Dewangga tak menyangka di usianya yang menginjak 42 tahun, dia harus menikahi sahabat putrinya karena kesalahan pahaman. Pernikahan mereka pun harus dirahasiakan dari sang putri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Escendol94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23~
Pintu kamar tertutup keras.
Dewangga berdiri membelakanginya, napasnya berat, tidak beraturan. Untuk beberapa detik, ia hanya diam, tapi diamnya bukan tenang.
Tangannya mengepal kuat di sisi tubuh. Bayangan tadi terus berputar di kepalanya.
Riri yang tersipu..
Riri yang gugup..
Riri yang merona karena pria lain.
Rahangnya mengeras.
"Sial!"
Satu kata ke luar pelan, tapi penuh tekanan.
Dewangga berjalan beberapa langkah, lalu berhenti. Tangannya menyapu wajah kasar, berusaha meredam sesuatu yang sejak tadi mendidih di dadanya.
Ia tidak suka.
Bukan.
Ia sangat tidak suka. Cara Dirga menatap Riri. Cara Riri bereaksi. Cara Dirga menggoda Riri...
Dewangga tertawa hambar.
"Serasi?"
Kata itu terasa seperti ejekan. Tangannya menghantam meja di sampingnya cukup keras hingga benda di atasnya bergetar.
"Riri cocok untuk Dirga."
Nada suara Sarah terngiang lagi.
"Cocok apanya?!!" Suaranya meninggi, akhirnya pecah.
Ia berjalan lagi, lebih cepat sekarang, seperti tidak bisa diam. Setiap langkahnya penuh tekanan.
Riri miliknya.
Pikiran itu muncul begitu saja--kasar--egois, tanpa nyata.
Dan fakta bahwa ada pria lain yang berani mendekati, membuat dadanya seperti diremas.
Dewangga berhenti di depan jendela. Tangannya bertumpu di kaca, napasnya masih berat.
"Berani sekali...."
Entah ia sedang bicara tentang Dirga atau Riri. Matanya menyipit. Terbayang lagi bagaimana Riri menolak, gugup, bahkan bersumpah. Tapi, tetap saja wajahnya memerah bukan karena dirinya.
Itu yang membuatnya paling marah. Dewangga mengatupkan rahang kuat. Ia sudah terlalu lama menahan diri.
Bersikap dingin. Menjaga jarak. Menganggap semua akan berjalan sebagaimana mestinya, tapi ternyata tidak.
Perasaan itu ... tidak lagi bisa diabaikan. Tangannya kembali mengepal. Menahan cemburu sungguh menyiksa.
Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Namun, kali ini bukan untuk menenangkan diri, melainkan menguatkan keputusan.
Tatapannya mengeras. Riri tidak akan dibiarkan dekat dengan pria lain. Meskipun itu Dirga.
**
Sementara itu di Jacuzzi.
Suasana terasa berbeda dari sebelumnya. Tidak ada lagi tawa ringan. Hanya suara air yang bergelombang pelan, seolah ikut menegaskan kecanggungan yang menggantung di antara mereka.
Dirga menatap Riri sejenak. Ada rasa bersalah yang muncul di wajahnya. Ia tahu kata-kata Dewangga barusan bisa melukai.
"Ri...," panggilnya pelan. "maafkan Mas Dewangga ya. Dia nggak bermaksud merendahkanmu."
Riri tersenyum tipis. "Iya, Om. Aku paham kok."
Dirga menghembuskan napas lega, lalu bangkit dari dalam air.
"Kalau begitu aku duluan," ucapnya singkat. Tatapannya sekilas ke arah Nura, lalu beralih. "Kalau makan malam sudah siap. Panggil aku." Tanpa menunggu jawaban ia pergi.
"Nur, aku juga duluan ya." Riri ikut berdiri. Suaranya pelan, nyaris tenggelam oleh suara air.
Nura hanya mengangguk, meski raut wajahnya jelas menyimpan rasa bersalah.
Kini hanya tinggal Nura dan Sarah.
Nura menghembuskan napas panjang. Lalu menatap ibunya dengan wajah lesu. "Mam...." Ia mendekat, lalu memeluk Sarah erat, seolah mencari tempat aman.
"Aku salah ya, Ma?" Suaranya melemah. "Aku cuma pengen Riri jadian sama Om Dirga. Tapi kenapa Papa nggak setuju sih?"
Sarah mengusap kepala Nura dengan lembut, gerakannya pelan menenangkan. "Mungkin Papa punya alasan, Sayang."
Nura melepaskan pelukannya, wajahnya ditekuk, bibirnya sedikit cemberut. "Alasan karena Riri dari keluarga biasa? Atau karena dia nggak sebanding sama kita?"
Ia mendengkus pelan. "Cara pikir Papa kolot banget."
Sarah tersenyum tipis, lalu menggeleng. "Papa bukan orang seperti itu."
"Terus kenapa? Riri gadis baik. Apa salahnya kalau dia jadi istri Om Dirga? Lagian Om Dirga juga suka sama Riri." Nura menatap lekat, penuh tuntutan jawaban.
Sarah terdiam sejenak, lalu menghela napas pelan. "Mama juga nggak tahu."
Hening sejenak.
