NovelToon NovelToon
SANDIWARA ISTRI YANG TERBUANG

SANDIWARA ISTRI YANG TERBUANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Sabar itu ada batasnya, Laras. Dan batasmu adalah kematianmu sendiri," bisik Dimas tepat di telingaku, saat tangannya dengan lembut mengusap kepalaku yang tertutup hijab.
Di depan semua orang, Dimas adalah suami saleh dan pengacara terpandang yang setia menjaga istrinya yang lumpuh. Namun, di balik pintu kamar, ia adalah iblis yang meracuniku setiap hari. Ia menghancurkan tubuhku demi membalas dendam masa lalu dan menguasai harta warisan orang tuaku untuk wanita lain.
Aku terjebak dalam tubuh yang tak bisa bergerak. Namun, di atas kursi roda ini, aku bersujud dalam hati. Aku berhenti meminum racun itu dan mulai berpura-pura lumpuh. Di saat Dimas merasa telah menang, ia tidak tahu bahwa aku mengawasi setiap langkah busuknya.
Aku memang istri yang kau buang, Dimas. Tapi ingatlah, doa orang yang terzalimi tidak akan pernah terhalang oleh langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Genderang Perang Telah Ditabuh

​Gemerlap lampu malam Jakarta perlahan tergantikan oleh sunyinya dinding unit apartemen aman milik Zaidan. Aku sudah mengganti gaun malam satin hitamku dengan pakaian kasual yang jauh lebih nyaman, namun debaran jantungku akibat aksi nekat di ruang kerja Adrian Mahendra sejam yang lalu masih belum sepenuhnya mereda.

​Di sudut ruangan, Zaidan duduk tegap di depan tiga layar monitor besar yang menampilkan ribuan baris kode dan grafik enkripsi yang terus berjalan. Jari-jarinya menari di atas papan ketik dengan kecepatan yang luar biasa.

​"Bagaimana hasilnya, Zai?" tanyaku sambil melangkah mendekat, menyodorkan secangkir kopi hangat untuknya.

​Zaidan menghentikan gerakannya sejenak, menerima cangkir itu, lalu menatapku dengan binar mata yang campur aduk—antara takjub, lega, dan waspada. Ia mengklik sebuah folder besar yang baru saja selesai diunduh dari chip yang kubawa.

​"Chip yang kau colokkan tadi berhasil menyalin data inti dari server privat Adrian. Dan tebakanmu benar, Laras... maksudku, Kirana," Zaidan meralat ucapannya dengan cepat, mengingatkanku pada identitas baruku. "Konsorsium Mahendra bukan sekadar perusahaan investasi. Di dalam sini ada rekam jejak aliran dana gelap yang mereka gunakan untuk membungkam pejabat hulu, termasuk cetak biru teknologi pemurnian energi milik almarhum Ayahmu yang sudah mereka klaim secara ilegal."

​Aku melihat layar monitor. Di sana tertera pendaftaran hak paten internasional atas nama Adrian Mahendra, namun tanggal enkripsi dokumen aslinya persis sama dengan malam kecelakaan tragis yang menewaskan kedua orang tuaku tiga tahun lalu.

​"Bajingan itu benar-benar mencuri seluruh kerja keras Ayah dan menggunakannya untuk membangun kekaisaran bisnisnya," desisku, cengkeramanku pada pinggiran meja komputer mengerat hingga buku-buku jariku memutih. "Zai, kapan kita bisa menjatuhkan bukti ini ke publik?"

​Zaidan bersandar di kursinya, wajahnya berubah serius. "Tidak bisa langsung sekarang, Kirana. Jika kita langsung merilisnya ke media arus utama, Adrian punya kekuatan hukum dan finansial untuk memblokir berita tersebut dalam hitungan menit. Kita harus memotong kaki-kakinya terlebih dahulu."

​"Maksudmu?"

​"Kita hancurkan reputasi pasar saham mereka besok pagi," Zaidan tersenyum dingin, sebuah senyuman taktis yang sangat kusukai. "Aku akan membocorkan dokumen audit palsu yang mereka gunakan untuk menipu investor asing ke forum spekulan saham terbesar di Asia. Begitu saham Mahendra rontok di pembukaan pasar besok jam sembilan pagi, Adrian akan panik. Di saat itulah, fokusnya akan terpecah, dan dia tidak akan sempat melacak dari mana kebocoran ini berasal."

​Aku mengangguk paham. Ini persis seperti strategi menulis konflik dalam novel thriller-ku—membuat musuh utama mengalami kepanikan bertubi-tubi hingga mereka melakukan kesalahan fatal dengan tangan mereka sendiri.

​"Lakukan, Zai. Biar besok pagi menjadi awal dari mimpi buruk mereka," ucapku mantap.

​Sementara itu, di lantai teratas Gedung Konsorsium Mahendra yang baru saja pulih dari insiden mati lampu, suasana tampak luar biasa mencekam.

​Adrian Mahendra berdiri di dekat meja kerjanya dengan wajah yang merah padam karena amarah. Di depannya, kepala tim keamanan siber dan dua pengawal yang menjaganya semalam tertunduk lesu, tak berani menatap mata sang Tuan Besar.

​"Bagaimana bisa sistem keamanan berlapis yang kubayar miliaran rupiah bisa ditembus oleh pemadaman listrik murahan?!" bentak Adrian, suaranya menggelegar memenuhi ruangan.

​"Maaf, Tuan Besar. Gardu utama kami diserang oleh virus malware yang sangat canggih. Itu adalah sabotase siber yang terencana dari luar," jawab kepala tim siber dengan suara bergetar. "Dan... setelah kami memeriksa log aktivitas komputer utama Anda setelah daya kembali menyala, ada jejak akses ilegal selama lima puluh delapan detik."

