NovelToon NovelToon
Danke, Häschen !!!

Danke, Häschen !!!

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Mafia / Dijodohkan Orang Tua / Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Cinta setelah menikah / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.8
Nama Author: Mei Shin Manalu

Erie, seorang gadis berusia 19 tahun yang mempunyai nasib malang, secara tiba-tiba dinikahkan oleh bibi angkatnya dengan pria bernama Elden. Tidak hanya bersikap dingin, pria tampan nan kaya raya itu juga terkesan misterius seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari Erie. Kira-kira bagaimana cara Erie bertahan di dalam pernikahannya? Apakah Erie bisa merebut hati sang suami ketika ia tahu ternyata ada wanita lain yang menempati posisi istimewa di dalam hidup suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei Shin Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

He Comes

Hari ini adalah hari terakhir Erie berada di tempat itu. Sepuluh hari hari telah ia lewati dengan baik walaupun diwarnai dengan hinaan dan cacian dari wanita-wanita yang menganggap rendah keluarga Eduard. Setidaknya Erie belajar satu hal dalam acara itu bahwa tidak ada sesuatu yang mudah dalam mempertahankan posisi dan kedudukan seseorang. Sama seperti kata para orang bijak yang mengatakan mempertahankan jauh lebih sulit dibandingkan meraih sesuatu.

Di malam terakhir ini ada sesuatu yang spesial yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Pada malam itu semua wanita dikunjungi oleh pasangan mereka masing-masing. Entah itu suami atau sekedar kekasih mereka. Mereka akan makan bersama dan berdansa sebelum akhirnya kembali ke daerah mereka masing-masing.

Erie tahu bahwa tidak akan ada yang menjemputnya. Dicken dan para pengawal lainnya juga tidak diperkenankan masuk ke ruangan itu. Erie juga tidak mau menjadi bintang di pesta terakhir malam itu. Biarlah wanita-wanita yang berkedudukan tinggi yang menjadi sorotan semua orang. Jadi, yang dilakukan oleh perempuan itu hanya duduk sambil berharap acara itu selesai secepat mungkin.

Melihat Erie duduk di sudut ruangan tanpa ada pasangan, membuat Stefan merasa sedih. Ia memutuskan untuk menghampiri perempuan itu. "Aku tak menyangka acara ini telah berakhir," kata Stefan mendekati Erie.

Erie tidak terkejut lagi akan kehadiran pria itu yang secara tiba-tiba. Pasalnya, pria itu selalu melakukannya beberapa hari belakangan. Jadi ia sudah terbiasa. "Aku bersyukur bisa melewatinya dengan baik," ucap Erie dengan tersenyum.

Stefan memandang Erie dengan lekat. "Apakah tidak ada pria yang menjemputmu, Erie?"

Perempuan itu hanya menggeleng.

"Hemm.. Apakah aku harus membawa kuda putih dan menjadi pangeranmu?" tanya Stefan.

Erie mengerutkan keningnya.

"Kau lupa? Dongeng yang selalu Ibu Tere ceritakan kepadamu. Tuan Putri cantik yang menunggu pangeran berkuda putihnya datang untuk menjemputnya."

"Oh iya! Aku ingat! Tapi kakak yang sekarang tidak cocok menjadi pangeran. Hahaha!" kata Erie diselingi oleh gelak tawanya.

"Kau! Kau ini benar-benar tak pernah berubah. Dulu mencuri makananku, sekarang kau malah membuatku kesal."

"Kakak juga tidak berubah. Selalu bisa aku dijaili."

"Ck! Jika tidak karena pekerjaan, aku akan menghabisimu di sini. Sudahlah nikmati hari terakhirmu di sini Tuan Putri. Hamba permisi dulu," ujar Stefan sambil menundukkan tubuhnya berlagak seperti pangeran,se kemudian ia berlalu meninggalkan Erie.

"Gadis rendahan memang cocok dengan pelayan," kata salah seorang wanita bangsawan yang entah sejak kapan sudah berada di sekat Erie.

"Sama seperti bibinya, mereka semua wanita murahan." Khas para wanita bangsawan di sana. Mereka tidak bisa merundung wanita lain sendirian. Mereka selalu mengajak komplotannya untuk melakukan aksi mereka.

