Kalila gadis yang terlahir cantik dan lugu. Ia memutuskan untuk mengubah dan tidak memikirkan penampilan lagi sejak ia mengalami patah hati pada saat SMP. Kisah cinta pertama yang membawa dampak keterpurukan dalam hidupnya.
Suatu hari Kalila bertemu dengan seorang pria yang merupakan guru baru di sekolahnya. Ia tidak menyangka luka lama yang dipendamnya kembali bangkit hingga menyisakan rasa sakit.
Mungkinkah Kalila mampu kembali melewati hari-harinya seperti dulu? Ataukah rasa sakit itu akan terus membelenggu hidupnya?
Follow IG Author yuk
@Septriani_wulan15
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septriani wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Kota Tua Jakarta
Bab 24 Kota Tua Jakarta
Akbar dan Kalila sama-sama merasakan kebahagiaan. Kalila yang merasa dirinya tidak dicintai oleh Akbar, ternyata salah dan Akbar menyukainya sejak dulu. Di sisi lain, Akbar juga merasa senang, akhirnya dia benar-benar bisa mendapat hati Kalila setelah tiga tahun dipendamnya. Keduanya mempunyai cerita sendiri di balik kebahagiaan yang mereka rasa setelah sekarang menjalani hubungan.
Hari ini Kalila sengaja bangun dini hari untuk bersiap pergi dengan Akbar. Rencananya mereka akan pergi jalan-jalan sebelum Kalila menghadapi ujian nasional.
“De, sudah rapih saja, mau kemana?” tanya Ana yang juga baru keluar dari kamarnya.
“Mami, boleh enggak Kalila pergi?” Ana merasa ada yang aneh dengan anaknya, karena tidak biasanya Kalila keluar dari rumah.
“Memangnya kamu mau kemana dan sama siapa? Apa sama Danes?” Sebenarnya Ana merasa senang, karena akhirnya Kalila tidak terus-menerus mengurung diri di kamarnya.
“Emmm ... bukan sama Danes. Sama teman Kalila. Nanti kalau sudah waktunya pasti Kalila kenalin sama Mami. Jadi boleh enggak Mi, Kalila pergi?”
“Ya sudah pergi saja. Mumpung abang kamu belum keluar, kalau udah keluar kamar kamu sendiri yanh repot.” Kalila tersenyum mengangguk. Sebelum pergi, terlebih dahulu Kalila memeluk sang ibu dan pamit padanya.
Sama halnya seperti Kalila, Akbar juga sudah bersiap sejak pagi menggunakan setelan baju olahraga. Sang yang melihat anaknya merasa heran, karena tidak biasanya Akbar keluar pagi hari selain ke sekolah.
“Mas, mau kemana? Tumben pagi-pagi kamu sudah rapih!” tanya Nurma ibunda Akbar.
“Emmm ... Mas mau pergi olahraga, Bu.” jawabnya sambil mengaduk teh manis hangat yang baru dibuatnya.
“Sama Sarah? Kenapa sekarang dia jarang sekali ke rumah. Ibu sangat rindu padanya, nanti setelah pulang, suruh dia mampir ke sini ya! Nanti Ibu akan masak yang banyak.” Nurma terus saja bicara tanpa memberi waktu Akbar untuk menjawabnya.
“Bu, Mas enggak pergi sama Sarah. Tapi,Mas pergi sama kekasih, Mas,” jelas Akbar yang seketika membuat Nurma langsung melirik padanya dan menghampiri dia.
“Mas, kamu sudah punya pasangan? Siapa dia? kerja di mana? Apa dia guru sama sepertimu? Ya sudah, hari ini bawa dia ke sini, ibu akan ....” belum selesai Nurma menyelesaikan ucapannya, Akbar langsung memotong pembicaraan sang ibu.
“Bu ... Kekasih Mas bukan seorang guru, bahkan dia juga belum bekerja.” Nurma mengerutkan keningnya. Selama ini dalam pikiran dia, kalau Akbar akan mendapatkan pasangan sesuai dengan profesi anaknya.
“Lantas siapa dia?” tanya Nurma penasaran.
“Nanti pasti Mas bakal kenalin sama Ibu, tapi bukan hari ini ya, Bu. Takutnya dia belum siap untuk bertemu dengan Ibu mendadak hari ini. Kalau begitu, Mas pergi dulu ya! Keburu Aisyah bagun, nanti dia pengen ikut lagi.” Nurma mengangguk tersenyum. Akbar pun menghabiskan terlebih dahulu teh manisnya dan mencium punggung tangan ibunya sebelum dia berangkat.
Kalila sudah menunggu Akbar di taman komplek yang tidak jauh dari rumahnya. Dia duduk di kursi taman itu sembari memainkan game kesukaannya. Sampai di taman, Akbar melihat Kalila langsung tersenyum. Dia pun menekan klakson motornya sehingga membuat Kalila langsung melirik padanya. Kalila tersenyum, dia memasukan ponselnya ke dalam tas dan menghampiri Akbar.
