Pertemuannya dengan seorang gadis bernama Kanaya, membuat Ray bersumpah akan membuat gadis itu menyesal karena telah mengganggunya.
Namun ternyata sumpah itu berbalik padanya, dan membuat dunianya berubah. Bagaimana kisah mereka berlanjut?
Kisah ini bukan hanya sekedar tentang cinta, kalian akan menemukan badai yang besar di setiap kisahnya.
Maka siapkan hati untuk menerima setiap sentuhan yang Ray berikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Single elit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 25
Raka menghela napas panjang, setelah Ray mengembalikan tab miliknya. Manik hitamnya melirik ke arah gadis yang menatapnya dalam diam. Raka sengaja tidak menceritakan semuanya pada Ray, Raka tidak ingin Ray salah paham mengenai hubungannya dengan Kanaya. Meskipun tidak di pungkiri jika Raka merasa sesak di dadanya, entah kenapa rasanya begitu sakit mengetahui jika Kanaya dekat dengan pria lain.
Hening seketika setelah Raka selesai bercerita, hingga pria bertubuh tinggi itu bangkit dari posisinya untuk pergi meninggalkan ruangan itu.
" Mau kemana kak? "
Suara lembut itu mengehentikan langkah Raka, hingga membuat pria tampan itu menoleh ke arah pemilik suara tersebut. Jika saja bukan karena merasa tidak enak karena ada Ray yang saat ini berada di ruangan itu, mungkin Raka akan mendekati Kanaya. Tapi, lupakan! kini dirinya hanya bisa terdiam di tempat dan mengucapkannya dari kejauhan.
" Aku pulang dulu, cepet sembuh ya "
Ucap Raka dengan tersenyum samar lalu melangkah keluar ruangan itu setelah menepuk pelan bahu Ray. Kanaya hanya mengangguk lemah, saat ini perasaan Kanaya tidak menentu menatap punggung Raka yang mulai menghilang di balik pintu.
" Coba gue yang lebih dulu kenal sama Kanaya,,udah gue gebet tuh "
Celetuk Edo sembari menopang dagu dengan kedua tangannya, seketika itu juga Ray langsung memberi tatapan tajam pada sahabatnya itu. Mungkin jika di film super hero tatapan itu mengeluarkan sinar laser yang dapat membunuh lawannya seketika.
" Weeyy, biasa aja boss liatnya, canda gue "
Ray memukul kepala Edo dengan bantal sofa yang ada di dekatnya, dan hal itu sontak membuat Kanaya terkekeh geli karena ulah Ray dan Edo. Perdebatan Ray dan Edo yang selalu membuat Kanaya terhibur sejak dirinya menginjakan kakinya di rumah Ray.
" Lagian Kanaya mana mau sama Lo "
Ray tersenyum miring sembari menatap mata teduh Kanaya yang sedang menatap kearahnya seakan meminta persetujuan untuk membenarkan perkataannya.
" Aku mau "
Jawaban singkat Kanaya membuat Ray melongo, hingga membuat Edo tertawa dan bersorak menang, karena kali ini ia bisa mengalahkan Ray, sahabatnya itu yang terlalu sempurna. Sementara Ray hanya bisa mengusap wajahnya kasar.
" Aku mau...bangunin Edo dari alam mimpi biar gak kelamaan halusinasinya "
Kanaya terkekeh geli setelah mengucapkan kata-kata itu, namun Edo yang saat itu sedang bersorak langsung mengehentikan tawanya seketika dan meragakan gerakan pingsan dengan menjatuhkan dirinya ke arah sofa karena menahan rasa malunya.
" Mandi sono biar sadar "
" Njirrr, sialan lo! "
Edo melempar bantal sofa yang tadi ia pakai untuk menutup wajahnya ke punggung Ray yang sedang berjalan ke arah Kanaya. Sedangkan Edo lebih baik memilih keluar dari ruangan itu daripada ia hanya bisa gigit jari melihat kemesraan Ray dan Kanaya.
Ray menatap mata teduh Kanaya yang selalu membuatnya hanyut, tangannya bergerak menyentuh jemari halus Kanaya lalu mengecupnya pelan. Saat ini Ray merasa tenang setelah melihat Kanaya dalam ke adaan baik baik saja.
" Kamu kenapa sih liatin aku kaya gitu ? "
Kanaya merasa aneh mendapat tatapan intens dari Ray yang saat ini ada di depannya dengan jarak dekat. Detak jantungnya berdegup tidak beraturan. Kanaya mengingat kembali tatapan mata itu, di saat Ray menc*umnya sore itu. C*uman yang berubah menjadi ******n. Ingatan itu sontak membuat pipinya memerah.
