Assalamualaikum...
Hanifah atau bisa dikenal dengan Budee ini memiliki watak yang tegas,pemarah serta memiliki Jiwa Keibuan. Hanifah selalu menjadi tempat mengadu oleh teman temannya karena dia juga dianggap Ibu.
Mengapa demikian?
Karena tidak ada yang berani kepada Hanifah,karena salah sedikit saja Hanifah pasti akan marah dan menceramahi.
Di suatu hari ada seorang cowok yang berusaha mengambil hatinya Hanifah, Karena Hanifah menunjukkan sikap keibuannya saat bersama anak kecil.
Disuatu saat Hanifah disukai oleh Gusnya sendiri yang bernama Gus Hafidz dan disisi lain Hanifah dipaksa CEO yang dingin untuk menjadi istrinya.
Siapakah yang akan di pilih oleh Hanifah? Akankah ia bersama ustadz nya sendiri atau CEO yang dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanifah Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aktivitas yang padat {Revisi}
Hanifah bangun sangat pagi sekali dengan bantuan Alem yang sudah ia siapkan sebelum tidur.
Hanifah memasang alarm sekitar pukul 5 pagi untuk membangunkannya. Tetapi alarm yang ia pasang sama sekali tidak ia gubrisnya. Ia hanya membuka setengah mata nya dan masih belum sadar sambil mematikan alarm.
Alarm terus berbunyi mulai dari pukul 03.00 WIB hingga pukul 04.00 WIB. Hingga bunyi alarm yang ke-5, ia baru bangun dari tidurnya. Ia mengerjap-ngejap matanya sambil mengumpulkan kesadarannya.
Setelah semua kesadarannya terkumpul, ia segera merapikan tempat tidurnya dan bergegas menuju ke kamar mandi untuk mencuci tumpukan pakaian kotor miliknya.
"Duh... Jika saja tidak ada janji bersama ustadz Hanan, pasti aku masih setia dengan guling dan selimut ku" Gumamnya.
Sekarang adalah hari Minggu, hari dimana ia gunakan untuk istirahat, seterika baju, mengerjakan tugas dll. Tetapi setelah mendapatkan amanah dari Ustadz Kusnan, Hanifah memulai aktivitasnya sejak pagi agar pekerjannya cepat selesai dan bisa berangkat ke pasar besar.
Dengan langkah gontai dan malas yang tak tertolong, ia menuju ke kamar mandi. Padahal suasana pagi hari sangat dingin, tetapi tidak memberikan pengaruh kepadanya (Sudah kebal dingin).
Hanifah mencuci tumpukan pakaian miliknya dan keluarganya dengan cara manual tanpa bantuan mesin apalah itu. Ia menggunakan tenaganya untuk mengucek dan membilas pakaiannya itu. Setelah selesai mencuci baju, ia langsung melaksanakan ritual mandinya.
Selama 30 menit didalam kamar mandi, akhirnya ia keluar. Hanifah menuju ke kamarnya dan segera berganti pakaian. Kemudian ia menjemur pakaiannya di lantai 2 dengan membawa kaleng tanpa bantuan siapapun (Kuat kali nih orang).
Disaat aku hendak menginjakkan anak tangga, tiba-tiba mama mengejutkan aku dengan pertanyaan. Memang bukan pertanyaan yang menjurus. Tetapi awal suasana yang sunyi tiba-tiba terdengar suara mama yang menggelegar.
" Adek..." Panggil Ibu Hanifah.
"Astaghfirullah al'adzim. Mama ngagetin aja" Jawab Hanifah terkejut.
"Ya Allah. Padahal mama cuman memanggil saja sayang" Ucap Ibu Hanifah.
"Hem... Iya ma iya" Jawab Hanifah.
"Tumben dek kamu awal bersih-bersih nya? Biasanya agak siang?" Tanya ibu Hanifah penasaran.
"Bersih-bersih di awal salah, agak siang dikit salah. Terus yang benar seperti apa ma?" Tanya Hanifah kesal.
"Ndak salah. Kok tumben aja sudah bersih-bersih? Padahal ini hari Minggu" Ucap Ibu Hanifah.
"Adek mau pergi?" Timpal lagi.
"Iya. Mau keluar sama Ustdaz Hanan" Jawab Hanifah enteng.
Seketika itu, Ibu Hanifah mengehentikan aktivitas memasaknya. Beliau sudah mengetahui bahwa Hanifah pernah dekat dan memiliki perasaan kepada Ustadz Hanan. Tetapi semenjak Hanifah ada masalah dengan ustadz Hanan, ia menjadi murung dan selalu mengurung dirinya. Ia sama sekali tidak memberikan celah kepada kedua orangtua ataupun sahabatnya untuk mendekatinya.
