𝐀𝐥𝐮𝐧𝐚 𝐂𝐚𝐥𝐢𝐬𝐭𝐚 nyaris mati tenggelam dan saat matanya terbuka, ia mulai menyadari jika dunianya yang sekarang hanyalah dunia novel fiksi. Ia terbangun sebagai karakter figuran dalam sebuah novel 𝚝𝚑𝚛𝚒𝚕𝚕𝚎𝚛-𝚛𝚘𝚖𝚊𝚗𝚌𝚎 yang pernah ia bacanya. Sialnya lagi, Aluna bukan siapa-siapa hanya pemeran kecil yang dikenal sebagai biang kerusuhan. Tapi apa jadinya saat ia mulai menyadari, ulah kecilnya mengacaukan alur cerita?
Dalam usahanya untuk memperbaiki kesalahan dan bertahan hidup di dunia yang bukan miliknya, Aluna justru menarik perhatian empat karakter pria berbahaya. 𝐆𝐚𝐯𝐢𝐧𝐨, si obsesif yang tak bisa membedakan cinta dan obsesi. 𝐊𝐚𝐢, si manipulatif yang pandai bermain peran. 𝐉𝐚𝐲𝐝𝐞𝐧, si red flag yang sulit ditebak-beracun tapi memikat. Dan 𝐒𝐞𝐛𝐚𝐬𝐭𝐢𝐚𝐧, ketua geng motor yang haus kendali. Dunia novel mulai runtuh. Alur cerita berubah liar. Aluna jadi buruan. Kini, hanya ada dua pilihan: kabur atau menghadapi mereka satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhanvi Hrieya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24| Salting
Ada banyak piring makanan yang dihidangkan di atas meja, denting musik piano yang mengalun menemani para pengunjung restoran. Gemerlap pencahayaan di bawah sana memanjakan sejauh mata memandang, keduanya masih memakai seragam sekolah. Aroma makanan di atas meja menggugah selera makan Aluna, berbanding terbalik dengan Jayden yang tampak mengerutkan alis matanya.
"Lo yakin mampu ngehabisin seluruh makanan di atas meja?" tanya Jayden, jari telunjuknya menggaruk alis matanya.
Aluna menoleh ke depan, cengengesan. "Hehe..., lo tenang aja. Semuanya bakalan gue sapu bersih tanpa sisa. Lo harus percaya dengan perut gue yang mampu menampung semua makanan lezat," jawab Aluna tanpa malu mengusap perut datarnya.
Jayden tak yakin dengan kemampuan Aluna, atensinya seakan memindai gadis di depannya. Tubuhnya tidak gemuk, apalagi terakhir kali mereka makan bersama di mansion keluarganya. Aluna makan sedikit, Aluna meraih piring spaghetti bolognese lebih dahulu.
Jayden tidak mengangkat garpu dan pisau di tangannya, matanya memantau Aluna di depan mata. Ia tertegun untuk beberapa saat, melihat bagaimana bibir merah Aluna yang terbuka lebar-lebar seperti lubang hitam yang siap menelan dunia. Kecepatan tangan dan kunyahan mulut seakan dikejar waktu, tidak butuh lama untuk berpindah piring. Tiga piring makanan berbeda telah kosong, merasa tidak ada pergerakan di depannya. Aluna mendongak, ia meringis disertai senyum malu.
"Kenapa? Apa steik-nya nggak enak?" tanya Aluna melirik Jayden kemudian beralih pada piring di depan Jayden.
Kepala Jayden menggeleng sekilas, "Bukannya itu. Gue cukup kaget aja liat lo makan. Apa makanan di rumah gue nggak enak?"
Kini giliran Jayden yang bertanya, Aluna terkekeh kecil. "Gue nggak mungkin makan sebanyak ini di rumah lo, yang ada Bokap sama Nyokap lo malah ilfil liat gue ngahabisin makan di atas meja. Gue masih harus jaga image di depan calon mertua gue 'kan?" Aluna mengedipkan sebelah matanya ke arah Jayden tanpa rasa malu.
Jayden menggeleng tak berdaya, Aluna kembali makan dengan lahap. Ia memilih meraih tisu di atas meja, tangannya terulur mengusap sudut bibir Aluna. Gumaman tak jelas di sela kunyahan Aluna, Jayden mendesah kecil. Jayden lebih memilih menikmati cara Aluna menyantap makanan, meneguk air liur di kerongkongan.