“Sudah nunggu lama?” tanya Akbar sambil memakaikan helm warna pink, bergambar hello Kitty kesukaannya Kalila.
“Baru saja. Ngomong-ngomong, Kakak baru beli helm baru ya?” Akbar mengangguk tersenyum, “Seperti kartun kesukaan kamu,” ucapnya membuat Kalila tersenyum bahagia.
“Kita berangkat sekarang ya!” Kalila mengangguk dan naik ke atas motor kekasihnya.
Kama dan ayahnya, Alaric baru saja keluar dari kamar dan langsung menghampiri Ana yang sedang menyiapkan sarapan untuknya.
“Pagi Mami!” sapa kedua pria yang hampir memiliki sifat yang sama.
“Pagi!” ucap Ana sambil mengambil makanan ke atas piring suami dan anaknya.
“Kalila masih belum bangun, Mi? Abang bangunin dia dulu ya.” saat hendak beranjak dari tempat duduknya, Ana langsung menjawab pertanyaan saudara kembar Kalila, “Lila sudah berangkat jogging di taman kota.”
“Dengan siapa?!” tanya Alaric dan Kama secara bersamaan dengan nada yang terlihat sangat kaget.
“Kompak bener kalian. Sama teman-temannya. Sudah biarkan saja, hitung-hitung melepas penat sebelum memulai ujian.”
“Tumben banget dia bisa bangun pagi.” Kama sepertinya sudah mulai curiga, tetapi Ana hanya diam, dia tidak menggubris perkataan Kama.
Selama perjalanan, Kalila memegang jaket Akbar dengan malu-malu. Dia masih merasakan hatinya berdebar saat di dekat lelaki yang kini sudah menjadi kekasihnya. Saat berhenti di lampu merah, Akbar menarik kedua tangannya hingga kedua telapak tangan kalila bertemu.
“Meluknya jangan tanggung-tanggung dong. 'Kan kalau seperti ini enak,” ucap Akbar sambil menahan senyumannya. Kalila juga tersenyum sambil menunduk. Kalila pun sedikit maju dan memeluk Akbar dengan erat. Lampu hijau pun menyala, Akbar melepas genggamannya dan kembali melajukan motor bebek maticnya.
Akbar berencana membawa Kalila pergi ke Wisata Kota Tua, sebuah wilayah kecil di Jakarta, Indonesia. Wilayah khusus ini memiliki luas 1,3 kilometer persegi melintasi Jakarta Utara dan Jakarta Barat (Pinangsia, Taman Sari dan Roa Malaka). Sampai di sana, Akbar memakirkan motornya dan kembali membantu Kalila membuka helmnya.
Terlebih dahulu mereka berjalan di jalan sekitar Kota Tua. Pagi itu banyak sekali yang berkunjung untuk sekedar olahraga dan ada juga yang segaja berwisata, karena di Kota Tua Jakarta banyak destinasi wisata yang patut dikunjungi. Kali ini Akbar memberanikan diri untuk menggenggam tangan Kalila. Saat keduanya masih berjalan, Akbar langsung mengenggam tangan Kalila sampai membuat gadis itu kaget.
“Mau ke mana dulu?" tanya Akbar yang tatapannya terus ke depan. Sebenarnya itu Akbar lakukan, karena dia malu, saat memegang tangan kekasihnya. Kalila langsung tersenyum sambil memalingkan wajahnya. Dia tampak senang dan hatinya berdebar begitu cepat dan Ingin rasanya dia melompat kegirangan.
“Aku mau ke Museum Fatahillah, tapi kayanya masih tutup. Lebih baik kita duduk di sana dulu yuk!” Ajak Kalila dan Akbar pun menyetujuinya.
Kedunya pun langsung duduk, saat ada bangku taman yang kosong. Akbar masih terus menggengam tangan Kalila. Keduanya hanya terdiam sambil melihat ramainya orang-orang yang berlalu lalang.
“Sayang, kamu mau minum enggak?” tanya Akbar dan itu membuat Kalila cukup kaget. Pasalnya ini pertama kalinya Akbar memanggil Kalila dengan sebutan Sayang.
“Ah ... eng-enggak, Kak, nanti saja,” jawab Kalila terbata.
Akbar seketika mengubah duduknya menghadap Kalila dan kini menggenggam kedua tangan Kalila. Akbar terus menatap Kalila sehingga membuat Kalila merasa aneh.
“Ke-kenapa? Ada yang aneh ya di wajah aku?” tanya Kalila lagi sambil merapihkan rambut dan melepas tangannya dari genggaman Akbar mengusap wajahnya, karena takut ada sesuatu.
“Enggak ada kok, sayang.” kembali Akbar menarik tangan Kalila dan mengenggamnya.
“Terus?” tanya Kalila penasaran.
“Kamu cantik dan sampai sekarang aku tidak percaya kamu bisa menjadi kekasih aku,” ucap Akbar yang membuat Kalila tertunduk malu.
~Bersambung~