Erie menyabarkan dirinya mendengarkan perkataan-perkataan wanita bangsawan itu. Ia tidak ingin merusak pertahanannya selama sepuluh hari ini. Ia memilih untuk menghindar.

"Kau mau ke mana Nona Eduard?" cegah salah seorang dari mereka dengan memegang bahu Erie.

"Maaf Nona. Saya tidak suka membuat keributan." Erie menghempaskan tangan wanita itu dari bahunya.

"Kau! Berani sekali kau kepadaku!" bentak seorang lagi kepadanya.

"Rasakan ini Nona Eduard!" Salah seorang dari mereka menuangkan wine dari gelasnya ke wajah Erie.

"Lihatlah! Penampilannya sangat cocok. Dasar wanita murahan. Hahahaha!!!"

Erie sangat geram. Bagaimana para wanita seperti itu disebut sebagai bangsawan? Pemilik darah biru? Itu sungguh tak pantas! Ingin rasanya Erie merobek mulut para wanita itu. Namun, ia tak melakukannya. Kerja keras ayahnya lebih berharga dari segalanya.

Erie berjalan menghindari mereka. Namun, baru beberapa saat, kakinya dijegal oleh salah seorang wanita bangsawan itu. Ia terjatuh. Salah satu sepatunya terlepas dari kakinya. Semua orang menatapnya dengan hina dan sinis. Erie benar-benar merasa malu. Ia tidak bisa menahan dirinya lagi. Matanya panas dan ia mulai menangis. Dengan sekuat tenaga Erie bangkit berdiri. Ia senyeka air matanya.

Saat Erie ingin mengambil sepatunya, wanita-wanita itu menendangnya. Mereka tertawa dan senang mempermainkan Erie.

Namun beberapa saat kemudian, seketika ruangan itu menjadi hening. Mereka semua terdiam melihat seorang pria. Pria itu mengambil sepatu Erie dan menghampiri perempuan itu. Ia lalu duduk di hadapan Erie dan mengenakan sepatu itu di kaki Erie. "Kau terlihat buruk," kata pria itu berdiri sambil menatap mata Erie.

Dari sorotan matanya, Erie bisa melihat sebuah kekhawatiran. Kekhawatiran yang pernah pria itu tunjukkan saat dirinya terjatuh di kolam. "Aku lebih buruk dari itu, Elden."

XXXXX

Kembali ke beberapa hari sebelum insiden itu. Saat Erie berangkat ke 'kapal putih', Elden juga berangkat untuk mengantarkan Jessie ke bandara. Sesuai janjinya, ia sudah menemukan sebuah perusahaan sepatu yang akan memakai Jessie sebagai modelnya. Elden mengadakan rapat terbatas di sana untuk membicarakan kontrak kerja sama agar ia bisa memastikan Jessie tidak mendapatkan masalah lagi. Alasan di bandara adalah karena CEO perusahaan itu akan melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri dalam jangka waktu yang lama, sehingga Elden memanfaatkan hal itu sekaligus mengantarkan Jessie yang akan berlibur ke kota lain dalam beberapa jam kemudian.

Usai menyelesaikan masalah Jessie, Elden kembali ke kantor. Ia melihat jam tangannya dan ternyata sudah waktunya acara di 'kapal putih' dimulai. Elden sudah mendapatkan semua jadwal acara dan ia akan memantau semua acara itu satu per satu.

Elden memerintahkan Mario untuk menghubungkan monitor besar yang ada di ruangannya dengan CCTV yang telah anak buahnya retas. Ekspresi pertama yang Elden dapatkan ketika melihat siaran langsung itu adalah senyuman kecil. Kedua bibirnya itu terangkat saat ia menyaksikan bagaimana gelagat Erie yang ingin memastikan apakah CCTV di sana mengikutinya atau tidak. Dari pandangan Elden, tindakan perempuan itu terlihat lucu.

Setelahnya, Elden memperhatikan siaran itu lebih fokus. Saat Dicken memburu seorang juru foto yang terlihat mencurigakan, Elden tidak tinggal diam. Ia memerintahkan Mario untuk menyelediki orang itu juga. Tayangan selanjutnya justru membuat Elden geram. Ia meremas selembar kertas laporan yang seharusnya ia tanda tangani.

"Siapa dia?" tanya Elden ketika melihat interaksi Erie dengan seorang pria.

