Tian Shan, pendekar terkuat yang pernah ada, memilih mengorbankan dunia demi satu tujuan—memutar balik waktu.
Ia terlahir kembali di keluarga bangsawan. Namun karena sifatnya yang dianggap aneh dan tubuhnya yang tak mampu berkultivasi, ia dipandang sebagai sampah.
Saat waktunya tiba, ia memilih pergi—bertekad membuktikan dirinya dan membalas segalanya dengan kekuatan yang akan mengguncang dunia.
Mampukah sang legenda menggapai impiannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Taruhan?
Perjalanan mereka melintasi lembah berbatu terhenti ketika sebuah bayangan melesat cepat dari atas tebing, mendarat dengan dentuman keras di tengah jalan.
Debu mengepul, menyingkap sesosok pria jangkung dengan zirah bersisik perak.
Di tangannya, ia menggenggam sebuah tombak panjang yang dihiasi ukiran naga melilit bilahnya. Tombak itu bergetar, memancarkan aura Artefak Rohani Tingkat 3 yang sangat tajam.
Pria itu menyeringai, matanya yang tajam menatap Tian Shan dengan rasa lapar akan pertarungan. "Aku telah mengikuti jejak energimu sejak dari hutan bambu. Jarang sekali menemukan pendekar di ranah Pendekar Bumi Tahap Menengah dengan stabilitas Qi sepertimu di wilayah terpencil ini."
Tian Feng dan Tian Mei refleks mundur, merasakan tekanan udara yang mendadak menjadi berat. "Ranah Bumi Tahap Menengah juga?!" bisik Tian Feng dengan wajah pucat.
"Namaku Zhao Yun-Long," pria itu mengacungkan tombaknya ke arah dada Tian Shan. "Mari kita bertaruh. Jika kau menang, aku akan pergi tanpa mengusikmu. Tapi jika kau kalah, kau harus menyerahkan kecapi kuno di punggungmu itu padaku."
Tian Shan menatap ujung tombak itu tanpa berkedip. Matanya yang memiliki lingkaran emas berkilat tenang. "Taruhan yang tidak adil. Kecapiku jauh lebih berharga daripada nyawamu. Namun, aku tertarik pada tombak itu. Jika aku menang, tombak naga itu menjadi milikku."
Zhao Yun-Long tertawa terbahak-bahak. "Kau punya nyali! Baik, aku terima!"
Saat Zhao Yun-Long mulai memutar tombaknya, menciptakan pusaran angin yang tajam, pikiran Tian Shan justru melayang ke ribuan tahun yang lalu.
Di kehidupan sebelumnya, ia telah menghadapi banyak ahli tombak—mulai dari jenderal kekaisaran hingga pendekar abadi yang mampu membelah awan dengan satu tusukan.
Ia telah membaca ribuan gulungan teknik tombak, memahami bahwa setiap senjata memiliki "bahasa" sendiri.
Tombak adalah raja dari segala senjata di medan perang, namun ia memiliki satu kelemahan fatal bagi mereka yang tidak memahaminya: titik buta di balik setiap putaran momentum.
"Tusukan Naga, Sapuan Ekor Harimau, atau Teknik Sembilan Bintang ... tak ada satu pun rahasia tombak yang tidak kuketahui," batin Tian Shan.
Zhao Yun-Long melesat maju. Gerakannya bagaikan kilat putih.
"Tusukan Naga Guntur!"
Tombak itu melesat lurus menuju tenggorokan Tian Shan dengan kecepatan yang mampu menembus suara.
Namun, Tian Shan tidak menghindar dengan gerakan besar. Ia hanya memiringkan kepalanya satu inci. Ujung tombak itu lewat begitu saja, memotong beberapa helai rambut putihnya.
SLASH!
Zhao Yun-Long segera mengubah arah, menyapu bagian bawah kaki Tian Shan dengan momentum yang luar biasa.
Tian Shan melompat ringan, namun bukan untuk menjauh. Ia justru mendarat tepat di atas batang tombak milik Zhao Yun-Long.
"Apa?!" Zhao Yun-Long terperanjat. Ia mencoba menarik senjatanya, namun tombak itu terasa seberat gunung.
Tian Shan menggunakan teknik Gravitasi Bumi untuk menekan tombak itu ke tanah hanya dengan berat tubuhnya.
"Teknik tombakmu terlalu banyak pamer," ucap Tian Shan dingin. "Kau fokus pada kecepatan, tapi kau melupakan akar dari bumi."
