NovelToon NovelToon
Cinta Zaenab

Cinta Zaenab

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Romantis / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:485
Nilai: 5
Nama Author: ANGWARUL MUJAHADAH

Sebuah kisah wanita cantik yang rela di ajak sang suami hidup di negeri perantauan, yaitu ke negeri Arab Saudi di Makkah dan ingin meninggal dunia disana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Meledak kan diri demi marwah

Kolonel A.H. Nasution pun bukan orang sembarangan. Beliau punya visi yang jauh ke depan. Saat kami semua emosi ingin bertahan di dalam kota, beliau dengan kepala dingin berkata bahwa kota bisa dibangun lagi, tapi moral pejuang yang runtuh takkan bisa diperbaiki."

Sidik melihat bagaimana Nasution mengatur arus pengungsian dan pembakaran secara sistematis. Itu bukan tindakan pengecut, itu adalah strategi bumi hangus yang paling cerdas. Nasution ingin memastikan bahwa saat Belanda masuk, mereka hanya akan memeluk puing-puing yang tak berguna.

"Bapak belajar dari beliau, bahwa memenangkan perang bukan hanya soal membunuh lawan, tapi soal bagaimana kita menjaga harga diri bangsa agar tetap tegak meski kota sudah rata dengan tanah."

"Apa yang dikatakan sejarawan itu benar, Ahmad. Nasionalisme itu bukan cuma kata-kata di buku pidato. Nasionalisme itu adalah saat Toha meledakkan diri bersama gudang musuh, dan saat rakyat Bandung merelakan sertifikat rumahnya berubah jadi abu."

Mbah Sidik kembali duduk di samping Ahmad. "Setelah kejadian itu, Bapak membawa sisa pasukan mundur ke pegunungan. Kami melakukan gerilya panjang. Setiap kali rasa lelah menyerang, kami hanya perlu mengingat ledakan di Dayeuhkolot untuk membakar semangat kami kembali."

Di Dayeuhkolot, sejarah mengukir nama,

Dua pemuda yang tak gentar diterjang derita.

Toha dan Ramdan, bukan baja namun perkasa

Meledakkan diri demi menjaga marwah nusa.

Gudang amunisi runtuh dalam sekejap mata,

Menghancurkan mimpi musuh yang ingin berkuasa.

Nasution berdiri dengan strategi yang tajam,

Membawa kami keluar dari kegelapan malam yang kelam.

Ahmad, jangan kau tangisi mereka yang telah gugur,

Sebab, darah mereka adalah air bagi tanah yang subur.

Bandung mungkin hangus, namun jiwa kami tetap membara,

Menunggu fajar kemenangan di ujung nusantara.

***

Mbah Sidik tersenyum pahit. "Ingatlah Toha, Ahmad. Jika suatu saat kau merasa hidupmu berat, ingatlah ada pemuda yang merelakan seluruh masa depannya hancur berkeping-keping hanya agar kau bisa duduk tenang minum teh bersamaku hari ini."

Ahmad tertunduk lesu, ia merasa kecil di hadapan raksasa sejarah itu. "Lalu, apakah setelah peristiwa itu Bapak langsung kembali ke Jepara menemui Ibu Maryam dan kambing-kambing Bapak?"

"Belum, Ahmad. Perang belum selesai. Kami masih harus merangkak di antara hutan-hutan Jawa Barat, melakukan sabotase demi sabotase, sampai Belanda benar-benar sadar bahwa Indonesia adalah neraka bagi penjajah," jawab Mbah Sidik sambil mengepalkan tangannya yang kuat.

Mbah Sidik terdiam, matanya menerawang jauh seolah melihat bayangan kobaran api yang menari di cakrawala masa lalu. Ia mengangguk perlahan, membenarkan setiap kata yang baru saja kau ceritakan.

"Itulah yang Bapak saksikan sendiri di sana, Ahmad," suara Mbah Sidik terdengar sangat rendah namun penuh penekanan. "Profesor Ahmad Mansur itu benar. Malam itu, pangkat dan jabatan di bahu Bapak seolah tidak ada artinya lagi. Bapak melihat petani yang hanya punya satu cangkul ikut membakar gubuknya. Bapak melihat ibu-ibu yang menggendong bayi sambil membawa kain merah putih yang lusuh."

Di mata Sidik, Bandung Lautan Api adalah puncak dari jati diri bangsa. Tidak ada lagi yang bertanya Siapa kamu?, yang ada hanyalah 'Kita Indonesia'. Pelajar-pelajar muda yang biasanya memegang buku, malam itu memegang obor dan bambu runcing dengan tangan gemetar namun tekad yang membaja.

"Jangan dikira kami tidak sedih melihat ribuan orang kehilangan tempat tinggal," kenang Sidik sambil mengusap dadanya. "Bapak sempat melihat seorang kakek tua yang hanya bisa membawa bungkusan kecil berisi tanah dari halaman rumahnya yang baru saja ia bakar. Ia bilang pada Bapak, "Nak, biar rumahku hilang, asal tanah ini tetap milik cucuku."

