NovelToon NovelToon
Mertua Kejam

Mertua Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Contest / Patahhati
Popularitas:129.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ellennola

Kiran, seorang gadis cantik yang sederhana.
Dia tak menyangka bila pernikahannya dengan kekasih pilihannya tak berjalan baik-baik saja.
Begitu banyak lika liku yang harus dia hadapi setelah dirinya menikah dengan Dayat Saputra sang suami juga cinta pertamanya.
Ibu mertuanya yang kejam juga tak hentinya berusaha memisahkan mereka!
Akankah Kiran dapat bertahan dan mempertahankan keluarga kecilnya?
Atau akankah Kiran menyerah?
Penasaran?
Baca selengkapnya kisah mereka disini.....
.
.
Semoga kalian suka😁
Ini cerita pertama author, maaf kalo bahasa dan tanda baca masih kurang, masih proses belajar.
Mohon dukungannya yaa, jangan lupa tinggalin jejak bila kalian suka cerita ini.
Sebelumnya author berterima kasih untuk kalian yang bersedia membaca cerita ini😁

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ellennola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah Abah

Tiga hari sudah aku berada dirumah sakit, akhirnya aku diperbolehkan pulang juga oleh dokter hari ini.

Apalagi memang kondisiku memang sudah mendingan.

Mas Dayat selalu setia mendampingiku selama dirumah sakit, dia begitu sabar mengurusiku selama aku berada disini.

Dia juga rela pulang pergi mengambil segala keperluan untukku.

Aku sebenarnya tak tega melihat mas Dayat jadi kecapean begitu.

Tapi gimana lagi, setelah keguguran itu aku disarankan dokter untuk istirahat total dulu agar tenagaku segera pulih.

Mau tak mau, mas Dayat sebagai suami tentu yang harus sigap melakukan semuanya.

Bahkan dia jadi harus cuti dari pekerjaannya demi merawatku.

Aku merasa beruntung karna mas Dayat begitu telaten mengurusiku selama disini.

Sekarang sudah pukul sembilan pagi.

Semua telah selesai dibereskan, biaya rumah sakit juga sudah lunas dibayar.

Aku beranjak dari ranjang rumah sakit, karna hari ini aku akan pulang ke rumah Abah dulu.

Aku memang telah meminta ijin pada mas Dayat agar begitu aku diperbolehkan pulang, aku ingin menginap dulu dirumah orang tuaku.

Aku juga ingin melihat makam anakku, dan berziarah kesana.

Karna aku yang tak bisa ikut saat pemakaman kemaren lusa.

Mas Dayat menyetujuinya. Tentu agar aku juga bisa melupakan sedikit permasalahan hidupku. Apalagi karna ulah Ibu mertua.

Selama dirumah sakit, banyak kawan, dan sanak saudara yang datang menjengukku, dan mengucapkan turut berbelasungkawa atas kejadian yang menimpaku.

Bapak juga sering datang berkunjung melihat bagaimana keadaanku.

Terbanding terbalik dengan Ibu, yang sama sekali seolah tak perduli padaku.

Sejak aku disini, sama sekali tak kulihat ibu datang, mungkin dia malas melihatku.

Karna aku memang selalu salah dimata beliau.

Tapi aku tak begitu mempermasalahkan hal itu, sedikitnya aku mulai tau sifat Ibu mertuaku.

Aku sendiri tak sekalipun bertanya pada Bapak kenapa Ibu tak pernah ikut serta kesini.

Bapak sendiri juga tak pernah memberi tau apapun.

Kedatangan mereka semua cukup menghibur diriku.

Aku juga sudah benar-benar ikhlas akan kehilangan buah hati tercintaku.

Karna begitu banyak orang yang perduli serta menguatkanku.

Suamiku sendiri juga sepertinya sudah mulai dapat menerima musibah yang terjadi pada kami.

Tiap malam sebelum aku tidur, tak hentinya mas Dayat memberiku semangat serta menghiburku.

Aku juga ikut merasa senang karna suamiku tak lagi menyalahkan dirinya sendiri.

Dia terlihat lebih tegar dari sebelumnya.

Mendengar kabar kepulanganku, Abah Umi juga langsung datang menjemput kami.

"Alhamdulillah kamu sudah sehat, Ndo"

"Mari kita pulang"

Umi menggandeng tanganku dengan erat, lalu melangkah pelan bersamaku, padahal aku sudah baik-baik saja.

Hanya masih agak lemas karna tiga hari berturut hanya berbaring di ranjang tak melakukan apapun.

Beberapa kali juga Umi berkata agar aku berhati-hati dalam langkahku, seolah aku seorang pesakitan, aku terkikik geli dalam hati.

Kami menuju parkiran rumah sakit, rupanya Abah sengaja menyewa mobil milik pade Rudi.

Pade Rudi juga rupanya ikut serta untuk menjemputku.

Begitu melihat kami mendekat, pade Rudi langsung tersenyum padaku.

