NovelToon NovelToon
Ketika Perjalanan Mempertemukan Kembali Yang Belum Selesai

Ketika Perjalanan Mempertemukan Kembali Yang Belum Selesai

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:869
Nilai: 5
Nama Author: nita.mamitha

Dalam satu perjalanan malam,
Nara dan Arka dipaksa menghadapi kembali masa lalu yang belum selesai.

Dan kali ini… tidak ada lagi tempat untuk lari.

Karena di antara dua perhentian,
beberapa perasaan tidak pernah benar-benar hilang
hanya menunggu waktu untuk kembali menyakitkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita.mamitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

Ada hari-hari dalam hidup yang terlihat biasa saja.

Tidak ada pertengkaran.

Tidak ada kata-kata kasar.

Tidak ada keputusan besar.

Tapi justru di hari seperti itu…

sesuatu mulai retak.

Dan anehnya

kita tidak langsung menyadarinya.

Arka masih ingat hari itu.

Tidak jelas tanggalnya.

Tidak juga istimewa.

Hanya… satu hari yang terasa seperti hari-hari lainnya.

Mereka bertemu di tempat biasa.

Kafe kecil di sudut jalan.

Tempat yang dulu selalu terasa hangat.

Nara sudah datang lebih dulu.

Duduk di kursi yang sama.

Minuman yang sama.

Seperti selalu.

Arka datang sedikit terlambat.

Tidak terlalu lama.

Tapi cukup untuk membuat sesuatu terasa berbeda.

“Maaf, agak macet.”

Katanya sambil duduk.

Nara tersenyum kecil.

“Iya, tidak apa-apa.”

Jawaban yang sederhana.

Terlalu sederhana.

Dan justru itu yang membuat Arka sedikit berhenti.

Biasanya, Nara akan bertanya lebih banyak.

Tentang jalan.

Tentang kenapa terlambat.

Tentang hal-hal kecil yang membuat percakapan hidup.

Tapi hari itu…

tidak.

“Sudah pesan?” tanya Arka.

“Sudah.”

Hening.

Pelayan datang.

Meletakkan minuman Arka di meja.

Suara sendok kecil menyentuh gelas.

Pelan.

Berulang.

Dan entah kenapa

suara itu terasa lebih keras dari biasanya.

“Kerjaan lagi banyak?” Nara akhirnya bertanya.

Arka mengangguk.

“Iya. Lagi agak padat.”

“Capek?”

“Lumayan.”

Percakapan itu berjalan.

Tapi terasa… datar.

Seperti dua orang yang sedang mencoba tetap berbicara

tanpa benar-benar tahu harus membicarakan apa.

Padahal dulu

diam di antara mereka tidak pernah terasa kosong.

“Besok kamu sibuk?” Nara bertanya lagi.

Arka mengangguk.

“Iya. Ada meeting.”

“Oh.”

Hanya itu.

Dan untuk pertama kalinya

Arka merasa ada sesuatu yang tidak biasa.

Bukan pada kata-katanya

Tapi pada caranya mengatakannya.

Lebih pelan.

Lebih hati-hati.

Seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu.

“Kenapa?” Arka akhirnya bertanya.

Nara menoleh.

Sedikit terkejut.

“Kenapa apa?”

“Kamu… kelihatan beda.”

Nara tersenyum kecil.

“Tidak apa-apa.”

Jawaban itu

terlalu sering digunakan.

Dan biasanya…

berarti sebaliknya.

Arka menatapnya.

Mencoba membaca.

Tapi untuk pertama kalinya

dia tidak benar-benar mencoba lebih jauh.

Dan mungkin…

itu kesalahannya.

“Kalau capek, istirahat ya.”

Nara berkata pelan.

Arka mengangguk.

“Iya.”

Hening lagi.

Ada banyak kesempatan untuk bertanya.

Untuk menggali lebih dalam.

Tapi Arka memilih diam.

Karena dia pikir…

semuanya akan baik-baik saja.

Seperti biasanya.