Zhao Yun-Long menggeram, melepaskan seluruh Qinya. Tanah di bawah mereka retak hebat.
Ia berhasil melepaskan tombaknya dan melancarkan serangan beruntun: tujuh tusukan bayangan yang mengepung posisi Tian Shan.
Tian Shan akhirnya mencabut Pedang Penjaga Langit miliknya.
CLANG! CLANG! CLANG!
Suara benturan logam itu memekakkan telinga. Setiap kali pedang Tian Shan bersentuhan dengan tombak, getaran gravitasi yang masif merambat ke tangan Zhao Yun-Long, membuat lengannya mati rasa.
"Cukup permainannya," ucap Tian Shan.
Ia melangkah maju di tengah-tengah badai tusukan tersebut. Ia tidak menangkis serangan terakhir, melainkan membiarkan bilah tombak itu meluncur di samping lengannya.
Dengan satu gerakan tangan kiri yang sangat presisi, Tian Shan mencengkeram leher tombak tersebut, sementara pedangnya sudah berada tepat di bawah dagu Zhao Yun-Long.
"Teknik Pematah Sayap Naga."
Dengan sedikit sentakan energi, Tian Shan mematikan aliran Qi di lengan Zhao Yun-Long. Tombak itu seketika terlepas dari genggaman pemiliknya dan jatuh ke tangan Tian Shan.
Keheningan menyelimuti lembah. Zhao Yun-Long berlutut dengan napas tersengal, menatap tangannya yang gemetar karena syok.
Ia tidak percaya bahwa teknik terbaiknya dipatahkan dengan cara yang begitu sederhana namun menghancurkan.
"Aku ... aku kalah," bisik Zhao Yun-Long dengan nada hancur. "Bagaimana bisa ... kau membaca setiap gerakanku seolah kau adalah pencipta teknikku sendiri?"
Tian Shan memutar tombak naga itu di tangannya. Ia merasakan "jiwa" senjata tersebut yang awalnya mencoba memberontak, namun segera tunduk saat merasakan aura Pendekar Bumi Tian Shan yang jauh lebih murni dan menekan.
"Aku telah melihat banyak orang mati dengan cara yang sama sepertimu," ucap Tian Shan tanpa emosi. Ia menyarungkan kembali pedangnya dan memegang tombak baru itu di tangan kirinya. "Tombak ini sekarang milikku. Pergilah, dan carilah jalan yang sebenarnya jika kau ingin bertahan hidup di dunia yang baru ini."
Tian Feng dan Tian Mei hanya bisa berdiri terpaku. Mereka menyadari bahwa kakak mereka bukan lagi sekadar kuat; ia adalah pengetahuan berjalan dari segala jenis bela diri. Kekaguman mereka kini bercampur dengan rasa takut yang sangat dalam.
Tian Shan terus berjalan, kini membawa dua senjata rohani tingkat tinggi. "Tian Feng, ambil tombak ini," ucapnya tiba-tiba sembari melemparkan senjata rampasan itu ke arah adiknya.
"A-apa?! Ini untukku?" Tian Feng menangkapnya dengan tangan gemetar.
"Senjata ini terlalu berisik untukku. Gunakanlah untuk melindungi dirimu sendiri, jangan hanya menjadi beban," sahut Tian Shan datar, meninggalkan adiknya yang kini menatap tombak itu dengan mata berbinar-binar.
Debu pertarungan masih mengambang tipis di udara lembah yang sunyi.
Zhao Yun-Long masih berlutut di atas tanah yang retak, menatap telapak tangannya yang gemetar karena terkejut.
Rasa dingin dari pedang Tian Shan masih terasa di lehernya, sebuah memori tubuh yang tak akan mudah hilang.
Namun, alih-alih hancur karena penghinaan, matanya justru berkilat dengan api baru.
Ia mendongak, menatap punggung Tian Shan yang tampak begitu santai, seolah duel barusan hanyalah gangguan kecil seperti lalat yang lewat.
"Aku ... aku tidak akan berhenti di sini!" teriak Zhao Yun-Long, suaranya parau namun penuh tekad. "Kekalahan ini bukan akhir. Aku akan berlatih sepuluh kali lebih giat! Aku akan mengasah teknik tombakku sampai aku bisa menyentuh bayanganmu, Tuan!"
