NovelToon NovelToon
Cinta Diusia Senja

Cinta Diusia Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Cintapertama
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: riena

"Bagaimana jadinya jika calon besanmu adalah mantan kekasih yang paling gagal kamu lupakan seumur hidup?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 22 . Kepingan puzzle kembali tersusun

Sementara itu, di dalam rumah kontrakan, keheningan pasca-keberangkatan Rayhan dan Habibah terasa begitu menindas. Imam masih duduk di kursi meja makan, namun buku biografi di hadapannya sudah ditutup rapat.

Di sofa ruang tamu, Ameera tampak sibuk mengetik sesuatu di ponselnya, sesekali melirik ke arah luar jendela.

Dada Imam bergemuruh hebat. Kegelisahan yang sejak pagi ia tekan, kini meluap kembali tanpa bisa dibendung.

“Kenapa Rayhan tiba-tiba mengajak ibunya keluar malam-malam begini? Hanya untuk beli martabak?” batin Imam bertanya-tanya, dipenuhi rasa sangsi.

Naluri Imam sebagai seorang pria yang sarat akan pengalaman hidup, berbisik bahwa ini bukan sekadar agenda mencari angin biasa. Ia teringat kembali tatapan mata Rayhan saat sarapan tadi pagi. Tatapan yang tajam, dingin, dan penuh selidik. Rayhan bukan anak bodoh. Sebagai seorang pemuda yang tumbuh besar merawat ibunya yang janda, Rayhan pasti memiliki kepekaan yang jauh lebih tinggi dibanding anak-anak seusianya.

Imam bangkit dari kursinya, berjalan kaku menuju dispenser untuk menuangkan air putih, sekadar menyembunyikan tangannya yang mendadak dingin.

‘Bagaimana kalau Rayhan mulai curiga? Bagaimana kalau Habibah, dalam kondisi batinnya yang masih terguncang sejak kemarin, tidak sengaja keceplosan di depan anaknya?’

Pikiran-pikiran buruk itu mulai berkejaran di kepala Imam seperti bola liar. Keringat dingin terasa menetes di tengkuknya. Jika Rayhan sampai tahu tentang kedekatan mereka di masa lalu, atau lebih buruk lagi, tentang kekhilafan mereka yang nyaris terjadi di meja makan kemarin pagi, Imam tidak bisa membayangkan kehancuran macam apa yang akan menimpa keluarga ini.

Ia melirik Ameera yang duduk dengan wajah polos tanpa tahu apa-apa. Jantung Imam terasa diremas perih. Ameera begitu bahagia menyambut pernikahan ini. Pria paruh baya itu merutuki dirinya sendiri. Mengapa di usianya yang sudah berkepala lima, ia justru menjadi ancaman terbesar bagi kebahagiaan putri kandungnya sendiri?

"Papa..."

Suara Ameera yang tiba-tiba memecah kesunyian membuat Imam tersentak kecil, hingga beberapa tetes air putih di gelasnya bergoyang tumpah mengenai jemarinya.

"Eh... iya, Meer? Kenapa?" Imam buru-buru meletakkan gelasnya, mencoba mengontrol ekspresi wajahnya agar tetap terlihat berwibawa.

Ameera menaruh ponselnya di atas meja, lalu menatap ayahnya dengan dahi berkerut samar. "Papa kok dari tadi gelisah banget? Sejak Tante Bibah sama Rayhan pergi, Papa jalan bolak-balik terus, minum air juga kayak orang kehausan banget. Papa beneran nggak ada masalah di kantor?"

Imam memaksakan senyum tipis, mengusap wajahnya dengan telapak tangan yang agak bergetar. "Ah, tidak ada, Meer. Hanya... pekerjaan di kantor memang agak menyita pikiran akhir-akhir ini. Ditambah Papa sedikit kepikiran persiapan pernikahan kalian yang makin dekat."

Ameera bangkit, berjalan menghampiri ayahnya lalu merangkul lengan Imam dengan manja. "Papa jangan stres ya. Semua sudah hampir beres kok. Rayhan kan banyak bantu." Ameera menjeda kalimatnya sejenak, lalu menatap pintu depan. "Tapi... Rayhan sama Tante Bibah kok lama banget ya beli martabaknya? Padahal kedai di depan komplek kan dekat."

Kalimat Ameera justru semakin menambah bahan bakar pada api kegelisahan di dada Imam. Ia melirik jam dinding yang terus berdetak. Setiap menit yang berlalu rasanya seperti hitungan mundur menuju sebuah badai besar yang siap memporak-porandakan atap rumah kontrakan mereka malam itu.

*

*

Deru mesin mobil Rayhan yang memasuki halaman rumah terdengar seperti lonceng peringatan bagi Imam. Dengan cepat, Imam membetulkan posisi duduknya, mencoba memasang kembali topeng ketenangan seorang ayah.

