NovelToon NovelToon
KATA BUMI : Penguasa Diatas Penguasa

KATA BUMI : Penguasa Diatas Penguasa

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Tamat
Popularitas:96
Nilai: 5
Nama Author: maulidiyahdiyah

Dentang waktu yang terus berputar, menyisakan kesunyian di gelap malam. Deru nafas yang memburu buatnya lupa akan kelamnya dunia.

Sunyi bukan sepi yang melanda, luka bukan duka yang datang. Un All Neat Each Time !
...

Derap langkah kaki di sudut kasino.
"Hei bung!, serahkan dia padaku, i'm sure you quiet". Sarkasnya
"Oh,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maulidiyahdiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Flashback Sudut Pandang Lain (2)

Pada akhirnya Aksara Pradipta dan Kasih Bumantara saling menurunkan ego mereka, tepat dihari itu juga mereka berangkat menuju Negeri Tirai Bambu dengan menggunakan jet pribadi milik keluarga Pradipta, tidak ada obrolan sama sekali saat di perjalanan hingga mereka sampai di tujuan mereka.

Usai jet pribadi itu mendarat di Shanghai Pudong International Airport, China, tanpa Aksa sadari Kasih sangat gugup, butiran keringat dingin berjatuhan dari tubuh Kasih.

“Nyonya, apakah perlu memakai syal?”. Mbak Ayu sudah siap siaga untuk mengikuti Kasih, namun alhasil Kasih tak menjawab malah semakin menjadi-jadi gugupnya.

“Kalau tidak kuat, kembali saja”. Sarkas Aksa yang akhirnya sadar akan perubahan sikap Kasih. “Tidak akan”. Timpal Kasih. Detik berikutnya Kadek datang menghampiri Aksa, Mbak Ayu, juga Kasih.

“Tuan Aksa mobilnya sudah siap”. Ucap Kadek.

“Berapa mobil?”.

“Dua”.

“Bagus!”. Singkat Aksa seraya menepuk singkat bahu Kadek.

Kasih mengalami syok yang cukup hebat, ia bertanya pada dirinya sendiri, ia menyalahkan dirinya, bahkan ia tak bisa berkutik pada keputusan Aksa. Lidahnya kelu untuk mengungkapkan apa yang ia pendam selama ini.

“Tuan Aksa, bukankah itu sangat menyakitkan bagi nyonya”. Kadek mengawali obrolan sembari mengemudi, tapi tidak ada jawaban dari Aksa, ia tetap fokus pada ponsel ditangannya, melihat itu Kadek pun memilih untuk menutup mulutnya rapat-rapat.

***

“SElamat datang Tuan Pradipta dan Nyonya Pradipta”. Sapa Zhang Tingxi selaku pemimpin dari group

Zhang.

“Dimana Kaisar anakku?”. Tanya Aksa secara langsung tanpa kalimat pembuka, sontak Zhang Tingxi terkekeh, tatapan pria ini cukup menakutkan. Zhang Tingxi berkaca mata khas pria tua China.

“Jangan terlalu bingung, anakmu baik-baik saja”. Sahut Zhang Tingxi, sedang Kasih hanya berdiri di samping Aksa dengan mempertahankan senyum pencitraannya.

“Mari kita mengobrol terlebih dahulu”. Ajak Zhang Tingxi.

Sangat menawan, kediaman Zhang Tingxi itu perpaduan antara tradisional China dan modern Eropa, gaya arsitek yang elegan tapi tetap mempertahankan kesan tradisionalnya. Aksa dan Kasih saat ini berada di Paviliun Cheng kediaman Zhang yang disuguhi pemandangan danau buatannya. Kasih terlihat sangat nyaman, sebab suasana yang sejuk dan teh bunga khas China kesukaan Kasih.

“Nyonya Pradipta tampak sangat menyukai teh bunga”. Celetuk Zhang Tingxi yang langsung mendapat lirikan dari Aksa, yah itulah Aksa, dia sangat protective namun gengsi untuk menunjukkannya.

“Iya, saya sangat suka mungkin karena tempat ini mampu membuat saya lebih relax”. Timpal Kasih, bodohnya Kasih malah memancing ejekan dari Zhang Tingxi.

“Apa di kediaman anda sangat sesak sampai nyonya Pradipta butuh teh untuk self reward”. Ujar Si Pendiri grup Zhang tersenut.

“Cukup, disini aku masih menghargaimu Tuan Zhang dan jangan sekali-kali mencoba mencari kesalahanku”. Lugas Aksa.