Mario membuka tabletnya dan mencari daftar pelayan yang ada di sana. Ia mencocokkan wajah yang ada di layar dengan daftarnya, kemudian menjelaskan kepada Elden. "Namanya Stefan dari keluarga Johnson, Tuan. Ayahnya merupakan nahkoda 'kapal putih' sejak delapan tahun lalu dan Stefan juga menjadi pelayan sejak itu."

"Bukankah mereka terlihat terlalu dekat?"

"Ya, Tuan?" ucap Mario sembari mengerutkan keningnya. Ia sama sekali tidak mengerti masalah hubungan pria dan perempuan. Ia tak pernah merasakan hubungan percintaan atau semacamnya karena sejak kecil ia telah menghabiskan waktunya di organisasi.

"Maksudku, apakah mereka terlihat sangat dekat?" ulang Elden.

Mario masih merasa bingung. Ia kembali membaca catatannya dan menemukan kemungkinan penyebab kedekatan yang dimaksud oleh tuannya. "Stefan adalah anak angkat keluarga Johnson, Tuan."

"Anak angkat? Apakah dia berasal dari panti asuhan yang sama dengan Erie?"

Mario mengangguk. "Benar, Tuan."

Mendengar penjelasan Mario membuat Elden semakin kesal. Tetapi ia tetap meneruskan pantauannya. "Mario beri pelajaran pada perusahaan wanita-wanita itu," ujar Elden menunjuk ke arah layar.

Mario melihat tampilan layar yang menunjukkan adegan perundungan terhadap Erie, lalu mencatat waktunya. "Baik Tuan," katanya.

Elden hanya memantau bagian-bagian penting dari acara di kapal putih itu. Sebagai seorang pemimpin perusahaan, ia harus mengerjakan tugas-tugas penting di kantor. Namun, ia juga tidak bisa melepaskan pengawasannya. Ia memerintahkan Mario untuk memantau keseluruhan acara selagi ia bekerja.

Hari berganti hari. Hari ini tepat hari kesepuluh acara di kapal putih itu telah berlangsung. Artinya hari ini serangkaian acara itu akan berakhir.

"Tuan, apakah Anda akan menjemput, Nyonya?" tanya Mario memulai pagi di hari itu di kantor.

"Tidak, lanjutkan saja jadwalku hari ini," ucap Elden tegas.

Mario mengangguk mengerti. "Baik Tuan."

Elden melanjutkan aktivitasnya di kantor sesuai dengan jadwal yang telah dibuat oleh Mario. Namun, ketika menjelang sore hari, ia menyaksikan lagi kejadian yang tidak mengenakkan hatinya dari tayangan kamera pengawas 'kapal putih' itu. Elden menangkap adegan di mana pelayan yang bernama Stefan itu melihat Erie dengan pandangan yang aneh. Elden marah, berani sekali pelayan itu memandang istrinya dengan pandangan memuja seperti itu.

"Mario, ke ruanganku sekarang," ucap Elden melalui sambungan teleponnya. Beberapa detik kemudian Mario masuk ke dalam ruangan Elden. "Ya Tuan," katanya.

"Batalkan semua jadwalku selanjutnya pada hari ini."

Mario membelalakkan matanya. Ia mencoba memfokuskan pendengarannya pada ucapan Elden. "Semua jadwal, Tuan?"

"Mario, kau tahu aku tidak suka mengulang perkataanku."

"Tapi Tuan, nanti malam Anda memiliki satu pertemuan penting."

Elden menatap Mario dengan tajam. "Mario!" ucapnya geram.

Mario menghembuskan napasnya. Ini memang bukan pertama kalinya Elden membatalkan jadwalnya secara mendadak. Namun, ini terlalu tiba-tiba. Tinggal lima jam lagi menuju waktu pertemuan. Apalagi orang yang akan ditemui Elden adalah seorang duta besar negara tetangga. Mario harus mengirimkan sesuatu agar orang itu tidak merasa kecewa akibat pembatalan ini.

"Baiklah Tuan," tutur Mario pasrah. Ia tidak bisa membantah apapun perintah Elden, meskipun itu menyiksa otaknya yang malang.

"Bagus, dan satu lagi. Segera siapkan helikopter. Aku akan berangkat ke 'kapal putih'."

