Tentang perselingkuhan Hamish dan Thania. Paman dan keponakan. Hamish pria yang kesepian di hubungan rumah tangganya, hadirnya Thania dihidupnya mengubah segalanya lebih berwarna. Dan sejak kejadian mendesak di bawah hujan Hamish dan Thania mulai menjalin cinta terlarang mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanizen_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
Angin laut masih berhembus lembut saat gelas-gelas di meja mereka mulai mengembun. Thania menyeka ujung bibirnya dengan tisu, matanya sesekali menatap langit malam yang mulai bertabur bintang. Di seberang meja, Hamish menatapnya dalam diam, menikmati suasana yang tenang dan hangat saat makan malam.
Namun ketenangan itu tak berlangsung lama.
Dari arah pintu masuk restoran, sesosok pria berjalan masuk dengan langkah mantap. Mengenakan kemeja putih yang digulung hingga siku, jas hitam tergantung di lengannya, dan dasi yang sudah sedikit dilonggarkan, pria itu tampak seperti baru saja keluar dari jamuan bisnis. Matanya menyapu ruangan—dan berhenti tepat saat menemukan sosok Hamish.
"Hamish." Serunya, suaranya dalam dan beraksen tegas, penuh kejutan yang dibuat-buat. "Waww, benar. Ternyata itu kau!"
Hamish menoleh cepat. Wajahnya sedikit menegang ketika mengenali pria itu. "Akash."
Akash, sepupunya, juga sekaligus salah satu direksi perusahaan tempat Hamish bekerja, menghampiri dengan senyum tipis dan sorot mata yang menyelidik. Tatapannya segera beralih ke Thania yang duduk diam di seberang meja, bingung dan kikuk di tengah kehadiran pria asing itu.
"Siapa ini?" Tanya Akash, mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah meja, suaranya nyaris terdengar seperti ejekan bercanda. "Kekasih simpananmu? Masih sangat muda ya. Apa kalian sedang kencan makan malam?"
Thania membeku. Matanya membesar pelan, menatap Akash dengan canggung, lalu pada Hamish yang tampak menahan napas. Hamish langsung berdiri, menarik napas dalam.
"Thania." Katanya pelan, berusaha tenang, "Tunggu sebentar di sini, ya? Aku akan bicara sebentar dengan dia di luar."
"Paman..." Suara Thania nyaris berbisik, ragu dan gelisah.
Namun Hamish mengangguk, tersenyum tipis menenangkan. "Tidak lama. Aku janji."
Thania hanya bisa mengangguk, meskipun kebingungan dan sedikit tegang. Ia memperhatikan Hamish yang berdiri, menatap Akash dengan tatapan dingin sebelum menggiring pria itu menjauh dari area duduk mereka, keluar ke bagian luar restoran.
Dari kejauhan, Thania melihat punggung Hamish yang tegang, dan tubuh Akash yang santai namun jelas memancing masalah. Thania menunduk. Di antara aroma laut dan cahaya lentera, ia tiba-tiba merasa dingin. Suasana hangat tadi perlahan tergantikan oleh ketidakpastian. Kata-kata pria tadi menggema di telinganya: "Kekasih simpanan?" Ia tahu hubungan mereka——hubungan antara dirinya dan Hamish———tidak wajar untuk dipandang orang luar. Tapi mendengarnya diucapkan seperti itu... seolah ia adalah sesuatu yang memalukan dan sangat salah.
...🍒🍒🍒...
Hamish melangkah ke taman kecil di samping restoran, langkahnya cepat dan tajam. Suara musik pelan dari area makan mulai memudar, digantikan dengan deru ombak yang menghantam karang di kejauhan. Lampu taman menyinari sebagian wajahnya yang kini tak lagi tenang. Akash mengikutinya dari belakang, masih dengan senyum sinis yang melekat seperti duri.
Begitu mereka berhenti, Hamish berbalik cepat. Rahangnya mengeras. Matanya menusuk lurus ke arah sepupunya itu.
"Apa maksudmu datang dan bicara seenaknya tadi?" Hamish membuka suara dengan nada dingin. "Kau pikir itu lucu?"
Akash tertawa kecil, menepuk bahu Hamish dengan ringan. "Tenang. Aku hanya bercanda. Tapi, hei... kau dan gadis itu... terlihat intim sekali. Siapa dia?"
"Dia... keponakan Tara." Hamish membalas dengan nada malas.