Pintu depan terbuka. Habibah melangkah masuk lebih dulu. Wajah wanita itu tampak sangat pucat, dengan kedua belah mata yang sedikit sembab dan menghindari kontak mata dengan siapa pun di ruangan itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, bahkan tanpa menoleh ke arah meja makan, Habibah berjalan cepat menunduk dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Suara pintu yang dikunci dari dalam terdengar klik begitu lirih, namun terasa menghantam ulu hati Imam.

Di belakangnya, Rayhan menyusul dengan langkah kaki yang berat. Wajah pemuda itu mengeras, dingin, dan kaku. Ia membawa sekotak martabak manis yang masih hangat, meletakkannya begitu saja di atas meja makan tanpa gairah.

"Yang..." panggil Ameera heran, melihat raut wajah calon suaminya yang berubah total.

Rayhan tidak menjawab. Ia hanya melirik Imam sekilas, sebuah tatapan mata yang belum pernah Imam lihat sebelumnya dari pemuda santun itu; tatapan yang sarat akan kekecewaan, luka, dan tuntutan penjelasan yang tertahan. Setelah itu, Rayhan langsung berbalik menuju tangga, melangkah naik ke lantai atas tempat kamarnya berada.

Melihat gelagat yang sangat tidak beres ini, Ameera tidak tinggal diam. Ia menatap ayahnya sekilas dengan penuh tanda tanya, lalu bergegas berlari kecil menaiki anak tangga, mengikuti Rayhan dari belakang.

Brak!

Rayhan menutup pintu kamarnya, namun sebelum ia sempat menguncinya, Ameera sudah menahan daun pintu itu dengan kedua tangannya. Ia menerobos masuk, lalu menutup pintu itu rapat-rapat di belakang badannya.

"Rayhan! Cukup ya!" seru Ameera, suaranya meninggi karena rasa cemas dan frustasi yang sudah menumpuk sejak tadi. "Sebenarnya ada apa sih? Kalian pergi berdua sehat-sehat saja, kenapa pulang-pulang jadi kayak orang asing begini? Tante Bibah nangis kan tadi? Kamu apakan ibumu?"

Rayhan duduk di tepi ranjang, menenggelamkan wajahnya di antara kedua telapak tangan. Bahunya tampak naik turun, mengatur napasnya yang terasa sesak.

"Aku nggak ngapa-ngapain Ibu, Meer," jawab Rayhan, suaranya terdengar serak dan lelah dari balik telapak tangannya.

"Lalu kenapa wajah Tante Bibah pucat begitu? Dan kamu... tatapan kamu ke Papa tadi bawah itu apa maksudnya?" desak Ameera, melangkah mendekat dan berdiri tepat di depan Rayhan. Kedua matanya mulai berkaca-kaca karena ketakutan. "Jangan bikin aku gila, Ray. Kita mau nikah dua bulan lagi! Kalau ada masalah diantara keluarga kita, omongin! Jangan diam-diaman begini!"

Rayhan perlahan mendongak, menatap gadis yang sangat dicintainya itu. Melihat air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata Ameera membuat hati Rayhan terasa seperti diiris. Gadis ini tidak tahu apa-apa. Gadis ini begitu suci dan bahagia menyiapkan pernikahan mereka, tanpa tahu ada sebuah rahasia kelam yang melibatkan orang tua mereka.

"Meer..." Rayhan meraih kedua tangan Ameera, menggenggamnya dengan sangat erat, seolah takut gadis itu akan lepas. "Aku mau tanya satu hal sama kamu. Dan tolong, jawab dengan jujur."

Ameera mengernyitkan dahi, air matanya menetes satu. "Tanya apa?"

"Apa Papa kamu... pernah cerita tentang masa mudanya sebelum menikah dengan almarhumah Ibu kamu? Apa Papa kamu pernah menyebut nama seorang wanita yang sangat dia cintai tapi tidak bisa dia miliki?"

Ameera tertegun. Jantungnya mendadak berdegup kencang mendengar arah pertanyaan Rayhan. "Kenapa... kenapa kamu tiba-tiba tanya soal masa lalu Papa?"

"Jawab dulu, Meer!" tuntut Rayhan, suaranya sedikit bergetar menahan gejolak emosi. "Pernah atau tidak?"

Di bawah temaram lampu kamar lantai atas, Ameera membeku. Setelahnya Ameera mengerjapkan matanya yang basah. Ingatannya mendadak ditarik mundur ke beberapa tahun lalu, saat ia tak sengaja menemukan sebuah kotak kayu tua di gudang rumah lama mereka. Di dalamnya ada secarik foto usang seorang wanita muda berpakaian sederhana, namun bagian nama di balik foto itu sengaja dicoret tebal dengan tinta hitam.

