NovelToon NovelToon
Surat Cinta Untuk Dinara

Surat Cinta Untuk Dinara

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Cinta setelah menikah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: kaka_21

Pagi di Surabaya tidak pernah benar-benar tenang. Suara klakson yang bersahutan di kejauhan dan deru mesin kendaraan dari arah Jalan Ahmad Yani menjadi latar musik rutin yang menemani aroma kopi dari dapur kecil apartemen lantai tujuh itu.

Dimas mengencangkan ikatan sarungnya, baru saja menyelesaikan dzikir setelah shalat Subuh berjamaah dengan istrinya. Ia menoleh ke samping, menatap Dinara yang masih bersimpuh di atas sajadah bunga-bunganya. Gadis itu tampak khusyuk, kepalanya tertunduk dengan mukena putih yang membingkai wajah polosnya.

Ada sesuatu yang selalu membuat dada Dimas berdesir setiap kali melihat pemandangan ini. Setahun lalu, ia hanyalah seorang pria yang dipaksa menyerah pada ego orang tuanya di Blitar. Kini, ia adalah seorang suami yang merasa menemukan rumahnya dalam diri gadis yang usianya dua tahun di bawahnya ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Sidang Pertama

Pintu kayu jati berukir itu tertutup dengan bunyi debum halus yang memutus ketegangan di dalam ruangan. Dinara berdiri mematung di koridor kampus yang sepi, napasnya keluar dalam satu helakan panjang yang seolah membawa pergi beban seberat gunung dari pundaknya. Ia melirik jam tangan. Dua jam. Dua jam ia dikuliti oleh rentetan pertanyaan tajam yang nyaris membuatnya kehilangan kata-kata.

Ia merapikan blazer hitamnya, mengusap telapak tangannya yang dingin ke kain rok. Langkahnya terasa ringan namun goyah saat menuruni anak tangga menuju area parkir. Di kejauhan, di sebuah warung kopi kecil yang tersembunyi di bawah pohon beringin tua, ia melihat sosok yang sangat dikenalnya.

Dimas duduk santai di bangku kayu panjang, satu tangannya memegang puntung rokok yang asapnya mengepul tipis ke udara, sementara tangan lainnya menggenggam gelas kopi plastik. Ia tampak asyik mengobrol dengan bapak penjaga warung, sesekali tertawa sampai bahunya berguncang.

"Mas!" panggil Dinara saat jarak mereka sudah dekat.

Dimas menoleh, matanya berbinar. Ia segera mematikan rokoknya di asbak kaleng, berdiri, dan menyambar tas punggungnya. "Lho, sudah selesai, Sayang? Gimana? Selamat atau... mau Mas datangi dosenmu sekarang?"

Dinara tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk pelan dengan senyum lelah yang perlahan terbit.

"Alhamdulillah. Wes, gak usah dipikir maneh (Sudah, jangan dipikir lagi). Hasilnya urusan nanti, yang penting kamu sudah bertaruh nyawa di dalam tadi," Dimas menepuk bahu Dinara bangga. "Ayo, langsung balik. Surabaya lagi panas-panasnya ini, enak kalau langsung kena AC di mobil."

Mereka berjalan menuju SUV hitam yang terparkir di bawah rimbun pohon. Begitu masuk ke dalam kabin, udara sejuk segera menyambut. Dimas mulai menjalankan mobilnya, membelah kemacetan kota Malang yang padat di siang hari menuju gerbang tol.

Sepanjang jalan keluar kota, Dinara lebih banyak diam. Ia menatap ke luar jendela, melihat deretan pepohonan yang berlari menjauh. Ketegangan dua jam tadi ternyata meninggalkan rasa kantuk yang luar biasa.

"Dek, lapar nggak? Mau mampir makan dhisik?" tanya Dimas sambil melirik istrinya.

"Enggak, Mas. Dinara cuma mau merem sebentar. Rasanya otakku tadi habis diperas sampai kering," sahut Dinara pelan.

"Nggih pun, tidur saja. Nanti kalau sudah sampai rest area, Mas bangunin buat shalat Ashar," Dimas mengecilkan volume audio mobil, menyisakan instrumen piano yang lembut sebagai latar.