​BRAK!

​Adrian menggebrak meja kerjanya hingga vas bunga di atasnya bergetar. "Apa yang hilang?!"

​"Kunci enkripsi proyek energi masa depan dan... data arsip internal tiga tahun lalu, Tuan."

​Napas Adrian seketika memburu. Otak bisnisnya yang cerdas langsung menghubungkan titik-titik kejadian akhir-akhir ini. Mulai dari tertangkapnya Dimas, hancurnya Ardiantoro dalam semalam, hingga penyusupan ke ruang kerjanya malam ini. Ini bukan sekadar serangan kompetitor bisnis biasa. Ini adalah serangan personal.

​"Larasati Hermawan..." gumam Adrian dengan nada yang sangat rendah dan berbahaya. "Gadis sialan itu... bukankah kalian bilang dia sedang sekarat dan depresi di Singapura?!"

​"L-laporan dari orang kita di Singapura menyatakan Larasati ada di klinik, Tuan. Tapi..." pengawal itu menelan ludah dengan susah payah. "Kami menduga itu adalah identitas palsu yang sengaja dipasang untuk mengecoh kita. Seseorang yang sangat ahli dalam dunia siber sedang melindungi gadis itu."

​Adrian berjalan mendekati jendela kaca besar, menatap tajam ke arah kegelapan kota Jakarta. "Cari tahu siapa tamu wanita yang masuk ke koridor barat semalam. Periksa semua rekaman biometrik di pintu depan. Aku tidak peduli siapa yang melindunginya, entah itu polisi atau hacker internasional... temukan gadis itu dan lenyapkan dia sebelum dia membuka mulutnya ke Kejaksaan Agung!"

​"Baik, Tuan Besar!"

​Keesokan paginya, tepat pukul sembilan lebih lima menit.

​Aku duduk di ruang makan apartemen sambil memegang ponsel, memantau pergerakan papan saham gabungan secara daring. Zaidan berdiri di belakangku sambil melipat kedua tangannya di dada.

​Sesuai dengan rencana maut Zaidan, sebuah dokumen rahasia mengenai manipulasi aset Konsorsium Mahendra telah menjadi viral di kalangan investor kelas kakap sejak subuh tadi. Efeknya luar biasa instan.

​"Saham Mahendra Group anjlok 15% di sepuluh menit pertama pembukaan pasar," ucapku dengan senyuman puas yang tak bisa kubendung. Grafik garis merah di layar ponselku menukik tajam ke bawah seperti air terjun. "Investor asing mulai menarik modal mereka secara massal."

​"Ini baru permulaan, Kirana," sahut Zaidan sambil menunjuk ke arah televisi yang sedang menyiarkan berita kilat.

​Seorang reporter wanita berdiri di depan gedung Bursa Efek Indonesia dengan wajah tegang. "Pemirsa, kejutan besar terjadi di lantai bursa pagi ini. Saham raksasa Konsorsium Mahendra mengalami sentimen negatif terparah dalam dekade ini menyusul bocornya dokumen dugaan korporasi ilegal. Hingga saat ini, pihak Adrian Mahendra belum memberikan pernyataan resmi..."

​Aku mematikan televisi tersebut, lalu beralih membuka aplikasi NovelToon di ponsel pribadiku. Aku melihat kolom komentar di bab terbaru yang baru saja kuunggah semalam penuh dengan ribuan ulasan dari pembaca yang histeris.

​User112: "Gila! Alurnya cepat banget thor! Sikat terus si Tuan Besar Adrian!"

​Reader_Setia: "Kirana keren banget pas nyamar jadi investor! Kapan nih Zaidan sama Kirana mulai ada bumbu romantisnya?"

​Aku terkekeh kecil membaca komentar-komentar itu. Di dunia maya, mereka mengira ini hanyalah sebuah cerita fiksi drama yang mendebarkan. Mereka tidak tahu bahwa setiap kata yang kutulis adalah visualisasi nyata dari pembalasan dendam seorang anak yang sedang berlangsung di dunia nyata.

​Aku mengetik beberapa baris draf untuk Bab 24 nanti:

​“Ketika fondasi istanamu mulai retak karena keserakahanmu sendiri, jangan pernah melihat ke atas untuk mencari keselamatan... karena aku sudah berada di bawah, siap membakar habis sisa-sisa kemegahanmu.”

​Tiba-tiba, ponsel lipat kecil terenkripsi milik Zaidan yang terletak di atas meja bergetar keras. Ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal, namun menggunakan kode protokol rahasia milik Pak Surya.

​Aku dan Zaidan saling berpandangan. Zaidan segera meraih ponsel tersebut dan membuka pesannya. Wajahnya yang tadinya tenang seketika berubah menjadi sangat tegang.

​"Ada apa, Zai?" tanyaku, mendadak merasakan firasat buruk.

​Zaidan menatapku dengan tatapan mata yang sulit diartikan. "Pak Surya... dia baru saja dicegat oleh sekelompok orang tak dikenal di jalan menuju kantor Kejaksaan Agung. Mereka merebut paksa berkas fisik yang akan diserahkan, dan sekarang Pak Surya dilarikan ke rumah sakit karena terluka."

​Darahku seketika berdesir hebat. Adrian Mahendra tidak hanya bertahan... dia mulai membalas seranganku dengan cara yang sangat kotor dan brutal.

1
Anonim
PADAHAL KAU BISA MENJALIN KONTRAK DENGAN IBLIS DIAVLO LARAS
kozci
PENASARAN BANGET
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!