Kerajaan Risvela dipimpin oleh Raja Ryvons dengan dua pewaris: Seyron yang tampak sempurna, dan Reyd yang dulu dianggap bermasalah. Setelah kembali dari Academy Magica bersama Lein, Reyd berubah menjadi sosok yang lebih dewasa dan peduli.
Namun di balik citra baiknya, Seyron menyimpan sisi dingin yang berbahaya. Menyadari hal itu, Reyd bertekad merebut takhta demi melindungi kerajaan, meski peluangnya kecil.
Di tengah konflik keluarga, kekuasaan, dan kebenaran—Reyd memilih melawan takdirnya sendiri untuk menjadi pemimpin yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar dan Waspada
Di salah satu tribun—keributan kecil mulai muncul.
“Aku mau ke sana. Titik, tidak pakai koma.”
Nessa berdiri. Tatapannya lurus ke arah arena, ke arah Reyd yang sudah mulai menjauh bersama Lein.
Namun—tap.
Sebuah tangan kasar menahan pundaknya.
“Tidak boleh.”
Jawabannya singkat.
Nessa langsung menoleh dengan kesal.
“Apa lagi sekarang?”
Kegiant tidak langsung melepas. Tatapannya serius. Tidak seperti biasanya.
“Mereka sedang bicara.”
Ia mengangguk ke arah Reyd dan Lein.
“Sepertinya itu terlihat penting.”
Nessa menyipitkan mata.
“Sejak kapan kamu peduli dengan hal seperti itu?”
Kegiant terdiam sejenak. Seolah mencari jawaban.
“Sejak kita bersama sampai dipisahkan oleh panggilan alam.”
Jawabnya akhirnya. Canggung. Jujur. Dan agak aneh.
Nessa mendengus.
“Minggir. Gombalanmu seperti orang nolep takut kepergok tamu.”
Ia mencoba melangkah. Namun—Kegiant ikut bergeser. Masih menghalangi.
“Aku bilang tidak, ya tidak.”
Nessa menatapnya tajam.
“Kalau aku tetap pergi?”
Kegiant mengangkat bahu.
“Ya, aku ikut juga.”
“Untuk apa?”
“Untuk menghalangi kau dari pria lain.”
Sunyi.
Beberapa detik—Nessa hanya menatapnya. Lalu menghela napas panjang.
“Kamu ini benar-benar menyebalkan.”
Kegiant menyeringai kecil.
“Aku sering mendengar itu.”
Nessa memalingkan wajah. Namun matanya masih melirik ke arah Reyd.
“Aku hanya ingin bicara saja kok.”
Suaranya lebih pelan sekarang. Tidak sekeras tadi.
Kegiant memperhatikannya. Lalu—ia menggaruk kepalanya. Seolah berpikir keras.
“Kalau begitu… nanti saja.”
Nessa mengangkat alis.
“Kenapa harus nanti?”
Kegiant mencondongkan badan sedikit. Berusaha terlihat serius. Walau hasilnya tidak terlalu meyakinkan.
“Karena kalau kau ganggu sekarang…”
Ia menunjuk ke arah Lein.
“Si bodoh itu akan marah.”
Nessa mendengus kecil.
“Lalu?”
Kegiant menyeringai.
“Kalau dia marah…”
Ia berhenti sejenak.
“Aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi. Mungkin saja kau akan dilempar ke awan dengan anginnya.”
Sunyi.
Lalu—Nessa tanpa sadar tersenyum tipis.
“Itu bukan alasan yang bagus. Kata-katamu rendah sekali.”
Kegiant mengangkat bahu lagi.
“Ya, aku tidak pandai soal ini.”
Ia melipat tangan. Namun tetap berdiri di depannya, seperti tembok besar yang menjulang.
“Yang penting—kau tetap di sini.”
Nessa menatapnya lama. Ia menghela napas lagi.
“Baiklah.”
Akhirnya ia duduk kembali. Walau jelas—tidak sepenuhnya rela.
Kegiant tersenyum kecil.
“Keputusan bagus, Nona keras kepala.”
Nessa meliriknya.
“Jangan senang dulu, ya. Aku hanya menunggu waktu yang tepat saja.”
Kegiant tertawa pelan.
“Ya, ya.”
Namun—ia tidak bergerak. Masih di sana. Masih berjaga. Dengan caranya sendiri. Kasar. Canggung. Namun—cukup berarti.
---
Arena perlahan kosong. Perintah raja telah diberikan.
“Bubar.”
Singkat. Tegas. Cukup untuk mengakhiri semuanya.
Para penonton mulai meninggalkan tribun. Suara langkah kaki, bisikan, dan sisa ketegangan perlahan memudar.
Namun—bagi beberapa orang—hari ini belum selesai.
Di salah satu ruangan istana—Reyd duduk bersandar. Lukanya tidak parah, namun cukup untuk membuat tubuhnya lemah.
Lein berada di depannya. Tangannya bergerak hati-hati. Mengobati luka Reyd dengan sihir ringan. Angin kecil berwarna hijau berputar pelan di sekitarnya. Tenang. Berbeda jauh dari badai sebelumnya.