Mobil memasuki jalur tol. SUV itu melaju stabil di kecepatan seratus kilometer per jam. Aspal yang mulus dan guncangan mobil yang teratur menjadi pengantar tidur yang sempurna. Tak butuh waktu lama bagi Dinara untuk terlelap, kepalanya sesekali miring ke arah jendela. Dimas yang melihat itu segera meraih bantal kecil dari jok belakang dan menyelipkannya di antara kepala Dinara dan kaca agar istrinya lebih nyaman.

Satu jam kemudian, Dimas membelokkan mobil ke arah rest area. Area parkir siang itu cukup ramai oleh kendaraan yang juga ingin beristirahat. Dimas mematikan mesin, membiarkan suasana menjadi sunyi. Ia tidak langsung membangunkan Dinara. Ia justru terdiam sejenak, menatap wajah istrinya yang tampak begitu tenang saat tidur. Ada sedikit lingkaran hitam di bawah mata Dinara—jejak begadang beberapa malam terakhir yang ia dampingi.

"Dek... bangun. Sudah Ashar," Dimas menyentuh lengan Dinara pelan.

Dinara menggeliat, membuka matanya perlahan. Ia melihat sekeliling, menyadari mereka sudah berada di tempat pemberhentian. "Sudah sampai, Mas?"

"Iya. Ayo, wudhu dhisik biar seger. Habis itu kita lanjut jalan," ajak Dimas.

Setelah menunaikan kewajiban shalat Ashar di masjid rest area, mereka tidak langsung kembali ke mobil. Dimas membeli dua cup kopi hangat dan sekantong tahu petis hangat yang aromanya sangat menggoda. Mereka kembali ke mobil, namun kali ini mereka tidak langsung berangkat. Dimas membuka sedikit kaca jendela agar udara segar masuk.

Dinara menerima cup kopinya, menyesapnya perlahan. Ia kemudian menyandarkan kepalanya ke bahu tegap Dimas, membiarkan tubuhnya rileks sepenuhnya.

"Mas..."

"Nggih?"

"Terima kasih ya sudah nungguin di warung tadi. Padahal panas banget pasti di sana."

Dimas tertawa, jemarinya mengelus jemari Dinara yang melingkar di lengannya. "Panasnya warung itu nggak sebanding sama panasnya hatiku kalau lihat kamu nangis gara-gara sidang. Lagian, bapak warungnya tadi asyik diajak ngobrol soal politik, Mas jadi punya bahan buat bab novel baru."

Dinara tersenyum, menutup matanya sejenak sambil menikmati aroma kopi dan kehadiran suaminya. "Mas selalu punya alasan buat bikin semuanya kelihatan gampang."

"Memang harus gampang, Dek. Hidup itu sudah rumit, kalau kitanya juga bikin rumit, ya kapan bahagianya?" Dimas mencium puncak jilbab Dinara singkat. "Habis ini sampai rumah, kamu istirahat total. Gak usah mikir revisi, gak usah mikir hukum-hukuman. Mas yang bakal pesankan makanan enak buat ngerayain kemenangan kecilmu hari ini."

"Mau nasi goreng yang banyak bawang gorengnya, Mas," pinta Dinara manja.

"Siap, Tuan Putri. Apapun buat calon sarjana kebanggaan Mas ini," Dimas meremas tangan Dinara lembut. "Sudah seger? Kita lanjut Surabaya? Biar nggak kemaleman sampai apartemen."

Dinara mengangguk, ia memperbaiki posisi duduknya namun tetap memegang lengan Dimas. Perjalanan pulang sore itu terasa jauh lebih singkat. Di jalur tol yang membentang panjang, di antara deru mesin dan obrolan ringan, Dinara menyadari bahwa pencapaian terbesarnya tahun ini bukan hanya menyelesaikan sidang skripsi, melainkan memiliki seseorang yang selalu menunggunya di luar pintu ruangan, siap dengan segelas kopi dan bahu yang selalu kokoh untuk bersandar.

SUV hitam itu terus melaju, meninggalkan Malang yang dingin menuju Surabaya yang mulai bersiap menyambut malam. Di dalam mobil, tawa kecil sesekali terdengar saat Dimas mulai menceritakan kembali kejahilannya pada bapak penjaga warung tadi, membuat rasa lelah Dinara benar-benar hilang tertutup rasa syukur.

1
Wardah Saiful
bagus ceritanya,semangat thor
kaka_21: siap kakak! (kaka)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!