" Pipi Lo merah. "
Melihat rona merah di pipi Kanaya membuat Ray menarik bibirnya untuk tersenyum. Wajah itu yang selalu mengusik fikirannya, bahkan senyuman di bibir itu yang kini membuatnya candu. Entah kenapa Ray yang dulu selalu benci berdekatan dengan wanita manapun, itu tidak berlaku pada gadis yang ada di depannya ini. Bahkan gadis itu seakan menariknya untuk masuk lebih dalam.
" Ish...Makanya jangan liatin aku terus "
" Yaudah, gue keluar sebentar, buat mandi sama ganti baju. Lo istirahat aja "
Saat ini wajah Kanaya makin merah seperti udang rebus setelah Ray mengecup pelan keningnya. Kanaya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Lebih baik ia tidur karena saat ini jantungnya semakin berdebar, sepertinya kejadian malam itu membuat jantungnya bermasalah.
Setelah menutup pintu ruang rawat Kanaya Ray bergegas turun ke lanatai bawah untuk mencari toko pakaian, ia harus mengganti pakaiannya dan membersihkan dirinya. Sejak kemarin ia terlalu khawatir dengan keadaan Kanaya hingga ia tidak sempat untuk melakukan kegiatan itu.
Langkahnya terhenti ketika melewati ruangan ayrin, Ray melihat dari balik kaca yang ada di pintu itu. Ayrin yang terbaring di atas ranjang sedang menatap nanar pada ponselnya. kemudian, Ray membuka pintu itu perlahan dan berjalan masuk.
" Ray "
Ayrin mengucap nama itu setelah melihat sosok pria tampan yang Selama ini ia puja berada di depannya. Ayrin tersenyum menyambut Ray yang berjalan mendekat ke arahnya.
" Gimana ke adaan Lo? "
Ray berdiri di samping rajng Ayrin, menatap gadis itu dengan wajah datarnya. Bagi Ray tidak perlu bersikap berpura pura baik jika hanya memberi harapan palsu dan akan menyakiti orang itu di kemudian hari.
" Lumayan agak baikan, cuma masih sakit sedikit kalo banyak gerak "
" Orang tua Lo belum tau? "
Lihat! Padahal saat ini Ayrin sedang menjelaskan perihal keluhannya pada Ray. Tapi, pria itu malah menanyakan hal lain yang tidak bersangkutan dengan keluhannya. Hal itu bukan yang pertama bagi Ayrin, hingga ia hanya bisa menghela napas kasar jika menghadapi pria yang kini sedang menatapnya tajam.
" Ga bisa di hubungi "
Ayrin mengigit bibir bawahnya menahan Isak tangis yang hampir lolos meminta keluar. Namun, bulir bening itu menjalankan perannya dengan baik, sudut matanya kini berair mengingat kesibukan kedua orang tuanya yang tidak pernah memperdulikan bagaimana keadaan Ayrin saat ini.
Ray mengusap bulir bening dari pipi Ayrin, bukan ia tidak mengetahui tentang kehidupan gadis itu, bahkan Ray pernah mendengar jika orang tuanya tidak datang saat Ayrin menjalani operasi usus buntu ketika Ayrin berumur 12 tahun karena orang tuanya sedang berada di luar negri menjalankan bisnis barunya.
Edo kembali menutup pintu itu perlahan ketika mengetahui Ray berada di dalam ruangan itu. Edo tidak ingin membuat suasana di ruangan itu menjadi berantakan.
🍁🍁🍁
Sementara Raka menatap nanar jalanan puncak yang menurun berliku, sepanjang perjalanan pulang dirinya hanya bisa menghela napas pelan, bahkan suasana puncak yang ramai saat itu tidak terlihat oleh-nya. Raganya memang disana tapi fikirannya entah berada dimana. Hingga tidak terasa dua jam berlalu sampai mobil putihnya memasuki pelataran rumah bergaya Eropa itu.
Raka memarkirkan mobilnya di halaman depan, lalu melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah berdominasi warna putih itu. Baru saja kaki panjangnya memasuki ruang tengah, Martin sudah menunggunya dengan menampilkan wajah datarnya.
Raka sudah mengira ini pasti akan terjadi, karena Martin bukan seorang yang tidak menghargai waktu. " Maaf ayah " Hanya itu yang bisa Raka ucapkan sebelum Martin murka padanya.
" Mana Ray? "
Raka berjalan mendekat ke arah Martin, Raka tau ayahnya pasti sudah mendapat kabar tentang insiden yang Ray alami. Raka berharap ayahnya tidak melakukan hal yang lebih parah dari sebelumnya. Atau mungkin ini menyangkut Kanaya? Karena ayahnya tau Kanaya hanya gadis biasa? Segala pertanyaan berputar di kepalanya.
" Ayah mau mengenalkan Ray dengan anak dari teman mama kamu "
🍁🍁🍁
kenapa gak di jodohin sama Raka aja 🤔
kasian kan dia jomblo kaya aku 😂
jangan lupa tinggalin jejaknya , like, komen ,vote.
makasih yang udah mampir di kisah receh ku😂
Sampai jumpa di next chapter 😉