“Kamu terlalu berlebihan.”
Ucap Lein dingin. Namun nadanya tidak setajam biasanya.
Reyd tersenyum tipis.
“Kalau tidak begitu, aku sudah pasti kalah.”
Lein tidak menjawab. Tangannya tetap bekerja. Namun—gerakannya sedikit lebih kuat dari yang diperlukan.
Reyd meringis kecil.
“Pelan sedikit, dong.”
“Diam. Jangan banyak protes.”
Jawab Lein.
Tok. Tok.
Suara pintu terdengar. Lein tidak menoleh.
“Masuk.”
Pintu terbuka. Dua orang masuk. Vaks dan Felixa. Tatapan mereka langsung tertuju pada Reyd. Memastikan kondisinya.
“Kau masih hidup rupanya.”
Ucap Vaks.
Reyd mengangkat alis.
“Apa kalian kecewa?”
Felixa mendengus pelan.
“Sedikit, karena Tuan Reyd pamer sihir.”
Namun matanya tetap serius. Ia melangkah mendekat.
“Kita perlu bicara serius.”
Lein berhenti sejenak. Tangannya masih di bahu Reyd.
“Apa sekarang?”
Felixa mengangguk.
“Ini penting.”
Sunyi sejenak. Lalu—Lein menarik tangannya. Sihirnya perlahan menghilang.
“Bicara saja.”
Vaks melipat tangan. Wajahnya kini tidak santai lagi.
“Kami menguping percakapan tadi malam.”
Reyd sedikit mengernyit.
“Percakapan siapa?”
Felixa menjawab langsung.
“Iselle.”
Ruangan menjadi lebih sunyi.
Lein menatap mereka.
“…Lanjutkan.”
Vaks menarik napas.
“Dia berbicara dengan seseorang. Melalui sihir komunikasi.”
Reyd menatap lurus.
“Apa isi percakapannya?”
Felixa menyilangkan tangan.
“Kerajaan Bervala.”
Ia berhenti sejenak. Memastikan mereka mendengar dengan jelas.
“Sudah tidak dipimpin oleh raja sebelumnya.”
Lein sedikit menyipitkan mata.
“Lalu siapa raja sekarang?”
Vaks menjawab pelan.
“Pamannya.”
Sunyi.
Reyd terdiam.
Felixa melanjutkan.
“Pengambilalihan kekuasaan. Sepertinya tidak sepenuhnya damai.”
Lein menunduk sedikit.
“Mungkin akan ada pemberontakan internal.”
Vaks mengangguk.
“Itu belum selesai.”
Reyd akhirnya berbicara.
“Apa tujuannya?”
Felixa menatapnya.
“Kerajaan Risvela.”
Satu kata. Namun cukup berat.
“Mereka ingin memberontak.”
Ruangan terasa lebih dingin. Angin kecil di dalam ruangan berhenti. Seolah ikut mendengar.
Reyd menghela napas pelan.
“Jadi itu sebabnya dia di sini.”
Lein langsung menatapnya.
“Jangan bilang kamu percaya padanya.”
Reyd menggeleng.
“Tidak juga.”
Namun—ia tidak melanjutkan. Seolah masih memikirkan sesuatu.
Vaks melirik Lein.
“Masih ada lagi.”
Lein mengangkat alis sedikit.
Felixa yang melanjutkan.
“Dia sengaja membiarkan kita mendengar.”
Sunyi.
Reyd dan Lein sama-sama terdiam.
“Apa?”
Bisik Lein pelan.
Vaks mengangguk.
“Dia sadar kami ada di sana.”
Felixa menatap tajam.
“Dan dia tetap berbicara seperti itu.”
Reyd menyandarkan kepalanya ke dinding. Matanya menatap kosong ke depan.
“Berarti…”
Ia tersenyum tipis. Namun bukan senyum santai.
“Kita sedang diajak taruhan.”
Lein mengepalkan tangannya.
“Dia sepertinya berbahaya.”
Nada suaranya rendah.
Felixa mengangguk.
“Lebih dari yang terlihat.”
Vaks menambahkan.
“Dia sekarang dekat dengan kita.”
Sunyi.
Beberapa detik berlalu. Tidak ada yang berbicara.
Hanya satu hal yang pasti—situasi berubah.
Reyd menutup matanya sejenak. Lalu membukanya kembali. Tatapannya kini lebih tenang.
“Biarkan saja.”
Lein langsung menoleh.
“Apa maksudmu, Reyd?”
Reyd menatap ke depan.
“Kalau dia ingin mendekat…”
Ia berhenti sejenak.
“Aku akan melihat sendiri.”
Lein menyipitkan mata.
“Bagaimana kalau itu jebakan?”
Reyd tersenyum tipis. Angin berhembus pelan di sekitarnya.
“Kalau itu jebakan…”
Matanya tajam.
“Aku yang akan menghancurkannya.”
Di luar ruangan, angin malam mulai berhembus.
soalnya jauh bnget beda tulisannya sama novel² yg sebelumnya?
what happen?