"Sudahlah, Sayang," lanjut Sarah lembut. "Lagipula... Riri juga sudah punya orang yang dia suka, kan? Bukan lagi Om Dirga."
Nura terdiam, lalu mengangguk pelan. "Iya...."
Ia menarik napas panjang, seolah melepaskan sesuatu yang sejak tadi menyesakkan dadanya. "Baiklah. Aku nggak akan maksa lagi." Nura menunduk lesu.
Sarah tersenyum, lalu mengusap puncak kepala Nura lembut.
"Apapun yang dipaksa, biasanya nggak akan berakhir baik, Sayang."
Sejenak, pandangannya kosong. Seolah pikirannya melayang ke tempat lain--ke sesuatu yang sudah lama ia perjuangkan... tapi tidak pernah ia miliki. Ia menarik napas pelan.
Detik berikutnya, Nura menatap Sarah dengan wajah berbinar. "Ma... malam ini aku boleh tidur sama Mama?"
Sarah berkedip pelan, lalu tersenyum hangat. "Boleh."
Wajah Nura langsung cerah. Ia memeluk Sarah erat. "Makasih, Mama!"
Sarah membalas pelukan itu, lebih lama dari biasanya.
**
Riri yang sampai di kamar langsung masuk ke dalam kamar mandi. Ia melepas pakaiannya satu persatu lalu menyalakan shower. Air mengalir deras, tapi tidak mampu meredam pikirannya yang berisik.
Selesai mandi, dan berganti baju ia duduk di tepi ranjang. Rambutnya masih sedikit basah, ia menggenggam ponsel. Tatapannya bolak balik ke layar, nama Dewangga sudah terbuka.
"Telfon nggak ya...," gumamnya pelan. Jari-jarinya gemetar tipis. Ia menggigit bibir bawahnya, ragu.
Ingin, tapi takut. Takut dengan respon dingin pria itu. Setelah menimbang beberapa saat, akhirnya Riri memutus untuk menghubungi Dewangga. Saat jarinya hampir menekan tombol panggil --
Pintu kamar terbuka. Riri refleks menurunkan ponselnya.
Nura masuk dengan langkah tergesa. Ia langsung mendekat dan duduk di samping Riri.
"Ri...." Suaranya pelan, penuh penyesalan. "Maafin aku ya. Aku nggak seharusnya maksa kamu dijodohin sama Om Dirga. Kamu nggak marah, kan?"
Riri menatapnya lalu tersenyum kecil. "Aku nggak marah kok."
Nura langsung menghembuskan napas lega. “Syukurlah." Ia tersenyum lalu menunjuk kamar mandi. "Aku mandi dulu, ya."
Setelah Nura masuk ke dalam kamar mandi. Riri menatap ponselnya lagi. Ia mengetik sesuatu lalu mengirimnya pada Dewangga.
Ia menunggu balasan dengan gelisah. Sampai Nura selesai mandi, pesannya belum juga di balas pria itu.
Dia beneran marah?
Riri semakin gelisah.
"Ri, kita makan malam yuk. Makanan sudah siap."
Riri mengangguk dan berdiri. Ia mengikuti Nura ke luar kamar.
**
Ruang makan di kapal itu sudah tertata rapi. Cahaya lampu temaram memantul di permukaan meja, menciptakan suasana hangat--yang sayangnya tidak terasa.
Sarah dan Dirga sudah duduk. Riri dan Nura mengambil tempat. Namun, satu kursi masih kosong.
"Ma, Papa belum datang?" tanya Nura.
Sarah menggeleng. "Belum, Sayang. Kamu panggil--"
Belum sempat kalimat itu selesai, langkah kaki terdengar.
Dewangga muncul.
Wajahnya datar. Dingin seperti biasa, tidak ada senyum, tidak ada sapaan. Ia langsung duduk.
"Papa masih marah?" tanya Nura hati-hati.
"Tidak," jawab Dewangga singkat, tanpa menatap siapapun.
“Syukurlah..," gumam Nura, meski senyumnya terasa dipaksakan.
Sarah ikut lega. “Ya sudah kita makan."
Dewangga mengambil lauk dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Ia lalu memindahkannya ke piring Riri.
Gerakannya sederhana, tapi cukup untuk membuat semua orang terdiam.
Sendok di tangan Nura berhenti di udara. Dirga mengangkat pandangannya, menatap Dewangga dengan kening berkerut. Bahkan Sarah ikut memperhatikan.
Riri sendiri membeku. Ia menatap lauk di piringnya , lalu perlahan mengangkat pandangan ke arah Dewangga.
Pria itu tetap makan seperti biasa. Ekspresinya datar. Tidak peduli dengan reaksi semua orang. Seolah tindakan barusan bukan sesuatu yang harus dijelaskan.
Menyadari semua tatapan masih tertuju padanya. Dewangga berdehem pelan. "Sebagai permintaan maaf," ujarnya santai tanpa menatap siapapun.
Nura berkedip beberapa kali, jelas kebingungan. "Maaf?" gumamnya.
Papanya tidak pernah meminta maaf meksipun menyakiti hati Riri dengan ucapannya.
Dirga sedikit merasa lega, meksipun masih merasa bingung dengan tindakan Dewangga yang tidak seperti biasanya.
**,**