Ekspresi Akash berubah sesaat. "Keponakan Tara?" Ia menyipitkan mata. "Serius?"
Hamish mendengus, menatap nyalang pada Akash yang tampak santai di situasi yang menegang. "Kenapa kau sangat ingin tahu?"
Akash mengangkat kedua tangannya sedikit, berpura-pura tak bersalah. "Tenanglah. Aku hanya kaget. Tidak pernah sekali, aku melihatmu makan malam romantis dengan gadis semuda itu. Dan jujur saja, ekspresi kalian... sungguh tidak biasa antara paman dan keponakan."
"Jaga mulutmu, Akash." Suara Hamish merendah, bergetar menahan amarah. "Dia bukan untuk kau komentari. Apalagi dengan cara seperti tadi."
"Bukan untuk kukomentari?" Akash menyeringai, lalu mendekat selangkah. "Kau duduk bersamanya di restoran pinggir laut yang begitu romantis, tertawa-tawa, saling menatap seperti sepasang kekasih. Lalu kau harap aku diam?"
Hamish menatap tajam, nafasnya mulai memburu. "Kau tidak tahu apa pun soal aku dan dia."
"Benar." Sela Akash,
"Dan itulah yang membuatku penasaran. Apa benar dia hanya keponakan Tara? Atau kau sedang bermain api, Hamish?" Pria itu menyeringai penuh curiga. Terus berusaha menggali lebih dalam sesuatu yang tersembunyi dari Hamish.
Seketika Hamish mendorong Akash mundur dengan bahu. Bukan pukulan, tapi cukup kuat untuk membuat Akash melangkah mundur setengah meter.
"Jangan uji kesabaranku."
Tawa Akash langsung menghilang. Sorot matanya kini berubah, tajam dan menghitung. Ia berdiri tegak, lalu mendekat sekali lagi.
"Lucu. Kau terlihat gugup. Takut rahasiamu terbongkar?"
Hamish menahan diri sekuat tenaga, tinjunya mengepal di sisi tubuhnya. "Apa kau ke sini untuk urusan kantor atau sengaja cari masalah denganku?"
"Aku ada jamuan makan. Tapi kebetulan—aku melihatmu, dan... yah, kau tahu aku tak pernah bisa diam melihat sesuatu yang menarik," Jawab Akash ringan, tapi nada bicara itu seperti menampar.
Hamish menatapnya dalam-dalam. Lalu berkata, "Kau belum berubah sejak dulu, selalu mencampuri urusan orang lain karena kau terlalu lemah untuk mengurus hidupmu sendiri."
Tatapan Akash menajam. "Setidaknya aku tidak bersikap seolah suci padahal menyembunyikan sesuatu yang bisa menghancurkan keluargamu."
Itu kalimat terakhir yang membuat Hamish mendekat lagi, kali ini berdiri sangat dekat, wajah mereka hanya berjarak sejengkal.
"Jika satu kata dari mulutmu menyentuh telinga Tara... atau Thania... aku bersumpah, Akash, aku akan memastikan kau kehilangan lebih dari sekadar pekerjaan di perusahaan."
Akash mengangkat alis. "Ancaman?"
"Peringatan." Hamish melangkah mundur, nadanya menurun, tapi ketegangan di wajahnya tak luntur. "Jangan menantangku."
Mereka saling tatap untuk beberapa detik, sebelum akhirnya Akash tersenyum miring dan menepuk bahu Hamish sekali.
"Baiklah. Aku pamit, sepupu. Selamat menikmati malam spesialmu." Lalu dengan langkah santai yang menjengkelkan, Akash berbalik dan meninggalkan taman, memasuki keramaian kembali.
Hamish masih berdiri di tempatnya. Matanya tak lepas dari bayangan Akash yang menjauh, dan pikirannya kini berdenyut penuh amarah bercampur kekhawatiran.
Ia menghela napas panjang, menyapu rambutnya ke belakang dengan tangan gemetar. Dunia luar mulai menyentuh ruang pribadinya—dan satu langkah saja bisa membuat semuanya runtuh.
Dan di dalam restoran... Thania sedang menunggunya, dengan mata yang mungkin menyimpan tanya.
...🍒🍒🍒...
Thania masih duduk di tempatnya. Kedua tangannya saling menggenggam di pangkuan, sementara matanya tertuju ke arah pintu keluar restoran dimana Hamish menghilang bersama pria asing tadi. Angin laut yang semula terasa sejuk kini terasa sedikit menggigit. Keraguan mulai menyelinap dalam benaknya, membisikkan pertanyaan yang tak ia pahami sepenuhnya.
