa suaminya merundungnya, melakukan kekerasan verbal, hingga bermain api dengan mantan terindahnya di depan matanya.
Darren Jaya Wardhana, Direktur Pemasaran Jaya Corp yang merupakan pria mapan dan gagal move on dari cinta masa lalunya itu, justru memperlakukan Kanaya sebagai istrinya dengan buruk.
Di satu sisi, ada Bisma Adi Pradana, seorang Dokter yang membantu Kanaya dan terus memotivasi gadis itu untuk mengubah penampilannya.
"Tidak ada yang lebih menyakitkan selain hidup seatap dengan suami yang terang-terangan terjebak dengan mantan terindanya." Kanaya Salsabilla.
"Aku menolakmu. Menikahi Kalkun Jelek sepertimu, justru membuatku mendapatkan kutukan." Darren Jaya Wardhana.
"Teruslah berusaha, karena pintu selalu terbuka bagi mereka yang mau berusaha dan tidak menyerah." Bisma Adi Pr
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Pramudya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Body Shaming
Body shaming adalah perbuatan mempermalukan seseorang berdasarkan bentuk tubuhnya dengan cara mengejek. Sering kali banyak di antara kita yang melakukan body shaming, hanya saja orang yang melakukannya tidak merasa telah melakukan body shaming.
“Kak, apa yang Kakak lakukan kepada Kak Kanaya itu body shaming Kak. Kakak tidak tahu betapa hancurnya orang-orang yang dirundung karena bentuk tubuhnya.” ucap Gisell yang membuka satu obrolan baru tentang body shaming.
Suasana di ruang tamu itu tiba-tiba berubah menjadi hening.
“Body shaming itu adalah bentuk perundungan atau bullying. Mereka yang menjadi korban dari body shaming bisa mengalami depresi secara mental, mengalami gangguan makan atau Bulimia, dan juga memiliki rasa insecure yang tinggi. Kakak, tidak tahu, belasan tahun aku mengalami itu.”
Tiga pasang mata itu kini semua tertuju pada Gisell, bahkan Mama Sasmita nampak menggelengkan kepala dan menahan tangisannya.
“Benarkah Sayang?” tanya Mama Sasmita dengan kata yang terbata-bata.
Gisell pun menganggukkan kepalanya. “Iya Ma ….” jawabnya lirih. Fakta yang selama ini ditutupi begitu rapat oleh Gisell akhirnya terkuak juga.
“Sejak aku SMP, Ma … teman-temanku mengataiku gendut, jelek, tidak menarik. Kata mereka aku anak orang kaya, tetapi tubuhku sama sekali tidak terjaga. Apakah aku bersedih saat mulut-mulut nyinyir itu mengataiku? Tentu saja iya, Ma …. Tetapi, mau bagaimana lagi, faktanya memang tubuhku sebesar ini. Tidak jarang mereka yang berteman denganku hanya karena aku anak orang kaya dan aku memiliki uang. Tidak banyak teman yang tulus denganku. Ditambah dengan stigma negatif terhadap orang gemuk bahwa gemuk itu tidak sehat, orang gemuk itu bau badan, dan lain sebagainya. Aku percaya Kak Nay pun mengalami body shaming seperti itu. Sayangnya, Kak Nay tidak beruntung karena suaminya sendiri yang telah merundungnya.” ucap Gisell dengan bola mata yang tertuju pada Darren.
Ya, dia menatap Kakaknya itu dengan sorot mata yang tajam. Menurut Gisell, Kanaya tidak beruntung karena dia dirundung oleh suaminya sendiri.
Darren seketika menundukkan kepalanya, bagian hatinya yang terdalam merasa tercubit dengan ucapan adiknya. Akan tetapi, dia tidak bermaksud membully sebenarnya. Dia hanya mengucapkan fakta bahwa di mata Kanaya itu tidak cantik dan menarik.
“Kenapa kamu tidak melawan Sayang?” kali ini giliran Papa Jaya yang bertanya kepada putrinya itu. Sebagai seorang Papa, sungguh Papa Jaya juga tidak menyangka bahwa selama ini putrinya menjadi korban bullying.
“Ada beberapa Pa … dan sudah lama, aku mengalaminya. Hanya saja, aku meyakinkan diriku sendiri bahwa aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Kondisi psikologis satu orang dan lainnya itu tidak sama, Pa … bisa saja aku kuat, tetapi tidak dengan Kak Nay. Atau bisa saja Kak Nay begitu kuat di luar, tetapi di dalamnya justru rapuh. Tidak ada yang tahu, Pa.” ucap Gisell yang memang benar adanya bahwa kondisi psikologis satu orang dengan orang yang lainnya tidaklah sama.