Waktu berjalan.

Percakapan selesai lebih cepat dari biasanya.

Tidak ada alasan untuk tetap tinggal lebih lama.

Tidak ada cerita yang ingin diperpanjang.

Dan itu… aneh.

“Sudah mau pulang?” Arka bertanya.

Nara mengangguk.

“Iya.”

Mereka berdiri.

Berjalan keluar bersama.

Langit sore itu tidak terlalu cerah.

Seperti sesuatu yang sedang menunggu hujan.

“Besok hati-hati ya.”

Nara berkata.

“Iya, kamu juga.”

Mereka berhenti di titik yang biasa.

Tempat di mana mereka biasanya berpisah.

Biasanya

akan ada sedikit percakapan tambahan.

Sedikit tawa.

Sedikit alasan untuk tidak langsung pergi.

Tapi hari itu…

tidak ada.

“Duluan ya.”

Nara berkata pelan.

Arka mengangguk.

“Iya.”

Dan tanpa banyak kata

Nara berjalan pergi.

Arka berdiri di sana beberapa detik.

Melihat punggungnya menjauh.

Ada sesuatu yang terasa… hilang.

Tapi dia tidak tahu apa.

Dan dia tidak mengejarnya

Hari itu berakhir seperti biasa.

Tidak ada pertengkaran.

Tidak ada tangisan.

Tidak ada kata “kita harus bicara.”

Hanya satu hal

jarak.

Yang mulai tumbuh tanpa suara.

Hari-hari setelah itu berjalan pelan.

Pesan mulai berkurang.

Telepon tidak lagi sepanjang dulu.

Dan semua itu terjadi tanpa ada yang benar-benar membahasnya.

“Lagi sibuk ya?”

Nara pernah bertanya lewat pesan.

“Iya, maaf.”

“Tidak apa-apa.”

Selalu seperti itu.

Tidak ada yang salah

Tapi juga… tidak ada yang diperbaiki.

Arka mulai terbiasa dengan jarak itu.

Atau setidaknya… mencoba.

Dia pikir

ini hanya fase.

Akan kembali seperti dulu.

Tapi tidak

Karena sesuatu yang retak

tidak akan kembali utuh…

jika tidak pernah disadari.

Suatu malam, Arka membaca ulang percakapan mereka.

Semakin ke bawah

semakin terasa berbeda.

Dulu

“Sudah makan?”

“Lagi apa?”

“Cerita dong.”

Sekarang:

“Iya.”

“Lagi kerja.”

“Capek.”

Singkat.

Jauh.

Dan untuk pertama kalinya

Arka menyadari sesuatu.

Nara tidak berubah.

Dia hanya…

berhenti berusaha sendiri.

Dan itu

yang tidak pernah Arka lihat.

Karena dia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri.

Terlalu yakin bahwa Nara akan selalu ada.

Padahal tidak ada yang benar-benar selalu.

Bahkan seseirang yang paling sabar sekalipun

punya batas.

Dan mungkin…

hari di kafe itu

adalah hari di mana Nara mulai berhenti.

Bukan berhenti mencintai.

Tapi berhenti berharap.

Dan Arka?

Dia baru menyadarinya…

sekarang.

Setelah semuanya selesai.

Setelah tidak ada lagi yang bisa dia perbaiki.

Setelah Nara tidak lagi ada di tempat yang sama.

Arka menutup matanya.

Menghela napas panjang.

Kalau saja waktu itu

dia bertanya sedikit lebih dalam.

Kalau saja waktu itu

dia tidak memilih diam.

Kalau saja waktu itu

dia sadar bahwa “tidak apa-apa” bukan berarti benar-benar tidak apa-apa.

Mungkin…

semuanya akan berbeda.

Tapi hidup…

tidak bekerja dengan “mungkin”.

Hidup hanya berjalan.

Dan meninggalkan kita dengan apa yang sudah kita pilih.

Termasuk…

diam.

Dan semua yang tidak pernah kita katakan.