Siapa pria itu?
Dan... kenapa ia berbicara seolah tahu sesuatu yang Thania sendiri tidak tahu?
Suara ombak, percikan obrolan dari meja lain, dan denting sendok yang menyentuh piring tak mampu mengalihkan pikirannya. Ia mencoba menenangkan diri, meneguk air mineral di gelasnya, tapi bahkan rasa segar itu pun tak mampu meredakan gelisah yang menyeruak begitu saja.
Hingga akhirnya—langkah itu datang.
Hamish muncul kembali dari arah pintu restoran. Langkahnya santai, ekspresinya tenang, dan senyumnya... tetap sama seperti sebelumnya—hangat, teduh, menyenangkan.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
"Maaf membuatmu menunggu," Ucap Hamish lembut saat kembali duduk di kursinya, mengatur posisi serbet di pangkuan. "Tadi itu hanya kenalan kantor. Kami kebetulan bertemu dan membahas sedikit soal pekerjaan."
Thania menatapnya dalam, mencoba membaca kebenaran di balik sorot mata pria itu. Tapi Hamish pandai menyembunyikan keresahan. Bahkan saat mata mereka bertemu, Thania merasa ada sesuatu yang ia simpan rapat di balik sikap tenangnya.
"Owhh, begitu. " Hanya itu yang mampu ia ucapkan.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Hamish, kini sedikit membungkuk ke arahnya. "Kejadian tadi, lupakan saja."
Thania mengangguk sedikit, namun ekspresinya masih menyimpan tanda tanya. "Baiklah. Tapi tampaknya kalian tidak terlalu akrab."
Hamish tertawa ringan. "Ya, karena kami memang bekerja di tempat yang sama. Tapi dia memang... kadang suka asal bicara."
Thania mencoba tersenyum, tapi jauh di dalam dirinya masih ada kegelisahan kecil yang mengendap. Ia tak suka caranya dipandang tadi. Tak suka nada sarkas yang keluar dari pria itu seolah ia... seseorang yang tak seharusnya ada di sana.
Namun ketika ia menatap Hamish kembali, dan mendapati mata pria itu kembali padanya—penuh perhatian, seolah hanya ia yang ada di dunia ini—Thania kembali tenang. Ia ingin mempercayainya. Dan bagian dirinya yang paling dalam, entah mengapa, ingin tetap berada di sisi pria itu.
Hamish menggeser piring kerangnya ke arah Thania. "Kau mau mencicipinya lagi? Kita lanjut makan, ya?" Ujarnya, pria itu tersenyum.
Senyum hangatnya kembali merekah di wajah Hamish. Memperlihatkan lesung pipi yang menusuk dalam; membuat wajah pria itu terlihat menawan. Hangat dan tulus.
"Iya, Paman. Maaf jika aku banyak bertanya." Thania tersenyum manis diakhir perkataannya. Gadis itu kembali meraih alat makan dan mulai melanjutkan makan malamnya bersama Hamish.
Walaupun suasana makan malam mereka sempat diterpa ketegangan, Hamish selalu berupaya menenangkan Thania. Dan di tengah cahaya lentera yang menyala lembut di antara mereka, seolah dunia luar lenyap sejenak. Hanya ada seorang paman dan keponakannya. Duduk berhadapan di bawah langit malam, ditemani cahaya lampu, aroma laut dan angin pantai yang selalu membelai rambut indah Thania dan membuat Hamish merasa nyaman melihat keindahan tiada tara didepan pandangannya.
***
Suasana malam menua perlahan di luar jendela mobil. Hamish memutar kunci, mesin menyala halus, dan mobil mulai meluncur keluar dari area parkir restoran yang mulai lengang. Lampu-lampu jalan menari di permukaan kaca depan, sementara suara ombak perlahan tergantikan oleh dengung mesin dan denting samar lagu instrumental yang mengalun dari radio.
Hamish melirik pada jam tangan di pergelangan kirinya—pukul 22.03.
Sebuah ketegangan ringan menggumpal di dadanya.
Sudah pukul sepuluh malam.
Ia menggenggam setir sedikit lebih erat. Lalu secara halus, tanpa membuat Thania menyadari, pria itu menekan pedal gas lebih dalam. Mobil melaju lebih cepat di jalanan yang kini sepi, hanya sesekali diselingi oleh kendaraan lain yang melintas dalam keheningan malam.