"Alhamdulillah kamu sudah sehat, Ndo"

"Pade ikut senang liatnya"

"Yang sabar, yang kuat yah Ndo, moga gusti Alloh secepatnya memberi gantinya"

"Iya, amien, makasih pade atas doa'nya"

"Semoga doa baik cepet diijabah"

Pade langsung membukakan pintu untukku.

Aku duduk ditengah dekat dengan Abah dan Umi, sedang mas Dayat duduk didepan bersama pade Rudi.

Mobil mulai meninggalkan area rumah sakit.

***

Tak sampai satu jam, kami pun sampai dirumah.

Umi langsung menyuruhku untuk segera beristirahat dikamar.

Tapi aku menolak, aku ingin segera ke makam buah hatiku.

Aku merengek pada mas Dayat agar mengantarku kesana sekarang juga.

"Besok saja ya yank, sayang istirahat dulu hari ini"

"Ngga mas, Kiran udah sehat kok, mas antar Kiran sekarang yuk"

"Kiran pengin liat makam dede Nur ada dimana"

"Pokoknya Kiran pengen pergi sekarang, Kiran ngga mau tau"

"Boleh yah Bah, Mi , Kiran pergi kesana sekarang?"

"Kiran pengen liat makan dede, kan kemarin Kiran ngga bisa ikut makamin dede"

"Boleh yah Bah, boleh yah Mi",

ujarku dengan nada memaksa dengan kedua tangan kukatup seperti sedang memohon.

"Kamu yakin Ndo sudah kuat jalan kesana?"

"Lumayan jauh loh dari sini"

"Lima belas menit jalan kaki"

"Gendo udah ngga ngrasa lemes?",

tanya Umi dengan nada khawatir.

"Ngga Mi, Kiran udah kuat, udah sehat! Boleh yaa..."

"Tar pake motor aja Mi, Kiran kesananya biar cepet sampai, ya kan mas?",

tanyaku pada mas Dayat.

Mas Dayat hanya mengangguk sembari menunggu jawaban Abah.

"Gimana Bah?", tanya Umi pada Abah yang sepertinya tengah berpikir.

"Ya sudahlah Mi, turuti saja kemauan putrimu"

"Daripada Gendo terus merengek",

ujar Abah mengijinkan.

"Tapi ingat jangan lama-lama disana, setelah berdoa langsung pulang, Umi tak mau kamu jadi sedih kembali nak!",

ujar Umi seolah memberi perintah.

"Nak Dayat, tolong antar Gendo kesana yah, jangan lama-lama"

"Baik Mi, ayok yank kita kesana sekarang, keburu siang"

Setelah sungkem pada Abah Umi akupun keluar.

Pade Rudi juga rupanya ikut pamit pulang karna mesti bersiap berangkat kerja.

Katanya tadi cuma ijin sebentar menjemput saudara dirumah sakit kepada bosnya.

Untung bos nya baik jadi mengijinkannya pergi begitu saja.

"Ya udah, pade juga pamit pulang dulu Ndo"

"Semoga kamu sehat-sehat terus disini sama Akang dan juga Mbayu"

"Iya pade, makasih"

"Pade juga sehat-sehat terus yah sama keluarga, maaf loh Kiran jadi ngrepoti pade begini"

"Hallah, sama saudara sendiri mana ngrepotin"

"Pade justru senang bisa bantu Akang, Ndo"

"Udah dulu yah, pade permisi, mari nak Dayat"

"Iya pade, hati-hati dijalan",

ucap mas Dayat sembari mengeluarkan sepeda motor dari bagasi.

"Mari Ndo", ucap pade padaku.

"Iya pade, hati-hati dijalan yah, salam buat bude, juga sikembar"

"Oke", jawab pade sembari masuk ke dalam mobil.

Perlahan mobil pade pun menghilang dari pandanganku.

Mas Dayat telah selesai mengeluarkan motor, lalu menyuruhku untuk segera naik.

Motor kami pun perlahan menuju makam, tapi sebelum sampai aku sengaja menyuruh mas Dayat untuk mampir ke pasar dulu untuk beli bunga.

Beberapa menit berlalu, sampai lah kami didepan makam.

Kami pun perlahan masuk, sedang motor dibiarkan terparkir diluar.

Ini merupakan makam keluargaku, kakek nenekku, saudara, semuanya dimakamkan disini.

Makam anakku berada tetap didepan, tak jauh dari pintu masuk, didekat makan kakek neneknya.

Makamnya begitu bersih dan terawat dengan baik.

Karna memang ada pak Warno yang Abah tunjuk untuk membersihkan makam tiap harinya.

Aku pun mulai menaburi bunga dipusara anakku, juga pusara keluargaku yang lain.

Aku memang memborong banyak bunga ketika ke pasar tadi.

Aku mulai berdoa, serta membacakan yasin yang kutujukan pada semua sanak saudaraku yang telah berpulang terlebih dahulu, terutama untuk calon anakku.