Sudah Mario duga bahwa penyebab pembatalan jadwal itu adalah karena acara di 'kapal putih'. Itulah sebabnya tadi pagi Mario sudah menanyakannya pada tuannya. Harusnya sejak pagi Mario sudah membatalkan semua jadwal Elden agar ia bisa hidup lebih santai saat ini.

"Baik Tuan. Apakah Anda akan pulang sekarang?"

"Tidak. Tidak akan sempat. Aku akan ke apartemen saja."

"Baik Tuan. Saya akan menyiapkan mobil untuk Anda," ujar Mario meninggalkan tempat itu sementara Elden membereskan barang-barangnya. Setelah itu Elden keluar dari ruangannya menuju ke pintu lobby di mana Mario sudah menunggunya. Elden masuk ke dalam mobil yang membawanya ke sebuah gedung apartemen miliknya yang berada tak jauh dari kantornya.

Di dalam kamar apartemennya, Elden mencari baju dan menyesuaikannya dengan pakaian Erie. Di dalam apartemen itu semua hal telah disediakan dengan lengkap, termasuk pakaian Elden karena sebelum menikah, Elden lebih sering pulang ke apartemen yang lebih dekat dengan kantornya, dibandingkan pulang ke rumahnya yang memakan waktu lebih lama.

Elden membersihkan dirinya di dalam kamar mandi lalu memakai kemeja hitam dengan stelan jas dan celana putih. Ia memakai pakaian itu saat mengetahui dress yang dipakai oleh Erie. Usai menyiapkan diri dengan baik, Elden menuju ke landasan helikopter yang berada di atas gedung. Mario sudah berdiri di sana dengan pakaian rapi sambil menunggu Elden. Jangan tanya bagaimana Mario bisa menyiapkan segala sesuatunya. Sama seperti Elden, Mario hanya tinggal memerintahkan bawahannya untuk menyiapkannya. Mengenai masalah pakaiannya yang berganti, Mario juga memiliki ruangan apartemennya sendiri di gedung itu, sama seperti ia yang memiliki kamar pribadi di rumah Elden.

"Bagaimana di sana? Apakah sudah dimulai?" tanya Elden kepada Mario saat ia melihat laki-laki itu.

"Satu jam lagi acaranya dimulai, Tuan."

"Berapa lama perjalanan kita?"

"Sekitar dua jam Tuan. Sepertinya kita akan terlambat."

"Tidak masalah. Ayo," ucap Elden sembari masuk ke dalam helikopter itu.

Dalam waktu dua jam, helikopter Elden berhasil mendarat di helipad kapar pesiar Independence of the Seas. Ia keluar dan langsung disambut oleh para petinggi yang ada di sana. Mereka benar-benar terkejut melihat seorang Alvaro mau menginjakkan kakinya di acara seperti itu. Biasanya Elden akan memerintahkan pelayannya untuk menjemput Jessie yang merupakan perwakilan dari keluarga Alvaro. Mereka penasaran siapa wanita yang seberuntung itu bisa dijemput oleh Elden.

"Selamat datang Tuan Alvaro," ucap mereka menyapa Elden. Mereka yang tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, mencoba mendekati Elden. Namun, sebelum berhasil mendekati Elden, pria itu mengangkat tangannya. "Menyingkir dariku," kata Elden dengan menampilkan wajah datarnya.

"Tunjukan aku ruangannya," kata Elden kepada B31 yang langsung menyambut Elden usai dihubungi oleh Mario.

"Mari Tuan," ucap B31. Ia mengantarkan Elden ke ruangan yang dimaksud oleh tuannya.

Elden berjalan mengikuti B31 hingga ke sebuah pintu besar di mana Dicken berdiri di sana. Pengawal Erie itu langsung menundukkan kepalanya saat ia melihat Elden.

Elden tidak langsung masuk ke dalam. Ia melihat yang terjadi di sana sebentar melalui sebuah jendela kaca. Ketika ia menyaksikan Erie yang diperlakukan dengan sangat hina, barulah ia memerintahkan pelayannya untuk membuka pintu itu.

Saat pintu itu terbuka, ruangan itu yang awalnya sangat berisik dengan gunjingan terhadap Erie, berubah menjadi senyap seketika. Mereka semua tercengang melihat Elden yang berjalan masuk.