Semenjak itulah Ibu Hanifah selalu over protektif terhadap anak perempuan satunya ini. Beliau menyuruh Hanifah untuk menjauh dari Ustadz Hanan sebisa mungkin. Tetapi usaha yang ia lakukan hanya sia-sia. Katena selam Hanifah berusaha untuk menjauh dari Ustadz Hanan, pasti ada acara apapun mereka berdua dijadikan satu dan hampir tidak pernah terlepas sama sekali (Seperti anak ayam yang mengikuti induknya).
Oke back to the story...
Mata Ibu Hanifah terbelalak dan segera menghentikan aktivitas masaknya setelah mendengar ucapan anaknya tadi.
"Apa? Kamu mau keluar sama Ustdaz Hanan?" Tanya Ibu Hanifah memastikan.
"Iya ma. Mama hangan salah sangka dahulu ya" Jawab Hanifah.
"Kamu mau kemana dek, Kok pergi sama ustadz Hanan?" Tanya Ibu Hanifah.
"Mau cari perlengkapan untuk haflah di TPQ ma. Ustadz Kusnan yang menyuruh" Jawab Hanifah menjelaskan kepada Ibunya.
Ibu Hanifah hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Setelah mereka berdua berbincang-bincang cukup lama, dengan segera mereka menyudahi acara bincang-bincang hangat.
Ibu Hanifah melaksanakan kembali aktivitas memasaknya, sedangkan Hanifah sudah naik kelantai 2 untuk menjemur pakaian. Dia bolak-balik naik-turun tangga untuk mengambil kaleng yang berisikan pakaian bersih.
HANIFAH POV
Aku mengusap keringat ku yang bercucuran seperti air terjun ini. Padahal tadi sudah mandi dan bau harum. Eh sekarang penuh dengan keringat yang menempel pada tubuhku ini.
"Huft. Capek sekali naik-turun tangga. Tapi kenapa aku tak kunjung kurus ya?" Gumamku.
Memang sih aku tak pernah olahraga. Tapi jika pekerjaan rumah seperti ini saja membuatku mengeluarkan banyak keringat. Ya walaupun tak kunjung kurus, yang penting adalah sehat.
Aku menghirup dan menikmati udara di pagi hari yang sangat segar sambil menjemur pakaian dengan bersenandung sholawat hingga jemuran ku selesai.
Tak lupa aku bersyukur kepada Allah karena hari ini aku masih bisa bernafas dan menikmati pagi hari yang indah ini. Pemandangan gunung yang sangat indah terlihat dari rumahku ini.
Setelah semuanya selesai, aku bergegas untuk melanjutkan aktivitas lainnya seperti menyapu, mengepel dan menyapu halaman rumah.
Satu persatu pekerjaan rumah sudah aku lakukan, kecuali menyetrika pakaian yang sudah aku lipat. Mengingat aku memerlukan tenaga yang sangat ekstra untuk perjalanan nanti dan membawa barang-barang yang sangat banyak.
"Ya Allah... Capek sekali" Ucapku menuju ke kamar tidur.
Aku merebahkan tubuhku sambil memainkan HP di tanganku. Sesekali aku mengecek apakah ada pesan yang penting dari notifikasi yang muncul.
"Tidak ada pesan sama sekali. Hanya saja pesan dari grub" Gumamku.
Aku meletakkan HP ku, kemudian aku menggulingkan badanku kesana-kemari karena sangat nyaman sekali untuk tubuhku yang penat ini.
Setelah dirasa cukup istirahat dan sedikit rasa lelahnya hilang, aku menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diriku yang penuh dengan bau keringat Setelah melaksanakan aktivitas yang sangat padat.
"Mandi dulu deh. Habis itu makan" Ucapku.
Aku menuju ke kamar mandi sambil berlari-lari kecil dan sesekali bersenandung lagu India kesukaanku.
"Ma adek mandi lagi ya. Adek gerah lagi nih sama udah bau keringat" Ucapku.
"Iya. Jangan lama-lama ya. Katanya mau keluar sama Ustdaz Hanan" Ucap Mama.
"Iya mamaku sayang" Ucapku melenggang pergi.
Aku berkutat didalam kamar mandi sanaht lama. Sedang bersemedi memperhatikan gerak air dan sesekali memasukkan jari telunjuk ku kedalam air didalam bak mandi.
"Duh kok dingin sih" Gumamku.
Tiba-tiba terdengar ketokan pintu kamar mandi dan teriakan Mamaku yang menggelegar.
"Adek cepetan. Sudah ditunggu sama Ustadz Hanan loh" Teriak Mamaku.
"Iya ma, sebentar" Jawabku.
Tanpa basa-basi dan tak memperdulikan betapa dinginnya air di dalam bak mandi, aku langsung mengguyur badanku secara brutal. Agar aku tidak merasakan sensasi dingin yang numpang lewat begitu saja.
Aku berlari kecil menuju ke kamar tidur dengan sedikit tergesa-gesa. Karena Ustdaz Hanan sudah berada di rumah sekitar 6 menit yang lalu.
Aku memakai pakaian dengan sangat tergesa-gesa. Dan juga aku belum menyiapkan pakaian ganti (takut pulangnya malam) mengingat barang yang akan di beli banyak sekali.