Hamish menarik napas dalam-dalam, berusaha tetap tenang.
Ia tidak ingin memburu waktu. Tapi malam ini terasa terlalu berisiko untuk dibiarkan berjalan lambat. Tara—istrinya—biasanya pulang sekitar pukul sebelas, kadang lebih. Tapi jika malam ini dia pulang lebih cepat dan mendapati rumah dalam keadaan kosong...
Hamish tahu benar bagaimana cepatnya kecurigaan muncul dalam diri Tara. Dan ia tidak ingin—tidak boleh—memberi ruang pada kemungkinan itu. Terutama saat yang terlibat di dalamnya adalah Thania.
Gadis muda yang kini duduk di sebelahnya, memandang keluar jendela dengan wajah hangat dan tenang. Sisa senyum dari makan malam tadi masih menggantung di sudut bibirnya.
Hamish sempat melirik ke arahnya.
Gadis itu tampak bahagia.
Dan entah bagaimana, itu membuat beban di dadanya sedikit mencair. Ia ingin terus melihat gadis itu tersenyum seperti tadi—terpesona dengan cahaya lentera, tertawa karena cerita-cerita kecil yang ia bagikan, dan duduk di seberangnya tanpa beban, seolah dunia ini hanya terdiri dari mereka berdua.
Namun dunia tidak sesederhana itu.
"Apa kau lelah?" Tanya Hamish, mencoba mengalihkan pikirannya dari ketegangan yang menggantung.
Thania menoleh cepat, menggeleng. "Tidak. Justru aku senang. Terima kasih untuk malam ini, Paman. Aku benar-benar menyukainya."
Suara lembut itu menampar batin Hamish dengan rasa bersalah dan rindu sekaligus. Ia balas tersenyum tipis, menahan semua hal yang tak bisa ia ucapkan.
"Senang mendengarnya," Jawabnya, pelan.
Mobil terus melaju, melewati jalan-jalan sepi yang disiram lampu kota. Beberapa kali Hamish melirik spion, seolah memantau waktu lewat bayangan malam. Setiap menit terasa berharga. Ia memutar ulang semua kebiasaan Tara—jam berangkat, jam pulang, kemungkinan dia lembur atau tidak malam ini. Tapi tak ada yang pasti.
Tak boleh ada kesalahan.
Tak boleh ada hal yang membuat Tara bertanya terlalu banyak—terutama soal hubungan antara dirinya dan Thania yang kini mulai melewati batas-batas yang tak pernah ia rencanakan sebelumnya.
Akhirnya, mobil memasuki kompleks perumahan mereka. Deretan rumah-rumah tampak tenang, beberapa sudah gelap, yang lainnya masih menyala samar. Hamish langsung menatap rumahnya.
Masih gelap.
Ia menarik napas lega. Tara belum pulang.
Ia menepikan mobil, lalu mematikan mesin. Dalam diam, Hamish menoleh pada Thania yang kini tengah membuka sabuk pengamannya.
"Sudah sampai," ucapnya.
Thania mengangguk pelan. Ia tampak ragu sejenak sebelum akhirnya berkata, "Paman..."
Hamish menatapnya. "Ya?"
Gadis itu tersenyum lembut. "Terima kasih sudah membawaku ke sana. Aku tahu... tempat itu tidak biasa untuk makan malam keluarga."
Hamish membalas senyumnya, samar. "Aku hanya ingin kau bahagia, Thania."
Dan pada detik itu, ada jeda sunyi yang menyelinap masuk di antara mereka—seperti percakapan yang tak selesai, namun terlalu rumit untuk dilanjutkan.
"Ayo, masuk." Ucap Hamish akhirnya, membuka pintu mobil.
Mereka berjalan berdampingan menuju pintu depan. Hamish membuka pintu yang terkunci, dan udara dingin dari dalam rumah menyambut mereka.
Suasana kembali tenang, dan seketika Thania berubah menjadi lebih menjaga jarak. Ia hanya mengangguk, tidak melontarkan perkataan yang memulai pembicaraan hangat dan Hamish hanya menatap Thania dengan tatapan dingin seperti biasanya. Mereka kembali pada perasaan awal, perasaan yang menunjukan hubungan biasa antara seorang Paman dengan Keponakannya.
.
.
.
.
.
.
To be continue....
Ayok Vote gaes 😭