Menceritakan tentang perjalanan empat sekawan para pria yang kaya raya, dan Cindy sari yang bekerja sebagai seorang pelayan di sebuah karaoke
Semua kisah berawal dari Cindy yang akhirnya di nikahi oleh Aditya Pratama salah satu anggota empat sekawan CEO yang kaya raya dan baru pertama kalinya jatuh cinta
Tetapi karena perbedaan status keluarga Adit tidak menyetujui pernikahan tersebut, mereka pun menggunakan cara kotor untuk memisahkan Adit dan Cindy. Rencana mereka pun berhasil, Adit meninggalkan Cindy yang ternyata saat itu sedang berbadan dua
Cindy meninggal dunia saat melahirkan anaknya yang bernama Zahra Pratama
Bagaimana kah nasib buah hati mereka berdua ?
Apakah Zahra bisa membantu Adit bangkit dari keterpurukannya saat mengetahui semua kebenarannya ?
Lanjut di baca ya ada seribu kesedihan di dalam nya..
baru belajar maaf kalo masih banyak typo..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triana mutia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kata Sayang
Sesampainya di apartemen Mita dan Cindy masuk ke dalam kamar mereka masing-masing, Cindy tidak ingin terlalu memaksa Mita untuk bercerita tentang apakah gerangan yang sedang terjadi kepadanya
Ting..
Suara notifikasi ponsel Cindy berbunyi, dan ternyata seorang Aditya Pratama yang mengirimkan dia pesan, seorang pria yang baru saja berpisah dengan Cindy tetapi sudah sangat merindukan gadis itu
" Sayang "
" Iya "
" Lagi apa sayang ? aku kangen kamu "
" Ya ampun baru juga tadi ketemu, aduh ni jantung jadi ga karuan kan jadinya "
" Lagi rebahan aja ni, tadi baru aja kita ketemu "
" Oh ya... Kamu bisa bawa mobil ga sayang ? "
" Kenapa ? "
" Kalo kamu bisa, beli mobil aja sayang "
" buset dah dasar orang kaya, kamu kira beli mobil kaya beli cabe di pasar apa "
" Aku ga bisa bawa mobil Dit "
" Ga apa sayang kamu bisa pake jasa supir "
" Ga usah lah Dit, aku juga punya mobil buat apa ga ada kegunaannya buat aku "
" Tapi aku ga tega sayang liat kamu kayak tadi, harus nungguin dulu teman kamu "
" Ga apa kok Dit, aku senang kok Mita itu sahabat paling baik menurut aku "
" Tapi kamu itu calon istri Aditya Pratama masa kamu harus nungguin orang kayak tadi sih "
Sebenernya ada perasaan keberatan dari penolakan Cindy, tetapi Adit juga tidak ingin terlalu memaksa bila tidak membuat nyaman calon istrinya itu
" Oh... Ya udah kalo kamu ga mau, kamu istirahat ya.. Besok aku telepon kalo aku udah sampe sana ya sayang "
" Iya sayang "
Karena Adit yang selalu memanggil Cindy dengan kata sayang, akhirnya Cindy pun tidak sadar kalau dia juga menggunakan kata sayang pada pesan terakhir yang dia kirim ke Adit
Lain hal dengan Adit yang berada di seberang sana, begitu dia membaca pesan dari Cindy yang memanggilnya dengan sebutan sayang, rasanya dia ingin sekali saat itu juga berlari untuk memeluk Cindy, Adit pun langsung menghubungi Cindy
Tut..Tut..Tut..