Tiba-tiba aku teringat
"Ya Allah... Aku belum sarapan dari tadi. Ngapain aja sih kamu Han?" Gerutu ku.
Aku keluar dari kamar sambil membenarkan hijab dan meminta izin kepada ustadz Hanan untuk sarapan terlebih dahulu, sekalian mengajaknya sarapan bersama (kalau belum sih).
"Ustdaz maaf lama" Ucapku.
"Iya tidak apa-apa dek" Jawabnya.
"Ustadz saya mau sarapan dahulu. Apakah Ustdaz mau ikut bergabung?" Tanyaku.
"Tidak usah dek. Saya sudah sarapan" Jawabnya.
"Yakin nih? Ustadz Hanan gak pandai bohong tuh" Tanyaku menggoda.
Beliau hanya tersenyum menanggapi ucapan ku dan menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah, ayo sarapan bareng" Ucapku.
"Baik" Jawab beliau.
Ustadz Hanan mengikuti langkah ku dari belakang menuju ruang makan. Disana sudah tertata rapi makanan nya diatas meja.
"Silahkan duduk ustadz" Ucapku.
"Terimakasih" Jawabnya.
Aku menghidangkan makanan untuk Ustadz Hanan, layaknya seperti seorang istri saja.
"Kamu perhatian dan cekatan banget dek sama Ustdaz. Ingin sekali aku memilikimu" Ucapnya tanpa sadar.
Aku hanya tersenyum menanggapi ucapannya. Ucapannya memang membuat aku bahagia, tapi bagaimanapun aku tidak bisa berhubungan lagi dengannya.
"Silahkan dinikmati Ustdaz. Maaf ya Lauk-pauknya seadanya" Ucapku.
"Tidak apa-apa dek. Ini saja Alhamdulillah sudah ditawari makan dan diambilkan makanannya" Jawabnya.
"Tamu adalah raja. Jadi harus dilayani dengan sangat baik" Ucapku.
"Ustdaz kapan menikah? Lebih baik segera mencari istri agar ada yang memperhatikan dan melayani Ustdaz" Timpal ku sambil terkekeh.
"Memangnya mencari istri itu gampang? Seperti cari cilok aja. Belum ada yang pas di hati ustadz ini."Jawabnya panjang lebar.
"Bagaimana kamu saja dek yang menjadi istri Ustdaz?" Tanyanya.
Bagaikan disambar petir diriku setelah mendapatkan pertanyaan tersebut. Badanku terasa panas dan gerah, serta pipiku sudah mulai merona. Untung saja tidak ada kedua orangtua dan kakakku. Kalau ada di rumah bisa-bisa berabe nih aku😬.
Aku hanya tersenyum kemudian menjawab pertanyaan yang diberikan kepadaku.
"Terimakasih atas tawarannya Ustdaz Hanan. Tetapi saya masih sekolah dan juga masih ingin untuk melanjutkan menimba ilmu serta bekerja terlebih dahulu. Setelah semuanya memadai. Insyaallah saya segera menikah dengan laki-laki pilihanku ataupun orangtuaku" Jawabku menjelaskan kepadanya.
Ustdaz Hanan hanya diam tidak berkutik dengan ucapanku tadi. Kita berdua menyantap sarapan pagi dengan hening tanpa ada suara yang keluar dari mulut kita masing-masing.
Setelah selesai makan, Ustdaz Hanan membantuku untuk membersihkan serta merapikan meja makan. Aku mencuci piring kotor, sedangkan Ustdaz Hanan mulai menyalakan rokoknya (Berada di ruang tamu).
• • •
Waktu menunjukkan pukul 07.35 WIB. Kita sudah sangat molor sekali waktunya. Padahal kita sudah berjanji berangkat pukul 07.00 WIB. Eh kok malah molor setengah jam.
Aku segera menuju ke kamar untuk mengambil tas yang sudah aku isi dengan perlengkapan ku. Kemudian aku mengahampiri Ustdaz Hanan untuk mengajaknya berangkat. Mengingat sekarang adalah hari Minggu, banyaknya orang-orang yang berpergian untuk berlibur atau hal lainnya. Sehingga menyebabkan kemacetan yang panjang.
"Ustdaz ayo segera berangkat. Keburu siang nantinya" Ucapku.
"Sekarang jam berapa dek?" Tanyanya.
"07.37 WIB ustadz" Jawabku.
"Yasudah ayo segera berangkat. Takutnya nanti macet panjang" Jawab beliau.
Aku segera mengunci pintu rumah dan tak lupa berpamitan kepada nenek ku yang sedang berjemur di depan rumah saudara ku.
jangan ada yang terluka ya thor
aamiin
hemm
oiya thor, mau tanya dong,, author nya dari daerah mana yah? kalau ana dari kediri thor,, mungkin dekat?
kalau sempat mampir baliklah ke karyaku "sahabat atau cinta" dan "berani baca" tinggalkan like dan komen ya makasih