Satu malam karena pengaruh alkohol, Arkananta Mahendra merenggut segalanya dari Zevanya, seorang pelayan hotel yang tak berdaya. Arkan pergi tanpa tahu wajah wanita itu, meninggalkan Zevanya dengan janin yang tumbuh di rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah awal Zevanya
Sementara itu, di koridor rumah sakit,
Zevanya akhirnya diperbolehkan pulang oleh suster setelah kondisinya dinyatakan stabil pasca melahirkan darurat di dalam mobil.
Dengan penuh kehati-hatian, Pak RT dan Bu Sumi yang setia mendampingi sejak malam itu,
mengantarkan Zevanya kembali ke kontrakannya.
Sesampainya di depan pintu,
Zevanya menoleh ke arah mereka dengan mata berkaca-kaca.
"Pak RT, Bu Sumi... terima kasih banyak sudah membantuku.
Jika malam itu tidak ada kalian, aku tidak tahu bagaimana nasibku dan anak ini di pinggir jalan,"
ucap Zevanya tulus, suaranya bergetar menahan haru.
Bu Sumi mengusap bahu Zevanya dengan lembut.
"Sama-sama, Mbak Zevanya. Sudah kewajiban sesama manusia untuk menolong. Jaga diri baik-baik ya, jangan terlalu lelah dulu. Kalau begitu, kami pamit dulu."
Zevanya mengangguk, Dan masuk ke dalam rumahnya yang sunyi.
Ia duduk di tepi ranjang, perlahan meletakkan Arsen Adistra di atas kasur.
Bayi mungil itu menggeliat pelan, seolah merasakan kegelisahan ibunya.
Zevanya menghela napas panjang, menatap sekeliling ruangan yang selama ini menjadi saksi perjuangannya.
"Aku tidak bisa terus di sini," batin zevanya."
Zevanya mulai menyusun rencana di dalam kepalanya.
Ia ingin mencari sebuah rumah yang sudah menyatu dengan kios.
Ia bertekad untuk membuka usaha kuliner cafe kecil kecilan.
Baginya, itu adalah satu-satunya cara agar ia bisa tetap mencari nafkah,
sekaligus mengawasi pertumbuhan Arsen setiap detik tanpa harus bekerja pada orang lain.
"Aku harus segera mengirimkan surat pengunduran diri kepada Pak Danu," gumam Zevanya pelan.
Zevanya mengambil sebuah kertas dan pulpen di mejanya dengan ragu sejenak,
sebelum akhirnya memantapkan hati untuk menulis surat pengunduran diri.
Ia tidak bisa datang langsung menemui pak danu,
Karna kondisi fisik nya yang masih belum pulih,
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia menulis dan memasukkan surat itu ke dalam amplop putih.
Sementara itu di sisi kota,
Arkananta Mahendra memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju mal tempat Zevanya bekerja.
Wajahnya tampak tegang,
Arkan kini benar-benar yakin dengan firasatnya.
Pertemuan singkat di mal beberapa bulan lalu membangkitkan kembali ingatan yang ia coba lupakan.
Aroma tubuh Zevanya bukan sekadar kebetulan; itu adalah "tanda" yang sama dengan pelayan cantik yang menghabiskan malam bersamanya di hotel waktu itu.
Baginya, Zevanya adalah pemegang kunci rahasia masa lalunya.
Begitu sampai di mal,
Ia langsung menuju area kasir, tempat di mana ia terakhir kali melihat Zevanya.
Namun, barisan kasir itu tampak berbeda; wajah zevanya tidak ada di sana.
"Di mana Zevanya? maafkan aku jika aku baru mencari mu kesini karna aku perlu waktu untuk meyakinkan firasatku" batin arkan.
Dengan langkah lebar, ia menghampiri salah satu karyawan,
"Di mana ruangan manajer atau HRD di sini? Saya ingin bertemu"
suara Arkan terdengar rendah namun penuh penekanan.
Karyawan itu langsung menunjukkan arah lorong menuju ruangan Pak Danu.
Tanpa mengetuk pintu dengan sabar, Arkan langsung masuk,
membuat Pak Danu yang sedang memeriksa laporan hampir menjatuhkan pena di tangannya.
"Tuan? Ada yang bisa saya bantu?"
tanya Pak Danu,
"Saya ingin bertemu Zevanya. Sekarang juga. Atau setidaknya, berikan saya alamat rumahnya.
Ada urusan yang sangat penting yang harus saya selesaikan dengannya,"
ujar Arkan tanpa basa-basi,
Pak Danu menghela napas, raut wajahnya berubah sedikit canggung.
"Maaf, Tuan. Anda tidak bisa bertemu dengannya sekarang. Zevanya sedang mengambil cuti melahirkan."
Seketika, dunia seolah berhenti berputar bagi Arkan.
matanya membelalak tak percaya.
"Apa? Cuti melahirkan? Maksudmu... dia sudah melahirkan?"
"Pak, saya mohon. Berikan alamatnya sekarang juga! Saya harus segera bertemu dengannya!" desak Arkan,
suaranya naik karena frustrasi.
Pak Danu menggelengkan kepala dengan tegas.
"Mohon maaf sekali, Tuan. Saya tidak memiliki wewenang untuk membagikan alamat pribadi karyawan kepada pihak luar.
Itu melanggar privasi perusahaan. Anda bisa menghubungi Zevanya sendiri jika memang memiliki urusan pribadi."
"Saya tidak punya nomornya! Pak, tolong ini persoalan penting" Arkan nyaris berteriak,
"Sekali lagi maaf, Tuan Saya tetap tidak bisa. Anda bisa menanyakannya langsung nanti jika Zevanya sudah kembali bekerja." ucap Pak Danu menutup pembicaraan.
gas terus sampai mereka bersatu..💪💪💪