Saat itu, ketika Ameera bertanya, Imam hanya tersenyum getir dan berkata, “Itu hanya cerita lama yang sudah selesai, Meer. Jangan dibahas lagi.”

"Papa... Papa nggak pernah cerita detail, Ray," jawab Ameera dengan suara yang mulai bergetar. "Papa cuma pernah bilang kalau dia punya masa lalu yang pahit sebelum ketemu Mama. Tapi Papa selalu bilang kalau masa lalu itu sudah dikubur dalam-dalam. Memangnya kenapa? Apa hubungannya masa lalu Papa sama Tante Bibah?"

Rayhan melepaskan genggaman tangannya perlahan, lalu menyandarkan punggungnya ke dinding kamar dengan lunglai. Senyum getir terukir di bibirnya yang pucat.

"Hubungannya adalah... masa lalu yang Papa kamu maksud itu... adalah Ibuku, Meer," bisik Rayhan. Kalimat itu meluncur begitu pelan, namun dampaknya seperti hantaman godam yang meremukkan seluruh ruangan.

Ameera tersentak mundur satu langkah. Mulutnya setengah terbuka, napasnya tercekat di tenggorokan. "K-kamu... kamu ngomong apa sih, Yang? Nggak lucu tau bercandanya! Nggak mungkin!"

"Aku nggak lagi bercanda, Ameera!" suara Rayhan naik satu oktaf, sarat akan rasa frustasi yang mendalam. "Tadi di mobil, aku desak Ibu. Aku tanya kenapa Ibu selalu gemetar dan ketakutan setiap kali dekat Om Imam. Dan Ibu nangis, Meer. Ibu nangis dan memohon sama aku untuk nggak tanya lebih jauh lagi. Tangisan Ibu itu sudah jadi jawaban. Mereka saling mengenal di masa lalu. Mereka punya cerita yang belum selesai!"

Ameera menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat, air matanya kini mengalir deras membasahi pipinya. "Nggak... nggak mungkin. Kalau mereka saling kenal, kenapa mereka pura-pura nggak kenal waktu kita kenalin pertama kali? Kenapa mereka setuju kita menikah?"

"Karena mereka mencoba waras demi kita!" bentak Rayhan lirih, matanya ikut berkaca-kaca. "Mereka rela bersandiwara, menahan siksaan batin tinggal di bawah satu atap ini, cuma supaya pernikahan kita nggak hancur! Tapi kamu lihat sendiri kan efeknya? Ibu hampir drop lagi, dan Papa kamu... Papa kamu ketakutan sampai nggak berani lama-lama di rumah ini!"

Ameera membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Kakinya mendadak terasa lemas seperti jeli hingga ia terpaksa terduduk di lantai karpet kamar Rayhan.

Kepingan-kepingan puzzle yang membingungkan selama beberapa hari terakhir ini mendadak menyatu dengan sempurna di otaknya. Sikap ayahnya yang mendadak religius dan bertahan di masjid dari Magrib sampai Isya, kepanikan ibunya Rayhan, hingga keheningan yang mencekam di meja makan... semuanya bukan karena canggung antar calon besan.

Itu adalah ketakutan dari dua orang mantan kekasih yang mendadak dipaksa takdir untuk menjadi besan, sementara sisa-sisa rasa di antara mereka ternyata belum sepenuhnya mati.

Di kamar atas yang sunyi itu, kenyataan pahit itu kini terpampang nyata. Dua bulan sebelum hari bahagia mereka, Ameera dan Rayhan justru dihadapkan pada benang kusut masa lalu orang tua mereka yang siap menjerat dan menghancurkan masa depan yang sudah mereka susun dengan indah.

*****

1
Safitri Agus
terimakasih kak Riena updatenya 🙏🥰🥰🥰
Afternoon Honey
tetap menyimak dan membaca cerita bersambung ini..m
Indriyani_ Indry
Alhamdulillah novel ini ada update nya ... terimakasih kk😍😍😍
Safitri Agus
TRIms kak Riena updatenya 🙏🥰
Safitri Agus
rumit ya,🤦
Safitri Agus
😭😭😭
Safitri Agus
TRIms kak Riena 🙏🥰
Safitri Agus
ujian sebelum pernikahan, mereka pasti dilema....
Safitri Agus
terimakasih kak Riena sudah update 🙏🥰
Fitria Rastanti
gx lanjut kak riee ceritanya
Safitri Agus: lanjut dong kak biar tau endingnya 😊
total 3 replies
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Indriyani_ Indry
dari kmrn blm ada bab yg br ka ... libur yah ka?
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Indriyani_ Indry
sy sukaaa semua novel karya author ini ... novelnya kereeennn dan berkls ...
Safitri Agus
seandainya kalian mengetahui apa yg sedang terjadi dan tentang masalalu mereka.....
Safitri Agus
jeng nya dihilangkan 🤭
yuli mamah
😬😬😬😬😬
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!