NovelToon NovelToon
Bisikan Batu Nisan

Bisikan Batu Nisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:292
Nilai: 5
Nama Author: R.H Rahman

Sebuah kisah dengan intensitas teka-teki yang beruntun, corak gaib yang tiba-tiba menghiasi hari. Diawali romansa yang terputus kematian, mengundang esensi ikatan lain yang sarat akan muatan Apokalipstik. Berlanjut dengan hancur leburnya hati Laura, tenggelam dalam samudera kegelapan yang tak berdasar sejak kepergian demi kepergian orang-orang yang ia cintai. Namun, takdir itu rupanya belum usai menyiksanya; metanol kesedihan semakin pekat menyelimuti jiwanya saat rasa penasaran yang mematikan datang seperti racun, dan memabukkan seperti arak kadar tinggi, mulai mencengkram penuh pikirannya. Muncul melalui mimpi di tengah perasaan duka, tiga sosok gadis misterius, bagaikan bayangan dari alam berbeda, terus menghantuinya hari demi hari, merasuk pilu seperti bisikan penuh enigma yang menyimpan sebuah kunci rahasia besar. Kunci yang kemudian menuntunnya pada kisah yang datang merangkak dari bawah batu nisan tua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Suara baling-baling helikopter memecah keheningan malam di atas sebuah pulau kecil di tengah sungai Barito yang jarang dijamah manusia. Di bawahnya, sekelompok tim forensik dan kepolisian sedang bekerja, membongkar makam yang dikelilingi semak berlumpur dan bebatuan licin.

Beberapa petugas dengan wajah tegang dan seragam yang sedikit kotor, mengawasi proses pembongkaran makam. Bukan makam biasa, melainkan gundukan tanah sederhana yang ditutupi kerikil dan dedaunan kering.

"Sudah siap, Dok?" tanya seorang petugas polisi kepada pria yang mengenakan pakaian dokter, dia adalah kepala tim forensik yang tampak sedang merapikan masker dan sarung tangan karetnya.

Sang dokter mengangguk, sorot matanya tajam dan fokus. "Siap, Pak. Kita mulai."

Proses pembongkaran berlangsung lambat dan hati-hati. Setiap gumpalan tanah dipindahkan dengan teliti. Tim akhirnya menemukan dua jasad yang terkubur saling tindih berpelukan. Posisi saat Laura bersama Amelia terakhir menguburkannya. Tubuh Roni dan Ariana, meski telah mulai memasuki fase pembusukan pertama, masih menunjukkan jejak bekas-bekas luka yang jelas.

Setelah proses evakuasi yang rumit dan menantang, kedua jasad dibawa ke laboratorium forensik Banjarmasin. Beberapa jam pemeriksaan yang singkat, dan berdasarkan keterangan yang disampaikan oleh Laura dan Amelia, hasil autopsi dinyatakan untuk memverifikasi fakta kematian mereka.

Kapten polisi yang keluar dari pintu berjalan sambil memegang map berwarna cokelat, isinya laporan autopsi yang tebal. Malam itu ia duduk di ruang rapat yang dingin, bersama dokter dan beberapa anggota timnya.

"Baiklah, dokter, apa kesimpulan akhirnya?" tanyanya dengan wajah serius, suaranya tebal.

Sang dokter menghela napas panjang. "Ini kasus yang rumit dan tragis, Pak. Hasil autopsi menunjukkan bahwa Roni dan Ariana meninggal karena saling menyerang."

Beberapa wartawan lokal yang ada di sana mengernyitkan dahi. "Saling menyerang?"

"Betul. Pada jasad Ariana, kami menemukan luka tusuk yang dalam di bagian dada kirinya, menembus jantung. Luka tersebut konsisten dengan tusukan benda tumpul yang meruncing, seperti ranting pohon yang patah dan diasah. Selain itu, ada beberapa luka gores dan memar di lengan dan tubuhnya, menunjukkan adanya perlawanan."

"Jadi, Roni menusuk Ariana?"

"Kemungkinan besar begitu, Pak. Sedangkan pada jasad Roni, kami menemukan retakan parah di bagian belakang tengkoraknya, akibat benturan keras. Benda penyebab benturan itu adalah benda tumpul berukuran sedang, seperti batu sungai yang kita temukan di dekat lokasi. Ada juga luka lebam di beberapa bagian tubuhnya yang lain."

"Jadi, Ariana memukul kepala Roni dengan batu?"

"Analisis menunjukkan bahwa benturan di kepala Roni terjadi sesaat setelah Ariana ditusuk. Ini mengindikasikan adanya reaksi balasan dari Ariana setelah ia diserang. Kemungkinan besar, Roni meninggal di tempat akibat pukulan di kepala, dan Ariana meninggal beberapa saat kemudian akibat luka tusuk yang fatal."

Beberapa petugas polisi menyandarkan punggungnya ke kursi, pikiran mereka menerawang. "Jadi, mereka saling membunuh?"

"Itu adalah kesimpulan paling kuat dari bukti forensik yang kami miliki, Pak. Tidak ada pihak ketiga yang terlibat. Luka-luka pada keduanya menunjukkan pergulatan dua orang yang sangat emosional dan putus asa." Jelas sang dokter forensik.

Tengah malam itu juga, beberapa polisi langsung memberitahukan hasil kesimpulan kepada kedua orang tua Ariana dan juga kepada tantenya Roni.

