Angkasa, seorang Kapten tentara Angkatan Udara yang tegas dan dingin berusia 28 tahun, sangat malas berhadapan dengan wanita. Namun dengan karakternya yang rumit itu, ia justru harus menikah dengan seorang gadis cerewet, ceplas-ceplos dan kekanakan bernama Aina Maura; Kekasih dari adik kembarnya sendiri, Samudera.
Pernikahan paksa tersebut terjadi ketika Samudera mengemban tugas penyelamatan sandera di Tongo, dan mewasiatkan agar Angkasa menikahi kekasihnya jika ia tak kembali lagi. Beban yang diemban Angkasa, perasaan duka serta kasih sayangnya pada adik kembarnya itu akhirnya mendorong Angkasa mengucapkan kata nikah di hadapan ayah Aina.
"Saya akan menikahinya, sekarang!"
Karakter Aina yang tidak cocok untuk Angkasa, membuatnya bersikap dingin bahkan mengacuhkan istrinya sendiri, "Saya tidak pernah mencintai kamu, semua terjadi karena permintaan adik saya dan mendiang ayah kamu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon unchihah sanskeh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 - Tamparan Keras
Aina menatap mantan tunangan Angkasa itu. Gadis elegan yang berdiri di pintu masuk yang terbuka, membalas pandangan mata Aina dengan tajam, penuh kebencian. Sinar bulan datang, memancar di sekeliling tubuh Dian, melapisi tubuhnya dengan cahaya keemasan yang membuat perempuan itu tampak lebih menyeramkan daripada pertemuan mereka sebelumnya.
"Mbak Dian mau bicara apa? Kak Asa belum pulang kerja."
Mantan Angkasa itu mengerutkan dahi saat mendengar kata-kata Aina. Ia mengangkat sebelah tangannya dan menyerang pipi Aina. Dengan seketika ia mendesiskan napas, seakan-akan telah menyentuh medan listrik yang kuat. Amarahnya kini tengah memuncak. "Kamu bocah ingusan, yang egois!" Pekiknya.
Dian tak berhenti. Bahkan tidak memperlambat suaranya. Ia bertekad tidak akan membiarkan penderitaan Angkasa lagi, dan membangun keadilan pada perasaan lelaki yang dicintainya itu.
"Mbak Dian! Maksudnya apa?!" tuntut Aina sambil memegangi bekas pukulan itu.
"Ceraikan Angkasa," sahut Dian dengan wajah datar. "Kalau kamu cinta Samudera, pergi susul dia di Kongo. Cari tunangan yang kamu cintai itu sendiri! Kamu pikir Angkasa itu tidak punya perasaan?! Dasar bocah tidak tahu diri!"
Napas Aina naik ke kerongkongan dalam debar yang menyesakkan. Ia terdiam sementara matanya yang lebar terpaku pada Dian. Lututnya menegang dan darahnya terasa terpompa adrenalin.
"Urusan rumah tangga kami, bukan urusan Mbak Dian---" ujar Aina pelan, masih berusaha mencari pembelaan yang tepat untuk menyelesaikan perdebatan tiba-tiba ini.
"Mengerti apa kamu soal rumah tangga?" sergah Dian, masih dengan ekspresi menggebu seolah ingin meluapkan geram pada tingkah laku istri Angkasa. "Sekarang aku tanya, apa pantas seorang istri menangisi pria lain di hadapan suaminya sendiri?"
Detak jantung Aina langsung bergemuruh, perasaan tak nyaman langsung datang menyerang. Menempati tubuhnya secara membabi buta, seakan enggan untuk pergi. Dan mengapa ia merasa seaneh ini, secanggung ini dengan kedatangan dan perkataan Dian? Hanya karena mantan tunangan Angkasa itu ingin bersaing, mengapa kali ini pertemuan mereka terasa berbeda?
Aina terdiam, seakan kebenaran kata-kata Dian mulai menyentuh isi kepalanya.
"Mbak Dian tahu soal itu?---"
"Tentu saja aku tahu!" Dengan perlahan, Dian membiarkan aliran energi kemarahannya meluap. "Angkasa itu juga punya hati Aina! kamu pikir dengan sifat diamnya, dia tidak terluka dengan perbuatanmu? Meminta Angkasa untuk membuat janji yang menyakiti dirinya sendiri, kamu pikir Angkasa itu prajurit besi? Biarpun dia menikahimu terpaksa, tapi kamu itu tetap istrinya!"
Aina semakin terbungkam, matanya semakin panas saat Dian mengungkapkan kebenaran itu secara terang-terangan dan blak-blakan. Sangat menohok dan cukup menyadarkan Aina dari sifat kekanakannya yang pekat itu.
