NovelToon NovelToon
KUPU-KUPU TIGA SAYAP

KUPU-KUPU TIGA SAYAP

Status: tamat
Genre:Misteri / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bunga Anggrek Mawar Biru

Dua puluh tahun setelah pembantaian yang menghancurkan keluarganya, Dimas Brawijaya menemukan adiknya, Aluna, masih hidup—terkurung trauma di sebuah rumah sakit jiwa. Aluna terus menyanyikan lagu masa kecil mereka dan menuliskan satu kata yang sama di dinding: PEMBUNUH. Ketika Dimas dan saudara kembarnya, Digo, membawa Aluna pulang, serpihan ingatan kelam mulai muncul: pintu loteng, suara langkah di malam tragedi, dan ketakutan ekstrem pada seorang paman yang dulu mereka percaya. Sebuah diary ibu mereka membuka petunjuk mengerikan—bahwa pelaku mungkin adalah “orang dekat”. Kini, kebenaran masa lalu menunggu untuk dibuka, meski risikonya adalah menghancurkan sisa keluarga yang masih bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Anggrek Mawar Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 23 — Rencana Pembantaian

Kebenaran yang terungkap di ruang sidang memiliki bayangan—dan bayangan itu kembali ke malam ketika semuanya bermula.

Dua puluh lima tahun lalu, hujan turun deras di halaman rumah keluarga Brawijaya. Daniel Brawijaya berdiri di ambang jendela ruang makan, tirai setengah terbuka. Di luar, lampu mobil menyala dan mati. Ia tidak berniat mengintip; ia hanya ingin memastikan halaman aman. Namun apa yang ia lihat membuat napasnya berhenti.

Marco.

Adiknya sendiri.

Bersama beberapa pria, membuka bagasi. Karung-karung hitam diturunkan dengan tergesa. Ada bau menyengat—alkohol, bensin, dan sesuatu yang lebih pahit. Daniel mengenali wajah-wajah itu dari kabar burung yang beredar di kota: perampok bersenjata, pengedar, orang-orang yang namanya tak pernah disebut terang-terangan.

Daniel mundur selangkah, jantungnya berdebar. Liana, istrinya, menghampiri. “Ada apa?” bisiknya.

Daniel tidak menjawab. Ia hanya menunjuk. Liana mengikuti arah pandangannya—dan wajahnya memucat. Di antara celah hujan dan cahaya lampu, ia melihat Marco tertawa kecil, memberi perintah. Tawa yang tidak pernah ia dengar sebelumnya.

“Dia melihat,” bisik Liana, ngeri—bukan menunjuk siapa, melainkan menyadari fakta paling berbahaya: mereka menjadi saksi.

Daniel menutup tirai. “Kita tidak bisa diam,” katanya, suaranya bergetar. “Ini sudah terlalu jauh.”

Liana mengangguk. Ia tahu. Selama bertahun-tahun, Daniel menutup mata—menutup telinga—ketika kabar tentang Marco muncul. Demi darah. Demi keluarga. Tapi malam itu, garis telah dilanggar.

Daniel mengambil telepon. Jemarinya ragu di atas tombol. Ia teringat wajah anak-anaknya di kamar: Dimas yang sudah mengantuk, Digo yang membaca buku, Aluna kecil yang memeluk bros kupu-kupu perak—hadiah ulang tahun dari ayahnya. Daniel menelan ludah. “Besok pagi,” katanya. “Kita lapor besok.”

Keputusan itu terlambat.

Marco tahu.

Ia selalu tahu kapan seseorang melihat terlalu banyak. Ia mengenali cara orang menutup tirai terlalu cepat, cara napas tertahan di balik dinding. Malam itu, ia memberi isyarat singkat pada anak buahnya. “Saksi,” katanya. “Keluarga.”

Tidak ada amarah di suaranya. Hanya perhitungan.

Rencana disusun cepat dan rapi. Senjata diperiksa. Jalan keluar ditandai. Waktu dipilih saat hujan—ketika suara tertelan, ketika kota sibuk menyelamatkan diri.

Di dalam rumah, Daniel dan Liana mencoba tenang. Mereka mengunci pintu, mematikan lampu. Daniel menulis dua kata di halaman belakang buku lagu yang sering dinyanyikan Liana untuk anak-anak: *dia melihat*. Sebuah catatan kecil—bukan untuk polisi, melainkan untuk kebenaran yang mungkin suatu hari ditemukan.

Langkah kaki terdengar. Ketukan di pintu—pelan, akrab.

“Dan,” suara Marco memanggil, hangat palsu. “Aku.”

Daniel menutup mata sesaat. Ia membuka pintu.

Yang terjadi setelahnya adalah badai yang tak memberi waktu untuk berdoa. Teriakan tertahan. Perintah singkat. Kekerasan yang dingin dan terukur. Marco tidak ingin kebisingan; ia ingin kepastian.

Liana berlari ke kamar anak-anak. “Sembunyi,” bisiknya, mendorong lemari. Aluna yang kecil gemetar, memeluk brosnya. Dimas menarik Digo ke sudut. Daniel berusaha menghalangi—usaha terakhir seorang ayah.

Tembakan memecah hujan.

Kekacauan menyapu rumah yang dulu penuh tawa. Darah mengalir di lantai yang pernah bersih. Marco bergerak tanpa ragu—ia telah memutuskan. Ini bukan tentang marah; ini tentang menutup bab.

Daniel dan Liana jatuh. Rumah itu kehilangan suaranya.

Namun rencana Marco tidak sempurna.

Dimas dan Digo terlempar ke jurang, disangka selesai. Mereka tidak. Dunia memberi mereka satu kesempatan yang kejam. Aluna bersembunyi di lemari—diam, melihat semuanya. Mata kecil itu merekam apa yang otak belum sanggup menanggung. Tok… tok… suara itu membeku di kepalanya.

Ketika warga datang keesokan paginya, rumah itu berantakan. Marco berdiri di halaman, wajahnya penuh kepanikan yang terlatih. Ia memeluk Aluna yang membeku, berbicara cepat kepada polisi—narasi siap pakai. Anak itu terlalu kecil, terlalu takut. Kata-kata tidak keluar.

Rencana pembantaian itu berhasil—untuk sementara.

Di ruang sidang, bertahun-tahun kemudian, jaksa menutup berkas. “Inilah motifnya,” katanya. “Bukan kebencian buta, melainkan penghapusan saksi.”

Digo mendengarkan dengan rahang mengeras. Aluna menatap lurus—tidak menangis. Ia telah menangis cukup lama.

Di luar gedung, angin bergerak pelan. Rencana pembantaian itu kini memiliki nama, tanggal, dan pelaku. Tidak lagi bayangan.

Dan di antara reruntuhan masa lalu, satu kebenaran berdiri: keluarga itu tidak hancur karena orang asing—melainkan karena pilihan seorang saudara yang memilih kejahatan, dan seorang ayah yang terlambat memilih kebenaran.

1
Mega Arum
digo kah ?
Mega Arum
mampir thor..
Adi Rbg
terimakasih kakak dah update lagi!
Putri Nadia: sama-sama
total 1 replies
Adi Rbg
bagus
Putri Nadia: Terima kasih
total 1 replies
Nurhayati Hambali
liana itu ibu mereka atau kakak mereka thor??
Putri Nadia: ibunya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!