Ada hal-hal dalam hidup yang tidak bisa diulang.

Tapi selalu bisa dibayangkan.

Bagaimana jika hari itu… berbeda?

Bagaimana jika Arka tidak memilih diam?

Bagaimana jika, di antara percakapan yang terasa datar itu…

dia memutuskan untuk benar-benar melihat Nara?

Kita kembali ke hari itu.

Kafe kecil.

Meja yang sama.

Minuman yang sama.

Nara sudah duduk lebih dulu.

Seperti biasa.

Arka datang sedikit terlambat.

“Maaf, agak macet.”

“Iya, tidak apa-apa.”

Sama seperti sebelumnya.

Tapi kali ini

Arka tidak langsung duduk tanpa berpikir.

Dia memperhatikan.

Cara Nara tersenyum.

Tidak seperti biasanya.

Sedikit dipaksakan.

Dan untuk pertama kalinya

Arka tidak mengabaikannya.

“Kamu kenapa?”

Pertanyaan itu keluar lebih cepat dari yang dia kira.

Nara menoleh.

Sedikit terkejut.

“Kenapa apa?”

“Kamu kelihatan… capek.”

Nara diam.

Beberapa detik.

Biasanya, dia akan langsung menjawab ringan.

Mengalihkan.

Tersenyum.

Tapi tidak kali ini.

“Aku tidak apa-apa.”

Arka tidak langsung percaya.

Dan untuk pertama kalinya

dia tidak membiarkan jawaban itu berhenti di sana.

“Nara…”

Suaranya pelan.

“Aku tahu kamu. Kamu tidak pernah sesingkat ini.”

Hening.

Nara menatapnya.

Lama.

Seolah sedang menimbang

apakah dia harus jujur…

atau tetap seperti biasa.

“Aku cuma… capek.”

Arka mengangguk.

“Karena apa?”

Pertanyaan sederhana.

Tapi kali ini

tidak ditinggalkan begitu saja.

Nara menarik napas pelan.

“Karena… aku merasa sendirian.”

Kalimat itu jatuh pelan.

Tapi cukup untuk membuat semuanya berhenti.

Arka tidak langsung menjawab.

Karena dia tidak menyangka.

Bukan karena dia tidak peduli.

Tapi karena dia tidak pernah benar-benar melihat sejauh itu.

“Aku ada di sini,” kata Arka akhirnya.

Nara tersenyum kecil.

“Iya. Tapi tidak selalu.”

Dan di titik itu

Arka mengerti.

Ini bukan tentang kehadiran fisik.

Tapi tentang… perasaan.

“Maaf.”

Satu kata.

Tapi kali ini

tidak ringan.

“Aku nggak sadar.”

Nara menggeleng pelan.

“Bukan salah kamu sepenuhnya.”

“Terus?”

Nara menatap meja.

“Aku juga tidak pernah bilang dengan jelas.”

Hening.

Untuk pertama kalinya

mereka tidak saling menyalahkan.

Mereka hanya… jujur.

“Kenapa kamu tidak bilang?” Arka bertanya.

Nara tersenyum tipis.

“Karena aku takut.”

“Takut apa?”

“Takut kamu merasa terbebani.”

Arka langsung menggeleng.

“Aku lebih takut kamu diam seperti ini.”

Dan kalimat itu

mengubah sesuatu.

Bukan besar.

Tapi cukup untuk membuka ruang.

“Aku tidak minta banyak, Ka,” Nara berkata pelan.

“Aku cuma ingin… kamu benar-benar ada.”

Arka menatapnya.

Dan untuk pertama kalinya

dia tidak merasa itu permintaan yang sulit.

Dia hanya…

tidak pernah mencoba.

“Mulai sekarang… aku akan lebih jujur.”

Arka berkata.

“Kalau aku sibuk, aku bilang. Kalau aku capek, aku bilang. Tapi aku tidak akan menghilang begitu saja.”

Nara menatapnya.

Ada sesuatu di matanya.

Bukan harapan yang besar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!