Cinta adalah sebuah anugerah dari Sang Pemberi Hidup namun terkadang manusia bisa salah melabuhkan cinta. Tapi bagaimana jika sebuah kesalahan fatal malah bisa mengartikan kata cinta?
Dalam sebuah tugas.. sang ajudan menemani istri muda sang jenderal yang ternyata adalah seorang 'kupu malam'.
A. Kesalahan dari pertemuan itu akhirnya membuatnya memahami arti hidup yang sesungguhnya dan dari kehidupan baru ini pula dirinya mengenal arti cinta dan sabar
B. Kisah masa lalunya yang tiba-tiba saja kembali benar-benar menghantam rumah tangganya di saat sang istri tengah mengandung buah hatinya. Mampukah situasi kembali membaik atau akan terpisah karena hadirnya sang mantan.
***
Tidak membawa unsur SARA saat berkomentar, apalagi membawa instansi tertentu, harap mengikuti alur cerita dan bagi yang tidak tahan konflik harap SKIP.
Cerita hanya rekayasa dalam karya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Cari perkara ( 1 ).
Malam ini Bang Alden tetap tidur satu tenda dengan Nadilla dan Rhaken tapi setelah semua keadaan terbongkar rasanya semua terasa berbeda. Nadilla seakan menjauhi dirinya. Ia terus memeluk Rhaken.
Bang Alden tau istri kecilnya tidak benar-benar memejamkan mata karena tidur pulas. Ia hanya pura-pura tidur untuk menghindari Bang Alden.
Ingin sekali rasanya mengajak Nadilla bicara tapi jarak tenda yang terlalu berdekatan satu sama lain membuat Bang Alden memilih untuk mengalah.
***
Nadilla diam saja saat Bang Alden memindahkan tenda tersebut sedikit lebih jauh dari tenda anggota yang lain.
"Kenapa tendanya di geser?" Tanya Nadilla.
"Biar nggak panas kalau siang. Tersembunyi disini juga lebih menjaga privasi." Jawab Bang Alden.
"Privasi apa? Kembalikan lagi kesana..!!" Pinta Nadilla.
"Rhaken sering nangis. Anggota dan keluarga lain juga butuh istirahat. Semua orang tau dan bisa memaklumi tapi kita juga harus sadar diri." Ucap Bang Alden terdengar logis dan Nadilla malas berdebat dengan Danton tempur satu ini.
...
Nadilla dan Shena bertemu, mereka mengobrol pada sebuah gazebo sambil mengasuh baby Rhaken. Sedih, juga kasihan melihat bayi sekecil itu sudah harus kehilangan ibunya.
"Aku tidak menyangka di usiamu yang masih muda, kau sudah punya anak secara kilat." Kata Shena.
"Bukan itu masalahnya. Sekarang tiba-tiba aku harus menikah dengan laki-laki yang tidak pernah aku cintai. Mana bisa cinta, darimana datangnya cinta??" Jawab Nadilla kesal sendiri. "Rumah tangga tanpa cinta itu bagai neraka."
Tak ada yang tau jika sedari tadi Bang Alden dan Bang Ghazzal mendengar percakapan dua wanita random itu.
"Rasanya aku angkat tangan dengan semua ini Zal. Nyatanya memang cinta itu belum tumbuh di hatiku, malah mungkin juga tidak tumbuh." Kata Bang Alden sembari menghisap rokoknya. "Aku hanya berbekal pasrah, ikhlas menghadapi semua yang Tuhan berikan padaku."
"Lalu bagaimana caramu mencintai Syandrina dan Azalea sekaligus. Kenapa kamu tidak bisa mencintai Nadilla?" Tanya Bang Ghazzal.
"Entahlah, ada banyak hal yang tidak bisa ku pahami. Semua berjalan dan mengalir begitu saja. Kesalahanku dengan Syandrina semua murni karena nafsu meskipun ada sedikit rasa akan kecantikannya, cintaku pada Azalea karena semua sifat dan sikapnya, dia keibuan dan dewasa di balik kepolosannya tapi Nadilla sangat berbeda, kuakui dia cantik bahkan sangat cantik, tapi kelakuannya membuatku pusing tujuh keliling. Dia tidak bisa di kendalikan, terlalu pecicilan untuk takaran usiaku yang sudah ingin tobat dan tenang. Aku ingin keluarga yang utuh tanpa masalah apapun lagi dalam hidupku."