" Halo.. "
" Terima kasih " jawab Adit dengan wajah yang berseri di seberang sana
" Buat apa ? " Cindy pun mengerutkan keningnya
" Itu pesan terakhir yang kamu kirim ke aku, kamu panggil aku sayang "
Blush... Dalam sekejap wajah Cindy pun menjadi merah mendengar ucapan Adit, Cindy menjadi malu dengan apa yang sudah dia lakukan
" Ya udah met istirahat sayang... Bye.. "
" Met istirahat juga ya "
" Itu doang ? "
" Lah terus harus gimana dong ? " ucap Cindy dengan polosnya
" Kata sayangnya mana ? aku mau dengar langsung "
" Hmm... " Cindy merasa malu untuk mengucapkan kalimat itu untuk pertama kalinya
" Mana ? "
" Selamat istirahat sayang " ucap Cindy lalu dia langsung mematikan sambungan teleponnya karena dia benar-benar malu
Sedangkan Adit yang berada di seberang sana merasakan bahagia yang tak terhitung lagi jumlahnya, walaupun Cindy langsung mematikan sambungan teleponnya setelah mengucapkan kata sayang untuk pertama kalinya
" Terima kasih ya kamu udah mulai buka hati kamu buat aku "
Detik demi detik berlalu. Adit dan Cindy selalu berkomunikasi dengan baik selama Adit berada di luar kota, Adit dengan sigap menyelesaikan semua permasalahan pekerjaannya agar dia bisa cepat kembali
Bagi Adit saat ini Cindy adalah yang terpenting dalam hati dan hidupnya, Adit benar-benar baru merasakan yang namanya jatuh cinta
Sedangkan Cindy dan Mita menghabiskan hari-harinya dengan asik selalu keluar untuk berbelanja, hampir semua yang Mita inginkan dia beli dan terpaksa Cindy juga harus membeli barang yang sama dengan Mita karena paksaan dari Mita
Walaupun sebenarnya Cindy merasa enggan karena itu bukan lah uang pribadinya, apalagi barang-barang yang mereka beli adalah barang branded, yang harganya sungguh membuat Cindy merasakan sakit kepala hanya dengan melihat harganya, tetapi Mita selalu menemukan cara agar bisa membuat sahabatnya itu menemaninya
Lain hal lagi dengan Rangga yang sedang berada di dalam ruang kerjanya, dia menggunakan seragam putih kebanggaannya, ya Rangga adalah seorang dokter muda yang cukup mempunyai nama
Selain tampan Rangga adalah seorang dokter spesialis di sebuah rumah sakit, dan ayahnya adalah pemegang tujuh puluh persen saham di rumah sakit itu, membuat nama Rangga sangat di gandrungi di kalangan para suster dan dokter perempuan lainnya
Setelah kejadian terakhir dengan Mita di karaoke xx, entah mengapa tidak sedetikpun dia bisa melupakan Mita, Rangga benar-benar sangat merindukan Mita, Rangga terus saja teringat saat Mita mencium bibirnya
Rangga berpikir bila dia datang ke karaoke xx sekali pun untuk mencari Mita pasti akan percuma, karena Adit sudah meminta Mita tidak bekerja untuk sementara waktu selama Adit berada di luar kota
Walaupun Rangga tidak sebaik Adit tetapi dia tidak seperti Bagas dan Bastian, Rangga bukan tipe pria yang suka berganti-ganti pasangan seperti dua sahabatnya yang lain, bahkan Rangga tidak pernah melakukan hubungan yang lebih jauh kepada gadis-gadis malam yang menemaninya
" Gw kok ke pikiran sama cewe itu terus ya, bisa gila deh gw lama-lama mikirin dia terus "
" Lagian kok gw bodoh amat ya, udah dua kali gw ketemu sama dia kenapa gw ga minta nomer teleponnya, padahal kartu gw aja udah gw kasih ke dia "
Cukup lama juga Rangga memaki dirinya sendiri akan kebodohannya, saat ini dia hanya sedang berpikir bagaimana caranya bisa bertemu dengan Mita
" Oh ya.. Kenapa gw ga minta aja nomer telepon dia dari ceweknya Adit aja, kan ga mungkin dong Adit ga punya nomer ceweknya "
Ting...
Suara notifikasi handphone Adit
" Dit udah balik belum lo ? " pesan Rangga ke Adit memulai basa-basi
" Besok rencananya gw balik bro, kenapa ? kangen ya sama gw ? "
" Gw minta nomer telpon cewek lo dong bro, bisa ga ? "
Rangga saat itu hanya memikirkan bagaimana caranya mendapatkan nomer telepon Mita, sehingga dia lupa bila Adit seorang yang pencemburu kelas kakap
Sedangkan di seberang sana Adit yang membaca pesan terakhir Rangga langsung terpancing emosinya, dia sudah mengeraskan rahangnya dan mengepalkan kedua tangannya lalu langsung menghubungi Rangga
Tut..Tut..Tut..
" Lo jangan main-main sama gw..!!! " Adit berteriak saat sambungan telpon di angkat oleh Rangga dan Rangga hanya bisa menepuk jidatnya
" Astaga **** amat ya gw tanyanya begitu, Adit kan cemburuan "
" Ya elah sensi amat bro, maksud gw tadi minta nomer telpon cewek lo, gw mau minta nomer telpon temannya "
" Kalo ga ya lo aja tolongin gw, tanyain ke cewek lo berapa nomer telepon temennya itu "
" Hmm... " jawab Adit dan langsung mematikan sambungan teleponnya
Tak selang berapa lama Adit pun mengirimkan nomer telepon Mita kepada Rangga
" Enaknya gw ngomong apa ya, aduh kok gw jadi grogi gini sih "
Rangga pun akhirnya mengirimkan Mita sebuah pesan setelah menjelang malam hari, saat Mita baru saja sampai di dalam apartemennya bersama Cindy, mereka berdua seharian membeli ini dan itu
Karena sudah merasa terlalu lelah berjalan seharian ini, Mita enggan untuk keluar makan malam bersama Rangga, mereka pun akhirnya memutuskan untuk makan siang keesokan harinya bertiga bersama Cindy juga
bantu like dan komentar ya teman-teman 😊
terima kasih 😊
maaf masih banyak typo masih belajar
ciyeee yng bentar brp bln lagi nyusul jd papa