**

Penderitaan itu nyata. Dinginnya malam di pengungsian, kurangnya makanan, dan rasa lelah yang luar biasa menyiksa rakyat. Namun, di sanalah Sidik melihat keajaiban Gotong Royong.

Rakyat yang punya makanan sedikit membaginya dengan yang tidak punya. Pejuang menjaga keamanan bagi yang lemah. Persatuan itulah yang membuat dunia internasional mulai membuka mata: bahwa rakyat Indonesia tidak sedang main-main dengan kemerdekaannya.

"Semangat itu menular, Ahmad. Seperti api yang melompat dari satu pohon ke pohon lain. Kabar tentang Bandung membuat rakyat di daerah lain—termasuk kawan-kawan Bapak di Purwodadi dan Jepara—menjadi semakin berani. Mereka berpikir;

Jika rakyat Bandung rela membakar kotanya, mengapa kita harus takut melawan?"

Bagi Sidik, Bandung Lautan Api adalah sebuah proklamasi kedua.

Proklamasi yang tidak hanya diucapkan lewat lisan, tapi lewat tindakan nyata yang paling ekstrem. Itu adalah bukti bahwa harga diri tidak bisa ditukar dengan kenyamanan gedung-gedung yang megah.

Bukan keputusasaan yang menyulut api,

Tapi janji setia yang takkan pernah mati.

Petani, pelajar, dan ibu rumah tangga,

Bersatu dalam barisan yang tak kenal harga.

Bandung hancur menjadi debu dan asap hitam,

Namun semangat mereka takkan bisa tenggelam.

Merdeka atau mati bukan sekadar teriakan,

Tapi pengorbanan yang dibayar dengan kehilangan.

Ahmad, lihatlah kota itu sekarang telah berdiri kembali,

Bangkit dari abu dengan harga diri yang lebih tinggi.

Sebab pondasi kota itu bukanlah semen atau batu,

Melainkan air mata dan darah yang telah menyatu.

**

Mbah Sidik tersenyum, kali ini senyumnya lebih cerah. "Akhirnya, Ahmad, Bapak kembali ke Jepara. Bapak melihat kambing-kambing putih Bapak lagi. Tapi setiap kali Bapak melihat warna putih pada bulu kambing itu, Bapak teringat putihnya ketulusan rakyat Bandung. Dan setiap kali Bapak melihat merahnya matahari terbenam, Bapak teringat api yang membakar Bandung."

Ia menepuk pundak Ahmad. "Jaga kemerdekaan ini, Ahmad. Jangan biarkan pengorbanan Toha, Nasution, dan ribuan rakyat Bandung itu menjadi sia-sia hanya karena kita malas atau terpecah belah. Merdeka!"

"Merdeka, Pak!" jawab Ahmad dengan lantang.

Mbah Sidik pun kembali duduk dengan tenang, sambil membelai kepala salah satu kambingnya yang mendekat, seolah masa lalu dan masa kini telah berdamai di bawah langit yang sama.

Mbah Sidik terdiam sejenak, bibirnya perlahan menyenandungkan nada yang sudah sangat akrab di telinga setiap anak bangsa.

 "Halo, Halo Bandung... Ibu kota Periangan..." Suaranya yang serak namun mantap menggema di antara pepohonan di halaman rumahnya di Jepara.

Ia menatap Ahmad dengan mata yang berbinar-binar penuh kebanggaan. "Lagu itu, Ahmad, bukan sekadar musik. Itu adalah tangisan kerinduan kami saat berada di pengungsian. Saat kami menatap Bandung dari jauh yang hanya terlihat seperti bara merah di tengah kegelapan.

"Kau bilang tinggi monumen di Tegallega itu 45 meter?" Mbah Sidik mengangguk-angguk. "Angka itu suci bagi kami. Angka itu adalah napas kami. Api di puncak monumen itu bukan cuma hiasan, Ahmad. Itu adalah api yang sama yang dulu Bapak lihat membakar gudang mesiu musuh. Api itu tidak boleh padam di hati anak muda seperti kamu."

Bagi Sidik, Monumen Bandung Lautan Api bukan sekadar tumpukan semen dan batu. Itu adalah saksi bisu bahwa di tanah itu, rakyat pernah memberikan segalanya. "Setiap kali Bapak mendengar anak-anak sekolah menyanyikan lagu itu, Bapak merasa tugas Bapak menjaga kedaulatan ini tidaklah sia-sia."

1
Ariasa Sinta
q yakin ini cerita asli, begitupun mbah sidik, iya kan thor ?
Ariasa Sinta
ya Allah ...
thor q merinding sekaligus ke inget sama mbah mansyur (Kh.Tubagus Mansyur) yg d ceritain sama guru aku
Ariasa Sinta
loh loh loh ....
q berasa kaya lagi ngaji thor

siapa kah sebenarnya kang sidik ?
SANTRI MBELING: hehe he. makasih mampir disini juga
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!