Bang Ghazzal tersenyum kemudian menepuk bahu sahabatnya. "Lakukan seperti itu, cinta itu ada jika di pupuk dan kamu rawat. Kembali lagi, gunakan ilmu ikhlas dan yakin bahwa tidak ada ta'aruf dengan nama Allah akan berakhir keburukan." Jawab Bang Ghazzal.
...
Bang Alden masuk ke dalam tenda usai menyelesaikan seluruh pekerjaannya, ia melihat sikap Nadilla masih seperti kemarin.
"Nad..!!"
"Ada apa? Nadilla sudah tidur." Jawab Nadilla ketus.
"Apa kamu mau kalau kita menginap di hotel? Setidaknya sampai rumah dinas jadi."
"Mas Al banyak uang? Kalau Nadilla pengen hotel yang mahal, apa Mas Al sanggup??" Tanya Nadilla seperti meledek Bang Alden.
"Memangnya kamu mau di hotel mana?"
"Hotel Permata. Itu hotel paling mahal disini. Nadilla ingin kamar yang paling bagus." Kata Nadilla dengan sengaja. Ia memang sedang mencari bahan keributan agar Bang Alden malas dan segera menceraikan dirinya.
"Oke, bereskan pakaianmu sekarang..!!"
Bola mata Nadilla membulat besar, hatinya bertanya-tanya apakah benar seorang tentara mampu membayar harga kamar yang mungkin saja akan menguras kantongnya.
...
"Selamat malam Pak Alden..!! Selamat malam ibu." Sapa petugas hotel. Mereka menunduk memberi salam saat Bang Alden memasuki area hotel.
"Ya, selamat malam. Kamar saya sudah sesuai request??" Tanya Bang Alden.
"Sudah pak, mari kami antar..!!"
Nadilla pun mengikuti langkah Bang Alden sambil menggendong baby Rhaken yang mulai tenang karena suasana ruangan adalah tempat ternyaman untuk bayi kecil itu.
"Silakan Pak Alden. Kamar ini adalah kamar yang sesuai dengan request Pak Alden..!!" Kata seorang petugas hotel tersebut.
"Oke, terima kasih ya..!! Selamat bekerja kembali..!!"
"Sama-sama Pak Alden."
Nadilla masuk ke dalam kamar dan melihat keadaan di dalamnya. Ternyata disana sudah bertaburan bunga mawar yang indah, kelopaknya menghiasi satu ruangan, belum lagi masih banyak bunga lainnya hingga kamar tersebut beraroma wangi dan segar.
"Kamu suka?" Tanya Bang Alden.
"Biasa saja." Jawab Nadilla tidak ingin menunjukan rasa sukanya dengan kamar tersebut.
"Begitu ya.. Saya kira kamu akan menyukainya. Ini hadiah untukmu, hadiah pernikahan kita..!!" Sebisa mungkin Bang Alden mencoba membujuk Nadilla yang masih keras hati tidak ingin menikah dengannya.
"Simpan saja hadiah itu, Nadilla nggak suka."
"Lalu apa yang kamu suka??" Bang Alden masih melembutkan suaranya di hadapan Nadilla.
"Nadilla mau selingkuh sampai buat Mas Al malu." Kata Nadilla tanpa rasa takut sedikitpun.
Jemari Bang Alden mengepal kuat tapi ia berusaha mengendalikan diri. "Cepat tidur, ini sudah malam." Ucapnya masih dengan nada yang lembut.
Nadilla pun kesal, ia mencari sisi kemarahan Bang Alden agar bisa memiliki bukti bahan perceraian dengan pria tersebut namun ternyata Bang Alden tidak marah padanya. Nadilla menghentakkan kakinya lalu segera menuju tempat tidur dan segera by menidurkan si kecil Rhaken.
.
.
.
.
sue looo