Tian Shan menghentikan langkahnya. Ia menoleh perlahan, raut wajahnya tampak sangat malas.
Ia menguap kecil, seolah-olah mendengarkan deklarasi tekad dari seorang pendekar jenius adalah hal paling membosankan di dunia.
"Berlatih lebih giat?" gumam Tian Shan datar. "Jika kau hanya mengulang kesalahan yang sama sepuluh kali lebih banyak, kau hanya akan menjadi sampah yang lebih besar."
Tian Shan menghela napas panjang. Ia merobek selembar kertas dari buku catatan kecilnya dan mengambil kuas.
Dengan gerakan yang tampak asal-asalan namun sangat cepat, ia menuliskan beberapa baris kalimat dan menggambar tiga titik diagram aliran energi.
Dalam pikirannya, memori tentang ribuan ahli tombak yang pernah ia binasakan di kehidupan sebelumnya muncul secara otomatis.
Ia tahu persis di mana letak kegagalan pondasi mereka: kebanggaan yang berlebihan pada kecepatan, namun melupakan beratnya bumi.
"Ini," ucap Tian Shan, melemparkan kertas itu yang kemudian melayang jatuh tepat di pangkuan Zhao Yun-Long.
Zhao Yun-Long membaca tulisan di kertas itu dengan tangan gemetar. Matanya membelalak lebar saat ia menelaah isinya:
Titik Buta Momentum: Putaran tombakmu terlalu lebar di bahu kiri. Ada celah tiga inci setiap kali kau melakukan transisi ke Tusukan Naga.
penyaluran Gravitasi: Kau menaruh 70% beratmu di ujung kaki. Itu membuatmu cepat, tapi tanpa akar. Kau bukan naga, kau hanya kadal yang melompat.
penyelarasan Napas: Kau menahan napas saat melakukan serangan puncak. Itu membekukan aliran Qi di tengah jalan.
"A-apa ini ..." bisik Zhao Yun-Long. Ia merasa seolah-olah seluruh hidupnya sebagai ahli tombak baru saja dibedah habis-habisan dalam tiga baris kalimat sederhana.
Pengetahuan ini adalah sesuatu yang bahkan master di sektenya tidak pernah sadari.
Rasa sombong yang tadi menyelimuti Zhao Yun-Long kini menguap sepenuhnya, digantikan oleh rasa hormat yang sangat mendalam, bahkan cenderung ke arah pemujaan.
Ia menyadari bahwa orang di depannya ini bukan hanya seorang petarung yang kuat, tapi seorang Guru Agung yang berjalan di dunia fana.
Ia berdiri, merapikan zirahnya yang compang-camping, lalu membungkuk 90 derajat—sebuah penghormatan tertinggi bagi seorang pendekar.
"Terima kasih atas bimbingan Anda, Senior! Nama Anda akan selalu tersimpan dalam setiap tusukan tombakku di masa depan. Jika takdir mengizinkan, aku akan mencari Anda kembali untuk menunjukkan bahwa catatan Anda tidak sia-sia!"
Tian Shan hanya melambaikan tangan tanpa menoleh, melanjutkan langkahnya seolah-olah ia baru saja memberikan petunjuk jalan kepada pengembara yang tersesat. "Terserah kau saja. Jangan sampai mati sebelum kau bisa memperbaiki cara memegang gagang tombakmu itu."
Zhao Yun-Long memandangi punggung Tian Shan hingga sosok pria berambut putih itu menghilang di balik tikungan lembah.
Ia menyimpan kertas itu di tempat yang paling aman di balik zirahnya, merasa bahwa kekalahannya hari ini adalah keberuntungan terbesar dalam hidupnya.
Tian Feng dan Tian Mei yang mengikuti di belakang sejak tadi hanya bisa saling lirik. Tian Feng mencengkeram erat tombak naga rampasan yang baru saja diberikan Tian Shan padanya.
"Kakak ..." Tian Mei akhirnya memberanikan diri bicara. "Kenapa kau membantunya? Dia tadi ingin mencuri kecapimu."
"Dunia ini sudah penuh dengan orang bodoh yang sombong," sahut Tian Shan sambil menatap langit. "Memberi sedikit cahaya pada mereka terkadang jauh lebih menghibur daripada sekadar membunuh mereka. Lagipula, jika dia menjadi kuat, mungkin suatu saat dia bisa menjadi lawan yang tidak membosankan."
lanjut thor💪