Kasih hanya menggidikkan bahu, ia cukup muak dengan suaminya ini, memang grup Zhang bisa ditekan oleh Aksa, namun ia tidak boleh terlalu berbuat lebih kepada Zhang, sebab Zhang Tingxi memegang kartu as milik Aksa.

Zhang Tingxi mengangkat kedua tangannya sembari melepas kaca mata yang tertanggal di pangkal hidungnya.

“Oke, aku tidak ada keberanian untuk melawanmu Tuan Aksara Pradipta”. Zhang Tingxi mengatakan sangat mudah meski tersirat meremehkan.

“Tuan Zhang, lebih baik anda mengatkan dimana anak mereka”. Bisik asisten pribadi Zhang Tingxi yang baru saja datang, spontan Zhang Tingxi menghela napas gusar.

“Baiklah, bawa mereka menemui anaknya di Paviliun Huanyan”. Tidak ada senyum ataupun gurauan lagi di wajah seorang Zhang Tingxi. Kemudian Aksa beranjak dari duduknya diikuti oleh Kasih.

“Seorang anjing tidak akan menggigit majikannya kecuali anjing itu bermasalah”. Ucap Aksa sebelum akhirnya melenggang pergi menuju Paviliun Huanyan.

***

Di hari itu Maldiv’s International University tengah mengadakan konsar bersama Band Hindia, yang dimana para anggota BEM yang mengundangnya.

Pria bersurai pirang dengan wajah Swiss itu tengah menenggak sebotol air mineral di belakang panggung, dia tampak sangat lelah, mungkin karena ia sebagai panitia acara ini dan juga selaku ketua umum Badan Eksekutif Mahasiswa, dialah Kenny.

“Kenny, Kaisar belum datang kah”. Tanya Yhovi yang melangkah mendekat ke arah Kenny.

“Entahlah, dari tadi tidak aktif ponselnya”. jawab kenny seraya membuka ponsel untuk memastikan apakah Kaisar sudah aktif atau belum. Yhovi dan Kenny saling berkutat pada pikiran masing-masing, awalnya tidak ada obrolan hingga Yhovi mulai angkat suara lagi.

“Tadi kisaran pukul sembilan pagi pesawat dari maskapai Spencer dengan nomor seri S-604 kecelakaan, dan entahlah mengapa aku berfirasat Kaisar ada disana”. Ucap Yhovi secara tiba-tiba yang mampu membuat Kenny menyatukan kedua alisnya.

“Tapi kita akan menanyakan keadaannya pada siapa, tidak satu pun dari kita memiliki nomor keluarganya”. Timpal Kenny, pria berdarah Swiss ini tampak bingung meski ditutup oleh wajah tengilnya. Tidak satu dua kali Kenny membaca rundown acara yang ia pegang, entah ia sedang memastikan apa.

Dipanggung tengah konser dengan keseruan yang semakin panas, berbeda dengan Kenny ataupun Yhovi, pikiran mereka berkeliaran tak tentu arah, apalagi saat Hindia menyanyikan lagu berjudul ‘Everything U Are’

“Kita lihat saja beberapa hari kedepan, karena kita tau sendiri jikalau Kaisar itu suka pulang pergi ke luar negeri, kita juga tidak heran dia kan anak bungsu Bumantara”. Ucapan Yhovi pun disetujui oleh Kenny, meski begitu rasa khawatir sedikit tersisa di diri mereka.

‘TING’

Notifikasi terdengar dari ponsel Kenny, ia pun melihat apa pesan dan dari siapa yang masuk., oh ternyata chat group.

‘INVESMENT CLUB IN GROUP CHAT’

Si Gavin : aku tidak ikut konser, padahal mau nyumbang main drum

Kenny : lha kamu dimana

Si Gavin : antar mama ke studio model

Kenny : yah itu nasib punya orang tua model internasional

Rabne bana : wih, model internasional tutor kak jadi model

Si Gavin : tanya mamaku saja

Takeshi : tenang saja Gav, saya juga tidak mengikuti konser

Rabne bana : @Takeshi tidak tanya

Kenny : yah kalau dirimu, kami tau pasti sedang sibuk berlatih sumo

Takeshi : jahat kau Kenny

Elisianya Kai : @Takeshi pantas saja gemuk

Takeshi “ eh anak baru sialan

Kenny : aku bilang nih ke Kaisar kalau kamu mengganggu Elisia

“Kenny, ayo ke anak sie acara”. Ajakan dari Yhovi mampu menyadarkan Kenny kalau dirinya sedang ada tugas menjadi panitia. “Thank you”. Singkat Kenny.

Mereka semua tidak tahu apa yang terjadi dibalik layar, dan mereka pula tidak perlu tahu. Cukup diam dan menikmati hasil.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!