"Aku heran padamu, Angkasa itu bagimu apa? menyelamatkan harga dirimu? Atau cuma untuk penebus keinginan mendiang ayahmu?" Lanjut Dian sengak, sambil menaikkan sedikit dagunya untuk menunjukkan wibawanya. "Kamu marah dan kesal saat aku datang untuk mendekati Angkasa, tapi sikapmu yang memintanya mengucapkan janji untuk membawa kekasihmu kembali, apakah itu tidak bisa disebut sama Aina? Kamu sakit hati saat lihat aku dan Angkasa, tapi kamu terang-terangan mencintai lelaki lain di depan suami mu, tidak tahu diri! Bocah ingusan seperti kamu memang tidak pantas bersanding dengan Angkasa."
Aina merasakan kekuatan dari perkataan Dian itu menyusup ke dalam pikiran dan hatinya. Sungguh sial, Aina tidak bisa menyangkal itu semua. Dian, seakan menguasai seluruh pembawaan Aina. Tatapan matanya saja sudah sangat kuat dan mengintimidasi. Namun meskipun Aina tertegun, Dian masih belum menemukan kepuasan.
"Sebagai perempuan yang mencintai Angkasa, aku sungguh sakit hati dan tidak terima dengan perlakuanmu padanya. Setiap ketidakadilan dan pengorbanan yang dia terima darimu, membuatku sangat terluka meskipun dia hanya diam." Kata Dian, matanya yang biru karena lensa berhenti di Aina. Ia mengamati istri Angkasa itu beberapa menit, kemudian mengangguk perlahan dan memberikan Aina senyuman yang langsung menghilang begitu dia kembali berkata;
"Menurutmu, aku yang harus mengalah atau lebih baik kamu?"
Dan jawaban atas pertanyaan Dian itu, tidak semudah yang dipikirkan. Aina masih belum sanggup untuk menjawab, dan ia merasa tak ada satupun jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu.
Lutut Aina melemas, seolah ia sudah tak sanggup berdiri di bawah tatapan tajam Dian yang mengintimidasi. Bahkan setan didekatnya pun bertanya, di mana keberaniannya menentang Dian seperti dulu? Mungkinkah sekarang ia menyadari bahwa posisinya kali ini memang bersalah?
"Mbak Dian, pulanglah. Se-sekarang sudah malam, harus segera istirahat---" Kata Aina terbata, tanpa menjawab pertanyaan Dian sebelumnya. "Dan tolong, masalah antara Aku dan Kak Asa cukup kami yang bahas dan selesaikan. Aku tahu, Mbak Dian masih mencintai Kak Asa, tapi kalau memintaku memilih, itu sudah melebihi batas."
Dian menyempitkan pandangannya. Hatinya menjadi tak senang karena keegoisan Aina yang terlalu dalam. Dan dalam diam, dia sangat menyesali wasiat Samudera sebelum pergi, membuat penderitaan dan ketidakadilan untuk Angkasa. Tentara yang kejam dan dingin itu harus menikahi seorang gadis kekanakan yang tak paham marwahnya sebagai seorang istri. Demi Tuhan, Angkasa adalah sosok penggambaran terbaik dari penciptaan karakter manusia paling matang. Dian mengakui itu semua.
Kemarahan yang mendedas di sekitar Dian perlahan mereda saat ia menghela napas karena sudah merasa tak sanggup menahan tekanan darah akibat sikap dan ekspresi wajah Aina.
Tanpa sepatah kata pun, Aina mengayunkan pintu dan menutupnya kembali di hadapan Dian sebagai bentuk pengusiran secara tidak langsung. Meski ia menundukkan pandangan, perasaan kacau di hatinya telah tersampaikan dan itu cukup membuat Dian bernapas lega.
"Kamu terlalu banyak ikut campur, apakah sekarang merasa senang?" Sahut seseorang dari balik dinding. Nico, dia muncul tak lama setelah pintu rumah Angkasa dan Aina tertutup.
"Aku memang berniat mengambil Angkasa. Tapi, untuk kali ini perasaanku sungguh murni. Bocah itu harus diberi tahu bagaimana caranya bersikap sebagai seorang istri dalam keluarga." Kata Dian, seraya memutar badan, menghadap ke arah jalan, juga Nico. "Tapi gadis itu memang sudah sepatutnya diberi penjelasan. Kamu pasti sudah tahu masalah yang terjadi dan aku yakin kamu mengalami sakit yang sama sebagai sahabat Angkasa."
"Aku mengerti. Tapi jangan pula manfaatkan kesempatan." Kata Nico dengan suara pelan.
"Membela gadis itu tidak membuatmu cepat membawa Sam kembali."
Nico menghela napas, kemudian menjawab; "Kak Sam masih hidup."