"Selamat jalan anakku, baik-baik yah di surganya alloh sama kakek nenek"

"Ibu harap kelak kita dapat berkumpul bersama"

"Maafin Ibu nak, karna belum bisa jadi orang tua yang baik buat kamu"

"Maafin Ibu yah nak"

"Tenang-tenang kamu disana"

"Ibu janji, Ibu akan sering-sering datang kesini untuk mendoakanmu",

ucapku sembari memeluk nisan kecil anakku.

"Amien, insya'alloh dede udah banyak yang jaga disana yank, dede pasti udah bahagia"

"Yuk, kita pulang yank, hari sudah mulai siang"

Aku berdiri dan mulai melangkah, tapi baru beberapa langkah pak Warno memanggil kami.

"Mbak Kiran, tunggu",

panggil beliau dengan suara keras.

Kami akhirnya menghentikan langkah kami.

Pak Warno mulai mendekat.

"Maaf mbak Kiran, saya ngga tau kalo mbak kesini, habis doain anaknya yah mbak?"

"Saya turut berduka yah mbak, moga mbak dan masnya bisa secepatnya dikasih gantinya sama gusti alloh",

ucap pak Warno dengan nada yang ngos-ngosan karna berlari kecil menghampiri kami.

Maklumlah beliau memang sudah sangat renta.

"Nggih pak, terima kasih"

"Moga bapak sehat-sehat yah, makasih juga karna sudah merawat makam keluarga saya dengan baik"

"Iya mbak, kan memang sudah jadi tugas saya, bersih-bersih disini"

"Ya udah, kami permisi pulang dulu pak"

"Iya mbak, mas, hati-hati dijalan"

Aku pun pergi meninggalkan area pemakaman.

Sebelum pergi tak lupa kuulurkan uang pada pak Warno sebagai ungkapan terima kasih.

Beliau begitu senang menerimanya.

Tak sampai sepuluh menit kami sudah tiba dirumah.

Umi rupanya sudah memasak beraneka menu untuk syukuran kepulanganku dari rumah sakit.

Tersedia pula nasi tumpeng mini disana, katanya agar aku senang.

Kami pun makan bersama.

Setelah makan, berhubung sudah masuk waktu dhuhur, akhirnya kami langsung berwudhu dan sholat berjamaah.

Meminta ampun dan meminta dihapuskan segala dosa-dosa kami pada sang pencipta.

Setelah itu kami bersantai diruang tv bersama.

Baru sebentar menonton rasa kantuk menyerang mataku, mungkin efek perut yang kenyang juga.

Tak terasa aku tertidur.

Dalam mimpiku aku seolah melihat seorang gadis kecil yang cantik melambaikan tangannya padaku, seraya berkata :"Selamat tinggal bunda."

Tak terasa bulir bening kembali menetes meski mataku masih terpejam.

Dalam mimpi kulambaikan pula tanganku kearah gadis kecil itu.

"Selamat jalan nak, sampai jumpa suatu hari nanti",

batinku seolah itu anakku sendiri.

Aku tersenyum didalam mimpiku.

.

.

.

.

.

Hai hai, salam kenal semuanyaa..😀

Author mohon dukungan kalian yah, jangan lupa vote atau like cerita author ini, bila kalian sukaa..😁

Biar author bisa lebih semangat lagi buat Up tiap harinya..😁

Buat yang udah kasih like, coment and vote cerita author ini, author ucapin banyak terima kasih..😇

Jangan lupa tinggalin jejak kalian yah...

Dimasa pandemi ini semoga kita selalu diberi kesehatan, dan semoga pandemi ini juga bisa segera berakhir.

Tetap semangat untuk kalian semua!!!💪😇😇😇

1
M.Raiyan Ariyanto
Thor kok ga lanjut lg
Muliyatni Mul
aku keluar Ndak ada kejelasanya
Acheuom Rahmawatie
kapan up lg nya ini miskaah
Muliyatni Mul
udah tamat ya
Acheuom Rahmawatie
kapan lanjutnya ini
Muliyatni Mul
kenapa pakumnya lama kali
Nana hapsari
tuling... tuling... ada notif up.
#ngayalngarep
FIna Ratna
Apa udh TAMAT y ini??
Nurul"gembulers"
lanjut thor......kemana ya kok gk pernah up, sakit atau ada keperluan lain ya thoorr
Wong Puspita Sari
belum ada kelanjutannya lagi nii padahal lagi seru
Yani Sri
lama ga up thor
Agastya Utomo
kok gk up up thor
Acheuom Rahmawatie
ini kpan up lg nyaa
Sukma Zakhas
2 bulanan blum ada lnjutannya
vauzia zia
ko ga ada kelanjutannya thor
Faizatul Hasna
kok ndk dlanjut
ini cerita.a bagus bgt tpi ndk d lanjutin sayanggg
Sukma Zakhas
ada sbulanan ini ditugguu lnjutannya
Acheuom Rahmawatie
kapan up lg nya ini.. aku menunggu
Sukma Zakhas
mana gaes
Sukma Zakhas
mana lnjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!