Nadya adalah definisi istri sempurna: cantik dengan wajah baby face yang menggemaskan, tubuh sintal yang terjaga, dan hati selembut sutra. Namun, kebaikannya yang tanpa batas justru menjadi bumerang. Demi membangkitkan butik eksklusifnya yang mulai lesu, Nadya mempekerjakan Stefani, seorang top affiliate e-commerce berusia 21 tahun yang sedang naik daun.
Stefani bukan sekadar rekan kerja biasa. Di balik wajah cantiknya yang sensual dan gaya bicaranya yang manja, ia adalah predator yang haus akan kemewahan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah mewah Nadya, target Stefani berubah. Ia tidak lagi menginginkan komisi penjualan, ia menginginkan seluruh hidup Nadya—termasuk suaminya, Erian.
Erian, seorang eksekutif muda yang gagah, selama ini memendam gairah besar yang tidak tersalurkan karena sifat Nadya yang terlalu pasif dan "terlalu baik" di ranjang. Celah inilah yang dimanfaatkan Stefani dengan sangat licik. Dengan kedok profesionalisme—sering menginap untuk alasan live.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gusmon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 : Kembalinya Stefani
Pagi itu, rumah Nadya terasa lebih hidup dengan kembalinya sosok yang ia anggap sebagai tangan kanannya. Stefani—atau kini lebih terbuka dengan identitasnya—muncul di ambang pintu dengan wajah yang tampak jauh lebih segar, meski sisa-sisa kelelahan dari "pergumulan" semalam dengan Marlon masih tertinggal di binar matanya.
Nadya langsung menyambutnya dengan pelukan hangat. "Stef! Kamu sudah balik? Gimana kondisi Ayah di kampung?"
Stefani tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tampak tulus namun menyimpan ribuan lapisan rencana. "Syukurlah, Nad. Ayah sudah membaik, masa kritisnya lewat lebih cepat dari perkiraan dokter. Makanya aku putuskan untuk segera balik, aku nggak enak meninggalkan butik kelamaan."
Sambil duduk di sofa ruang tengah, Stefani menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk jujur. "Nad... sebenarnya ada satu hal yang mengganjal di hatiku. Aku nggak mau ada rahasia lagi sama kamu."
Nadya menatapnya penasaran. "Apa itu, Stef?"
"Sebenarnya... namaku bukan Stefani. Nama asliku Kartika," ucapnya dengan nada rendah, seolah malu. "Aku mengganti nama jadi Stefani sejak masuk ke dunia affiliate. Kamu tahu sendiri kan, di dunia e-commerce dan marketing, nama yang kebarat-baratan itu lebih menjual dan cepat melambung. Aku cuma pengen sukses buat bantu keluarga di kampung, Nad."
Nadya tertegun sejenak, lalu tersenyum maklum. "Ya ampun, Kartika... aku ngerti kok. Namamu bagus, tapi kalau untuk branding memang Stefani terasa lebih modern. Aku nggak marah, justru aku bangga kamu jujur."
Merasa posisinya semakin aman dan dipercaya, Stefani mulai melancarkan serangan halus. Sambil membantu Nadya merapikan beberapa contoh kain, ia bertanya dengan nada bicara yang sangat natural, seolah hanya obrolan santai antar teman wanita.
"Oiya Nad, kemarin waktu aku mau pamit pulang, aku dengar kamu cerita soal wanita bernama Clarissa yang datang ke sini. Dia itu sebenarnya siapa sih? Saudara Mas Erian atau... teman lama?" tanya Stefani sambil tetap fokus melipat kain.
"Oh, Clarissa itu teman kampus kami dulu, Stef. Dia yang ngenalin aku sama Mas Erian waktu kita mendaki gunung bareng," jawab Nadya polos.
Stefani menghentikan gerakannya sebentar, memberikan jeda dramatis yang pas. "Oh... teman lama ya? Cantik banget ya dia, auranya beda gitu, kayak wanita-wanita karier sukses di film-film. Dia kerja di kantor Mas Erian juga?"
"Iya, dia punya posisi penting di sana, tapi aku nggak tahu persis jabatannya apa. Yang jelas dia banyak bantu Mas Erian waktu kasus kemarin," sahut Nadya.
Stefani tersenyum simpul, mulai menanamkan bibit kecemburuan dengan cara yang sangat halus. "Hebat ya dia... cantik, pintar, dan punya pengaruh besar di kantor suamimu. Tapi Nad, kamu nggak merasa aneh ya? Maksudku, dia kan teman lama Mas Erian, bahkan dia yang ngenalin kalian. Biasanya, wanita sehebat dia itu punya 'insting' yang kuat kalau soal pria yang pernah dekat dengannya."
Nadya mengerutkan kening. "Maksudmu gimana, Stef?"
"Enggak, maksudku... waktu dia ke sini, apa dia cerita soal masa lalunya sama Mas Erian? Soalnya, jarang ada wanita yang mau se-repot itu membantu urusan hukum pria lain kalau nggak ada 'ikatan' emosional yang kuat di masa lalu. Apalagi kalian sudah lama nggak ketemu, kan?" Stefani menatap mata Nadya dengan pandangan prihatin yang dibuat-buat. "Aku cuma khawatir, Nad. Kamu kan hatinya lembut banget, jangan sampai kebaikan Clarissa itu ternyata punya 'maksud lain' yang belum kita tahu. Apalagi Mas Erian kan ganteng dan karismatik, wanita mana sih yang nggak bakal nengok?"
Nadya terdiam. Kata-kata Stefani merayap masuk ke benaknya, membangkitkan kembali memori tentang Clarissa yang cemburu saat Erian menggendongnya di gunung dulu. Bibit keraguan itu kini mulai menemukan tanah yang subur di hati Nadya.
pdhl Nadya blm punya anak masa gk bisa muasin suami nya terlalu lempeng ya bosen lah.
sdng Nadya wanita gk tau gimana nyenengin suami pdhl blm punya anak. sakit perut saja tinggal minum obat ndadak kluar Kamar oalah manja nya.
ntar kl suami selingkuh dng wanita itu yg di Salah kan suaminya pdhl yg Salah jls istri sah yg mmbawa wanita lain tinggal di situ 🤣🤭.
mkne kl erian terjerat ma pelakor ya yg Salah istri sah lah. gk muasin suami plus malah bawa wanita lain seatap. 😄🤭