"Hei! Kebetulan banget ya kita ketemu di sini!" seruan yang tiba-tiba saja menghentikan kegiatan Aluna.
Dua sosok yang mampu membuat Aluna mendadak kehilangan selera makannya, Jayden mengerutkan dahinya. Bukan hal aneh lagi bagi Jayden mendapati Zea dan Gavino di restoran bintang lima, hanya saja ia tak sangka akan bertemu di malam ini.
"Gimana kita gabung aja di meja Jayden dan Aluna. Kalian nggak berkeberatan 'kan?" Zea kembali bersuara, tangannya menggenggam tangan Gavino.
Manik mata hazel Gavino melirik Zea di sampingnya, kerutan di dahinya terlihat. Atensinya berpindah ke arah Jayden, bergilir ke arah Aluna yang duduk kaku.
"Hm," gumam Gavino mengangguk menyetujui.
Zea semringah, ia langsung melepaskan tangan Gavino duduk di kursi kosong di samping Aluna. Jayden diam-diam mengeluh dengan tingkah Zea yang menyebalkan, terlalu malas berdebat dengan Gavino.
"Wah, kalian udah makan banyak ya," kata Zea heboh sendiri.
Aluna nyaris memutar malas kedua bola matanya, ada rasa jijik di kedua manik mata Aluna. Namun, masih memaksakan senyum menanggapi Zea, hanya karena tak ingin menyingung pria yang kini duduk di samping Jayden.
"Mas!" Zea mengangkat tangannya ke atas memanggil pramusaji yang melewati meja mereka.
'Sial banget gue, kenapa harus ketemu duo ngeselin ini. Tapi dia ini..., Gavia—ah bukan,.dia Gavino.' Aluna memicingkan kedua matanya memperhatikan iris mata Gavino.
...***...
"Kayaknya lo beralih sekarang huh?" cemooh Zea saat memasuki toilet umum wanita.
Aluna membilas tangannya, berdecak sebal. Si tokoh protagonis wanita satu ini suka sekali berpura-pura, begitu berisik untuk mengusiknya.
"Keknya ini bukan urusan lo deh," tukas Aluna tak senang.
Zea menyeringai, "Yeah..., bukan sih. Tapi entah kenapa gue ngerasa lo kek batu sandungan di kaki gue."
Aluna melipat kedua tangannya di bawah dada, dagunya terangkat angkuh. Apakah Zea pikir jika ia hanyalah gadis remaja ingusan yang picik dan bodoh, mudah untuk ditindas dengan kata-kata menyebalkan dari Zea. Hingga membuat ia menjadi rendah diri, kedua bola matanya berotasi malas.
"Sabar juga ada batasnya Zea, gue nggak bakalan ngerasa kerdil cuman karena omongan lo," sahut Aluna tegas, "jangan sampek gue ngelawan lo, gue bisa ngehancurin hidup lo. Lo bakalan tau apa itu kata 'mengusik' dan 'hancur' sesungguhnya. So, jaga lidah lo baik-baik biar nggak lepas dari mulut lo."
Zea terkekeh mencemooh, apa yang bisa dilakukan oleh Aluna. Ia punya Gavino di sisinya, pria yang begitu protektif padanya. Orang tuanya saja dilawan, apalagi Aluna yang tidak punya kekuatan apapun. Walaupun Aluna mendapatkan Sebastian, Kai, dan Jayden sekali pun. Selama Gavino berada di pihaknya, Aluna tak akan bisa menyakiti seujung kuku.
Aluna mengayunkan kedua tungkai kakinya, mengikis jarak di antara ia dan Zea. Dorongan pada bahu Zea membuat punggung gadis yang tak siap itu membentur dinding, Zea melotot garang.
"Ouch..., takut banget gue," kata Zea memasang ekspresi berpura-pura ketakutan, mencemooh Aluna.
Kedua bola mata Aluna berputar malas, "Lo boleh ketawa mencemooh gue hari ini, Zea. Kita bakalan liat siapa yang ketawa terakhir. Lo mungkin ngira kalo keberadaan Gavino di sisi lo ngejamin lo aman. Well, terusin pikiran licik lo. Pasang topeng lemah lo rapat-rapat, Gavino nggak ada apa-apa saat Gavi—ah lupain ajalah. Ngapain juga gue kasih spoiler ke lo, nggak guna banget."