Elden tidak mempedulikan mereka semua. Ia hanya fokus memperhatikan keadaan Erie. Pria itu mengambil sepatu istrinya yang berada tak jauh darinya. Lalu, ia mendekati Erie dan memasangkan kembali sepatu itu ke kaki Erie.

Elden berdiri. Ia melihat keadaan Erie yang menurutnya sungguh berantakan. "Kau terlihat buruk," ucapnya sembari memandang ke dua bola mata istrinya.

"Aku lebih buruk dari itu, Elden." Erie memegang erat baju Elden. Tangannya itu begitu gemetar. Melihat hal itu membuat Elden marah besar. Sekilas, ia menatap tajam satu persatu orang-orang yang ada di sana, terutama para wanita yang telah menghina istrinya.

Elden semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Erie. Pria itu menatap Erie lekat. Kemudian ia beralih menatap bibir perempuan itu. Dengan perlahan, ia mendaratkan bibirnya di bibir Erie. Menggoda perempuan itu dengan menjilat bibirnya sehingga Erie membuka bibirnya. Lalu, dengan cepat ia memasukkan lidahnya ke rongga mulut Erie. Elden mempermainkan lidahnya di dalam mulut perempuan itu, yang membuat Erie melingkarkan tangannya ke leher Elden tanpa sadar.

Semua orang yang melihat adegan itu sangat terkejut. Bahkan wanita-wanita yang pernah menghina Erie merasa gemetar. Mereka tidak tahu bahwa mereka telah berurusan dengan keluarga Alvaro yang sangat berkuasa dan terkenal sangat kejam.

Elden menghentikan ciumannya. Ia terkekeh melihat kekesalan di raut wajah Erie. "Kau selalu melawanku, tapi mengapa kau tidak melawan mereka, heemm?" Pria berkata sambil tetap mendekap Erie.

"Kau yang memerintahkanku untuk tidak mempermalukanmu, Tuan," kata Erie sambil menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah. Ia baru sadar dengan apa yang terjadi dan itu membuatnya malu.

Elden tersenyum mendengar perkataan Erie. "Good girl," bisiknya ditelinga Erie. Lalu, ia melepaskan jasnya dan mengenakannya di tubuh Erie. "Kita pulang sekarang," katanya lagi.

Tanpa pikir panjang, Elden langsung menggendong Erie dengan gaya bridal yang diikuti dengan sorotan mata tajam dari semua orang yang ada di tempat itu.

"Mario, Dicken. Bereskan semua kekacauan ini," perintahnya sambil membawa Erie ke helikopter yang masih ada di kapal pesiar itu.

*XXXXX

Dukung novel ini dengan tinggalkan like, comment dan vote*...

Danke ♥️

By: Mei Shin Manalu**

1
sakura
...
Virgo Girl
Baru mampir Kak. Awal yg cukup menarik ❤❤
refi Tanjungpinang
amazing proud off u
Youleannaa
bagus
Rieenee
ini tahun 2020 skrg aku datang lagi di tahun 2024 tuk baca kembali novel ini
Rieenee
terima kasih mei sudah membuat novel yg bagus ini aku mampir lagi k sini setelah cukup lama ga buka aplikasi ini
Aerik_chan
Kak aku tunggu karya kakak di platform ini
Almeera
elden juga suka nyelup sm jessi padahal sudh ada istri nya si eri
katanya bucin
Mina Rasi
aku kalau punya tante macam betty tu, udah ku kasih racun dia 😭😭
Ibu Endang
keren thor dr awal baca sampai akhir cerita sangat menarik, banyak rasa greget dihati dlm setiap babnya. menarik dan untuk mu thor semangat dalam menulis novel💪💪💪
Ibu Endang
membaca sampai bab ini sungguh menguras air mata thor,
Aba Bidol
💐
Sekar Nur Noviyanti
woooow keren
Sekar Nur Noviyanti
woooow keren
Liliana
Mereka bersaudara
Idasesoega
jika suatu saat kau tdk... pistolku dst

apa BAWA ya...
Allessha Nayyaka
Mantap karyamu othor
Kl diangkat ke layar lebar pasti penonton nya kyk semut antrinya
Allessha Nayyaka
satu kata untuk karyamu thoor

kereeen
Fawas Aficieanna
penggambaran yg sangat menyentuh untuk cinta elden yg luar biasa ke erie😍
Fawas Aficieanna
bagus banget ceritanya menyentuh hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!