Berniat ingin membatalkan perjodohan dengan bersandiwara bersama seorang wanita yang tak sengaja ia tabrak.
Siapa sangka, bahwa ternyata wanita itulah yang akan di jodohkan dengan nya.
Bagai buah simalakama, nasi sudah menjadi bubur, dirinya sudah terlanjur mengatakan ingin menikah dan mencintai wanita tersebut.
Lalu, bagaimana kelanjutan kisah keduanya setelah menikah?
Akankah rasa cinta itu tumbuh? Atau malah harus berakhir setelah keduanya menemukan cinta sejati masing-masing?
Yuk, simak kisahnya om dokter Bastian dan gadis bar bar Denisa.
follow IG mommy : @Mommy_Ar29
Follow TikTok : @Mommy_Ar95
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan sok kuat
Hemmm, maaf nih. Mommy saranin, baca pas udah gak puasa yah. Gak panas sih, cuma sedikit buat traveling, jadi baca pas udah buka puasa yah. 😘🥰🥰🥰
.
.
.
.
.
"Huaaaa! Bastian sialaaann! " pekik Nisa dan langsung menyilangkan kedua tangan nya di dada.
Glek!
Seketika tubuh Bastian langsung terpaku dengan tangan yang masih menggenggam ujung selimut bed cover. Bagaimana tidak, saat ini penampilan Nisa begitu memukau.
Lingerie berwarna merah terang bertali spaghetti dan panjang hanya sebatas bawah pinggul, terlihat begitu sexy dan wow. Menampilkan betapa mulus nya kulit di atas lutut yang selama ini tak terlihat. Bastian sampai kehabisan kata kata. Ia masih menatap Nisa dengan tatapan bingung, seolah bertanya, benarkah ini istrinya?
"Berbalik!" teriak Nisa langsung kembali menarik selimutnya, namun entah mengapa Bastian sama sekali tidak melepaskan selimut itu.
"Bas!"
"Baju darimana? Kapan kau membelinya?" tanya Bastian setelah susah payah menelan saliva nya.
"I—ini dari kak Kiara dan kak Anne. Mereka pikir kamu itu gak normal! makanya suruh aku pake beginian, tapi— emmmtthh! "
Bastian sudah tidak bisa menunggu Nisa menyelesaikan kata katanya. Dengan cepat, ia langsung menindih tubuh Nisa dan langsung membungkam mulut itu dengan bibirnya agar berhenti mengoceh.
Euuggghh
Nisa memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan yang di berikan oleh Bastian. Tak bisa ia pungkiri, bahwa dirinya juga menginginkan sentuhan itu, ah mungkin lebih tepatnya penasaran. Iya, Nisa begitu penasaran dengan rasanya, karena menurut kakak ipar serta sahabat nya, rasanya seperti kamu akan di bawa terbang hingga ke langit ke tujuh.
Selain itu, Nisa juga ingin melindungi rumah tangga nya. Kembali ia teringat wejangan dari sang kakak ipar yang mengatakan bahwa pelakor sedang berkeliaran di luar sana, jangan sampai kau memberinya kesempatan.
"Bassshh!" Tubuh Nisa semakin melengking ke atas saat jemari tangan Bastian kini sudah semakin lancang bergerilya menjamah seluruh tubuh nya.
"Baiklah, kitab buktikan pada Kiara bahwa aku laki laki normal. Kamu akan merasakannya nanti. " Bastian berbisik di telinga Nisa hingga memberikan sentuhan sentuhan di area tersebut yang mana malah membuat Nisa semakin bergerak gelisah.
Nisa hanya pasrah, ia tidak bisa menolak. Dan ia hanya bisa mengikuti naluri nya sebagai wanita dewasa. Hingga akhirnya terjadilah peperangan entah berantah di kamar itu.
( SKIP, bulan puasa. 🙄🤭🤭 )
*****
Sinar mentari pagi yang masuk melewati helaian kain panjang berwarna putih yang menutup jendela. Nisa mengerjapkan mata nya beberapa kali, ia menatap sekeliling, kosong.
Kembali ia teringat, bagaimana panas nya malam itu. Wajahnya merona, namun ia juga bingung kemana Bastian? mengapa saay ia membuka mata ia tidak menemukan laki laki itu?
"Sialan! aku di tinggal gitu?" gumam Nisa begitu kesal.
Cklek!
Mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, membuatnya mengalihkan pandangan. Ia pikir Bastian meninggalkan nya, tapi ternyata ia salah. Bastian baru selesai mandi, dan kini laki laki itu hanya memakai sehelai handuk yang ia lilitkan di pinggang. Rambutnya masih begitu basah, menatap ke arahnya dengan sebuah senyum menyeringai tipis.
"Kamu sudah bangun?" tanya nya basa basi sambil berjalan ke arah Nisa.
"Kamu gak kerja?" kata Nisa malah balik bertanya.
"Enggak! Aku akan mengambil cuti," jawab Bastian, kini ia duduk di samping Nisa, membuat jantung Nisa semakin terasa tak nyaman.
"Kenapa malah kesini sih? Sana pake baju dulu?" Nisa mendorong pelan tubuh Bastian agar beranjak pergi.
"Aku hanya ingin membantu mu, kamu gak mau mandi? " tanya Bastian mengerutkan dahinya.
"A—aku bisa sendiri! " cetus nya memalingkan wajahnya.
"Yakin bisa? Semalam aja kamu—"
"Basss! jangan cerewet! " cetus Nisa begitu kesal, lalu ia beranjak dengan melilitkan selimut ke tubuh nya lalu ia segera hendak ke kamar mandi.
"Auuwhhh! " ringis nya menggigit bibir bawah. Ternyata memang benar, ini sangat menyakitkan.
Bastian menghela nafas pelan, lalu tanpa berkata lagi ia segera mengangkat tubuh Nisa dan membawa nya ke kamar mandi.
"Makanya, jangan sok kuat. Apa gunanya punya suami tampan dan kuat kalau gak kamu manfaatin hem?" gumam Bastian bangga membuat Nisa langsung mendengus kesal, namun ia juga membenarkan ucapan Bastian.
dulu pas kia ngidam kn om Abas yg repot