Aluna kembali membalikkan tubuhnya melanjutkan langkah kakinya keluar dari toilet umum wanita, meninggalkan Zea dengan kerutan halus di dahinya.
...***...
Cara balikin mood cewek.
Jari jemari panjang Jayden bergerak cepat, layar ponsel menampilkan beberapa cara yang bisa ditiru. Ada beberapa tips tersedia, Jayden menggaruk alis matanya.
"Tadi udah makan, masa kasih makan lagi. Nggak yang ini nggak dibutuhin," gumam Jayden menggelengkan kepalanya.
Jari jemarinya menggeser layar ke atas, cara kedua 'melawak' kembali membuat kepala Jayden menggeleng menolaknya. Jayden mendesah kasar, ia melirik ke arah mini market. Aluna tampak masih memilih beberapa barang yang ia butuhkan, pulang dari makan malam tampaknya perubahan emosi Aluna terasa jelas oleh Jayden. Ia bukan Kai yang paham cara membuat gadis sebaya dengannya itu kembali ceria akan tetapi ia bersedia mencoba.
"Apa gue hubungin si Kai aja?" tanyanya pada diri sendiri.
Kerutan halus di dahinya terlihat, smartphone ditempelkan ke daun telinganya ketika sambungan telepon terhubung dan diangkat.
"Hm, kenapa?" sahutan malas dengan pertanyaan langsung terdengar ketika Kai mengangkat teleponnya di seberang sana.
Jayden mendesah, "Kalo cewek mendadak bad mood gimana caranya bikin moodnya bagus lagi?"
Hening untuk beberapa detik, sebelum suara serak basah kembali terdengar.
"Tergantung ceweknya sih, kalo ceweknya doyan makan mungkin bisa kasih coklat or makanan dan minuman yang dia suka. Kalo ceweknya tipe perasa atau romantis lo bisa kasih buket bunga. Kalo ceweknya lebih peka lo bisa kayak sentuhan ringan elus atau pelukan. Tapi kalo mau cari aman bisa kasih buket duit, atau barang branded," papar Kai panjang lebar, "wait! Ini kita lagi ngomongin siapa? Jangan-jangan ini Aluna?"
Kepala Jayden mengangguk-angguk kecil menyimak perkataan Kai dengan saksama, mengerucutkan bibirnya.
"Thanks, Kai!" seru Jayden menutup telepon tanpa pamit, dapat dipastikan pria di seberang sana memaki kesal Jayden.
Sayangnya Jayden sama sekali tidak peduli dengan kemarahan Kai yang dibuang ketika tak lagi dibutuhkan, Aluna terlihat keluar dari mini market membawa kantong kresek menuju mobil. Pintu mobil terbuka, Jayden mengulurkan tangannya menerima barang belanjaan Aluna. Aluna tersenyum tipis, memasuki mobil menutup kembali pintu mobil.
"Nih, gue jajan banyak nggak apa-apa 'kan?" Aluna mengulurkan kartu hitam ke arah Jayden.
"Pegang aja, gue ada dua," sahut Jayden menolak.
Aluna mengulum senyum, "Lo nggak takut nih kartu lo, gue gunain sesuka gue, hm?"
Jayden berdehem dan menggeleng. "Kuras aja kalo lo mau, gue nggak takut sama sekali."
Oke, Aluna menjerit tertahan mencondongkan tubuhnya ke samping mengecup pipi Jayden. Darah Jayden berdesir, tindakan spontan yang sialnya membuat jantungnya berdetak kencang. Anehnya gadis di samping kemudi itu sama sekali tidak tersipu dengan tindakan tiba-tibanya, ia mengambil alih belanjaannya dari tangan Jayden yang membeku. Mulai merogoh kantong kresek belanjaannya. Kekesalannya menghilang dalam beberapa menit, hanya karena berbelanja.
"Mau buka yang mana dulu ya?" gumam Aluna melirik belanjaannya, "nah yang ini dulu deh."
Aluna membuka es cream coklat, memasukan ke mulutnya. Matanya memicing dengan kepala bergoyang-goyang bahagia, ia melongok ke samping disela kegiatannya. Jayden duduk kaku, dengan wajah merah padam.
'Dia kenapa? Kepanasankah?' Aluna menyodorkan es cream ke bibir Jayden. "Ini enak. Coba deh," tutur Aluna semringah.
Jayden mengerjap, manik matanya bergerak ke bibirnya yang terasa dingin. Bekas mulut Aluna, jakunnya naik-turun.