"Selamat malam, Bapak, Ibu," Buka seorang petugas polisi dengan suara rendah. "Kami datang untuk menyampaikan hasil penyelidikan terkait putri Anda, Ariana."

Ayahnya Ariana mengangkat wajahnya, sorot matanya penuh harap sekaligus ketakutan. "Bagaimana, Pak? Siapa yang tega melakukan ini pada anak saya?"

Petugas polisi dengan raut bersimpati perlahan menarik napas dalam-dalam. "Ini adalah kabar yang sangat berat. Berdasarkan hasil autopsi dan olah TKP, kami menyimpulkan bahwa ... Ariana dan Roni meninggal karena saling menyerang."

Kedua orang tua Ariana terdiam, tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.

"Apa maksudnya, Pak?" tanya ibunya Ariana, suaranya parau.

"Ariana, maafkan saya harus mengatakannya, dia ditemukan dengan luka tusuk di dada, akibat ranting runcing. Luka tersebut konsisten dengan tusukan yang dilakukan oleh Roni. Sedangkan Roni, meninggal karena benturan keras di kepala, yang disebabkan oleh pukulan batu. Semua bukti menunjukkan bahwa Ariana memukul Roni sebagai bentuk perlawanan setelah ia ditusuk."

Wanita itu lantas menjerit histeris, tidak sanggup menerima kenyataan pahit ini. Sang suami sigap memeluk istrinya, wajahnya kendur. "Tidak mungkin, Pak. Anak saya tidak mungkin melakukan itu. Ariana tidak pernah kasar."

"Kami memahami beratnya kabar ini, Bapak, Ibu. Tapi bukti forensik sangat kuat. Situasi di pulau itu, ditambah dengan luka-luka di tubuh keduanya, mengindikasikan pergulatan yang fatal antara mereka berdua," jelas petugas polisi mencoba menyampaikan dengan selembut mungkin, demikian hal yang sama juga mereka kabarkan kepada tantenya Roni.

Kedua jenazah sudah diputuskan akan diterbangkan ke Jakarta besok hari, dan berdasarkan rencana keluarga, masing-masing akan dimakamkan di pemakaman berbeda yang ada di daerah bogor.

Malam itu terasa berbeda dan panjang; kabar telah didengar, fakta harus diterima, semua larut bersama dingin dan kesedihan. Laura yang menyandarkan punggung mengedip-ngedipkan matanya, mencoba mengusir kabut ilusi yang menyelimuti pandangannya. Ia tahu ia hanya dirawat ringan, hanya kelelahan, luka kecil dan demam biasa, namun entah mengapa, suasana di sini terasa begitu mencekam. Dinding putih bersih bangsal rumah sakit terasa sempit dan asing. Adapun jam di dinding menunjukkan pukul 01.30 dini hari.

Di ruangan lain yang berbeda, Amelia tiba-tiba terbangun dari tidurnya, ia masih saja terbayang tentang berbagai peristiwa yang ia alami di pulau tengah sungai itu. Ruangannya jauh lebih kecil dari bangsal Laura, hanya ada dia berbaring sendirian. Amelia meremas kepalanya yang terasa berdenyut, berharap obat penenang yang diberikan perawat bisa segera bekerja.

Kembali ke bangsal Laura, perkataan misterius yang pernah ia dengar di rumah tua kembali datang mengusik indra pendengarannya. Awalnya seperti desiran angin, namun perlahan perkataan itu terdengar kian jelas di dalam telinganya. Ia membuka mata. Tidak ada siapa-siapa. Hanya kegelapan dan bayangan samar dari peralatan medis di sekelilingnya. "Mungkinkah yang aku dengar tadi hanya delusi yang kembali terulang?" Gumamnya mencoba menenangkan diri. Namun, bisikan kata-kata itu kembali, dan kembali, kali ini terdengar lebih nyaring, seolah ada seseorang yang mengatakannya tepat di sisi bahunya. Laura sontak menoleh ke kiri dan ke kanan, tidak ada siapa-siapa.

Pada saat yang sama, Amelia yang tadi baru saja terjaga, kini merasakan dirinya diliputi sentuhan merinding. Dalam pengamatan matanya yang sedang memburu, ia sempat menangkap sekelebat bayangan yang bergerak sangat cepat, seolah sedang menyelinap. Suhu ruangan saat itu juga tiba-tiba turun drastis. Ia menarik selimutnya hingga ke dagu, matanya jeli melirik ke arah yang dianggapnya mencurigakan.

Tiba-tiba, cahaya terang menyilaukan dan suara derap langkah kian mendekat. Suster masuk dengan tergesa-gesa, menyalakan lampu dan menanyakan keadaannya. Amelia membuka selimutnya, napasnya tersengal menurun. Tidak ada apa-apa di sana, hanya ada suster yang menatapnya cemas.

"Ada apa, Nona Amelia? Anda terlihat pucat sekali," tanya suster. Amelia hanya bisa menggelengkan kepala, memberitahukan bahwa semua baik-baik saja.

Malam itu, baik Laura maupun Amelia tidak bisa tidur. Lebih-lebih ketika citra wajah Ariana dan Roni muncul, ada semacam hentakan yang sulit diungkapkan. Memaksa kesadaran agar tetap terus terjaga, mata mereka menatap tegang ke arah kegelapan, perasaan traumatis itu seperti bayangan besar yang terkadang bersembunyi, dan terkadang menampakkan diri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!