KARMA
Sebelum membaca karya ini alangkah baiknya jika membaca karya pertamaku yang berjudul Aku Bukan Pelakor, agar bisa mengikuti jalan ceritanya.
Karya KARMA ini menceritakan tentang pembalasan pengkhianatan yang di lakukan julio kepada istri dan anak-anaknya.
Julio bukan hanya mengkhianati istrinya namun ia membohongi ana dengan mengaku lajang untuk mendapatkan hati dan tubuh ana, selain itu ia juga di duga menggelapkan dana perusahaan tempatnya bekerja serta perusahaan milik istrinya.
Lalu apa sajakah KARMA yang akan di terima oleh julio?
Semuanya akan di ceritakan di Novel ini.
Terima kasih, selamat membaca😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Retno menunda keberangkatannya menuju Jakarta, ia lebih memilih untuk mengurus gugatan perceraiannya tehadap julio. Retno bukan hanya mendapat dukungan dari bu ratih namun ia juga mendapat suport dari keluarga besarnya.
"Sing sabar nduk, ibu isih ora nyongko menowo garwamu tegel khianat"
*Yang sabar ya nduk, ibu masih tidak menyangka jika suamimu tega mengkhianatimu.
Ibunda retno memeluk putrinya dengan erat, ia dan keluarga lainnya datang ke rumah retno untuk memberikan suport kepada retno.
"Sampun bu, mboten sasah dipun rembag maleh."
*Sudah bu, jangan di bahas lagi.
Retno merasa tidak enak hati terhadap bu ratih yang tertunduk malu saat berkumpul bersama retno dan keluarganya.
"Assalamualaikum."
Cakra datang di tengah obrolan hangat retno bersama dengan keluarganya.
"Walaikumsalam, eh mas cakra silahkan masuk." Retno mempersilahkan cakra untuk masuk ke dalam rumahnya, cakra pun duduk dan bergabung bersama retno dan keluarganya.
"Ada apa mas?" tanya retno.
"Aku mau periksa bu ratih."
"Loh bukannya jadwal kontrolnya besok lusa ya mas?"
"Kebetulan besok lusa aku harus ke bogor, ada saudara sepupuku yang akan menikah, ibu menyuruh aku dan lentera yang mewakili beliau." Terang cakra.
"Eh ret, opo awakmu kepingin menyang Bogor karo anak-anak?" Ucap ibunda retno.
*Eh ret, bukankah kamu juga ingin ke bogor bersama anak-anak?
"Benarkah?" tanya Cakra.
"Ia aku mau mengajak anak-anak ke taman safari untuk berlibur."
"Kalo begitu bagaimana jika kita berangkat bersama?" Cakra menawari retno untuk berangkat bersamanya.
"Tapi aku mau ke Jakarta dulu mas, ada hal yang mau aku urus."
"Tidak apa-apa setelah tiba di bandara nanti kamu langsung saja menyelesaikn urusanmu. Biar aku, lentera dan anak-anak langsung ke Bogor." ucap cakra, memberikan solusi.
"Tidak usah mas, aku tidak ingin merepotkan mas cakra." Tolak retno secara halus, ia tidak ingin anak-anaknya merepotkan orang lain.
"Aku tidak merasa di repotkan kok, lagi pula rangga kan sudah besar. Ada lentera dan baby sitternya juga yang akan menjaga Rama. Justru kasihan jika anak-anak dan baby sitter menunggumu di hotel." Terang cakra.
Retno melihat ke arah ibundanya, seolah meminta izin kepadanya.
"Bener sing diujarke cakra, mesakake anak-anak menowo kudu nunggu neng hotel, mesti podo bosen."
*Benar apa yang di katakan cakra, kasihan jika anak-anak menunggumu di hotel, pasti mereka akan bosan.
Ibunda retno mengizinkan putrinya untuk pergi bersama cakra, karena ia menilai cakra pria yang sangat baik, lagi pula putrinya tidak pergi berdua ada anak-anak, baby siter dan juga adik kandung cakra.
"Jadi bagaimana?" Tanya cakra kepada retno.
Retno menganggukan kepalanya, ia menerima tawaran cakra untuk ke Bogor bersamanya.
"Ya sudah kalo begitu aku mau periksa bu ratih dulu."
"Mari mas cakra." Retno mempersilahkan cakra untuk memeriksa kondisi ibu mertuanya, ia mendorong kursi roda ibu mertuanya menuju kamarnya, di ikuti cakra dari belakang.
Cakra menghentikan langkahnya ketika ia melewati kamar rangga.
"Retno, aku boleh masuk ke kamar rangga? Aku membawakan mainan untuknya."
"Silahkan mas, aku tunggu di kamar ibu." Ucap retno.
Cakra menganggukan kepalanya, kemudian ia mengintip rangga dari balik pintu kamar rangga yang tak tertutup sempurna.
"Excuse me, can I come in?" Tanya cakra kepada rangga yang tengah mengerjakan tugas sekolahnya, rangga pun langsung menoleh ke arah pintu kamarnya.
" Of course uncle cakra." Rangga mempersilahkan cakra untuk masuk kedalam kamarnya.
"I have a challenge for you." Cakra memberikan lego Marvel Avengers keluaran terbaru.
Rangga menerimanya, kemudian ia berfikir sejanak.
"Okay, I accept the challenge." Ucap rangga.
"Do you need help?" Cakra mencoba menawarkan bantuan kepada rangga.
"No, I can do it myself." Jawab rangga dengan percaya diri.
"Sure?" Tanya cakra kembali.
"Yes." Ucap rangga dengan penuh keyakinan
"Okay, good luck. Uncle ke kamar uti dulu ya." Cakra mengelus kepala rangga kemudian ia keluar dari kamar rangga.
Setelah tiga puluh menit cakra memeriksa bu ratih, cakra kembali ke kamar rangga, ia melihat rangga sudah menyelesaikan sebagian lego yang yang ia berikan.
"Good work." Cakra mengelus kepala rangga.
"Sudah malam, besok lagi ya nyusun legonya." Retno meminta rangga untuk beristirahat agar tidak telat bangun subuh.
"Baik umi." Rangga merapihkan kembali mainannya di bantu oleh cakra dan juga retno.
Setelah memastikan rangga terlelap tidur, cakra dan retno meninggalkan kamar rangga.
"Kalo begitu aku pulang dulu ya, sampai bertemu besok lusa."
"Terima kasih banyak mas."
"Sama-sama, Assalamualaikum."
"Walaikumsalam." Retno mengantar cakra hingga pintu depan rumahnya.
sungguh menguras air mata, tapi sangat puas n byk pelajaran yg bisa diambil dlm cerita ini
sungguh sangat terharu dgn novel ini