“Padahal aku hanya berbicara fakta, tidak bermaksud melakukan body shaming.” Darren tetap saja berkilah, dia merasa bahwa dirinya mengatakan fakta. Dia melupakan fakta bahwa dia telah melabeli Kanaya dengan nama ‘Kalkun’ dan itu juga termasuk body shaming. Memang mereka pelaku body shaming atau perundungan, sering kali tidak merasa bahwa mereka telah membully orang lain.
Gisell kembali menatap Darren. “Awalnya mereka yang merupakan pelaku body shaming juga mengatakan bahwa berbicara fakta. Teman-temanku dulu juga hanya mengatakan fakta kalau aku bertubuh gemuk, tetapi lambat laun mereka merundungku katanya aku anak orang kaya yang tidak cantik dan menarik, size tubuhku yang berukuran jumbo membuat mereka menertawakanku, mengataiku adiknya Giant seperti di serial kartun Jepang. Itu sangat menyakitkan, Kak. Secara mental, aku pun mengalami kesedihan dan menjadi sangat insecure terhadap diriku sendiri. Namun, aku berusaha tegar dan membuang jauh-jauh perkataan-perkataan pahit yang mereka ucapkan.”
Kali ini air mata Mama Sasmita tidak bisa terbendung lagi, wanita paruh baya itu datang dan memeluk Gisell. “Maafkan Mama, Sayang … Mama tidak tahu jikalau kamu selama ini menyembunyikan lukamu seorang diri. Maafkan Mama karena tidak menjadi Mama yang baik buat kamu. Semoga kamu selalu baik secara fisik dan mental. Maaf Sayang ….”
Hanya kata maaf yang terucap dari seorang Mama Sasmita, di hatinya saat ini dia sungguh tidak menyangka, putrinya yang selama ini dikiranya baik-baik saja, rupanya telah menjadi korban perundungan untuk waktu yang lama.
Gisell balas memeluk Mamanya. “Tidak apa-apa, Ma … Gisell baik-baik saja sekarang. Gisell bisa berdamai dengan diri Gisell sendiri. Penampilan bukannya satu-satunya, ada banyak hal lain yang Gisell miliki yang jauh lebih berharga.” ucap gadis itu sembari balas memeluk erat Mamanya.
...🍁🍁🍁...
Di lain tempat, Kanaya baru saja pulang usai bertemu dengan Dokter Bisma. Hari sudah sore, Kanaya berpamitan dan dalam hatinya harap-harap cemas jikalau Darren sudah pulang dari perusahaannya.
Sepanjang jalan, Kanaya berdoa dan berharap bahwa suaminya belum tiba di apartemennya karena Kanaya tidak ingin berhadapan dengan suaminya hingga akhirnya terjadi lagi percekcokan di antara keduanya.
Dengan menaiki bus kota, Kanaya beberapa kali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya sembari menunggu saatnya berhenti di halte pemberhentian yang tidak jauh dari apartemen Darren.
Akan tetapi, di dalam bus kota itu, dia justru dirundung oleh penumpang bus yang lainya.
“Segendut itu yang duduk di dalam bus. Tempat duduk yang harusnya bisa untuk dua orang, akhirnya cuma didudukinya seorang diri.” cibir beberapa orang penumpang dengan berbisik-bisik.
Kanaya memejamkan mata dengan dramatis, dia melihat keberadaan dirinya yang memang menduduki dua kursi itu dan hanya menyisakan sedikit cela. Dalam hatinya teriris perih. Mengapa orang-orang selalu mencibirnya hanya karena dia gendut, sungguh menjadi korban perundungan bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Menjadi gemuk bukan salahnya, yang salah adalah saat kamu bertubuh gemuk dan orang-orang mencibirmu berkata seolah-olah kamulah yang salah karena size tubuhmu yang jumbo.
Kanaya menenangkan hatinya sendiri, berusaha tenang walaupun hatinya sakit. Dia menginginkan ada orang yang tulus melihatnya sebagai Kanaya, bukan sebagai Si Gendut yang memiliki memiliki stigma buruk dalam hidupnya. Begitu sampai di halte pemberhentiannya, Kanaya menegakkan punggungnya dan kemudian berdiri, dengan perlahan dia turun dari bus dan berjalan gontai menuju apartemen Darren.
“Di dalam bus saja, rupanya orang-orang masih saja melakukan body shaming. Memang susah dan menderita dengan orang bertubuh gemuk. Andai saja berat badanku tidak sebesar ini, sudah pasti berbagai bullyan dan cibiran tidak datang bertubi-tubi kepadaku ….” ujar Kanaya dalam hati sembari terus melangkahkan kakinya menjadi salah satu apartemen mewah di bilangan Ibu Kota itu.
tubruk aja itu laki laki..hingga terjungkal
terimakasih thor atas ilmunya aku yg hanya tinggal baca novel dngan gratis , kadang suka ngeluh kalau nunggu lama up